×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Permainan

Elemen Budaya

Permainan Tradisional

Provinsi

DI Jogjakarta

Bas-Basan Sepur

Tanggal 23 Jun 2014 oleh M Luthfi Fathurrahman.

Dolanan/ permainan yang sering disebut Bas-Basan Sepur lebih ini dekat dengan dunia mainan anak laki-laki daripada anak perempuan. Permainan ini tidak hanya berfungsi sebagai mainan tetapi juga mengajak kepada pemainnya untuk berlatih olah pikir. Artinya, tidak hanya sekedar bermain, tetapi pemain juga dituntut untuk mengasah otak agar dapat memainkan permainan dengan membuat strategi jitu yang brilian sehingga memperoleh kemenangan yang gemilang. Biar pun termasuk permainan tradisional, Bas-Basan Sepur bisa digolongkan sebagai permainan "pertandingan", bukan "perlombaan". Setiap pemain yang bermain akan saling berhadapan dan harus ada yang kalah atau menang.

 
Walaupun permainan ini sudah jarang dimainkan oleh anak-anak, tetapi di sekitar tahun 1980-an beberapa daerah di Yogyakarta, seperti di daerah Imogiri, Bantul, permainan ini masih sering dimainkan oleh anak-anak masyarakat Jawa (Soekirman, 2004). Seiring perkembangan zaman, permainan ini mulai dilupakan oleh anak-anak, dan mereka lebih sering ke permainan baru, seperti Halma. Bas-Basan Sepur serupa dengan permainan catur, dan digolongkan sejenis permainan Mul-mulan, Dham-dhaman, atau Macanan. Bisa jadi, daerah lain juga mengenal permainan ini, baik dengan nama sama atau berbeda.

Asal Kata 'Bas-Basan Sepur'


Merunut dari namanya, Bas-Basan Sepur, kata /bas/ diperkirakan dari pemendekan kata /tebas/. Kata tebas dalam bahasa Jawa berarti ‘borong’. Kata /ditebas/ berarti ‘diborong’ atau ‘diserang?’. Kata /bas-basan/ di sini, berarti permainan melakukan pekerjaan borong-memborong atau saling menyerang pihak lawan. Sementara kata /sepur/ berarti ‘kereta api’. Kata /sepur/ dalam bahasa Jawa ini kiranya serapan dari bahasa Belanda /spoor/ yang artinya juga ‘kereta api’. Kata tersebut mengalami penyederhanaan ucapan, sehingga bentuk tulisan menjadi kata /sepur/.

'Trek' Bas-Basan Sepur

Memang dalam permainan ini, seorang pemain ketika hendak menyerang atau menebas lawan, harus dilakukan dengan cara berputar dulu pada lingkaran di luar kotak, yang diibaratkan seperti rel sepur. Maka untuk memudahkan penamaan, kemudian anak-anak menyebutkan dengan nama “Bas-Basan Sepur”. Entah mulai kapan penamaan itu mulai akrab di telinga anak-anak masyarakat Jawa. Yang pasti, nama permainan ini sudah terekam di kamus Baoesastra Djawa karya WJS. Poerwadarminta tahun 1939. Disebutkan pada halaman 32, bas-basan termasuk salah satu jenis 'dolanan' anak mirip 'dolanan' mul-mulan. Pastilah bahwa permainan ini sebelum tahun 1939 sudah banyak dikenal di masyarakat Jawa.

 
Bas-Basan Sepur yang harus dimainkan oleh 2 anak ini, dalam permainannya tidak diiringi lagu atau tembang permainan. Alat bantu hanya berupa pion, kecik, kerikil atau sejenisnya dan disertai denah gambar kotak dan setengah lingkaran. Biasanya, tempat yang digunakan pun tidak harus luas, cukup 1 meter persegi atau lebar sedikit. Denah gambar bisa digambarkan di kertas karton, atau bisa dilukiskan di tanah atau ubin. Tempat permainan biasa mengambil lokasi yang nyaman dan tenang. Sementara masing-masing pemain membutuhkan pion sebanyak 14 buah. Sebisa mungkin, di antara pemain dengan pion yang berbeda, artinya jika 1 pemain misalnya memakai pion dari kerikil, pemain lainnya bisa menggunakan biji salak.
 

Anak-anak yang biasa bermain Bas-Basan Sepur sekitar berumur 8 tahun. Lebih besar lebih baik. Karena permainan ini memerlukan olah pikir. Jika anak belum bisa bermain atau belum tahu aturan, maka akan sulit untuk mengoperasikan permainan. Jika ada lebih 2 pemain, bisa membentuk kelompok sendiri. Atau biasa pula, permainan ini ditonton oleh anak-anak lain yang saling memberi support atau dukungan kepada pemain.

Cara Bermain

Anak-anak yang hendak bermain Bas-Basan Sepur, ketika hendak bermain, harus sudah menyiapkan masing-masing 14 buah pion yang berbeda dari lawannya. Setelah itu, salah satu pemain harus membuat kotak segi empat dengan garis tujuh saling dipersilangkan. Hampir mirip dengan papan catur (yang terdiri 9 garis atau 8 kotak). Kemudian, di keempat ujung kotak dibuat lingkaran, masing-masing ujung 2 lingkaran dan dihubungkan dengan garis-garis kotak di ujung. Maka selesailah denah gambar Bas-Basan Sepur.
 
Setelah anak-anak selesai menggambar denah gambar Bas-Basan Sepur yang jarak antar garisnya sekitar 5 cm, maka keduanya segera menata pion-pionnya di persilangan garis di sepanjang 2 garis melintang pinggir tempat bermain. Lalu keduanya mengadakan sut. Bagi anak menang bisa main duluan. Langkah pertama, misalkan pemain A selaku pemain menang, maka main duluan, dengan cara menggeser sebuah pion ke depan satu langkah. Kemudian pemain berikutnya yaitu pemain B juga melakukan hal yang sama.
 
Pada langkah kedua, pemain A bisa kembali menggeser sebuah pion ke arah depan, samping kiri atau kanan yang kosong, juga dengan 1 langkah. Kemudian disusul pemain B dengan langkah yang sama. Pergerakan akan semakin bebas pada langkah-langkah selanjutnya, karena sudah banyak tempat di posisi awal yang kosong. Biasanya pada langkah kesepuluh, kedua pemain sudah mulai saling menyerang. Caranya mencari celah-celah pion yang bebas ditebas atau diserang. Caranya sebuah pion milik A diputar lewat lingkaran yang ada. Apabila ada pion pemain B yang terkena serangan maka pemain A dapat memakannya. Begitu pula dengan pemain B ketika mendapat giliran. Oleh sebab itu, sebisa mungkin langkah pion lawan selalu dihindari sehingga tidak bisa menyerang.
 
Pemenang

Pemain dikatakan menang apabila pionnya lebih banyak dari pemain kalah. Bisa jadi, pemain kalah pionnya sampai habis. Secara umum permainain ini membantu mengasah kecekatan berpikir para pemainnya sambil menjaga sportivitas dan kejujuran. Selain itu, permainan ini juga melatih bersosialisasi bagi anak sekaligus menjaga emosinya. Jangan sampai anak yang kalah menangis dan yang menang merasa superior.
 
Sayangnya, permainan ini sekarang sangat jarang dijumpai dan kalah bersaing dengan permainan modern seperti Halma bahkan Playstation (PS).
 
 
Sumber:
Permainan Tradisional Jawa, Sukirman Dharmamulya, dkk, 2004, Yogyakarta, Kepel Pres
http://www.tembi.org/ensiklopedi/20101116/index-DOLANAN_BAS-BASAN_SEPUR.htm
http://www.tembi.org/ensiklopedi/20101123/index-DOLANAN_BAS-BASAN_SEPUR.htm
http://vidiyan.blogspot.sg/2012/06/dolanan-bas-basan-sepur.html

DISKUSI


TERBARU


Rebana Betawi;...

Oleh Aziz Blantek | 08 Jul 2020.
Musik Betawi

MUSIK REBANA WARISAN BUDAYA NUSANTARA Kalau secara musik bahwa rebana adalah salah satu warisan budaya Islam dan ada di seluruh masyarakat Nusantar...

Lagenda Tanjung...

Oleh Widra | 07 Jul 2020.
Cerita Rakyat

Tanjung menangis merupakan nama tanjung yang berada di bagian timur pulau Sumbawa. Pada zaman dahulu, putri dari Datu Samawa terjangkit penyakityang...

Rebana Di Betaw...

Oleh Aziz Blantek | 06 Jul 2020.
Musik Betawi

SELAYANG PANDANG REBANA DI TANAH BETAWI PENGANTAR Mengungkap fakta sejarah masa lalu tentu harus memiliki bukti secara konkret baik itu berupa t...

Sarang Burung W...

Oleh Widra | 01 Jul 2020.
Makanan

78% kebutuhan sarang burung walet nyatanya dipasok dari Bumi Pertiwi. Hal ini tak terlepas karena Indonesia merupakan habitat yang nyaman bagi burung...

Mie Bakso Babat

Oleh Abe Tanu | 27 Jun 2020.
Makanan

Mie bakso memang bisa ditemui di banyak tempat kuliner. Akan tetapi, mie bakso babat khas Tasikmalaya ini istimewa. Selain tekstur mienya yang lembut...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dala...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pend...

Ukiran Gorga Si...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai penjaga rum...