Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan Jawa Barat Sumedang
Bangreng
- 28 Desember 2018

Kata bangreng berasal dari dua suku kata“bang“ dan “reng“ yang masing-masing merupakan akronim dari kata terbang dan ronggeng (Ensiklopedi Musik, jilid I , 1992 : 23). Terbang adalah alat bunyi-bunyian yang terbuat dari kayu dengan muka bulat yang berkulit, seperti rebna. Ronggeng adalah juru kawih merangkap penari wanita dalamm ketuk tilu dengan tarian dan nyanyiannya melayani tarian pria yang menghadapinya ( Ensiklopedi Umum, 1977 : 88).

Batasandi atas baru mengungkapkan dua sisi dari seni bangreng dan belum menyatakan kesenian bangreng secara utuh. Lebih lengkapnya diungkapakan dalam Ensiklopedi Musik, Jilid I (1992 : 31) yaitu :
 
Bangreng kependekan dari kata ter-Bang dan rong-Eng, yakni bentuk kesenian rakyat di Jawa Barat yang dimainkan dengan seorang interpreter gerak keindahan. Instrument yang di-gunakan adalah rebab, terbang, saron, kendang, kulanter, kempul, dan goong.
 
 
Dari berbagai definisi di atas dapat diambil pemaknaan yang lebih mendalam dan fokus, bahwa seni bangreng merupakan suatu bentuk kesenian rakyat yang mempergunakan terbang serta waditra lainnya, dan ditambah dengan ronggeng sebagai penari sekaligus juru sekar. Pada awalnya kesenian ini lebih sering berfungsi sebagai sarana upacara ritual, tetapi perkembangan selanjutnya menuju pada fungsi seni sebgai hiburan atau tontonan.
Seni bagreng merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang makin popular khususnya di Kabupaten Daerah Tingkat II Sumedang, namun sayangnya hingga saat ini belum ada keterangan yang jelas mengenai kapan dan dimana awal lahirnya seni bangreng ini.
 
 
Lilis Sumiati, dkk., dalam buku Capita Selekta Tari ( 1996 : 1 ) mengatakan bahwa Bangreng merupakan kesenian rakyat khas daerah sunda, yang perkembangannya mengalami beberapa periode, yaitu :
 
periode ketika terbang berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam, kira-kira tahun 1550 ;
 
periode ketika terbang mengalamai perkembangan dan berubah menjadi gembyung, kira-kira tahun 1956;
 
periode ketika gembyung mengalami perkembangan dan berubah menjadi bangreng, kira-kira tahun 1968.
 
 
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa seni bangreng merupakan metamorfosa dari seni terbang yang pada mulanya berfungsi sebagai sarana dakwah agama Islam. Hal ini dimungkinkan karena berdasarkan tinjauan sejarah kebudayaan masyarakat sumedang bahwa kesenian tradisioanal terbang dibawa oleh para saudagar Islam dari Cirebon yang kemudian dikembangkan oleh kalangan santri dalam rangka syi’ar agama Islam di Sumedang. Kemudian terbang mendapat pengaruh dari seni ketuk tilu, sehingga ia berkembang dan kemudian disebut gembyung, seperti diungkapakan Atik Sopandi dan Enoch Atmadibrata (1983: 45) yang menyatakan bahwa :
 
 
Gembyung adalah seni terbang yang telah dikombinir dengan alat bunyi-bunyian ketuk tilu antara lain empat buah terbang, kendang, dan kulanter, goong dan kempul, saron, dan rebab. Selanjutnya beliau menambahkan bahwa :
 
 
 
Gembyung sumedang terdiri dari instrument-instrumen 5 buah gembyung atau terbang besar, kendang, dan goong awi ( goong bumbung yang terbuat dari seruas bambu ).
 
Perkembangan dari jenis kesenian gembyung di Sumedang disebut bangreng. Menurut data lain ditemukan bahwa seni gembyung berubah atau berkembang menjadi seni bangreng sekitar tahun 60-an (Odin Abidin, Wawancara, Sumedang, 20 juni 2000). Pada saat ini seni gembyung mendapat penambahan alat yang terdiri dari kendang dan kulanter, terbang besar, rebab atau terompet (yang berfungsi sebagai melodi), goongdan kempul, serta dua buah saron (Atik Sopandi dan Enoch Atmadibrata, 1983: 45). Selain itu perubahan juga terjadi pada lagu-lagu yang disajikan, syair-syair berhubungan dengan ke-agamaan berubah menjadi lagu-lagu yang diambil dari gamelan seperti : Kidung, Baju Beureum, Turun Sintren, Kicir-kicir, Rincik Rincang, Adem Ayem, dan se-bagainya (Ibid, halaman 45).
 
 
Pada tahun 1975 seni Bangreng mendapat penambahan alat yaitu dengan seperangkat gamelan lengkap (Odin Abidin, Wawancara, 20 Juni 2000). Kemudian penambahan ini terjadi sehubungan dengan perubahan lagu-lagu yang disajikan pada seni ini.
 
 
 
Pelaksanaan Ruwatan Seni Bangreng
Pelaksanaan ruwatan dilakukan satu malam, yang di mulai pada pukul 06.00. Dengan acara numbal yang dilakukan oleh tokoh masyarakat yang dianggap paling tua dan memiliki kemampuan khusus untuk melaksanakan kegiatan numbal.
 
 
Acara numbal dimakusdkan sebagai upaya untuk menolak malapetaka yang akan muncul pada tahun berikutnya. Tumbal dianggap sebagai pengganti dari kerugian yang akan dialami jika terjadi bencana atau malapetaka. Adapun sesajen yang dijadikan tumbal antara lain : pohon hanjuang, samara (bumbu-bumbu dapur), seekor ayam, rurujakan (sebangsa rujak diantaranya rujak asem dan rujak pisang dengan kelapa), dan lain-lain.
 
 
Barang-barang yang dijadikan tumbal dikubur di pusat dusun atau tengah-tengah dusun oleh sesepuh dengan jampe-jampe yang berbentuk jangjawokan (mantra-mantra) sebagai kalimat penolak bala.
 
Pertunjukan kesenian bangreng di mulai pada pukul 9.30 dengan mengetengahkan lagu-lagu buhun sebagai pembuka. Lagu-lagu buhun yang disajikan antara lain Kembang Gadung, Lagu Sampeu, Buah Kawung, dan kembang Beureum. Lagu-lagu buhun harus pertama kali disajikan sebelum lagu-lagu lainnya, dengan alasan bahwa lagu-lagu ini merupakan kesenangan para karuhun semasa hidupnya. Dan diharapkan dengan penyajian lagu-lagu kesenangan para karuhun ini pelaksanaan ruwatan dapat diterima oleh roh-roh leluhur yang dianggap turut menyaksikan serta menikmati suguhan yang diberikan.
 
 
Kemudian setelah sajian lagu-lagu buhun selesai, pertunjukan bangreng berikutnya lebih didasarkan pada permintaan penonton. Pada kesempatan ini penonton dapat meminta lagu yang sesuai dengan kesenangannya dan menari bersama ronggeg pilihannya yang kemudian harus memberikan bayaran kepada kepada ronggeng tersebut sebagai upahnya.
 
Makna Ruwatan Seni Bangreng
Dengan merujuk pada istilah kata ritual pada berbagai upacara dalam keagamaan sebagai manifestasi dari konsep doktrin agama atau kepercayaan yang dipegang teguh oleh masyarakat yang merupakan bentuk nyata dari ungkapan ritual masyarakat yang merupakan hak asasi dari setiap insan manusia akan sesuatu yang diluar kemampuannya sebagai makhluk tak berdaya. Data-data yang telah diuraikan pada se-belumnyamerupkan alasan yang kuat sebagai pembuktian pernyataan ini.
 
 
Data pertama yaitu adanya usaha mempertautkan kegiatan ruwatan dengan ajaran agama Islam malalui pelibatan Ustadz sebagai juru doa ke hadirat Allah SWT sebagai satu sumber ke-kuatan yang menaungi jagat ini.
 
 
Data kedua menyebutkan bahwa acara ini dilakukan sebagai sarana memuja dan menghormati leluhur yang dianggap sebagai jembatan penghubung antar manusia dengan satu kekuatan yang maha dahsyat, di lain pihak masyarakat percaya bahwa kejadian-kejadian alam ini ada hubungannya dengan dunia transenden yang tidak terjangkau oleh manusia dalam wujud kasar.
 
Makna Sosial Seni Bangreng
Makna sosial lebih jelas terlihat realitasnya pada acara ruwatan, dimana warga mayarakat bahu membahu menyelenggarakan acara ini tanpa mengenal usia atau strata sosial. Semangat kebersamaan dalam bermasyarakat ditunjukan mulai dari persiapan dengan mengadakan musyawarah sebagai jalan pemecahan masalah. Kemudian pada pelaksanaan acara ruwatan dilakukan secara gotong royong dari mulai pendanaan hingga persiapan panggung dan urusan makanan dikerjakan secara bersama-sama. Maka jelaslah bahwa acara ini merupakan momen dalam rangka memupuk tali kekeluargaan dan persaudaraan.
 
Fungsi Seni Bangreng
Dari berbagai penelaahan maka seni bangreng mempunyai beberapa fungsi di antaranya fungsi ritual, hiburan, pendidikan, dan fungsi ekonomis.
 
Fungsi Ritual
Secara umum, kebanyakan seni-seni yang tumbuh di daerah yang bermasyarakatkan petani atau daerah agraris lebih cen-derung difungsikan sebgai saran ritual upacara keagamaan terutama dalam hubungannya dengan kesuburan bagi lahan pertanian dan keberhasilan panen. Demikian pula yang terjadi pada seni Bangreng yang tumbuh dan berkembang di daerah agraris. Ciri ritual pada seni bangreng ini terlihat antar lain : Dengan adanya ijab kabul yang dilakukan oleh sesepuh grup seni bangreng pada awal, pertunjukan, sebagai permohonan ijin dan sekaligus permohonan perlindungan dari para karuhun dengan tujuan supaya dalam pertunjukan tidak terhalang oleh hal-hal yang tidak diharapkan.
 
Kemudian sajian lagu-lagu buhun sabagai pembuka khusus diperuntukan bagi arwah-arwah leluhur yang semasa hidupnya dipercayai menyukai lagu-lagu tersebut. Hal ini cukup membuktikan bahwa seni bangreng berfungsi sebagai sarana upacara ke-agamaan.
 
Fungsi Hiburan
Fungsi hiburan dipertunjukan seni bangreng pada acara ruwatan terlihat pada tahapan pertunjukan yang diperuntukan bagi masyarakat dengan jalan meminta lagu kesukaan dan menari dengan ronggeng pilihannya. Pada tahap ini penonton dipersilahkan berjoget (menari) sepuas-puasnya.
 
Fungsi Sosial
Upaya melibatkan generasi muda dalam pelaksanaan acara ruwatan secara eksplisit menunjukan adanya keinginan dari generasi tua untuk mewariskan seni budaya tradisional ada generasi penerusnya.
 
Selain upaya pewarisan nilai dan norma budaya pada generasi muda, acara ruwatan ini memberi didikan untuk hidup bergotong royong dalam membangun ma-syarakat. Proses internalisasi nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda melanjutkan proses yang sama pada periode berikutnya, merupakan usaha pendidikan yang paling berharga.
 
Fungsi Ekonomis
Satu hal tidak bisa dielakan dalam pertunjukan seni adalah sebagai sarana ekonomi. Hal ini berlaku baik bagi penonton maupun bagi pelaku seni atau senimannya. Pemanfaatan acara ruwatan sebagai salah satu kesempatan untuk menjual produk masyarakat merupakan salah satu contoh fungsi ekonomi dari sebuah pertunjukan seni bangreng.
 
Makna Seni Bangreng
Pertunjukan seni bangreng pada acara ruwatan memiliki makna simbolis sebagai penolak bala dan penghormatan serta pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang. Hal ini. Hal ini tercermin pada sajian pembuka dengan menyajikan lagu-lagu buhun sebagai lagu kesenangan para arwah leluhur sebgai symbol pengakuan terhadap eksistensi roh-roh gaib disekitar Manusia
sumber :https://www.tradisikita.my.id/2016/09/mengenal-tradisi-seni-bangreng.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu