Bawean merupakan sebuah pulau kecil yang dikitari oleh pulau pulau yang lebih kecil seperti: pulau noko,pulau selayar,gili,nusa,karangbila dan cina.Dihuni 68 ribu jiwa dengan mata pencaharian sebagian besar nelayan dan bertani yang tregabung dalam satu suku bangsa yakni suku bawean.Pulau yang luasnya kira2: 200km2 ini berada kurang lebih dua belas mil laut atau 120 km sebelah uatara kota gresik. Sejak tahun 1974 pulau bawean termasuk kabupaten gresik, yang sebelumnya berada dibawah kekuasaan surabaya.Pulau bawean terdiri atas dua kecamatan,30 desadan sekitar 143 dusun.Bwean dikenal oleh masyarakat antarabangsa karna dua hal yaitu karena mempunyai produksi anyaman tikar yang khas dan karena mempunyai satu jenis rusa yang tiada duanya di dunia yaitu AXIS KUHLI(rusa bawean)selain itu bawean dikenal karna kebiasaan masyarakatnya yang suka merantau.Terutamanya pemudanya sangat gemar merantau baik di dalam negari atau keluar negara "Belum di anggap dewasa jika putra bawean belum pernah mengijakkan kaki ke negara orang".Mengapa mereka suka merantau?yang pertama karena pulau bawean merupakan daerah kecil terpencil jauh dari keramaian kota dan di kelilingi laut.Letak geokrafis ini yang memaksa penghuninya untuk berusaha mencari kehidupan yang lebih layak di negeri orang.Jika ditelusuri asal usulnya , penduduk bawean benar benar berasal dari banyak suku bangsa, ada yang berasal dari sulawesi,bigis, palembang,madura, bajarmasin,jawa dan lain sebagainya. EMANUEL SUBANGUN,wartawan KOMPAS jakarta, beliau pada tahun 1976 datang ke bawean kemudian menulis di harian KOMPAS yang antara lain mengemukakan bahwa jawa ditambah sumatra ditambah kalimantan ditambah sulawesi dan irian samadengan bawean, merupakan kristalisasi dari banyak suku bangsa di nusantara. hal ini dapat di ketahui dari pradeban, kebudayaan dan kesenian yang tersebar di bawean, dari segi bela diri misalnya :ada pencak ada kunto,silat,gelut atau gulat,tembung,tikpi, dan main pedang.Dari kesenian ada bermacam kesenian (walau saat ini sudah tidak lagi di gemari)antaralain jibul,samman,remo,orkes melayu,hadrah, kercengan,zamrah dll, namun hingga ke saat ini bawean belum memiliki seni budaya yang tetap.Pada mulanya pulau ini bernama"pulau mejeti"atau 'pulau majdi"yang berasal dari bahasa arab yang artinya uang logam,disebut demikian karna bentuk pulau ini bulat seperti uang logam.Tapi mengapa akhirnya bernama Bawean?ceritanya demikian"pada masa kerajaan majapahit berada pada saat ke emasannya ia bermaksud untuk menyatukan nusantara maka dikirimlah seluruh armadanya untuk berlayar menuju daerah yang nanjauh disana ternyata dari sekian banyak armada yang dikirim ada yang mendapat kemalangan perahu mereka di serang badai di laut jawa dan akhirnya mereka yang terselamat terdampar di sebuah pulau,dari rasa yang sangat girang karna terselamat,tanpa sengaja terlontarlah kata dari ketua pasukan "BA-WE-ANyang berasal dari bahasa sangsekerta "BA"artinya sinar"WE"artinya matahari "AN"artinya ada, yang bermaksud ADA SINAR MATAHARI.Kini mereka hidup di pulau yang baru mereka kenal dengan penuh kebahagiaan karna baru saja terselamat dari maut dengan nama itulah mereka menyebut pulau itu BAWEANyang lambat laun panggilan majeti atau majdi tidak terdengar lagi
Sumber: http://acikroncot-putratanjung.blogspot.com/2010/11/asal-usul-bawean.html
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara