Pada zaman dahulu di daratan Pulau Halmahera bagian utara, tepatnya di daerah Tobelo dan Galela sekarang, terdapat sebuah kerajaan yang dikenal dengan nama Kerajaan Moro. Kekuasaan Kerajaan Moro sangat besar, terbentang dari ujung utara sampai dengan ujung selatan Pulau Halmahera dan beberapa pulau di sekitarnya.
Penduduk Kerajaan Moro hidup dalam keadaan makmur karena hasil buminya yang melimpah. Tanahnya sangat subur sehingga selain berladang, rakyat Moro menanam kebun dengan berbagai palawija dan sayur-sayuran. Di samping itu, Kerajaan Moro terkenal dengan tanaman kelapanya. Hampir sepanjang mata memandang hanyalah pohon kelapa yang terbentang mulai dari pantai hingga ke pegunungan. Tanaman kelapa tumbuh dengan sangat subur.
Masyarakat Moro sangat gemar mengadakan perjalanan jauh antarpulau guna membuka perkebunan yang baru. Tidak heran hingga sampai saat ini komunitas masyarakat Moro yang lebih dikenal dengan orang Tobelo dan Galela tersebar hampir di seluruh kawasan Jazirah Maluku, khususnya Maluku Utara, mulai dari pulau yang paling ujung di bagian utara, yakni Pulau Morotai, hingga ujung selatan, yaitu Pulau Obi. Bahkan, diyakini bahwa salah satu suku di Filipina yang mendiami Pulau Mindanao bagian selatan berasal dari Moro yang berpindah dan menetap di tempat itu sebagai akibat dari berbagai hal, terutama peperangan.
Dikisahkan pada saat Kerajaan Moro mencapai puncak kemakmurannya, para pembesar kerajaan mulai terlena dengan berbagai kemewahan dan kesenangan. Persoalan negara dan rakyat tidak lagi diperhatikan. Pesta dan hura-hura mulai menjadi kebiasaan baru mereka. Keadaan ini sudah sangat jauh merasuk ke dalam jiwa para pembesar Kerajaan Moro. Tanpa mereka sadari ada sebuah ancaman yang sangat besar yang datang dari sebuah kerajaan di sebelah utara Kerajaan Moro, yaitu kerajaan Loloda. Pada awalnya, Kerajaan Loloda adalah bagian atau daerah taklukan dari Kerajaan Moro.
Sementara itu, dari dalam Kerajaan Moro sendiri rakyat sudah mulai geram dengan keadaan yang mereka hadapi. Belum lagi ancaman dari bajak laut yang sering mengancam dan mengganggu para nelayan yang menangkap ikan dan para saudagar yang keluar masuk membawa barang niaganya. Di lain pihak, raja dan para pembesar kerajaan semakin jauh terlena dengan gaya hidup baru mereka tanpa menghiraukan situasi yang mulai merongrong kedaulatan negeri Moro. Hal ini karena mereka sangat yakin dengan kekuatan pasukan mereka. Namun, temyata sebagian dari para prajurit pun sudah merasa jenuh dengan perlakuan yang semena-mena dari para bangsawan terhadap rakyat jelata.
Rakyat mulai gelisah, geram, dan marah karena dibebani dengan pajak yang sangat tinggi. Akhimya, pada suatu hari, setelah melakukan persiapan yang matang dan menetapkan waktu yang tepat, rakyat yang dibantu oleh sebagian pasukan kerajaan yang merasa tidak puas dengan perlakuan dan kesewenang-wenangan mengadakan pemberontakan terhadap Kerajaan Moro. Perang saudara pun berkecamuk dengan hebatnya. Korban berjatuhan dari. kedua pihak silih berganti, baik dari rakyat maupun dari pasukan kerajaan. Bumi Moro yang dahulunya sangat damai dan tenteram kini bersimbah darah.
Dengan semangat yang berkobar-kobar, rakyat Moro yang dibantu sebagian prajurit yang bersimpati dengan perjuangan rakyat bahu-membahu menyerang pasukan kerajaan yang masih setia dengan raja. Selama berhari-hari perang terjadi dengan dahsyatnya. Kemenangan silih berganti di antara kedua pihak. Tak terhitung lagi berapa nyawa yang melayang. Belum ada pertanda perang akan usai, masing-masing pihak tetap mempertahankan tujuannya. Tidak ada yang mau mengalah. Hal ini sangat disayangkan karena ancaman sebenarnya akan datang dan meluluhlantakkan Kerajaan Moro.
Dari situasi yang sangat kacau akibat perang saudara itu, dari arah utara, Kerajaan Loloda mengambil kesempatan dengan menyerang Kerajaan Moro. Dengan kekuatan penuh, pasukan Kerajaan Loloda menyerang dengan membabi-buta. Mereka masuk ke kancah peperangan dengan menyerang kedua pihak. Akibatnya, korban pun berjatuhan di pihak Moro, baik pemberontak maupun pasukan Kerajaan Moro.
Karena telah terkurasnya tenaga dan juga telah berkurangnya jumlah prajurit dan pemberontak yang tewas akibat perang saudara yang telah berlangsung lama, pasukan Moro mulai terdesak dan akhimya kejatuhan Kerajaan Moro ke pasukan Loloda tidak terelakkan lagi. Raja dan pembesar Moro ditawan. Pasukan dan rakyat Moro lari kocar-kacir menyelamatkan diri dari keganasan pasukan Loloda yang terus menyerang dan memburu sisa-sisa pasukan.
Karena keteledoran raja dan pembesar Moro dengan hidup berfoya-foya dan berhura-hura, mereka harus membayar mahal dengan takluknya kerajaan mereka ke Kerajaan Loloda yang dulunya adalah wilayah kekuasaannya. Raja dan keluarganya dan disertai petinggi-petinggi kerajaan dibawa ke Loloda sebagai tawanan. Sisa-sisa prajurit dan rakyat yang ikut berperang pergi menyelamatkan diri. Mengungsi ke daerah yang lebih aman. Semen tara itu, rakyat yang tidak ikut terlibat dalam peperangan dibiarkan hidup dan menjalani kehidupan seperti biasanya.
Sisa pasukan yang terus dikejar oleh pasukan Loloda pergi mencari daerah yang tidak terjangkau oleh pasukan itu. Mereka ada yang meneruskan perjalanan sampai ke daerah Bacan, Obi, dan di selatan Pulau Halmahera. Namun, tidak semua orang mengikuti jalur tersebut. Ada sebagian kecil yang menyelamatkan diri tidak jauh dari bekas wilayah Kerajaan Moro. Mereka menuju ke sebuah pulau yang berdekatan dengan Pulau Morotai, yakni sebuah pulau kecil yang pada akhimya mereka namakan dengan Pulau Matita.
Pulau Matita adalah salah satu pulau yang berada pada gugusan pulau-pulau kecil yang berhadapan dengan Pulau Morotai. Pulau Matita berada paling luar di antara sekitar sepuluh pulau yang ada sehingga Pulau Matita merupakan pintu gerbang ke arah utara Pulau Halmahera.
Sisa-sisa pasukan dan sebagian kecil rakyat yang datang ke Pulau Matita akhimya menetap dan memulai kehidupan dari awal. Hidup mereka dengan bertani dan juga nelayan karena laut di situ menghasilkan ikan yang melimpah ruah. Mereka hidup dengan rukun, tenteram, dan damai selama beberapa waktu kemudian.
Penduduk Matita belum mengenal agama. Kepercayaan yang mereka anut masih berupa animisme dan dinamisme. Percaya akan roh leluhur dan benda-benda berupa batu, pohon, sungai, dan sebagainya yang menurut mereka dapat mendatangkan kebaikan. Kepercayaan ini mereka sebut dengan somageawo. Sampai pada suatu saat pada akhir abad ke-19 datang seorang penyebar Islam yang berasal dari Hadaral Maut, yaitu suatu tempat di wilayah Negara Yaman sekarang, bemama Syekh Madum Yaman. Beliau disertai dengan dua anaknya, yaitu Muhammad Yaman dan Ismail Yaman serta seorang menantunya.
Mereka datang untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Matita yang pada saat itu belum mengenal agama. Syekh Madum memperkenalkan Islam dan mengajarkan tentang kebesaran Allah swt. dan ke-Esa-an-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang patut disembah selain Allah swt. Para penduduk mendengarkan semua seruan dari Syekh Madum dengan baik. Namun, mereka masih belum mau meninggalkan ajaran nenek moyang. Syekh Madum tetap mengajarkan dan menyampaikan sendi-sendi ajaran agama Islam.
Penduduk Pulau Matita bukannya tidak pemah mendengar ajaran Islam. Sering mereka berinteraksi dengan Islam di kala mereka ke luar pulau untuk menjual hasil bumi kebun dan juga hasil tangkapan ikan. Dari perjalanan itu sering sekali mereka mendengar tentang sebuah agama, yakni Islam, terlebih tentang karamahan dari para Nabi dan Wali. Pada suatu hari, di kala Syekh Madum menyampaikan seruannya tentang Islam, datanglah beberapa orang yang merupakan pemuka masyarakat Pulau Matita. Mereka adalah Doi Bati yang merupakan wakil Kepala Desa dengan Isterinya, Fini, dan seorang bawahannya bemama Lasera, yang juga didampingi oleh isterinya, Maenan.
"Wahai Syekh Madum, sudah lama kami mendengar tentang Islam, baik dari luar sana maupun dari mulut Syekh sendiri. Banyak hal yang kami dengar tentang kebesaran agama Islam ini," kata Doi Bati membuka percakapan.
"Memang benar Syekh apa yang disampaikan oleh Doi Bati tadi. Kami heran karena menurut kabamya orang Islam bisa membuat sesuatu yang mustahil menjadi nyata," imbuh Lasera.
"Wahai para penduduk Matita, sesungguhnya kebenaran Islam itu tidak perlu diragukan lagi. Ada pun pertanyaan dari Saudara berdua ini tentang kebesaran Islam itu tidak terlepas dari kehendak Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Jika Dia berkehendak, cukup dengan mengatakan "jadi", maka jadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya," jawab Syekh Madum dengan tenang.
"Islam mengajarkan bahwa Allah swt. adalah Tuhan Yang Esa. Tidak ada Tuhan selain Allah. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi. Dia Mahakuasa atas segala yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa beribadah sesuai dengan perintah-Nya dan selalu berdoa serta berserah diri kepada Allah," sambung Syekh Madum lagi.
"Baiklah! Dengarkan wahai rakyatku! Saya, Doi Bati setelah mendengarkan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Syekh Madum selama ini, maka sesuai dengan hasil musyawarah kita selama beberapa malam ini, saya mewakili seluruh rakyat Matita memutuskan bahwa kami akan mengikuti seruan Anda dengan syarat jika memang Islam adalah agama yang benar dan dinaungi dengan kebesaran TuhanNya, maka kami meminta agar Anda bisa membuat rep yang ada dian tara Pulau Matita ini dengan Pulau Kokoya timbul ke permukaan laut. Kami rakyat Matita akan mengikuti ajaran yang Syekh sampaikan kepada kami!" seru Boi Bati dengan lantang.
Rep adalah terumbu karang yang tumbuh dari dasar laut yang sebagiannya muncul ke permukaan laut. Rep tersebut lebamya pada saat itu hanya sekitar lima meter. Jika air laut surut, kedalaman rep hanya sekitar satu meter setengah atau seukuran dada orang dewasa. Di tempat itu merupakan tempat berkumpulnya ikan sehingga para warga Pulau Matita sering menangkap ikan di sekitamya.
Sementara itu, Syekh Madum setelah mendengar syarat yang ditawarkan oleh penduduk Matita, dengan tenang menjawab tantangan mereka.
"Baiklah wahai sekalian penduduk Matita! Insya Allah, dengan izin Allah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa, saya akan mencoba melakukan sesuai dengan permintaan Saudara sekalian. Akan tetapi, sebelumnya agar hal itu bisa terlaksana saya minta bantuan beberapa orang untuk mencari sarang burung maleo (ayam hutan) dan tiga butir telumya! Ingat, sarang yang akan kalian bawa adalah sarang yang masih baru, jangan ambil sarang yang telah lama didiami oleh maleo. Setelah menemukannya, antar ke rumah saya. Akan saya tunjukkan bagaimana caranya," jawab Syekh Madum.
Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Syekh Madum, Doi Bati memerintahkan kepada beberapa orang penduduk untuk mencari sarang dan telur burung maleo ke dalam hutan. Tanpa membutuhkan waktu lama, mereka kembali dengan membawa sarang dan telur sesuai dengan petunjuk Syekh Madum dan langsung membawa ke rumah beliau.
"Kami telah menemukan sarang dan telur mal eo sesuai dengan perintah Syekh. Jika memang rep tersebut bisa muncul di permukaan, seluruh penduduk pulau ini akan memeluk Islam," ujar Doi Bati kembali mengulang perkataannya.
"Yah benar, tapi sebelum hal tersebut terlaksana kami masih akan tetap menjalankan kepercayaan nenek moyang kami," sambung Lasera lagi.
"Islam tidak pemah memaksakan kepada siapa pun untuk menerima kebenaran Islam. Akan tetapi Insya Allah, jika Allah swt. berkenan, rep tersebut akan timbul ke permukan sesuai dengan keinginan kalian," jawab Syekh Madum.
Setelah menerima sarang dan telur burung maleo tersebut, Syekh Madum mengambil Alquran dan membaca tiga buah Surat, yakni Surat Yasin, Surat An-Naba, dan Surat Tabarak. Selanjutnya, sarang dan telur burung tadi dibungkus dengan kain merah. Beliau lantas berkata kepada Doi Bati.
"Besok pada hari Kamis sekitar pukul sepuluh pagi, kalian pergi ke rep itu dengan membawa bungkusan ini dan selanjutnya kalian tanam. Galilah tempat itu sekitar setengah hasta," kata Syekh Madum lagi.
Keesokan harinya tepat pukul sepuluh pagi, penduduk yang ditugaskan untuk menanam bungkusan itu telah berada di atas rep yang akan mereka tanami dengan bungkusan dari Syekh Madum. Kebetulan pada saat itu air laut sedang surut sehingga memudahkan mereka untuk menanam bungkusan itu.
"Semoga rep ini secepatnya muncul ke permukaan. Akan tetapi, selama rep ini belum muncul ke permukaan, kami masih belum mau mengakui ajaran Islam." Demikian kata Doi Bati.
Selang tiga tahun kemudian, rep tersebut benar-benar muncul ke permukaan laut. Apalagi pada saat air laut sedang surut. Sesuai dengan janji Doi Bati, memang mereka tetap belum memeluk Islam sebelum rep yang dijanjikan itu muncul ke permukaan. Namun, keadaan itu kini berubah. Ketika mengetahui bahwa rep tersebut telah tampak di permukaan laut, Doi Bati dan para penduduk yang lain merasa sangat takjub dengan keajaiban yang mereka saksikan.
"Wahai rakyatku sekalian, wahai para penduduk Pulau Matita, pada hari ini dapat kita saksikan salah satu kebesaran Tuhan yang ditunjukkan kepada kita. Karena rep di sana telah timbul, sesuai dengan janji kita, jika hal itu terjadi maka kita semuanya akan memeluk agama Islam. Untuk itu, marilah kita datang ke rumah Syekh Madum untuk mengabarkan hal ini," Doi Bati berseru dengan lantang kepada rakyatnya.
Setelah berada di depan Syekh Madum, berkatalah Doi Bati dengan penuh takzim.
"Apa yang Syekh janjikan kepada kami ten tang munculnya rep di depan pulau itu telah benar-benar terjadi. Sesuai dengan janji kami, maka kami penduduk Pulau Matita pada hari ini menyatakan bahwa kami ingin memeluk agama seperti yang Syekh anut. Oleh karena itu, tuntunlah kami."
"Segala puji bagi Allah, tidak ada yang mustahil bagiNya. Baiklah, sesuai dengan keinginan kalian untuk memeluk Islam, ikutilah ucapan saya, yaitu ucapan berupa pengakuan kita bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya," kata Syekh Madum.
"Kami mohon agar Syekh menuntun kami untuk mengucapkan hal itu karena kami belum memahaminya," pinta Doi Bati.
Akhimya, Syekh Madum Yaman memandu penduduk Pulau Matita untuk mengucapkan Dua Kalimat Syahadat sehingga mereka seluruhnya memeluk agama Islam. Karena rep yang kini telah muncul tersebut adalah rep yang merupakan taruhan antara penduduk Pulau Matita dengan Syekh Madum, rep itu dinamakan dengan Rep Taruhan.
Setelah mengislamkan penduduk Pulau Matita, Syekh Madum memulai dengan dakwahnya dan mengajarkan sendi-sendi keislaman. Mereka hidup dengan tenang dan damai. Selang beberapa lama kemudian, karena di Pulau Matita tidak memiliki sumber air tawar sebab air yang ada di Pulau tersebut terasa agak asin atau payau, salah satu anak Syekh Madum, yaitu Muhammad Yaman, mengusulkan kepada penduduk agar mereka pindah ke Pulau Morotai. Sebuah pulau yang lebih besar dari Pulau Matita. Akhimya, dengan pertimbangan yang matang, penduduk menyetujui saran yang diberikan oleh Muhammad Yaman tersebut. Maka dimulailah pemindahan penduduk Pulau Matita ke Pulau Morotai. Tempat yang mereka pilih adalah sebuah wilayah di dekat Kota Daruba saat ini yang kemudian diberi nama dengan Desa Juanga.
Tinggallah para penduduk Matita di tempat baru mereka, yakni Desa Juanga. Mereka hidup beranak-pinak hingga saat ini dengan damai dan tenteram.
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...