Pengobatan dan Kesehatan
Pengobatan dan Kesehatan
Ritual Kalimantan Timur Kutai Barat
Belian - Kutai Barat - Kalimantan Timur
- 29 Maret 2018

Dayak Paser, Dayak Benuaq, dan Dayak Tunjung di Kalimantan Timur memegang kuat tradisi pengobatan tradisional. Ritual tersebut disebut Belian. Di setiap upacara Suku Dayak atau festival pertunjukan seni budaya, dipentaskan pula tarian belian yang bernama Tari Belian Sentiu dan Belian Bawo. Tari belian bukan hanya  untuk pengobatan tapi juga penolak bala dan pemanggil makhluk halus.

Orang yang ahli mengobati pasiennya disebut “Pemelian”. Bersama beberapa asistennya, ia menari memanjatkan puji-pujian sambil memainkan alat musik tradisional, berputar mengelilingi altar persembahan. Pengobatan tradisional ini merupakan metode alam bawah sadar.

Pengobatan tradisional Belian didasari konsep bahwa penyakit disebabkan oleh gangguan makhluk halus, sehingga tujuan dari ritual pengobatan ini adalah untuk mengusir makhluk halus tersebut. Pengobatan ini dilakukan selama sedikitnya tiga malam berturut-turut. Bahkan bisa mencapai 40 malam, tergantung berat ringannya penyakit. Durasi ritual tersebut kurang lebih satu setengah jam.

Secara kasat mata, penyembuhan ala Belian sangat berbeda dengan pengobatan tradisional lainnya. Mereka lebih menyentuh alam bawah sadar pasien dan memfokuskan pada unsur kebersamaan dan mendorong pasien secara mental. Sehingga secara psikologis baik penderita maupun keluarganya memiliki keyakinan sembuh terlebih dengan hadirnya para leluhur di sisi mereka.

Ada pemelian yang selama 40 tahun menjalani perjalanan spiritual. Pada tahap “Tutus”, artinya ‘menjiwai dan menguasai mantra-mantra serta mampu membuat ramuan’.

Kepercayaan akan keahlian pemelian dikarenakan kondisi pemukiman warga Suku Dayak yang sulit dijangkau transportasi umum dan jauh dari perkotaan. Belian menjadi alternatif utama bila ada penderita suatu penyakit belum mendapat kesembuhan dari pengobatan dokter.

Pada saat melakukan ritual Belian, pemelian dan asistennya membaca doa dan mantra di antara balai atau sesajian persembahan kepada para dewa. Prosesi awal ini meminta kepada para penguasa gaib agar dijauhkan dari pengaruh buruk yang bisa mengganggu jalannya ritual. Sementara para sanak keluarga pasien mempersiapkan kebutuhan ritual Belian. Hampir seluruh anggota keluarga baik kaum perempuan dan pria bersama-sama membantu. Mereka secara sukarela membantu persiapan upacara penyembuhan, terutama mempersiapkan makanan sesajian maupun benda yang terkait dengan ritual. Misalnya, pembuatan daun janur kelapa yang direbus dengan kunyit dan kemangi sehingga membentuk warna merah dan kuning. Warna-warna tersebut melambangkan upacara Belian memasuki bagian puncak untuk memanggil para leluhur. Sementara kaum pria menyiapkan santapan tradisional berupa lemang yang terbuat dari beras yang dimasukkan dalam bambu-bambu kecil. Selain untuk sesaji, lemang ini juga disuguhkan kepada mereka yang mengikuti ritual Belian sekaligus simbol kesejahteraan.

Pada malam harinya ritual Belian pun dilakukan hingga dini hari. Mereka melakukan beberapa ritual dengan mengelilingi Balai hingga delapan putaran lebih. Para pemelian atau para pengusung acara Belian menari dengan membaca mantra. Bacaan yang mirip dengan sebuah nyanyian ini khusus dibacakan untuk mengundang para dewa dan roh leluhur supaya hadir bersama di rumah.

Dalam ritual ini, mereka membawa Teturi, mangkuk yang berisi beras, telur beserta lilin. Secara konsepsi Belian, praktik ini sebagai pelindung dan penunjuk jalan kepada jalan kebaikan. Lamanya pengadaan upacara terkait dengan sakit yang dialami si pasien. Mereka mempercayai penjemputan roh dan dewa bersifat berjenjang dalam persepsi dunia kayangan yang berbeda dimensi dengan dunia manusia.

Memasuki malam terakhir upacara Belian, prosesi mulai menginjak pada tahapan yang paling penting. Seorang pemelian dengan simbol kain merah di hadapannya memohon kembali kepada dewa-dewa agar turun ke bumi. Pemelian kembali menjalankan fungsinya sebagai perantara saat berkomunikasi dengan para Dewa. Prosesi ini ditandai dengan kedatangan roh para leluhur kepada salah seorang pemelian yang kesurupan. Saat itulah, pemelian berbicara dan menghubungkan kehendak dan pesan keluarga yang sakit. Pada saat komunikasi batin berisi petuah-petuah usai dilakukan, mereka mengadakan pengorbanan hewan ternak. Persembahan ini sebagai imbalan bagi para dewa yang dianggap telah hadir bersama mereka. Sebagai wujud ucapan terima kasih pada penguasa gaib atas petuah-petuah pengobatan yang diucapkan melalui media Belian, pihak keluarga pasien wajib berkorban berupa hewan ternak.

Para pemelian menandakan ritus pengorbanan dengan janur merah kuning. Janur merah menandakan adanya pengurbanan darah dari hewan. Dalam hal ini, mereka mempercayai pengurbanan layaknya menghidangkan makanan bagi tamu yang datang dari kayangan. Empat tanda bahwa dewa telah hadir bersama di upacara dan akan diadakannya ritual pengurbanan binatang.

Ritual terakhir penyembuhan adalah dengan mengelilingi kain batik, mereka berupaya mengembalikan dan mensucikan roh. Terakhir, mereka melakukan penyucian dan pengobatan yang ditandai dengan pemberian air suci melalui daun palem dan tangkai pinang. Dedaunan ini diyakini sebagai mandau suci yang dimiliki dewa untuk menyembuhkan penyakit.

Ketika mereka masih duduk sebenarnya itu perjalanan untuk memanggil roh leluhur untuk datang menyembuhkan yang sakit. Pada saat menari itu para dewa diyakini telah berada bersama dalam ritual Belian dengan gerakan tangan menggosok bahwa roh leluhur telah menyembuhkan penderita dan mengusir roh jahat atau pengaruh buruk.



 

Sumber:

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/09/mantra-belian-dari-penjaga-tradisi-hulu-mahakam

https://folksofdayak.wordpress.com/2016/09/19/asal-usul-belian-dayak-paser/

http://www.liputan6.com/news/read/113941/belian-pengobatan-tradisional-metode-alam-bawah-sadar

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu