Baridin hanya bisa tertunduk lesu, hatinya berkecamuk, disatu sisi ia ingin melawan tetapi disisi lain Baridin merasa memang dirinya tidak pantas untuk bisa bersanding dengan Ratminah, hari-hari Baridin kini dihabiskan dengan melamun sepanjang hari, orang-orang hanya bisa mengasihani melihat keadaan Baridin, mereka memaklumi mengapa Baridin menjadi seperti itu tetapi apa daya, orang-orang kampung pun selama ini menggantung hidupnya dari Bapa Dam, mereka menjadi buruh di sawah dan tambak milik Bapa Dam.
“Din, rasa sayangmu pada Ratminah, rupanya sudah mentok sampai ke ubun-ubun, awas Din jangan sampai lepas dari ubun-ubun, kalau lepas bisa-bisa kamu gila.” Gemblung mencoba menghibur Baridin.
“Din, sebagai sahabatmu aku turut prihatin, tapi Din, kamu tidak bisa selamanya seperti ini, Din kalau kamu memang benar-benar cinta dan sayang pada Ratminah, pergilah ke seberang sana, disana ada seorang pertapa yang kesaktiannya tidak diragukan lagi, semoga beliau bisa menolongmu.”
Baridin bangun dari tempat duduknya, “Mblung, malam ini juga aku akan temui pertapa itu, Juragan yang sombong ingat ini aku Baridin, jangan pernah salahkan aku karena anakmulah yang tergila-gila padaku.” Tatapan yang nanar penuh kesumat, lalu Baridin pun pergi.
“Din, tunggu.” Gemblung coba mencegah, namun sia-sia.
Baridin sudah membulatkan tekad dalam hati bahwa dirinya harus bisa mendapatkan Ratminah bagaimanapun caranya, bila dirinya tidak bisa mendapatkan Ratminah, maka orang lain pun tak akan pernah bisa memilikinya.
Setelah berjalan sehari semalam menembus alas yang luas, disiang yang terik dan dimalam yang dingin, akhirnya Baridin sampai disebuah Goa, Baridin belum tahu berapa lama lagi dirinya harus berjalan untuk bertemu Pertapa sakti itu, karena hari sudah mulai malam maka Baridin memutuskan beristirahat di dalam Goa tersebut, ia mengambil air dari mata air yang mengalir di sekitar Goa, disaat Baridin sedang menikmati air untuk melepas dahaga dirinya merasa ada seseorang yang menguntitinya, Baridin pun sontak berkata.
“Siapa gerangan sebenarnya yang menguntit ku, jika kau bangsa manusia keluarlah, jika kau bangsa jin, maka sampaikan maksud kedatanganku kepada pertapa sakti bahwa aku sedang membutuhkan pertolongannya.”
Tiba-tiba Goa bergetar,
“Hei Baridin, berani sekali kamu datang ketempatku, akulah orang yang kamu cari, aku telah tahu apa maksud kedatanganmu, aku bisa membantumu asal kau bisa menjalankan syarat-syaratnya.” Suara itu lalu menghilang. Baridin lalu menundukan badannya, “baik eyang saya akan menuruti segala perintah eyang, asalkan hajat saya dapat terkabul.” Jawab Baridin.
“Dengarkan baik-baik, kamu harus tapa geni di Goa ini selama 40 hari 40 malam, sambil merapalkan mantera pengasihan ini Baridin.” Terdengar kembali suara tanpa sosok di dalam Goa.
Baridin menghening, lalu terdengar …
“Niat ingsun ngemat ceg si ajiku semar mesem grajag grejeg klyue ki semar ireng, aji pengasian kang ora ono tombone ora ono wong bagus jobo aku, ora bisa turu yen durung ketemu aku, yen ketemu turu tange’no yen ketemu tange’ adegno, yen ketemu ngadeg lako’no, urung mlungkung kurun edan lan gendeng yen durung ketemu aku, sido atot katut manuk perkutut si jabang bayine, kun fayakuun saking kersaning gusti allah.”
Baridin mendengar dengan sangat seksama, dan dirinya merasa telah bisa untuk mengamalkannya, “Baik eyang, saya akan penuhi syarat dari eyang.”
“Bagus Baridin, dihari ke empat puluh mu nanti, orang yang kamu tuju akan sangat tergila-gila padamu, jika tidak percaya coba buktikan, di 3 hari pertama kamu amalkan mantera ini, orang yang kamu tuju akan selalu gelisah, dan jika disertai dengan dendam kesumat dalam mengamalkan ajian ini, maka kurang dari 7 hari kamu amalkan mantera ini, orang yang dituju bisa bisa lupa ingatan dan hanya akan menyebut-nyebut namamu.” Suara itu lalu menghilang.
Baridin pun lalu mengambil posisi untuk memulai merapal mantera, sementara itu dikampung orang-orang sibuk hilir mudik mempersiapkan segala macam kebutuhan hajatan, karena seminggu lagi Bapa Dam akan menikahkan Ratminah putrinya.
Orang-orang kampung akhirnya mulai menyadari bahwa Baridin telah tiada diantara mereka, dalam benak mereka saling bertanya satu sama lain, kemanakah Baridin, mereka hanya berpikir mungkin Baridin sedang menenangkan pikiran, dan mencoba untuk mulai membiasakan diri menjauh dari Ratminah, dan sangat tidak mungkin Baridin ada disini untuk bisa melihat kenyataan Ratminah bersanding dengan pemuda lain.
Hari kedua sudah Baridin jalani dan dirinya masih khusyuk merapal mantera dalam tapa geninya, matanya terpejam mulutnya tertutup rapat, hanya hati dan pikirannyalah yang hidup, tertuju pada satu tujuan.
Ratminah,
Dan malam ini orang-orang kampung sedang bersenang-senang, karena Bapa Dam menyewa Sintren 3 hari 3 malam berturut-turut sebelum perayaan perkawinan Ratminah, tetapi Ratminah sendiri menangis tersedu-sedu didalam kamarnya, tangisnya terdengar oleh Mbok Wangsih, Mbok Wangsih pun kebingungan melihat tingkah Ratminah yang menjadi tertutup dan lebih senang berdiam diri, sesekali menangis sendiri, lalu tersenyum-senyum. Keadaan ini membuat Bapa Dam dan Mbok Wangsih resah, dan malam ini adalah malam terakhir Ratminah dalam asuhan Bapa Dam dan esok ia sudah harus dikawinkan berarti Ratminah akan dibawa ke seberang bersama suaminya, akan tetapi keadaan Ratminah semakin kacau, ia masih sesegukan, pelan, sangat pelan suara tangisnya.
Didalam Goa, Baridin semakin Khusyuk merapal mantera, ini adalah malam ke 7 nya, tidak bergeming sedikitpun dari posisi semula, fikiran tetap tertuju pada Ratminah, dan Baridin mulai merasa bahwa Ratminah mulai merasakan efek manteranya, ingin ia sudahi, tetapi kini timbul sifat serakah dihatinya Baridin tidak hanya puas telah membuat Ratminah menggilainya, tetapi juga dendamnya semakin membara dihatinya ia membayangkan Bapa Dam yang menghinanya dan dirinya menginginkan agar Bapa Dam bisa bersembah memohon ampun padanya.
Sudah beberapa orang pintar yang didatangkan oleh Bapa Dam dan Mbok Wangsih demi mengembalikan keadaan Ratminah Putrinya, tetapi setiap orang pintar yang dipanggil hanya bisa menggelengkan kepala, dan memberi jawaban yang sama, hanya orang yang telah mengerjainya yang bisa menyembuhkannya, rencana perkawinan pun gagal.
Bapa Dam dan Mbok Wangsih mulai berpikir tentang Baridin, dirinya sadar Baridinlah yang telah membuat putrinya menderita, Bapa Dam lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mencari dimana Baridin, tetapi 2 minggu sudah mereka mencari namun pulang dengan tangan hampa.
Selama ini Bapa Dam menutup-nutupi keadaan Ratminah yang menderita kelainan jiwa, namun akhirnya orang-orang kampung mengetahui keadaan tersebut, dan gemparlah seluruh kampung mengetahui kabar bahwa Ratminah gila. Bapa Dam tidak dapat menutupi rasa malunya, namun dirinya tidak pernah merendahkan diri dan tetap meyombongkan diri, lama kelamaan seluruh harta Bapa Dam habis untuk membiayai pengobatan Ratminah, dan akhirnya Ratminah dibiarkan liar, kondisi mengharukan, disela bibirnya, terucap “ Kang Baridin.. Kang Baridin.” Orang-orang kampung tidak ada lagi yang mau berhubungan dengan Bapa Dam.
Bapa Dam kini tidak ubahnya sampah dimata orang-orang kampung Juragan Tulak yang sawah berbahu-bahu dan tambak berhektar-hektar kini telah melarat, Mbok Wangsih akhirnya meninggal setelah tidak mampu menerima kenyataan hidup yang pahit, Bapa Dam kini tertunduk ingin rasa dirinya meminta maaf pada Baridin, namun Baridin dirinya tidak tahu dimana.
38 hari sudah Baridin melaksanakan lelakunya, dirinya sudah mulai goyah, 38 hari tanpa makan dan air, hari ke-39 kondisi Baridin semakin lemah, tetapi dirinya masih merapalkan manteranya, dan bertepatan dengan tanggal 15 saat bulan sedang terang Baridin menyelesaikan rapalannya, dirinya tersenyum dan berkata “Ratminah, kematianlah yang akan menyatukan kita.” Karena kondisi fisik yang begitu lemah akhirnya Baridin menghembuskan nafas terakhir sesaat setelah amalan yang ia kerjakan selesai.
Selang beberapa hari setelah itu orang-orang kampung menemukan Ratminah pun meninggal.
Catatan :
Makam Ratminah dan Baridin berada di Desa. Jagapura Kab. Cirebon
Pelajaran yang bisa diambil :
* Jangan pernah menilai seseorang dari segi materi, materi kadang bisa membuat orang lupa, lupa akan pribadi yang baik yang seseorang miliki.
* Kodratnya cinta itu tidak bisa dipaksakan.
* Jangan pernah tinggi hati
Seseorang yang berniat baik pun akhirnya bisa berbuat nekat, karena pada dasarnya kesabaran manusia itu ada batasnya, dan hanya orang-orang yang selalu berpikiran jernih yang bisa memanfaatkan keterbatasan kesabaran yang dimilikinya.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...