Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Kalimantan Timur Kaltim
Asal-usul Raja Suku Tunjung
- 25 Desember 2018
Suku Tunjung merupakan satu dari 28 anak suku Dayak yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Mereka sebagian besar mendiami tepian Sungai Mahakam dan Sungai Bengkalang. Pada zaman dahulu, suku ini dipimpin oleh raja secara turun-temurun. Siapakah raja pertama suku Tunjung yang kemudian menurunkan raja-raja berikutnya? Temukan jawabannya dalam cerita Asal Usul Raja-Raja Suku Tunjung Dayak berikut ini!
 
 
 
* * *
 
Di daerah Kalimantan Timur, ada dua orang bersaudara yang bernama Gah Bogan dan Suman. Gah Bogan tinggal di Negeri Linggang yang terletak tidak jauh dari Sungai Bengkalang. Sementara itu, Suma menetap di Negeri Londong, sebelah kanan mudik Sungai Mahakam.
 
Suatu hari, istri Gah Bogan yang bernama Gah Bongek melahirkan anak kembar delapan. Barangkali karena alasan tidak sanggup menghidupi kedelapan anak tersebut sehingga pasangan suami istri itu memutuskan untuk membuang anak-anak mereka ke Sungai Mahakam.
 
Beberapa tahun kemudian, Gah Bongek kembali melahirkan anak kembar delapan. Keduanya pun bersepakat membuang kedelapan anak mereka ke tengah hutan. Ketika istri Gah Bogan kembali melahirkan yang ketiga kalinya dan mendapatkan anak kembar delapan lagi, akhirnya mereka pun memutuskan untuk merawat dan membesarkan kedelapan anak tersebut. Kedelapan anak itu mereka beri nama Sangkariak Igas, Sangkariak Laca, Sangkariak Lani, Sangkariak Inggih, Sangkariak Injung, Sangkariak Kebon, Sangkariak Lanan, dan yang paling bungsu adalah Sangkariak Daka.
 
 
Waktu terus berjalan. Kedelapan bersaudara itu tumbuh dewasa dan mereka mendirikan permukiman di pinggiran Sungai Bengkalang. Sehari-hari mereka mencari ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Suatu hari, saat mereka sedang makan bersama, tiba-tiba terdengar suara gaib dari langit.
 
“Jo jo sambut disambut mati, tidak sambut mati,” demikian kata suara itu.
 
“Ulur mati habis, tidak terulur mati lumus,” sahut Sangkariak Kebon menjawab suara itu.
 
Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba sebuah kelengkang (sejenis keranjang) yang teulur dengan tali seolah-olah turun dari langit. Ternyata kelengkang itu berisi seorang bayi laki-laki tampan yang menggenggam sebutir telur di tangan kanannya. Alangkah senangnya hati mereka mendapat hadiah tersebut dari Ape Bongan Tana (Tuhan Yang Mahakuasa).
 
Oleh Sangkariak Igas, bayi itu diberi nama Aji Julur Dijangkat. Telur yang ada digenggaman bayi itu mereka simpan dengan baik. Beberapa hari kemudian, telur itu pun menetas menjadi seekor ayam jantan dan diberi nama Jong Perak Kemudi Besi. Dengan penuh kasih sayang, kedelapan bersaudara tersebut merawat dan membesarkan bayi dan ayam jantan itu hingga dewasa.
 
Sementara itu, istri Suma juga melahirkan delapan orang anak, enam laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah Kemunduk Bengkong, Kemunduk Kandangan, Kemunduk Murung, Kemunduk Jumai, Kemunduk Jangkak, Kemunduk Mandar, Kemunduk Bulan, dan Kemunduk Beran. Kini, kedelapan putra-putri Suma tersebut juga sudah beranjak dewasa. Sehari-hari mereka mencari kayu bakar di hutan dan menangkap ikan di Sungai Mahakam.
 
Suatu hari, kedelapan bersaudara itu baru saja pulang dari hutan mencari kayu bakar. Hari itu, mereka tidak hanya membawa kayu bakar, tetapi juga bambu petung untuk digunakan sebagai lantai rumah. Ketika mereka sedang asyik melepas lelah di depan rumah, tiba-tiba terdengar suara letusan keras disusul suara tangis seorang bayi beberapa saat setelahnya. Kedelapan bersaudara itu pun langsung terperanjat dari tempatnya.
 
“Hai, suara apa itu?” tanya Kemunduk Kandangan.
 
