Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Maluku Maluku
Asal Mula Kelompok Patasiwa dan Kelompok Patalima
- 14 Agustus 2018

Cerita rakyat asal mula kelompok Patasiwa dan kelompok Patalima berasal dari pulau Seram Provinsi Maluku. Berawal dari kisah dibunuhnya putri Hainuwele maka terjadi perpecahan antara kelompok-kelompok di pulau Seram. Berikut adalah kisahnya.

Hainuwele adalah seorang putri yang sangat cantik menawan yang dalam bahasa daerah disebut Mulua. Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang selain kecantikannya ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia lain pada umumnya. Ia dapat menyihir sesuai kehendak hatinya. Dari seonggok lumpur Hainuwele dapat menyihirnya menjadi barang-barang berharga seperti piring-piring dari Cina yang disebut porselen dan gong. Barang-barang tersebut kemudian dijual dengan harga yang lumayan mahal. Berita tentang Hainuwele pun tersiar luas di seluruh pulau Seram. Kelebihan yang dimilikinya membuat banyak orang senang dan kagum padanya namun tak sedikit juga yang iri hati padanya. Pada suatu hari diadakanlah pesta Tari Maro di Tamene Siwa. Pesta itu diselenggarakan oleh sembilan keluarga, dan merekalah yang menjadi penari dalam acara tersebut selama sembilan hari. Para penari membentuk sembilan lingkaran besar dimana perempuan-perempuan duduk ditengah-tengah lingkaran sambil menyuguhkan sirih dan pinang kepada setiap penari pria. Pesta berlangsung pada malam hari hingga pagi hari, dan berlangsung selama sembilan hari. Namun tempat pelaksanaan tarian antara hari pertama dan hari-hari lainnya berbeda. Putri Hainuwele juga diundang dalam pesta Maro itu. Ketika ia tiba di tempat pesta, ia menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir saat itu karena kecantikannya. Ia pun menari bersama penduduk yang ada dan ketika ia hendak membagi-bagi sirih dan pinang seperti biasanya yang dilakukan oleh para penari perempuan, namun anehnya ia membagi-bagikan batu-batu karang yang berubah menjadi benda-benda yang bercahaya dan berkilau. Melihat hal itu, orang-orang yang hadir kemudian serentak berebutan benda-benda tersebut darinya Pada malam berikutnya, Hainuwele kembali lagi untuk mementaskan tari Maro bersama penduduk lainnya. Kali ini ia membagi-bagi piring porselen yang disebut Hana. Malam keempat ia kembali lagi dan membagi-bagikan piring-piring Cina yang besar yang disebut Kina Batu. Malam kelima ia membagikan parang-parang panjang. Malam keenam ia membagikan kotak tempat sirih dan tembaga yang indah. Malam ketujuh masing-masing orang mendapat anting-anting emas, malam kedelapan ia membagikan gong yang indah. Apa yang dilakukan Hainuwele membuat orang-orang yang hadir saat itu sangat senang namun ada juga yang iri dan cemburu padanya. Mereka yang cemburu itu berencana untuk membunuhnya pada malam kesembilan (malam terakhir). Tibalah pada malam kesembilan pesta tari Maro dilangsungkan dengan sangat meriah dan orang yang ikut pun bertambah banyak. Seperti biasa yang dilakukan Hainuwele kembali berdiri di tengah-tengah para penari untuk membagi-bagi sirih pinang sementara itu mereka yang berencana membunuhnya telah menggali lubang yang dalam. Kelompok penari malam itu adalah dari keluarga Lesiela. Di tengah-tengah keasyikan menari sambil membagi- bagikan hadiah tiba-tiba Hainuwele didorong masuk ke dalam lubang tersebut. Serentak dengan itu pula para penari langsung menyanyikan lagu Maro dengan suara yang keras dan bernada tinggi untuk menutupi suara jeritan minta tolong Hainuwele dari dalam lubang yang gelap itu. Sambil terus menyanyi dan menari para penari menutupi lubang itu dengan tanah sambil menginjak- injak tanahnya supaya keras dan padat. Ketika hari telah subuh pesta pun usai para penari juga kembali pulang kerumah masing-masing. Sementara sang putri tidak pernah kembali lagi kerumahnya. Ayahnya Ameta dengan kesaktiannya yang tinggi langsung mengetahui bahwa anaknya telah dibunuh di tempat pesta tari Maro semalam. Ameta langsung mengambil 9 (Sembilan) batang lidi (tulang daun kelapa) dan menuju tempat pembunuhan anaknya itu. Setelah tiba disana ia menancapkan lidi-lidi tersebut di atas tanah dimana anaknya dikubur. Selanjutnya ia melakukan Mawe (meramal). Dan ia langsung mengetahui bahwa ada 9 (Sembilan) lingkaran penari Maro berada di tempat itu. Ketika Sembilan lidi itu dicabut dari atas tanah keluarlah darah diikuti dengan beberapa helai rambut Hainuwele. Dengan segera Ameta menggali lubang itu dan menemukan jenazah anaknya, kemudian menguburkannya. Ameta menjadi sangat marah dan berusaha untuk membinasakan 9 (Sembilan) kelompok penari tersebut. Gemparlah Tamene Siwa karena peristiwa itu, dan sejak itu situasi keamanan di Tamene Siwa dan sekitarnya menjadi tidak aman akibat seringkali terjadinya pembunuhan antara kelompok yang membunuh Hainuwele dengan kelompok yang menyayanginya.

OSKM18

FTMD'18

BETAMALUKU

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum