Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Jember
Asal Usul Watu Ulo
- 10 Juli 2018

Cerita asal-usul Watu Ulo merupakan salah satu jenis cerita legenda. Legenda adalah cerita rakyat mengenai asal-usul terjadinya sesuatu. Cerita berikut ini merupakan hasil saduran dari paparan narasi hasil penelitian Doktor Sukatman, Dosen Universitas Jember dalam bukunya Mitos dalam Tradisi Lisan Indonesia. Dalam buku tersebut, Sukatman menyebutkan bahwa cerita yang dia tulis merupakan hasil rangkuman dari cerita rakyat di daerah pesisir Watu Ulo.

Berikut ini merupakan saduran versi saya sendiri. Dahulu kala di tanah Jawa ada seorang sakti mandraguna. Dia bernama Ajisaka. Setelah melalui pengembaraan panjang sampailah Ajikasa di pantai selatan Jawa. Di pesisir selatan pulau jawa yang masih berupa hutan belantara Ajisaka membuka sebuah padepokan sebagai tempat menempa ilmu pengetahuan dan kanuragan untuk murid-murid pilihannya. “Wahai murid-muridku, hari ini aku akan memberikan ilmu pamungkasku kepada kalian.” Ajisaka mengawali pembicaraan di dalam padepokannya. Murid-muridnya mendengarkan dengan penuh perhatian wejangan dari gurunya tersebut. Melihat murid-muridnya hanya menunduk takzim, Ajisaka melanjutkan pembicaraannya, “Ilmu yang akan aku berikan ini hanya boleh didengar dan diketahui oleh kalian yang sudah ada pada tingkatan tertinggi. Tidak boleh didengar oleh makhluk lain yang belum sampai pada tingkatan ini.” “Berarti kami tidak boleh memberitahukan ilmu ini kepada orang lain?” salah satu murid Ajisaka memberanikan diri bertanya. “Jangankan kau beritahu, mendengar rapalan manteraku pun tak boleh meskipun itu tidak sengaja. Bisa sangat berbahaya!” Ajisaka meninggikan nadanya. Mendengar nada suara sang guru meninggi, murid-murid Ajisaka semakin dalam menunduk. Takut gurunya menjadi murka. “Ketika nanti kalian sudah mendengar rapalan mantraku, kalian harus bertapa meminta petunjuk dari Tuhan yang mahakuasa untuk kemudian mengamalkan ilmu kalian dengan cara kalian masing-masing. Apakah kalian sanggup?” Murid-murid Ajisaka hanya menjawab dengan anggukan kepala.

“Apakah kalian benar-benar sanggup?” tanya Ajisaka lagi. “Sanggup guru!” semua murid Ajisaka menjawab serentak masih dalam ketakziman. Ajisaka berdiri, mengelilingi muridnya satu persatu. Melihat dalam-dalam ke wajah muridnya satu persatu. Sambil menunjuk kepada seorang murid yang duduk di dekat pintu, Ajisaka berkata, “Kau lihatlah ke luar sana. Pastikan tidak ada orang yang ada di dekat sini.” Sang murid bergegas ke luar ruangan padepokan. Berjalan mengelilingi padepokan. Setelah memastikan tidak ada orang sama sekali, murid tersebut kembali masuk ke dalam padepokan. Melapor kepada sang guru. Setelah mendapat laporan dari muridnya, Ajisaka memerintahkan muridnya untuk bersiap. Para murid bersila, memejamkan mata sampil menyimak dengan khusyuk rapalan mantra dari Ajisaka. Tak disangka tak dinyana, ternya di luar padepokan ada seekor ayam betina yang mencari makan. Mengais-mengais tanah dengan kedua cakarnya. Begitu Ajisaka selesai merapal mantra, seketika itulah ayam betina tersebut bertelur. Sementara itu, murid-murid Ajisaka berpencar. Berjalan ke segala arah dengan tujuannya masing-masing. Mengikuti arahan sang guru untuk bersemedi. Begitu pula dengan Ajisaka. Dia melanjutkan perjalanannya mengembara ke seluruh tanah jawa. Menyebarkan ilmu dan kesaktiannya kepada muridmurid yang lain. Setelah hari berganti, ayam betina kembali bertelur. Tetapi tidak sama dengan telur yang pertama. Jika telur yang pertama ukurannya besar. Telur-telur selanjutnya, ukurannya normal layaknya ukuran telur ayam biasanya. Setelah dierami 21 hari, akhirnya telur-telur tersebut. Dari sekian anak ayam yang menetas, ada satu wujud yang membuat induk ayam terheranheran. Telurnya yang paling besar menetaskan seekor ular yang cukup besar. Ular itu dapat berbicara.

“Ibu, mengapa bentukku begini? kenapa tidak sama dengan saudara-saudaraku yang lain?” Anak Ular bertanya kepada ibunya yang seekor ayam. “Pun aku tak mengerti wahai anakku. Aku juga tidak  tahu.” Induk ayam juga kebingungan melihat wujud salah satu anaknya yang sangat tidak lazim. “Apakah benar aku anakmu wahai ibuku?” Anak ular masih bertanya-tanya. “Iya anakku, kau adalah anakku. Tapi, kala itu aku tak mengerti. Aku tiba-tiba bertelur ketika aku mencari makan di sini. Sehingga kuputuskan untuk membuat sarang di sini.” Dalam kebingungannya, anak ular terus bertanya-tanya kepada siapa saja yang ditemuinya. Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang tua. Jauh dari tempatnya menetas, “wahai orang tua, adakah kau mengerti siapa bapakku? Mengapa bentukku ular sementara ibuku adalah seekor ayam?”

“Mana aku mengerti wahai anak ular. Adakah aku percaya kepadamu bahwa kau adalah anak ayam? sedangkan tubuhmu berbentuk ular besar seperti ini?” lelaki tua yang ditanya justru balik bertanya. “Aku tidaklah bohong wahai orang tua. Ibuku adalah seekor ayam yang tiba-tiba bertelur aku ketika mencari makan di sebuah padepokan yang sudah tidak ditempati lagi.” Anak ular yang sudah tumbuh besar berusaha menjelaskan. “Oh, apakah kau berasal dari padepokan di tepi hutan itu? kalau benar. Hanya Ajisaka yang bisa menjawab, siapa bapakmu. Dia adalah orang sakti mandraguna yang banyak mengerti tentang banyak hal di tanah jawa ini.” Setelah mendengar penjelasan dari lelaki tua yang ditemuinya, anak ular kembali melanjutkan perjalanan. Hari demi hari, bulan berganti, tahun berganti. Akhirnya tubuh anak ular semakin membesar. Berubah menjadi ular raksasa. Pada akhirnya dia dapat menemukan tempat tinggal Ajisaka. Anak ular yang kini menjadi ular raksasa bertanya kepada Ajisaka, “Wahai tuan yang yang mulia. Adakah tuan mengerti siapakah bapakku?” “Iya wahai ular raksasa. Bapakmu adalah orang terhormat. Dia manusia terhormat terpandang di seantero tanah jawa.” Ajisaka menjawab penuh kewibawaan. “Siapakah dia? bisakah aku menemuinya?” “Bisa, sungguh bisa wahai ular raksasa. Kau bisa menemuinya. Tetapi tidak sekarang. Kau harus menemuinya dalam wujud manusia. Tidak dalam wujudmu yang seperti sekarang ini.” “Baik wahai tuan yang mulia. Maukah tuan membantuku agar aku bisa berwujud manusia?” “Apakah kau sungguh-sungguh ingin memiliki wujud manusia? Ada syarat yang berat yang harus kau lakukan.” Ajisaka memberikan syarat kepada ular raksasa. Karena keinginan yang sangat kuat untuk bisa menemui orang tuanya, ular raksasa menyanggupi syarat yang diberikan oleh Ajisaka. “Wahai ular raksasa, jika kamu ingin memiliki wujud manusia, kamu harus bertapa. Setengah badanmu harus di darat, sementara setengah badanmu harus berada di air.” Mendengar arahan dari Ajisaka, ular raksasa bergegas mencari tempat untuk bertapa. Setelah sekian lama mencari tempat untuk bertapa, akhirnya dia memutuskan untuk bertama di tepi pantai. Agar tidak ada yang mengganggu, dia bertapa di sebuah hutan di kaki gunung pantai selatan. Bertahun-tahun dia bertapa tak kunjung juga menjadi manusia. Tubuhnya dipenuhi lumut dan akhirnya membatu.

Sumber: http://pustamun.blogspot.com/2016/02/carita-rakyat-asal-usul-watu-ulo-jember.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum