Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki tradisi masing-masing dalam arakan sahur (untuk membangunkan orang yang sedang berpuasa), begitu juga di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Dimana tradisi arakan sahur di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Kuala Tungkal) dulunya hanya sebuah tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Kota Kuala Tungkal untuk membangun masyarakat untuk sahur.
Namun dengan perkembangan zaman, justru saat ini tradisi arakan sahur menjadi agenda utama bagi Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan masuk dalam agenda wisata religi khas yang ada di Tanjung Jabung Barat dimalam bulan suci ramadhan. Kegiatan arakan sahur ini, biasanya diadakan saat malam menjelang sahur. Pemerintah mempertahankan tradisi ini, dengan mengagendakan arakan sahur menjadi festival arakan sahur untuk setiap malam Minggu.
Bahkan festival arakan sahur ini dijadikan lomba dengan hadiah uang jutaan rupiah, alhasil semua elemen masyarakat, pihak swasta, pemerintah Tanjung Jabung Timur, Remaja Masjid, Organisasi, Perbankan, pemuda dan pemudi yang ada disetiap RT RW dan Desa ikut berkontribusi dalam memeriahkan festival arakan sahur di Kuala Tungkal Ini.
Sehingga arakan sahur ini, menyedot banyak pengunjung dan rata-rata arakan sahur ini dilakukan masyarakat, pengunjung membludak untuk menyaksikan arakan sahur dengan berbagai macam pernak pernik, miniatur dan desain-desain bernuansa religi Islam diperagakan dalam acara festival arakan sahur di Tanjung Jabung Barat ini.
Peserta saja yang mengikuti arakan sahur ini, hingga mencapai ribuan peserta dari berbagai daerah yang ada di Tanjung Jabung Barat. Apalagi penonton yang menghadiri acara festival arakan sahur, sehingga Kota Kuala Tungkal setiap malam Minggu, menjadi lauatan manusia dan memecah rekor arakan sahur terbesar di seluruh Indonesia.
Tradisi arakan sahur yang telah diubah menjadi festival arakan sahur di Tanjung Jabung Barat ini, tentu mendapat tanggapan dari wisatawan tak hanya wisatawan local. Bahkan dari Mancanegara juga penasaran dengan festival arakan terbesar di Indonesia pada Bulan Suci Ramadhan ini.
Sumber :
https://www.kompasiana.com/muhammadsamin/54f6c919a33311c45c8b477b/tradisi-arakan-sahur-di-kuala-tungkal-arakan-sahur-terbesar-di-indonesia
#OSKM2018
Keris: Lebih dari Senjata, Pusaka Jawa yang Mendunia Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan senjata tikam tradisional yang berasal dari Indonesia, dengan karakteristik bentuk bilah yang asimetris atau berkelok-kelok [S1], [S5]. Secara struktural, keris terdiri atas tiga komponen utama, yakni bilah ( wilah ), gagang ( hulu ), dan sarung ( warangka ) [S1]. Sebagai bagian dari kategori tosan aji —istilah untuk senjata berbahan besi bernilai tinggi yang dimuliakan—keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata perang, tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang dan simbol identitas masyarakat Jawa [S2], [S5]. Museum Nasional Indonesia menyimpan koleksi keris yang merepresentasikan sejarah perkerisan Nusantara, termasuk spesimen dari Cirebon, Jawa Barat, yang berasal dari abad ke-16 [S4], [S5]. Salah satu contoh koleksi yang terdokumentasi adalah keris dengan dhapur Kebo Lajer dan pamor tambal, yang secara historis populer di kalangan masyarakat petani pedesaan sebagai sim...
Keris: Lebih dari Senjata, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Identitas dan Asal-Usul Keris Jawa merupakan senjata tikam tradisional yang secara fisik dikenali dari bilah asimetris dengan pola berkelok-kelok atau lurus, serta terbagi menjadi tiga komponen utama yaitu bilah, gagang, dan sarung [S1]. Struktur ini menjadi penanda identitas visual yang membedakannya dari belati atau pisau tikam lainnya di Nusantara [S5]. Material pembuatannya bervariasi, mulai dari logam besi dan baja untuk bilah, hingga kayu, gading, atau logam mulia seperti emas dan perak yang digunakan pada hulu dan warangka [S2]. Pengakuan UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Kemanusiaan Lisan dan Nonbendawi menegaskan posisi keris sebagai warisan budaya yang dilindungi secara internasional [S1]. Secara geografis, keris berakar kuat di Pulau Jawa, dengan sentra produksi dan pengembangan budaya yang terpusat di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur [S5]. Beberapa referensi menekankan bahwa keris merupakan ciri...
Yupa: Jejak Martapura, Pilar Peradaban Purba Kalimantan? Identitas dan Asal-Usul Kalimantan Timur merupakan provinsi di Indonesia yang memiliki jejak peradaban kuno tercatat sejak masa prasejarah hingga pengaruh kerajaan lokal dan luar [S1]. Secara administratif, wilayah ini mencakup kawasan pesisir timur Kalimantan yang berbatasan dengan Sabah (Malaysia) dan Laut Sulawesi, dengan pusat sejarah utama terletak di kawasan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara [S1]. Peradaban awal di wilayah ini ditandai oleh keberadaan prasasti Yupa, yang menjadi bukti tertulis tertua di Nusantara dan mengungkap keberadaan Kerajaan Martapura (atau Kutai Martapura) pada abad ke-5 Masehi [S1][S2]. Keunikan Kalimantan Timur terletak pada temuan tujuh prasasti Yupa di Muara Kaman, yang ditulis dalam aksara Pallawa berbahasa Sanskerta [C2]. Prasasti ini mencatat silsilah Raja Mulawarman, cucu Kundungga, serta sumbangan emasnya kepada kaum brahmana, yang menjadi bukti awal pengaruh Hindu-Buddha di wi...
Setiap motif yang digunakan dalam ornamen atau peralatan ritual memiliki makna yang berbeda-beda Identitas dan Asal-Usul Ragam hias Dayak Kanayatn merupakan identitas visual yang melekat pada masyarakat suku Dayak di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Landak [S2]. Penelitian menunjukkan bahwa pusat pengembangan motif ini terdapat di Desa Garu, Kecamatan Mempawah Hulu [S2]. Objek budaya ini berfungsi sebagai simbol yang merepresentasikan kehidupan sosial dan kepercayaan masyarakat setempat [S5]. Keberadaan motif ini tidak terlepas dari konteks kerajinan tangan dan alat ritual yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari [S1]. Terdapat variasi bentuk motif yang memiliki makna simbolik berbeda-beda, seperti oncok rabukng yang melambangkan generasi penerus budaya [S2]. Motif lain seperti mata pune merepresentasikan proses pengambilan keputusan melalui mufakat dalam perundingan [S2]. Selain itu, stilasi burung enggang pada pakaian adat juga menjadi elemen penting yang mengandung...
Jamu Jawa: Warisan Mataram, Ikon Mbok Jamu, dan Pengakuan UNESCO Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional Jawa merupakan warisan budaya Indonesia yang kaya akan nilai kesehatan dan filosofi kehidupan, dipraktikkan secara turun-temurun sejak era Kerajaan Mataram [S1, S3, S4, S5]. Pengobatan alami ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa selama berabad-abad [C2]. Pengakuan UNESCO terhadap budaya kesehatan jamu sebagai "Warisan Budaya Takbenda" pada Desember 2023 menegaskan pentingnya kearifan lokal ini [C3]. Jamu tidak hanya sekadar minuman herbal, melainkan simbol kebijaksanaan lokal yang mengutamakan alam sebagai sumber penyembuhan [C12]. Tradisi herbal ini masih bertahan di pedesaan, di mana masyarakatnya terus menjaga kesehatan melalui obat herbal alami warisan leluhur [S2, C6]. Ramuan yang dikenal sejak zaman nenek moyang ini terbukti memberikan manfaat kesehatan yang diakui ilmu pengetahuan, bukan hanya menyembuhkan gejala tetapi juga memperbaiki fun...