Alkisah, zaman dahulu di daerah Jawa Tengah berdiri kerajaan Jenggala. Sang Raja memiliki putra mahkota bernama Raden Putra. Raden Putra telah memiliki seorang istri bernama Dewi Candra Kirana. Dewi Candra Kirana terkenal sangat cantik wajahnya.
“Anakku, Ayah ingin kamu kelak menggantikan ayah menjadi Raja Jenggala.” Sang Raja menginginkan agar kelak Raden Putra menggantikannya menjadi Raja Jenggala.
“Ayah, Ananda belum siap menjadi raja.” Raden Putra menolaknya. Ia justru pergi meninggalkan kerajaan Jenggala seorang diri tanpa mengajak istrinya, Dewi Candra Kirana.
Dewi Candra Kirana merasa sangat sedih setelah kepergian suaminya. Ia kemudian pergi meninggalkan istana untuk mencari suaminya tercinta. Dewi Candra Kirana menyamar menjadi seorang perempuan desa biasa. Di tengah pengembaraannya, ia bertemu seorang janda kaya bernama Mbok Randa Kawulusan. Mbok Randa Kawulusan telah memiliki tiga orang anak perempuan bernama Kleting Abang, Kleting Wungu dan Kleting Biru.
Dewi Candra Kirana kemudian diangkat menjadi anak oleh si janda kaya. Mbok Randa Kawulusan memberi nama Dewi Candra Kirana dengan nama Kleting Kuning. Mbok Randa Kawulusan sudah menganggapnya sebagai anak bungsu.
Ketiga kakak Kleting Kuning sangat iri terhadap kecantikannya. Akibatnya, mereka sering berlaku jahat padanya. Karena kebenciannya, mereka menyuruh Kleting Kuning atau Dewi Candra Kirana agar memakai pakaian kumal lagi bau, sehingga ia terlihat seperti pembantu. Setiap hari mereka menyuruh Kleting Kuning mengerjakan pekerjaan rumah sementara mereka sendiri bermalas-malasan. Akibatnya tubuh Kleting Kuning memiliki bau tidak sedap karena selalu mengerjakan pekerjaan kotor sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk merawat dirinya.
Suatu hari Mbok Randa Kawulusan mendengar kabar bahwa Mbok Randa Dadapan dari desa Dadapan memiliki anak angkat seorang pemuda sangat tampan. Ande Ande Lumut namanya. Ketampanan Ande Ande Lumut telah membuat banyak orang tua mendatangi Mbok Randa Dadapan agar menjodohkan putranya dengan putri mereka.
Mbok Randa Kawulusan berkehendak agar salah satu anaknya bisa menjadi istri Ande Ande Lumut. Ia memerintahkan ketiga anaknya untuk pergi ke Desa Dadapan, menemui Mbok Randa Dadapan sementara Kleting Kuning ia suruh tinggal di rumah. Segera Kleting Abang, Kleting Wungu dan Kleting Biru pergi ke desa Dadapan. Mereka mengenakan pakaian indah agar bisa menarik hati Ande Ande Lumut. Kleting Abang mengenakan pakaian berwarna merah, Kleting Wungu mengenakan pakaian berwarna ungu dan Kleting Biru mengenakan pakaian berwarna biru.
Sebelum tiba di desa Dadapan, ketiga kakak beradik merasa bingung saat hendak menyeberangi sebuah sungai lebar lagi berair dalam. Di tengah kebingungan, mendadak muncul seekor kepiting raksasa bernama Yuyu Kangkang. Yuyu Kangkang menawarkan bantuan untuk menyeberangkan ketiganya. Hanya saja, Yuyu Kangkang mengajukan syarat mereka mau dicium dan menciumnya. “Jika kalian mau aku cium dan menciumku, aku akan membantu menyeberangkan kalian ke seberang sungai.” kata Yuyu Kangkang.
Tanpa pikir panjang ketiganya menyanggupi syarat tersebut. Bagi mereka yang terpenting adalah bisa menyeberangi sungai untuk bertemu Ande Ande Lumut, lelaki pujaan mereka. Namun setelah mereka tiba di desa Dadapan dan bertemu dengan Ande Ande Lumut, mereka sangat kecewa karena Ande Ande Lumut menolak menjadi suami mereka. Ande Ande beralasan mereka tidak bisa menjaga kehormatan karena mau dicium Yuyu Kangkang.
Sementara di rumah, Kleting Kuning tengah memohon pada Mbok Randa Kawulusan agar mengizinkannya pergi ke desa Dadapan untuk bertemu Ande Ande Lumut. “Mbok, tolong izinkan hamba pergi ke desa Dadapan agar bisa menemui Ande Ande Lumut.” Kleting Kuning memohon pada Mbok Randa Kawulusan. Di dalam hatinya Kleting Kuning berharap bisa menemukan suaminya Raden Putra di desa Dadapan.
“Apa! Kamu ingin bertemu Ande Ande Lumut? Apa kamu tidak berkaca? Pakaianmu kumal, tubuhmu bau. Ande Ande Lumut tidak mungkin mau denganmu.” Mbok Randa Kawulusan melecehkan Kleting Kuning. Namun karena Kleting Kuning terus memaksa, akhirnya Mbok Randa Kawulusan mengizinkannya pergi ke desa Dadapan.
Akhirnya Kleting Kuning pergi ke desa Dadapan dengan tetap mengenakan pakaian kumal dan bau. Ia tidak memiliki pakaian lain layak pakai. Seperti halnya ketiga saudara angkatnya, Kleting Kuning kebingungan saat hendak menyeberangi sungai lebar. Kemudian muncul Yuyu Kangkang menawarkan bantuan untuk menyeberangkannya dengan syarat Kleting Kuning mau dicium. Tapi Kleting Kuning menolaknya.
“Apa! Kamu mau dicium dan menciumku? Aku tidak sudi! Pergilah kau! Aku tidak butuh bantuanmu.” teriak Kleting Kuning pada Yuyu Kangkang.
Kleting Kuning kemudian mengeluarkan senjata andalannya yaitu sebuah lidi sakti. Ia memukulkan lidi sakti miliknya ke sungai. Seketika itu juga air sungai menjadi surut. Yuyu Kangkang menjerit-jerit meminta tolong. Ia tidak bisa hidup tanpa air. Yuyu Kangkang memohon pada Kleting Kuning agar mengembalikan air sungai seperti semula. Sebagai imbalan ia akan menyeberangkannya ke seberang sungai. Kleting Kuning setuju dan segera mengembalikan air sungai ke kondisi semula. Kemudian Yuyu Kangkang menyeberangkannya ke seberang sungai tanpa meminta imbalan mencium.
Akhirnya tibalah Kleting Kuning di desa Dadapan. Disana ia mendapati ketiga kakaknya terlihat sangat sedih karena ditolak oleh Ande Ande Lumut. Ketika Ande Ande Lumut melihat kedatangan Kleting Kuning, ia segera bergegas menghampirinya.
Mbok Randa Dadapan merasa sangat heran melihat sikap Ande Ande Lumut karena bersikap acuh pada banyak wanita tetapi begitu bersemangat ketika melihat Kleting Kuning yang kumal dan bau. “Kamu kenapa nak? Banyak wanita cantik-cantik kamu tolak malah mendekati wanita kumal dan bau.” kata Mbok Randa Dadapan pada Ande Ande Lumut.
“Ibu, jangan menilai Kleting Kuning dari fisiknya. Ia mampu menjaga kehormatannya. Ia menolak dicium dan mencium Yuyu Kangkang. Tidak seperti gadis-gadis lainnya. Dialah calon istri terbaik bagiku.” jawab Ande Ande Lumut.
Kleting Kuning mengetahui betul ciri-ciri suaminya, Raden Putra. Ia sangat yakin bahwa Ande Ande Lumut adalah Raden Putra, suaminya tercinta yang selama ini ia cari. Segera saat itu juga di depan orang banyak, Kleting Kuning membuka penyamarannya bahwa ia adalah Dewi Candra Kirana. Semua orang yang melihatnya sangat terkejut. Mereka sangat terpesona oleh kecantikan Dewi Candra Kirana. Kegemparan pun semakin menjadi saat Ande Ande Lumut pun membuka penyamarannya bahwa ia adalah Raden Putra, Pangeran Kerajaan Jenggala. Keduanya kemudian kembali hidup bahagia sebagai suami istri.
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...