 
 
“Sepertinya suara letusan itu berasal dari tumpukan kayu bakar yang kita bawa tadi,” sahut Kemunduk Mandar.
 
“Kalau begitu, ayo kita periksa!” seru Kemunduk Bengkong.
 
Setelah memeriksa sumber suara letusan tersebut, ternyata bambu petung yang dibawa oleh Kemunduk Bengkong tadi meledak dan mengeluarkan seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik rupawan. Bayi itu tergeletak di atas puing-puing bambu petung yang meledak tadi.
 
“Hai, lihat!” seru Kemunduk Jangkak, “Di tangan bayi itu tergenggam sebutir telur ayam.”
 
Kemunduk Bengkong pun segera mengambil telur ayam itu lalu menggendong sang bayi. Oleh kedelapan bersaudara tersebut, bayi itu diberi nama Muk Bandar Bulan yang artinya “putri menerangi negeri”. Sementara itu, telur ayam itu mereka letakkan di tempat yang aman. Tak berapa lama kemudian, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam betina. Sama halnya kedelapan anak Goh Bogan, Kemunduk Bengkong berserta saudara-saudaranya merawat dan membesarkan bayi dan anak ayam tersebut hingga dewasa.
 
Putri Muk Bundar Bulan tumbuh menjadi seorang gadis yang cerdas dan bijaksana. Tak mengherankan jika ia diangkat menjadi ratu di sebuah negeri yang bernama Tanah Tunjung. Sejak itu, Ratu Negeri Tunjung itu kerap melakukan kunjungan ke negeri-negeri tetangga, termasuk Negeri Linggang.
 
Suatu hari, Ratu Muk Bundar Bulan mendengar kabar bahwa di Negeri Linggang ada seekor ayam jantan yang berbulu putih, berjambul, dan berjambing. Ayam jantan itu tak lain adalah si Jong Perak Kemudi Besi milik Aji Julur Dijangkat. Sang ratu sangat tertarik ingin membeli ayam jantan itu untuk dijadikan sebagai pasangan ayam betinanya. Ia pun mengajak Kemunduk Bengkong bersaudara untuk mengunjungi negeri itu.
 
Keesokan hari, Ratu Muk Bundar Bulan beserta rombongannya berangkat menuju ke Negeri Linggang dengan menggunakan sepuluh perahu. Rupanya, pada saat yang bersamaan, Aji Julur Dijangkat beserta Sangkariak Igas bersaudara juga sedang melakukan perjalanan menuju ke Negeri Londong dengan membawa sepuluh perahu. Akhirnya, kedua rombongan tersebut bertemu di ujung Rantai Genoli dan mereka pun bersepakat untuk berhenti di Negeri Rantau Batu Gonali.
 
Saat kedua rombongan saling berhadapan, kedua ayam yang ada pada masing-masing rombongan itu saling menyahut. Hal itu pertanda bahwa kedua ayam tersebut saling menyukai. Tidak hanya itu, kedua pemilik ayam tersebut, yaitu Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan ternyata juga saling jatuh hati.
 
“Kakanda bernama Sanghiyang Geragas Pati, anak Raja Sanghiyang Nata Dewi Kencana Peri dari Negeri Bukit Karangan Sari,” kata Muk Bandar Bulan kepada Aji Julur Dijangkat.
 
“Nama Adinda pastilah Putri Ringsa Bunga, anak Sanghiyang Naga Salik dengan Bunda Dewi Randayan Bunga dari Negeri Gunung Asmara Cinta,” sahut Aji Julur Dijangkat.
 
Rupanya, pemuda tampan dan gadis cantik jelita yang berasal dari Negeri Kahyangan itu ternyata sudah saling mengenal satu sama lain. Oleh karena merasa cocok dan sudah saling mengenal asal-usul masing-masing, akhirnya Aji Julur Dijingkat dan Muk Bandar Bulan menikah dan setelah itu mereka menetap di Negeri Rantau Batu Gonali. Seluruh penduduk Negeri Linggang dan Negeri Londong pun pindah dan ikut menetap di negeri itu.
 
Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar kemudian membuat rumah panjang yang terbuat dari kayubenggeris. Rumah panjang itu diberi nama Lamin. Hingga kini, rumah ini menjadi rumah tradisional khas Suku Dayak Tunjung di Kalimantan Timur. Sebagai bukti bahwa mereka berasal dari Kahyangan, masing-masing membawa dua biji pinang sendawar. Dua buah biji pinang milik Aji Julur Dijangkat mereka simpan untuk dimakan bersama, sedangkan dua buah biji pinang milik Muk Bandar Bulan mereka tanam di halaman rumah. Sejak itulah, negeri Rantau Batu Gonali berganti nama menjadi negeri Pinang Sendawar.
 
Setelah beberapa tahun kemudian, Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan dikaruniai empat orang anak laki-laki. Mereka adalah Sualis Guna, Nara Gama, Jeliban Bona, dan Puncan Karna. Dalam asuhan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang, mereka pun tumbuh dewasa. Suatu hari, sang ayah memanggil mereka untuk menghadap.
 
“Dengarkanlah, wahai putra-putraku! Kini ayah sudah tua. Sudah saatnya Ayah menunjuk salah satu di antara kalian untuk menggantikan kedudukan Ayah sebagai pemimpin negeri ini,” ungkap Aji Julur Dijingkat di hadapan putra-putranya dan disaksikan oleh sang istri.
 
Kemududuk Bengkong dan adik-adiknya saling menatap satu sama lain. Masing-masing berharap dirinyalah yang akan ditunjuk oleh sang ayah. Namun, Aji Julur Dijangkat adalah raja yang adil dan bijaksana.
 
“Ayah tidak akan menunjuk langsung salah seorang di antara kalian. Ayah pikir bahwa akan lebih adil jika diadakan lomba menyeberangi sungai sambil membawa gong sebanyak tujuh kali pulang pergi. Siapa pun di antara kalian yang memenangi lomba tersebut maka dialah yang berhak menggantikan Ayah,” ujar sang ayah, “Apakah kalian setuju dengan cara ini?”
 
Sualas Guna dan adik-adiknya pun setuju. Pada hari yang telah ditentukan, perlombaan menyeberangi sungai antara keempat bersaudara tersebut siap dimulai. Seluruh rakyat pun berondong-bondong untuk menyaksikan perlombaan tersebut. Setelah gong berbunyi pertanda lomba telah dimulai, para peserta lomba pun mulai mengeluarkan kemampuan masing-masing. Sualas Guna yang mendapat giliran pertama ternyata gagal pada saat memasuki putaran keenam. Demikian pula, Nara Gama dan Jeliban Bona yang mendapat giliran kedua dan ketiga juga gagal yaitu masing-masing pada putaran keempat dan kelima.
 
Sebagai peserta terakhir, Puncan Karna yang telah mempelajari kesalahan-kesalahan kakak-kakaknya dan ditambah dengan kekuatannya yang luar biasa akhirnya dapat memenangkan lomba itu. Meskipun dinyatakan sebagai pemenang, putra bungsu Aji Julur Dijangkat itu tidak jadi diangkat menjadi Raja Pinang Sendawar karena ia harus pergi ke Kutai Kartanegara atas kehendak Dewata melalui mimpi sang ayah,
 
Pada malam sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Puncan Karna mendapat pesan dari Sanghyang Naga Salik atau neneknya melalui mimpi bahwa Raja Negeri Kutai yang bernama Maharaja Sultan mempunyai enam orang anak. Dua di antaranya adalah putri yaitu Aji Dewa Putri dan Aji Ratu Putri. Menurut sang nenek, Aji Ratu Putri itulah yang akan menjadi jodohnya.
 
Keesokan hari, berangkatlah Puncan Karna ke Negeri Kutai disertai oleh beberapa orang pengawal. Setiba di istana Kutai, pemuda tampan dan perkasa itu langsung menikahi Aji Ratu Putri dan mereka pun hidup berbahagia. Selang beberapa tahun kemudian, pasang suami istri itu dikaruniai beberapa putra yang secara turun-temurun menjadi Raja-raja Tunjung.
 
* * *
 
Demikian cerita Asal Usul Raja-Raja Tunjung dari Kalimantan Timur. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah pentingnya keutamaan sifat adil sebagaimana yang dimiliki oleh Aji Julur Dijangkat. Untuk menunjuk salah satu putranya yang akan menggantikan dirinya sebagai raja, ia mengadakan lomba menyeberangi sungai dan pemenangnyalah yang berhak atas kedudukan tersebut. Dengan demikian, maka tidak akan ada kecemburuan di antara putra-putranya.
 
 
Sumber : https://histori.id/legenda-asal-usul-raja-raja-suku-tunjung-kutai/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu