Di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, terdapat sebuah Desa bernama To Un Rano. Di Desa To Un Rano ini, tinggal seorang gadis bernama Lintang. Kecantikan Lintang begitu terkenal di seluruh pelosok desa. Suara Lintang sangat merdu. Banyak pemuda yang jatuh hati padanya. Tak sedikit yang bermaksud meminangnya untuk dijadikan sebagai istri. Tetapi, Lintang selalu menolak. Bahkan putra mahkota Raja Mongondow pun harus melupakan keinginannya memperistri Lintang. Padahal, putra mahkota itu telah menghadiahi Lintang sebuah seruling emas yang indah.
Suatu hari, di acara pesta muda-mudi, seorang pemuda tampan dan gagah mencoba mendekati Lintang.
“Wahai, Putri Lintang. Namaku Makasiga dari Desa Kelabat Atas,” ujar Makasiga memperkenalkan diri.
Perkenalan itu sangat berkesan di hati keduanya. Hingga suatu hari, Makasiga memberanikan diri meminang Lintang. Gadis cantik itu pun menerima pinangan Makasiga dengan satu syarat.
“Makasiga, tolong buatkan aku alat musik yang suaranya lebih merdu dari seruling emas milikku,” perintah Putri Lintang.
Makasiga segera mengangguk menyanggupinya. Dia yakin bisa segera menemukan alat musik yang dimaksud. Sayang, kenyataan tak terjadi semudah yang Makasiga bayangkan. Beberapa alat musik yang dia berikan ternyata tak dapat memuaskan hati Lintang.
Makasiga terpaksa berkelana keluar masuk hutan untuk menemukan alat musik yang tepat. Udara di hutan sangatlah dingin. Demi menjaga agar tubuhnya tetap hangat, Makasiga membelah kayu dan menjemurnya. Potongan-potongan kayu yang telah kering dia kumpulkan, lalu dilempar ke suatu tempat. Bunyi kayu yang beradu dengan tanah terdengar nyaring dan merdu.
Tong… Ting… Tang….
“Hei, kayu ini agaknya bisa kujadikan sebuah alat musik. Putri Lintang pasti menyukainya,” seru Makasiga bersemangat.
Makasiga lalu meletakkan kayu-kayu tersebut berjejer di kakinya. Ketika kayu-kayu itu dipukul, terdengar suara bernada rendah, tinggi, dan sedang. Tong… Ting… Tang.… Terdengar bergantian.
Siang dan malam, Makasiga memotong kayu dengan panjang yang berbeda-beda untuk mencari suara yang pas.
“Putri Lintang pasti senang dengan alat musik ciptaanku,” gumam Makasiga sambil terus membunyikan alat musik barunya. Suara musik itu terdengar sangat nyaring memecah kesunyian hutan.
Dua orang pemburu mendengar suara itu dari kejauhan.
“Itu pasti suara makhluk halus penunggu hutan ini!” ujar salah seorang pemburu sambil gemetar ketakutan.
“Ah, tidak ada makhluk halus membuat suara senyaring dan semerdu itu,” kata pemburu lainnya tak percaya.
Akhirnya kedua pemburu itu mendekati asal suara untuk mencari tahu. Alangkah terkejutnya mereka. Ternyata si pembuat suara adalah seorang pemuda yang terlihat sangat lusuh. Mereka mengenalnya sebagai Makasiga, sang ahli ukiran dari Desa Kelabat Atas.
Ya. Makasiga telah menjadi kurus dan lemah karena berusaha begitu keras menciptakan alat musik bersuara merdu. Demi mengabulkan keinginan gadis pujaannya, Makasiga sering melupakan makan, minum, dan waktu istirahatnya.
“Mangemo kumolintang,” ucap Makasiga lirih. Dia limbung, lalu terjatuh.
Kedua pemburu itu segera menolong Makasiga dan membawanya ke Desa Kelabat Atas. Makasiga terlalu lemah. Dia tidak bisa disembuhkan dan akhirnya meninggal dunia.
Berita kematian Makasiga terdengar hingga ke telinga Lintang. Dia sangat sedih hingga jatuh sakit dan menyusul Makasiga ke alam baka.
Alat musik ciptaan Makasiga tetap dimainkan di Desa To un Rano, atau kini dikenal sebagai Tondano. Ucapan “mangemo kumolintang” berarti ajakan “mari kita ber tong, ting, dan tang”. Lambat laun, istilah ini berubah menjadi ajakan bermain kolintang.
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/asal-usul-kolintang/
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...