Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan
Batu Bini dan Batu Laki - Kalimantan Selatan - Kalimantan Selatan
- 29 Maret 2018

Di sebuah desa yang berada di sebelah Barat lereng Pegunungan Meratus, hiduplah anak laki-laki bernama Angui bersama ibunya yang bernama Diang Ingsun. Mereka hidup sangat miskin. Angui membantu ibunya menangkap ikan di sungai atau mengumpulkan umbi-umbian dari hutan agar mereka bisa tetap makan.

Suatu hari, sebuah kapal merapat di pelabuhan kecil yang ada di desa itu. Menurut kabar, pemiliknya adalah seorang saudagar kaya dari kota yang menjual berbagai kebutuhan pokok. Penduduk desa boleh menukar kebutuhan pokok itu dengan rotan, lilin, atau damar. Mendengar kabar itu, Angui bergegas mencari sebanyak mungkin rotan, membersihkannya dengan cepat, lalu mengikatnya rapi. Dia ingin menukar rotan itu dengan beras, garam, dan gula merah. Dia sudah bosan makan nasi hambar. Dia juga sedih melihat ibunya hanya bisa minum kopi pahit karena mereka tidak pernah punya persediaan gula merah.

Angui tiba di pelabuhan. Dia ikut mengantre bersama penduduk lain. Lalu, tibalah giliran Angui menyerahkan rotan yang dibawanya. Seorang pemuda bertubuh tegap dan berpakaian rapi memeriksa rotan yang dibawa Angui. Cukup lama pemuda itu memeriksa setiap batang rotan, kemudian dia memperlihatkan rotan Angui kepada seorang lelaki setengah baya—saudagar pemilik kapal.

“Apakah kamu mau ikut kami berlayar?” tanya pemilik kapal setelah memeriksa rotan Angui.

“Kenapa?” tanya Angui heran.

“Bilah-bilah rotan milikmu menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Hanya orang yang bekerja giat dan sepenuh hati yang bisa membuat rotan dari hutan menjadi rotan berkualitas tinggi,” ujar saudagar pemilik kapal.

Angui pun menjawab kalau dia harus meminta izin pada ibunya. Siapa sangka, Diang Ingsun mengizinkan Angui berlayar.

“Pergilah, anakku. Ikutlah berlayar bersama saudagar itu. Siapa tahu kamu akan menjadi saudagar pula. Tapi, cepatlah kembali begitu kamu sudah berhasil menjadi saudagar,” kata Diang Ingsun.

Keesokan paginya, Angui ikut berlayar bersama pemilik kapal. Angui berjanji dalam hati akan segera pulang menemui ibunya begitu dia berhasil menjadi saudagar.

Selama bertahun-tahun Angui terus berlayar. Dia belajar berdagang, bekerja keras, rapi, dan bersih. Bahkan saking giatnya Angui bekerja, pemilik kapal meminta Angui menikah dengan putrinya. Tidak lama setelah mereka menikah, pemilik kapal meninggal dunia. Sejak saat itu, seluruh harta kekayaan pemilik kapal diwariskan pada Angui dan istrinya.

Suatu malam, Angui teringat ibunya. Dia mengatakan kepada istrinya kalau dia ingin pulang ke desa dan tinggal bersama ibunya. Istrinya setuju dan terlihat bahagia karena akan bertemu dengan ibu mertuanya.

“Mari kita siapkan kapal yang paling besar dan berbagai bahan makanan agar kita bisa hidup di desa itu,” ajak Angui pada istrinya.

Setelah perbekalan siap. Kapal pun berlayar. Beberapa hari kemudian, kapal merapat di pelabuhan yang ada di desa Angui. Kemegahan kapal yang baru saja merapat membuat penduduk desa berteriak gembira. Kabar itu pun didengar Diang Ingsun yang sudah tua. Diang Ingsun gemetar dan menangis bahagia. Penantiannya bertahun-tahun tidak sia-sia, dia akan bertemu Angui.

Diang Ingsun berjalan tertatih menuju pelabuhan dagang. Dari kejauhan, dia melihat Angui dan seorang perempuan yang sangat cantik berdiri di anjungan kapal. Sayangnya, di saat yang sama Angui juga melihat ke arah ibunya yang lusuh dan kotor. Tiba-tiba dia merasa malu.

“Angui… Angui anakku,” teriak Diang Ingsun sambil menangis. Tangan kanannya melambai-lambai ke arah kapal, tempat Angui dan istrinya berdiri berdampingan.

“Dia ibumu, Kak?” tanya istri Angui.

“Bukan! Mana mungkin aku memiliki ibu sejelek dan semiskin itu!” jawab Angui dengan sinis. Lalu dia berpaling ke arah Diang Ingsun. “Hei, pengemis, berani-beraninya kamu mengaku sebagai Ibuku! Mana mungkin Ibuku berpenampilan gembel seperti dirimu.”

Diang Ingsun menangis semakin keras. Air mata berlinang di pipinya yang keriput. Penolakan Angui membuatnya sakit hati. Jadi, dia pun berteriak keras dengan kepala menengadah ke langit, “Tuhanku, kalau di atas kapal itu benar anakku si Angui, maka jadikan jasad dan seluruh kekayaannya menjadi batu,” kutuk Diang Ingsun.

Selesai Diang Ingsun meneriakkan kutukannya, hujan dan angin melanda pelabuhan. Kapal itu terbelah dua. Satu bagian berisi istri Angui beserta dayang-dayangnya, sementara bagian yang lain berisi Angui dan anak buah kapalnya. Hujan berhenti tak lama kemudian, dan pecahan kapal itu pun berubah menjadi batu yang dikenal sebagai Batu Bini dan Batu Laki. Dan Diang Ingsun dipercaya berubah menjadi burung elang mangkung berwarna hitam.



 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/batu-bini-dan-batu-laki/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum