Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jambi Jambi
Asal Usul Batu Betung Bertakuk
- 27 Desember 2018

Daerah Serampas dan Sunagi Tenang, pada zaman dahulu, terkenal dengan penduduknya yang menguasai ilmu-ilmu gaib, seperti kebal tahan senjata. Bila ada seseorang yang akan meninggalkan negeri, pergi merantau, berarti orang tersebut telah tahan uji.

Tahan akan senjata tajam, tahan tikam, tahan pancung, menguasai segala macam silat. Kalau belum mempunyai ilmu-ilmu tersebut mereka tak hendak meninggalkan negeri mereka itu. Tidak mengherankan apabila pada masa itu orang-orang negeri Serampas dan Sungai Tenang tak suka merantau, dan agak tertutup dari segala kemajuan.

Sekali peristiwa, ada seorang pendekar negeri Rawas singgah di Serampas dalam perjalananya menuju  Kerinci. Pendekar itu bermaksud bermalam di sana. Oleh orang Serampas ia diperlakukan sebagai seorang tamu yang harus dihormati. Maka ditawarkan supaya ia bersedia bermalam di salah sebuah rumah seorang pendekar negeri Serampas yang terpandang. Tetapi sungguh diluar dugaan, pendekar negeri Rawas itu dengan angkuh menolak basa-basi orang negeri Serampas itu, bahkan ia sengaja bertingkah yang menyakitkan hati penduduk negeri yang disinggahinya. Ia terang-terangan menolak dan memperlihatkan kependekarannya.

"Hamba tak perlu bermalam di rumah," katanya menyombongkan diri. "Tidur di bawah rumah jadilah."

"Tak baik demikian," jawab orang Serampas. "Baik jugalah anda bermalam di rumah kami. Tentu kita dapat bertutur kata selelanya. Bercakap-cakap, bertukar pikiran."

Orang Rawas itu tetap tak hendak. Dan sore harinya ia minta dicarikan seekor ayam. Tapi karena ulahnya yang angkuh dan sombong itu, orang-orang Serampas tak hendak lagi memandang sebelah mata sekali pun. Orang tak mengacuhkannya lagi. Maka pendekar asing itu mulai bertindak sendiri. Seekor ayam aduan seorang pendekar Serampas ditangkapnya begitu saja. Ayam itu segera dipotongnya. Ketika akan mencencang ayam itu, landasannya ialah pahanya sendiri. Pisau yang dipergunakannya sebuah pisau yang setajam-tajamnya. Tapi kulitnya tak luka sedikit pun. Perbuatan ini memang disengajakannya, supaya orang mengetahui kehebatan ilmunya. Ilmu temun jati yang dimilikinya. Supaya orang tahu benar bahwa ia seorang dubalang perkasa yang tak takut sedikit pun terhadap pendekar-pendekar Serampas. Ia nampaknya sengaja memperlihatkan tulang yang besar, kulit liat tahan besi.

Esok harinya, pagi-pagi sekali, pendekar Rawas itu pun berangkatlah melanjutkan perjalanan menuju Kerinci. Seorang dubalang itu. Bagi dubalang Serampas itu elok kiranya perhitungan segera ditentukan. Akan sangat baik lagi bila perhitungan itu diluar negeri Serampas. Ini untuk menjaga kemungkinan supaya jangan sampai mengganggu orang banyak yang pasti ikut menontonnya.

Lagi pula apa gunanya ditonton orang. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi segeralah disusulnya arah ke suatu tempat bernama Betung Bertakuk.

Di Betung Bertakuk ada sebuah pondok yang biasa dipergunakan  siapa saja yang lewat di situ untuk tempat berhenti melepaskan lelah atau tempat bermalam. Rupaya pendekar negeri Rawas itu juga berhenti di sana. Tentu saja ia bertemu dengan penyusulnya disana. Sedang pendekar itu enak-enak istirahat di dalam pondok yang terbuat dari bambu dan beratap daun bambu pula, tiba-tiba dubalang negeri Serampas mencogok, mengejutkannya.

Dubalang Serampas dengan marah yang tak terkendalikan menyerangnya dengan kata-kata yang sangat pedas.

Engkau benar-benar seorang yang tak beradat," ujar Dubalang Serampas kepada pendekar negeri Rawas itu."Adakah mungkin ketika engkau sedang berada di negeri kami telah berbuat sangat kurang ajar. Engkau tangkap ayam kami seenaknya seperti ayam itu kepunyaan sendiri. Kami tahu apa maksudmu yang sebenarnya.

Lain tidak engkau sengaja untuk memperlihatkan kehebatanmu. Mungkin engkau mengira penduduk negeri Serampas itu terdiri dari wanita semuanya. Tak baik begitu sobat."

Semula hanya pertengkaran mulut. Tapi ketika makin lama makin panas, berubahalah menjadi perkelahian. Perkelahian antara sesama dubalang  dimulai dengan tangan kosong. Tapi karena memperlihatkan suatu hasil, maka keris segera dipergunakan.

Tikam-menikam, tusuk-menusuk namun belum ada juga yang kalah dan yang menang. Lalu diganti pula senjata dengan kujir, sudah itu perang, kemudian pisau tapi tak seorang pun diantara mereka yang dapat roboh.  Usahakan roboh, tergores sedikit pun tidak. Mereka tak mempan oleh besi melintang membujur. Kedua belah pihak nampak sudah kehilangan akan dalam usaha masing-masing untuk mengalahkan lawannya.

Dalam saat yang sangat keritis itu, melintas dalam pikiran Dubalang Serampas, bahwa dulunya gurunya pernah berpesan bila hendak mengalahkan seseorang yang memiliki ilmu temun jati seperti pendekar yang sedang dihadapinya itu, jangan menggunakan senjata yang terbuat dari besi, tapi cukup menggunakan batang kayu terap.

Waktu beristirahat segeralah dubalang Serampas Ranah Kemumu itu mengambil batang kayu terap secukupnya. Benar saja, pendekar negeri Rawas tak tahan menghadapi senjata yang tak berarti itu. Pinggulnya sekali saja dipukul sudah membuatnya terjatuh. Kemudian dubalang Serampas memukul sikunya, terus kepala. Dipukulinya sekujur tubuh pendekar Rawas itu, dipukulnya sepuas-puasnya. Akhirnya tamatlah riwayat pendekar yang sombong itu. Tak dikira perkelahian antara dua pendekar itu sudah tiga hari, tiga malam.

Dengan berbaik hati, dubalang Serampas yang memenangkan perkelahian tersebut, segera menyeret tubuh yang telah menjadi mayat itu untuk dikuburkan. Di galinya tanah sedalam kira-kira dua meter untuk tempat kuburan orang itu. Mayat itu pun dimasukkannya ke dalam lobang itu. Sesaat ia masih sempat memandang wajah bekas musuhnya itu.

Diam-diam ia mengakui kehebatan bekas lawannya. Tak lama sesudah itu segera mengeruk tanah untuk menimbuni lobang lahat. Tetapi begitu pekerjaan selesai, mayat itu tercuat ke atas menyibakkan tanah penimbunannya. Sungguh aneh!.

Maka ditanamkan kembali ke dalam lobang, namun mayat kembali lagi ke atas. Begitu seterusnya sampai beberapa kali. Karena sudah capek maka dubalang Serampas itu pun pergilah kembali ke negerinya yang memang tak berapa jauh dari sana. Tinggallah mayat itu di sana dalam keadaan tak terkubur.

Lama kelamaan mayat itu berubah menjadi batu dalam wujud sedang duduk. Kedua tangannya menjelapai di atas kedua pahanya. Kuku-kuku tangannya  memanjang kira-kira sejengkal. Gigi atas memanjang ke bawah melewati bibir bawah yang tebal, dan gigi bawah memanjang ke atas melewati bibir atas. Karena terdapat di Betung Bertakuk, di pinggir jalan setapak menuju Kerinci, maka patung batu itu dinamakan orang sampai sekarang Batu Betung Bertakuk.

 

 

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Jambi oleh Drs. Thabran Kahar; Drs. R. Zainuddin; Drs. Hasan Basri Harun; Asnawi Mukti, BA

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu