Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat DKI Jakarta DKI Jakarta
Legenda Codet
- 20 Juni 2012 - direvisi ke 4 oleh agus deden pada 21 Juni 2012

Condet sebuah daerah yang terletak di kramat jati, Jakarta Timur, ternyata menyimpan legenda. Dahulu, condet adalah milik rakyat. Namun, sejak penjajah masuk ke wilayah betawi, daerah Condet dan sekitarnya dikuasai oleh seorang tentara Belanda yang bernama Jan Ament. Ia adalah seorang yang suka bertindak sewenang - wenang. oleh karena itu, Masyarakat Condet pun melakukan perlawanan terhadap Jan Ament.
***

Pada pertengahan abad ke 18 M., di tanah betawi ada seorang pangeran yang kaya raya bernama Pangeran Geger. Masyarakat sekitar lebih akrab memanggilnya dengan nama Pangeran Codet karena terdapat bekas luka di dahinya. Wilayah kekuasaan sang pangeran meliputi daerah yang kini dikenal sebagai wilayah codet di Jakarta Timur. Pangeran Codet memiliki istri bernama Polong dan Lima orang anak. salah satunya adalah maemunah yang memiliki paras yang cantik nan rupawan. Tidak mengherankan jika banyak bangsawan yang datang melamarnya

Suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan dan gagah perkasa bernama Astawana hendak melamar Maemunah. Astawana berasal dari Makasar (Sulawesi Selatan), Tapi ia sudah cukup lama tinggal di betawi, tepatnya disebelah timun condet. Astawana terkenal memiliki kesaktian yang tinggi dan baik hati. Saat sampai di depan rumah Pangeran Codet, Astawana memberi salam.

(Assalamu'alaikum!) ucap pemuda itu dengan suara pelan.

Belum ada jawaban dari pemilik rumah. Salamnya baru mendapat jawaban setelah ia mengucapkan salam yang ketiga kalinya dengan suara agak keras.

(Waalaikum salam...!) terdengar suara wanita dari dalam rumah menjawab salamnya.

Beberapa saat kemudian, tampaklah seorang gadis cantik berjalan dari dalam rumah. Gadis yang tidak lain adalah Maemunah itu segera mempersilahkan Astawana duduk dikursi yang ada diteras rumah. Teras rumah merupakan ruang tamu bagi rumah masyarakat betawi

(Silahkan duduk, Bang!...) Ujar Maemunah

Setelah itu, Maemunah segera masuk kedalam untuk memangil kedua orangtuanya. Tak berapa lama kemudian, Pangeran Codet bersama istrinya pun datang menemui Astawana.

(...Maaf, Anak Muda. Anda siapa dan apa maksud kedantangan anda ke mari?.." Tanya Pangeran codet

(..Nama saya Astawana. Kedatangan saya kemari untuk melamar putri tuang yang bernama maemunah..) Ungkap Astawana

Mendengar nama pemuda itu, Pangeran codet dan Istrinya tersentak Kaget. Nama itu tidak asing lagi bagi mereka.

(Pangeran Astawana yang terkenal sakti itu bukan...?" Tanya istri Pangeran Codet

(I....Iya, Tuan!) Jawab Astawana sedikit Gugup, (..Kebetulan saja orang orang di daerah ini banyak yang mengenal saya..)

Begitulah sifat Astawana. Meskipun memiliki kesaktian yang tinggi, ia selalu merendahkan. Hal itulah yang membuat Pangeran Codet dan Istrinya terpikat untuk menjadikannya menantu. Tapi, semua itu tergantung pada Maemunah. Mereka tidak bisa memutuskan atas kemauan mereka sendiri tanpa persetujuan dari putri mereka. Ketika Maemunah datang membawa minuman, sang Ayah pun menyampaikan maksud kedatangan Astawana.

(..Putriku, duduklah sebentar, ) Kata Pangeran Codet, (..Ayah Ingin memperkenalkan mu dengan pangeran muda ini. apakah kamu pernah mengenalnya?..)

Maemuna tersenyum sambil tertunduk malu dan kemudian menjawab bahwa ia hanya sering mendengar nama itu, tapi belum pernah bertemu secara langsung.


(Aye, Hanya menganl namanya, Be..) Jawab Maemunah singkat

(Ketahulah, kedatangan Astawana kemari ingin melamarmu. Bagaimana pendapatmu, Putriku?..)

Maemunah tidak langsung menjawab dan termenung sejenak. Setelah berpikir bahwa Astawana adalah seorang yang sakti mandraguna, maka ia pun menjawab dengan mengajukan sebuah persayaratan kepada pemuda sakti itu.

(..Iya, Lamaran aye terima jika abang mampu membuatkan 2 rumah di 2 tempat yang berbeda dalam waktu semalam,) Pinta Maemunah (..Dua rumah itulah sebagai mas kawinnya..)

Mendengar permintaan itu, Astawana tidak perlu berpikir panjang. Ia yakin mampu memenuhi syarat itu dengan kesaktian yang dimilikinya.

(..Baiklah, saya menyanggupi persayaratan itu, ) Jawab Astawana dengan penuh keyakinan

Ketika hari mulai gelap, pemuda asal Makassar itu segera berdoa untuk memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Berkat doa dan kesaktiannya, ia pun berhasil mewujudkan permintaan Maemuna. Dua rumah tersebut kemudian disebut sebagai Batuampar dan Balekambang. Kini, nama kedua rumah diabadikan menjadi dua nama kelurahan di kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Permintaan Maemunah telah dipenuhi oleh Astawana. Perkawinan mereka pun dilangsung dengan meriah. Tamu undangan dari berbagai penjuru memdati kediaman Pangeran Codet. Kemeriahan pesta itu semakin terlihat ketika gambang kromong mulai dipentaskan. Alunan musik khas betawi itu pun terdengar merdu menghibut para tamu undangan. Kedua mempelai yang duduk bersanding di kursi pelaminan tampak tersenyum bahagia menikmati kemeriahan pesta. Demikian pula Pangeran Codet dan Istrinya turut bersuka cita atas pernikahan putrinya.

Selang beberapa waktu setelah pernikahan putrinya, Pangeran Codet meninggal dunia karena sakit. Seluruh harta kekayaanya, termasuk tanah dan kekuasaanya diwarisi oleh Maemunah. Sejak itulah, Istri Astawana itu menjadi penguasa di wilayah itu menggantikan kedudukan ayahnya. untuk menghormati sang ayah, Maemuna menyebut daerah kekuasaanya sebagai wilayah codet yang lama kelamaan diucapkan dengan nama Condet.

Maemunah adalah sosok yang adil dna bijaksana. Atas kepimpinannya, masyarakat disekitaranya pun senatiasa hidup damai dan tenteram. Namun, beberapa tahun kemudian, kedamaian Condet terusik oleh kedatangan kompeni Belanda ke wilayah Betawi. Kaum penjajah itu mulai merampas tanah milik penduduk secara paksa. Jika ada penduduk yang melawan, mereka tidak segan segan menganiaya, bahkan membunuh.

Salah seorang Belanda yang tinggal disekita Condet adalah Jan Ament. Ia terkenal kejam dan serakah. Meskipun telah memiliki tanah yang luas dari hasil rampasan, ia tetap merasa tidak puas. Ia ingin menjadi tuan tanah paling kaya dan menguasai wilayah Condet. Mengetahui Maemunah memiliki tanah yang luas, Jan Ament pun ingin merampasnya.

Suatu hari, Jan Ament bersama antek anteknya mendatangi rumah Maemunah. Dengan sebilah pedang panjang terselip di pinggang, Jan Ament berseru didepan rumah Maemunah.

(..Hai, perempuan pribumi, cepat keluar! kalau tidak, aku akan masuk memaksamu ke keluar!..) teriaknya sambil berkacak pinggang

Maemunah yang mendengar teriakan itu segera keluar bersama suaminya. Dengan tenang, Putri almarhum Pangeran Codet itu menyapa Jam Ament dengan ramah.

(Maaf, Tuan! Barangkali ada sesuatu yang bisa aye bantu?..) Tanya Maemunah

(Aku ke sini untuk meminta seluruh tanah milikmu. Cepat serahkan semua surat surat tanahmu kepadaku! Kalau tidak, kamu akan tahu sendiri akibatnya. Pedang panjangku ini menebas lehermu..) Ancam Jan Ament.

Astawana yang berdiri di samping istrinya angkat bicara karena tidak tahan lagi melihat sikap Jan Ament

(Hai, Belanda Pengecut! beraninya sama perempuan saja. Lawan aku jika kamu berani!.." Tantang Astawan seraya melompat ke hadapan Jan Ament

Jan Ament tersentak kaget dan mundur beberapa langkah. Ketika ia hendak mengunus pedangnya, tiba tiba sbuah tendangan keras melayang menghantam dadanya. Tentara Belanda itu pun terpental ke belakang dan terjatuh ke tanah, Melihat tuannya tidak berdaya, antek antek Jan Ament hendak membantu. Namun, Jan Ament mencegah dan mengajak mereka untuk meninggalkan tempat itu.

(..Ayo Kita pergi dari sini!..) Ujar Jan Ament sambil memegang dadanya yang terkena tendangan Astwana. Sebelum meninggalkan halam rumah Maemunah, Jan Ament mengancam akan kembali dengan jumlah orang yang lebih banyak.

Beberapa hari kemudian, Jan Ament kembali mendatangi rumah Maemunah untuk menantang Astawan. Namun, Ia tetap tidak mampu mengalahkan suami Maemunah yang sakti itu.

Menurut cerita , Jan Ament baru berhasil merebut tanah Maemunah setelah menggunakan akal licik. Ia mengirim seorang anteknya untuk mengetahui kelemahan Astawana. Alhasil, Usaha tersebut berhasil sehingga suami Maemunah itu dapat dikalahkan. Sejak itulah, Jan Ament menjadi penguasa di Condet dan dilanjutkan oleh anak cucunya.

Keturunan Jan Ament yang menjadi tuan tanah tinggal di rumah besar di Kampung Gedong. Mereka membuat aturan yang memberatkan rakyat condet dengan mewajibkan membayar sewa tanah setahun sekali. Selain itu, para petan diwajibkan melakukan kompenian, yaitu kerja bakti tanpa diberi upah untuk kepentingan tuan tanah.

Semakin hari, kesewenang wenangan kompeni Belanda terhadap rakyat Condet semakin menjadi jadi. Jika ada warga yang tidak mampu membayar sewa tanah, mereka tidak segan segan merampas dan menyita barang atau pun rumah warga itu. Tapi, Jika mendapat rumah sitaan yang rusak, mereka langsung membakarnya.

Kesewenang wenang itu membuat rakyat Condet resah. Oleh karena itu, pada tahun 1916 M. rakyat yang dipimpin oleh Entong Gendut bersepakat untuk melakukan perlawanan. Entong Gendut adalah seorang pendekar silat dari batu ampar yang juga bagian dari wilayah condet. ia dibantu oleh astawana dan dua orang pendekar sakti lainnya bernama Modin dan Maliki yang keduanya juga berasal dari Batu Ampar.

Entong gendut bersam kawan kawannya mempersiapkan diri terlebih dahulu. Mereka melatih warga belajar ilmu silat. Setelah anggotanya mencapai ratusan orang perkumpulan silat yang dipimpin oleh entong gendut itu pun mulai melakukan perlawanan. Mereka dipersenjatai dengan golok, tombak, keris dan panah. sementara itu, kompeni belanda dilengkapi dengan senjata api dan senapan

Saat pertempuran sedang berlangsung, anak buah entong gendut banyak yang tewas tertembus peluru. Tidak sedikit pula anggota pasukan kompeni belanda yang tewas, terluka terkena bacok atau tertembus panah. dalam pertempuran itu, rakyat condet akhirnya kalah setelah tentara belanda mendapat bantuan sekompi pasukan. entong gendut pun tewas karena dadanya tertembus peluru. Sementara itu, para pengikutnya ditangkap dan dimasukkan ke penjara.

Tanah di wilayah Condet baru kembali menjadi milik rakyat setelah Indonesia Merdeka pada tahun 1945, di mana hak - hak Jan Ament dan keturunannya di hapuskan

Sumber : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/251-Legenda-Codet

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu