Situ Gede adalah kawasan danau seluas 47 hektar yang terletak di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat dan dapat diakses sekitar 30 menit dari pusat kota. Di bagian tengah situ ini terdapat satu pulau seluas satu hektar, dan di dalamnya terdapat makam Eyang Prabudilaya, seorang tokoh agama Islam. Kisah yang berkembang di masyarakat tentang asal mula terbentuknya situ ini pun berkaitan erat dengan perjalanan hidup Eyang Prabudilaya.
Eyang Prabudilaya, atau Prabu Adilaya, adalah seorang Raja Muda Sumedang. Dikisahkan setelah ia menyelesaikan ilmu kanuragan di Sumedang, Ia berangkat ke Mataram untuk menuntut ilmu agama bersama istrinya, Nyai Raden Dewi Kondang Hapa, beserta dua pelayannya atas permintaan sang ibu. Sesampainya di Mataram, Prabu Adilaya berguru ke Kyai Jiwa Raga dan menyelesaikan pembelajarannya dengan sangat cepat dan membuat sang guru kagum. Menjadi murid Kyai Jiwa Raga terbaik, ia dinikahkan oleh sang guru dengan putrinya yang cantik jelita, Dewi Cahya Karembong, sebagai istri keduanya. Bersamaan dengan itu, Prabu Adilaya juga diminta untuk berguru mencari ilmu Islam lagi ke tatar Sukapura.
Dalam perjalanan menuju tatar Sukapura, meskipun pada awalnya kedua istri Prabu baik-baik saja dan tentram, Istri keduanya, Dewi Cahya Karembong, mulai mempertanyakan sang Prabu. Karena setelah menikah, Ia belum saja menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia pun bertanya kepada Nyai Raden Dewi Kondang Harpa dan ternyata ia pun sama-sama belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri, meski sudah menikah satu tahun lamanya. Meskipun hal ini sebenarnya disebabkan oleh tekunnya Prabu Adilaya dalam menuntut ilmu dan menjadi melupakan kewajibannya sebagai seorang suami, ide dan itikad buruk pun mulai muncul di pikiran kedua istrinya ini. Pikiran akan datangnya istri ketiga setelah Prabu menyelesaikan perguruannya di tatar Sukapura membuat Nyai Raden Dewi Kondang Harpa dan Dewi Cahya Karembong merencanakan pembunuhan sang Prabu. Ketika terlelap, Kedua istri Prabu menghujamkan keris di dadanya, dan dengan tanpa teriakan, tetapi kalimat asma Allah, Prabu menghembuskan napas terakhirnya. Kedua istrinya pun berencana menguburkan jenazahnya, hingga tiba di suatu rawa-rawa. Ketika para pelayannya yang disuruh menggali selesai, mereka berdua pun dibunuh untuk menutupi jejak kedua istri Prabu ini. Mereka dikuburkan bersama di rawa-rawa ini yang memang tersembunyi.
Purnama telah banyak berganti, namun tak ada kabar sang Raja Muda di Sumedang sejak ia pergi ke Mataram. Sang Ibu yang khawatir pun mengutus adik sang Prabu untuk menelusuri sang kakak. Hingga sampai di tatar Sukapura, Ia tidak bisa menemukan keberadaan maupun kabar sang kakak karena memang makamnya tersembunyi. Ketika hendak berniat pulang, Adik sang Prabu ini malah mengikuti sayembara melawan seekor singa, hingga menang dan akhirnya dinikahkan dengan putri penguasa daerah. Hal ini pun membuatnya lupa akan pulang ke Sumedang. Pada akhirnya, karena Sang Ibu masih mengharapkan pulang kedua anaknya, Ia sendiri lah pergi menelusuri jejak anaknya. Dari Mataram Ia mengetahui bahwa kedua anaknya ini pergi ke tatar Sukapura. Sepanjang perjalanan ke Sukapura, Ia memanjatkan doa kepada Allah SWT agar kedua anaknya dapat ditemukan. Dengan izin Allah, sesampainya di Sukapura ia berakhir di rawa-rawa tersembunyi tadi dan melihat cahaya yang memancar dari dalam gundukan tanah. Berdoa dan memohon petunjuk Allah, akhirnya didapatkanlah petunjuk bahwa di dalamnya ada jenazah Prabu Adilaya dan kedua pelayannya. Air mata sang ibu tak tertahankan, berurai deras ke tengah gundukan tanah tempat Pewaris Tahta Sumedang terkubur. Doa pun ia panjatkan agar terlindung makam putranya, maka air rawa di sekitar makam ini pun naik beberapa meter hingga menyisakan makam sebagai pulau di tengahnya. Ada bisikan kepada sang Ibu untuk menancapkan tongkat yang dibawanya, hingga tumbuhlah pohon-pohonan rimbun di pulau itu. Pada saat akan pulang menyebrangi rawa yang sudah menjadi danau, ada empat ekor ikan yang sang Ibu beri nama si Gendam, si Kohkol, si Genjreng, dan si Layung dan diberi tugas untuk menjaga makam sang Prabu dari tangan-tangan jahil yang mengganggunya. Ketika bertemu dengan dua penduduk lokal saat hendak berangkat, sang Ibu berpesan : "Mugi aranjeun kersa titip anak kuring di pendem di eta nusa, jenengannana sembah dalem Prabu Adilaya, wangku ka prabonan di Sumedang mugi kersa maliara anjeuna dinamian juru kunci (kuncen) jeung kami mere beja saha anu hoyong padu beres, nyekar ka anak kami oge anu palay naek pangkat atawa hayang boga gawe kadinya, agungna Allah cukang lantaranana sugan ti dinya.” Yang artinya : "Semoga kalian bersedia untuk dititipi anak saya yang dimakamkan di pulau itu, namanya Sembah Dalem Prabu Adilaya, yang memegang tampu ke prabuan di Sumedang semoga kalian bersedia untuk memeliharanya, dan saya memberitahukan kepada siapapun yang berselisih ingin beres, atau naik pangkat juga ingin punya pekerjaan silahkan nyekar ke sana, agungnya kepada Allah SWT semoga sareatnya dari sana.”
Hingga saat ini, kawasan Situ Gede masih memiliki juru kunci, dan konon katanya di kedalaman air Situ Gede memang terdapat ikan-ikan raksasa penjaga makam Eyang Prabudilaya.
sumber:
juru kunci
http://dudu-tasikmalaya.blogspot.com
http://www.disparbud.jabarprov.go.id
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara