Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Papua Papua
Awies dan Gete
- 24 Desember 2018

Cerita Rakyat – Alkisah, Pada suatu masa hiduplah dua orang kakak beradik,mereka hidup sebagai anak yatim piatu yang hidup di suatu kampung bernama Sewatolo, terletak di Tanjung Libla. Sekalipun sudah hidup papa tanpa orang tua, Awies dan adiknya Gete hidup saling mengasihi.

Hingga tibalah saat mereka beranjak dewasa dan berpisah. Awies menikah dan memilih bermukim di kampung istrinya, sementara Gete tetap tinggal di Tanjung Libla.

“Adikku, kita semua telah dewasa dan memiliki keluarga. Kau tetaplah tinggal disini, menjaga rumah ini bersama suamimu,” pesan Awies sebelum berpisah dengan adiknya.

Gete hanya diam, tidak menjawab pesan kakaknya. Ia hanya memandang sang kakak dengan air mata berlinang. Hatinya sangat sedih, sekian tahun hidup bersama Awies tetapi akhirnya harus berpisah.
Bertahun-tahun lamanya mereka tidak bersua, hingga suatu hari Awies merasa sangat rindu kepada adiknya. Ia berniat mengunjungi Gete di Tanjung Libla.

“ Saya ingin melihat Gete di Tanjung Libla, sudah lama sekali tidak mendengar kabarnya, “ pamit Awies kepada istrinya.

“Iya, suamiku. Pergilah dan bawalah bekal makanan ini. Sampaikan salamku untuk Gete. “ Istrinya memberikan bungkusan makanan untuk Awies, sebagai bekal selama perjalanan.

Dengan berbekal makanan yang diberikan istrinya, Awies berjalan menuju Tanjung Libla. Ia harus menyusuri hutan dan menempuh perjalanan selama berhari-hari, tetapi semua itu tak dihiraukan, demi bertemu adik yang sangat dirindukannya.

Akhirnya tibalah Awies di kampung halamannya. Ia melihat kampung Sewatolo tidak berubah, masih tetap sama seperti ketika ditinggalkannya. Langkahnya dipercepat menuju rumah Gete.

Tampak di pelataran depan rumah tempat tinggalnya dulu, dua anak tengah asyik bermain.

“ Itu pasti anak-anak Gete. Mereka sudah besar-besar. “

Awies mendekati kedua anak itu . Ia melihat salah satu dari anak itu sedang buang air besar di depan rumah. Melihat itu, Awies berteriak memanggil Gete.

“Geteme ….!!!!!!” Anak kecil buang air besar di depan rumah!!”

“Kenapa kau berteriak panggil, kau makan saja kotoran itu !!”

Mengira yang berteriak suaminya,Gete yang tengah sibuk memasak di dapur pun membalas dengan teriakan keras. Gete sama sekali tidak menyangka itu teriakan Awies yang datang menjenguknya.

“Gete, keluar ………..!!!!” teriak Awies menggelegar menahan amarah.

Mendengar teriakan keras itu, Gete akhirnya keluar rumah dan terkejut melihat kakaknya berdiri dengan wajah marah. Gete hendak berlari memeluk kakak yang dirindukannya.

“ Jangan kau mendekat …!!! Kenapa kau suruh saya memakan kotoran anakmu?” Kasar sekali tutur bahasamu !! “ Awies marah sekali dengan Gete. Adiknya hanya bisa menunduk diam sambil menangis.

“Maafkan saya, kakak.” Saya tidak tahu kakak datang hari ini. Jika tahu yang berteriak kak Awies, saya pun tak akan berteriak seperti itu, “ ratap Gete dihadapan Awies.

Tetapi Awies benar-benar sangat marah. Ia menepiskan tangan Gete yang berusaha memeluknya.

“Gete, ini sambutanmu kepadaku. Jauh-jauh saya datang untuk menjengukmu, melihat keadaanmu. “

“Ampun, kaka.”

“Saya tidak bisa memaafkanmu !” Ini sudah sangat keterlaluan!”

Gete mencoba kembali merayu kakaknya dengan mengeluarkan semua barang yang dimilikinya untuk membayar adat, sebagai permintaan maaf atas kesalahannya kepada Awies.

“ Terimalah semua ini. Dan ampuni saya, “ kata Gete menghiba sambil meletakan semua barang itu di tangan kakaknya.

Dibakar rasa kecewa dan amarah yang sangat besar, Awies tetap kukuh tidak mau menerima pembayaran adat dari Gete. Rasa kasihnya kepada Gete telah hilang lenyap akibat perkataan adiknya yang tidak senonoh.

“ Kau tunggu…..! “ Nanti saya akan datang lagi,” ancam Awies penuh kemarahan sambil melangkah meninggalkan Gete.

Gete hanya diam sambil memandang punggung kakaknya yang semakin jauh. Perasaannya campur aduk, sedih dan takut melihat kemarahan Awies.

Sesuai janjinya, tiga hari kemudian Awies datang lagi ke rumah Gete. Tetapi ia tidak datang sendiri melainkan bersama orang-orang kampung istrinya yang siap berperang. Pasukan itu pun mengepung rumah Gete.

“Gete, keluar !!” teriak Awies.

Dengan menahan rasa takut, Gete keluar rumah menemui kakaknya.

“ Saya datang untuk makan kotoran anakmu, yang kau berikan tiga hari lalu, “ kata Awies dengan tajam.

Gete gemetar ketakutan melihat Awies masih marah bahkan membawa pasukan dengan pakaian perang.

“Kaka, ampun !” Hanya kata itu yang mampu di ucapkan Gete sambil bercucuran air mata.

Dia sangat sedih Awies tidak bisa memaafkan perbuatannya.
Gete berusaha mengeluarkan barang-barangnya kembali untuk membayar adat. Tetapi Awies tidak bergeming. Ia tetap kukuh tidak mau memaafkan Gete.

Awies sangat terluka, dan menganggap Gete telah menginjak harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Melihat banyak orang dengan pakaian perang, teriakan keras Awies serta ibunya yang ketakutan, anak-anak Gete pun menangis.

Melihat tangisan anak-anak Gete, Awies jatuh iba. Tak bisa dipungkiri dalam lubuk hati terdalam ia masih sangat menyayangi adiknya, Gete. Tetapi ia pun tidak memiliki pilihan untuk mengubah keadaan sebab pasukan perang yang dibawanya telah siap untuk membunuh Gete, yang dianggap telah menginjak harga diri Awies .

Bagai buah simalakama, Awies dihadapkan pada dua pilihan sulit. Ia hanya diam memandang Gete, beserta anak-anak yang terus menangis silih beganti dengan pasukan yang dibawanya.

“ Ah, anak-anak itu pasti masih membutuhkan Gete. Jika aku membunuh ibunya, siapa yang akan mengasuh mereka, “ kata hati Awies.

Awies teringat masa kecilnya bersama Gete yang hidup tanpa orang tua. Ia memandang Gete penuh kasih, kemarahannya telah lenyap. Tetapi ia memantapkan hati untuk membunuh Gete demi menjaga harga diri.

“ Awies, ayo, jangan diam. Kita bunuh dia !!” Adikmu ini tidak bisa dimaafkan!” teriak pasukan yang dibawanya tidak sabar melihat Awies tidak bergerak. Mendengar desakan penuh kemarahan, Awies pun terpaksa mengambil pilihan, membunuh Gete sekalipun hatinya merasa sangat sedih dan menyesal.

“ Gete, saya telah memaafkanmu. Tetapi, demi harga diri, kaka harus membunuhmu, “ kata Awies sambil memandang Gete dengan air mata berlinang.

“ Ampun, kaka, “ ratap Gete ketakutan ketika melihat Awies telah siap dengan parangnya.

“ Bagaimana anak-anakku nanti, siapa yang menjaganya. Suamiku sedang pergi, dan belum pulang,” isak Gete sambil mengelus kepala kedua anak yang sangat disayanginya.

Seolah tahu hendak ditinggalkan sang ibu, dua anak Gete menangis semakin keras. Masa itu, harga diri dan sumpah sangat dijunjung tinggi. Awies pun dengan rasa gamang terpaksa memenggal kepala Gete di hadapan kedua anaknya.

Awies menangis, meratapi jasad adiknya. Gete, adik yang sangat disayanginya telah meninggal dengan kepala terpenggal di Sewatolo, Tanjung Libla. Awies dan pasukannya pulang ke kampung istrinya, meninggalkan anak-anak Gete yang terus meratapi kematian ibunya.

Setelah kepergian Awies dan pasukannya, tibalah suami Gete dengan membawa hasil buruan. Tetapi, alangkah terkejutnya lelaki itu, ketika melihat kedua anaknya menangis dan melihat istrinya terbujur kaku. Ia mengguncang tubuh Gete sambil memeluk anaknya.

“Siapa yang membunuh ibumu ?” tanyanya kepada kedua anak kecil yang terus menangis sambil menggelengkan kepala.

Dengan kesedihan mendalam, suami Gete mengubur kepala dan tubuh yang terpenggal itu. Ia sangat menyesal dan meratapi kepergian istrinya. Sebagai seorang suami ia merasa tidak mampu membela dan melindungi istrinya. Tetapi nasi telah menjadi bubur, ia pun telah kehilangan Gete dan harus membesarkan kedua anaknya sendiri tanpa seorang ibu.

Mulutmu adalah harimaumu. Sangatlah penting kiranya kita selalu menjaga kata-kata, agar tidak menyakiti orang lain dan membuat sesal di kemudian hari. Kata-kata kasar mampu meluruhkan kasih sayang yang besar, sebab rasa sakit hati dan dendam. Cerita Awies dan Gete ini merupakan kisah seorang kaka beradik yang hidup saling mengasihi tetapi karena lontaran kata kasar, menimbulkan dendam dan berakhir menyedihkan.

Bukan hanya sakit hati, tetapi kata-kata yang kasar mempu membuat seseorang bisa membunuh orang yang dikasihinya. Untuk itulah, mari kita selalu menjaga tutur kata, agar kita bisa hidup saling berdampingan dan saling mengasihi tanpa ada dendam dan sakit hati.

 

 

sumber:

  1. Pacebro (https://pacebro.net/2018/03/awies-dan-gete/)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu