Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah
Batu Banawa, Saudagar Kaya yang dikutuk Ibunya
- 27 Desember 2018

Dahulu kala di hilir kota Muara Teweh ada sebuah kampung bernama Tawan. Dewasa ini kampung itu dinamai Buntok Baru. Dekat kampung tersebut terdapat sebuah batu yang mereka namai Batu Banama. Batu itu mirip berbentuk sebuah kapal.

Konon  di kampung Tawan diamlah seorang janda bersama seorang anak laki-laki. Mereka hidup miskin sekali. Untuk nafkah setiap hari, mereka mencari rebung, yang kalau ada kelebihannya mereka jual untuk membeli beras, minyak tanah, garam dan lain-lain keperluan mereka berdua ibunya. Waktu anaknya sudah mulai meningkat dewasa. Demikianlah pada suatu ketika, anaknya menyampaikan niatnya kepada ibunya bahwa ia ingin merantau, hendak melihat dan belajar hidup dari kehiduan orang-orang di negeri lain.

Demikianlah anak itu berangkat menumpang sebuah kapal, sedangkan ia sendiri tidak mengetahui kemana arah dan tujuan perjalanannya. Berbulan-bulan ia berlayar, sehingga akhirnya sampailah ia pada sebuah negeri yang besar. Di sinilah anak itu turun dari kapal, lalu tinggal di negeri tersebut. Mula-mula ia mencari tempat tinggal, menanyakan, siapa gerangan yang hendak menampungnya. Akhirnya pemuda ini ditampung oleh seorang  pedagang kaya.

Di situlah ia belajar cara-cara bagaimana saudagar itu dapat hidup kaya dan barang-barangnya selalu bertambah-tambah. Pemuda itu sungguh-sungguh memperhatikan cara-cara, taktik yang dipakai pedagang itu melaksanakan perdagangannya.

Akhirnya karena saudagar itu melihat bahwa pemuda itu adalah seorang yang jujur, ia dipercayakan untuk berdagang sendiri sesuai dengan niatnya. Rupanya saudagar itu sangat setuju dengan niatnya untuk berdiri sendiri, sehingga ia bersedia meminjamkan keuangan sebagai modal ataupun menyerahkan barang dagangannya untuk dijual di tempat lain. Pemuda itu memanglah seorang pemuda rajin dan bercita-cita tinggi. Ia bermaksud berdagang hilir mudik sepanjang sungai itu.

Begitulah pemuda tadi pergi berniaga hilir mudik sungai, ke negeri yang tidak jauh dari tempat saudagar itu. kalau ia mudik, ia pun meminjam modal dan mengambil barang dagangan yang akan dijualnya di hulu. Kemudian kalau ia ke hilir ia kembali ketempat saudagar tempat singgahnya untuk mengadakan perhitungan. Segala hutang-piutang dibayarnya, begitu pula harga barang dagangannya yang diambilnya dari saudagar semua dibayarnya lunas, sedangkan semua hasil hutang yang diperolehnya di hulu, disuruhnya saudagar itu menjualnya.

Demikianlah pekerjaannya hilir mudik berdagang dan rupanya pekerjaan itu banyak kemajuan sehingga akhirnya ia tidak perlu berhutang lagi, ataupun meminjam barang dagangan saudagar tempat tinggalnya, karena ia sudah memiliki modal yang cukup besar.

Akhirnya pemuda itu berniat hendak pindah berdagang ke negeri lain. Ia tidak lagi berdagang hilir mudik, tetapi hendak menetap sama seperti saudagar induk semangnya. Menurut ceritanya kemudian pemuda tadi mampu mendirikan tokonya sendiri.

Rupanya dagangannya makin lama makin maju, sehingga akhirnya ia pun menjadi seorang saudagar yang ternama juga di negeri itu.

Di sana ada pula seorang saudagar yang lain, yang kekayaannya boleh dikatakan sama dengan pemuda itu dan mempunyai seorang puteri yang sudah menginjak dewasa. Rupanya saudagar tua tertarik pada pemuda tadi. Ia berusaha dengan perantaraan orang lain menanyakan pemuda itu apakah ia ada maksud hendak menikah atau belum. Dari perantara tadi diketahuinya bahwa pemuda itu memang ada maksudnya hendak berumah tangga dan saudagar tua berkeinginan untuk mengambil pemuda itu untuk menjadi mantunya. Lalu saudagar tua menanyakan putrinya apakah ia tidak berkeberatan seandainya ia dikawinkan dengan pemuda itu. Puterinya menyahut bahwa apapun kehendak ayah bundanya ia akan mematuhinya.

Akhirnya orang tua yang menjadi penghubung tadi datang ke rumah pemuda itu menanyakan apakah ia tidak keberatan apabila dijodohkan dengan puteri saudagar tua di negeri itu. Rupanya pemuda tadi bukan hanya tidak berkeberatan melainkan juga ingin mengambil puteri tersebut sebagai istrinya, lebih-lebih kecantikannya tidak ada yang menyainginya di negeri itu.

Demikianlah keinginan pemuda itu disambut gembira oleh saudagar tua. Perundingan untuk melaksanakan dan menentukan hari perkawinan diadakan. Singkatnya saudagar muda tadi menikah dengan puteri saudagar tua.

Rupanya saudagar muda ini adalah orang yang selalu mujur, karena selama ia berdagang keuntungannya makin besar dan dagangannya pun makin pesat saja, sehingga ia menjadi orang yang terkaya di negeri itu.

Lama kelamaan ia tinggal di sana, pada suatu ketika ia terkenang untuk kembali ke kampungnya, mengunjungi ibunda yang sudah lama ditinggalkannya. Maksudnya itu disampaikannya kepada istrinya. Istrinya pun tidak keberatan karena ia juga sangat rindu ingin menjumpai mertuanya.

Demikianlah pada suatu hari, sesudah segala perlengkapan disediakan, berangkatlah mereka berlayar menuju ke negeri asal suaminya.  Sesudah berbulan-bulan berlayar, akhirnya tibalah mereka di sana.

Pada waktu kapal merapat, saudagar muda tadi berdiri di haluan dan dengan demikian sahabat kenalannya pada waktu dia masih susah dahulu dapat mengenalnya. Lalu mereka mendatangi ibunya saudagar muda itu dan menceritakan kedatangan anaknya yang kini sudah menjadi seorang yang kaya raya.

Mendengar berita itu ibunya pun bergembira dan ia rindu sekali menjumpai anaknya. Diambilnya sebuah perahu kecil dan menyeberang sungai menuju kapal anaknya yang sedang berlabuh di tengah sungai. Dari jauh saudagar muda itu melihat ibunya sudah tua, berpakaian compang-camping, saudagar ini malu kepada istrinya dan masuk ke dalam kamar kapal mengurungkan dirinya. 

Sebaliknya anaknya tetap tidak mau menemui ibunya walaupun ibunya menanti sampai jauh malam. Si ibu minta agar anaknya turun sejenak saja untuk melepaskan kerinduannya namun anaknya tetap menolak.

Akhirnya malam semakin larut, udara makin dingin karena angin bertiup, ibunya kembali dengan perahu menuju pantai. Sebelum ia sampai ke rumahnya, masih dalam titian (batang) ibunya berkata; "Apabila anak atau saudagar muda pemilik kapal itu benar-benar anakku, tetapi tindakannya mendurhakai aku, maka aku tidak merelakan air susuku yang telah diminumnya."

Demikianlah pada malam itu tiba-tiba angin ribut dan hujan lebat turun, halilintar bergemeruh dan sangat menakutkan, kilat sambar-menyambar.

Keesokan harinya pagi-pagi benar sesudah angin ribut dan hujan reda, penduduk negeri itu sangat heran, karena kapal yang kemarin sedang berlabuh di laut negeri itu ternyata kini sudah berubah menjadi batu.

Menurut ceritra selanjutnya semua yang ada di dalam kapal itu kecuali istri dan anak saudagar yang masih bayi, berubah menjadi batu. Sedangkan menurut orang-orang tua, istri dan anaknya yang masih kecil terangkat naik ke surga.

Demikianlah batu yang asalnya kapal tadi, yang letaknya sekitar Tewey dan Buntok Baru, dinamai orang Batu Banawa, Menceritarakan suatu ajaran bagi ibu bapak kita miskin, sudah tua. Kita tidak perlu malu mengakui siapa orang tua kita terhadap orang lain.

 

 

sumber:

  1. Alkisah Rakyat (http://alkisahrakyat.blogspot.com/2015/11/cerita-batu-banawa-saudagar-kaya-yang.html)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu