Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
Kegiatan Tiap Tahun Orang Batak Sumatera Utara Medan, Sumatera Utara
Apa itu Pesta Bona Taon? #DaftarSB19
- 14 Februari 2019

Sesuai namanya ‘Bona Taon’ atau pangkal/awal tahun, pesta ini biasanya digelar pada tiga bulan pertama setiap tahun yang baru. 

Pesta Bona Taon ini biasa digelar berdasarkan keturunan (pomparan), marga atau sekadar komunitas Batak yang berada di perantauan, entah dalam negeri maupun luar negeri.

Lalu apa makna Pesta Bona Taon, bagi orang Batak? 

Dalam Pesta Bona Taon, komunitas Batak khususnya yang beragama Kristen, diajak untuk menyatukan doa. Bersyukur atas berkat yang telah diberikan, berdoa memohonkan perlindungan dan penyertaan, dan membaharui ketaatan kepada firman-Nya.  

Apapun yang hendak dilakukannya di tahun yang baru ini tidak akan berhasil jika tidak disertai dan diberkati Allah. Sebab itu acara Bona Taon bagi komunitas Batak Kristen memiliki makna spiritual yang sangat dalam, yaitu sebagai suatu ritus pemulihan dan penyegaran iman bersama. 

Kehidupan kota besar dan modern membuat banyak orang, termasuk orang-orang Batak, terpencar-pencar dan tercerai-berai. Di kota yang sungguh ramai dan hiruk-pikuk seperti Jakarta sekitarnya, banyak orang bisa merasa sepi, sendiri dan bahkan terasing.

Melalui acara Bona Taon orang-orang Batak Kristen itu menemukan dirinya tidak sendirian namun memiliki keluarga, sanak dan saudara. Perasaaan bersaudara dan berkeluarga, memiliki-dimiliki, disayang-menyayang itu sangat membahagiakan serta menguatkan di tengah kenyataan hidup yang keras ini.

 

Bona Taon acap menjadi reuni dan ajang nostalgia yang mengharukan antar orang-orang yang merasa bertalian darah namun karena keadaan sangat jarang bisa berjumpa.

Di samping itu, Bona Taon juga menjadi wadah untuk menegaskan identitas kebatakan. Walaupun tidak dikatakan secara gamblang, melalui acara Bona Taon itu komunitas Batak (Kristen) juga hendak menegaskan identitas atau ciri khasnya di tengah-tengah dunia global ini. Walaupun sebagian anggota komunitas Batak (Kristen) itu tidak lagi bisa berbahasa Batak atau katakanlah tidak lagi fasih berbahasa Batak, maka acara kebaktian Bona Taon akan dianggap “kurang sah” atau “kurang afdol” jika tidak dilakukan dalam bahasa Batak.

Lagu-lagu dalam Bona Taon sebab itu selalu diusahakan diambil dari Buku Ende HKBP: Naung moru do muse sataon, Naung salpu taon na buruk i, Debata baen donganmi dll.

 

Sama seperti orang-orang lain, komunitas Batak pun ingin menunjukkan keunikan dan kekhasannya.Berhubung hampir semua persekutuan Batak-Kristen menggelar acara Bona Taon secara teratur saban tahun, mungkin ini suatu peluang untuk membuatnya sebagai suatu dorongan bergerak ke masa depan.

Bernostalgia ke masa lalu dan mengenang keindahan dan kedamaian kampung halaman tentu baik-baik saja dan kadang perlu. Meneguhkan persaudaraan hari ini bagus. Menegaskan identitas juga absah. Dan Bona Taon bisa dipakai untuk itu.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu