Pakaian Tradisional
Pakaian Tradisional
Alat Tenun Nusa Tenggara Barat Bima, Dompu
Alat Tenun Tradisional Bima - Dompu
- 12 Juli 2018

Berdasarkan ketentuan adat, setiap wanita yang memasuki usia remaja harus terampil melakukan Muna ro Medi, yang merupakan kegiatan kaum ibu guna meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga. Perintah adat tersebut dipatuhi oleh seluruh wanita Mbojo sampai Tahun 1960-an. Sejak usia dini anak-anak perempuan dibimbing dan dilatih menjadi penenun “Ma Loa Ro Tingi” (terampil dan berjiwa seni). Bila kelak sudh menjadi ibu rumah tangga mampu meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga.

Keberhasilan kaum wanita dalam meningkatkan mutu dan jumlah hasil tenunannya, memikat hati para pedagang dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka datang ke Bima dan Dompu selain membeli hasil alam dan bumi, juga untuk membeli hasil tenunan Mbojo seperti Tembe (Sarung), Sambolo (Destar) dan Weri (Ikat pinggang).

Sebagai masyarakat Maritim, pada waktu yang bersamaan para pedagang Mbojo, berlayar ke seluruh Nusantara guna menjual barang dagangannya, termasuk hasil tenunan seperti Tembe, Sambolo dan Weri. Menurut catatan Negarakertagama, sejak jaman Kediri sekitar Abad 12, para pedagang Mbojo telah menjalin hubungan niaga dengan Jawa. Mereka datang menjual Kuda, hasil bumi dan barang dagangan lainnya. Informasi yang sama dikatakan oleh Tome Pires (Portugis) yang datang ke Bima pada Tahun 1573 M.
 
Dari keterangan Tome Pires yang lengkap lagi panjang itu, dapat disimpulkan bahwa pada awal Abad 16 M, para pedagang Mbojo sudah berperan aktif dalam percaturan niaga Nusantara, mereka berlayar ke Jawa, Malaka, Maluku dan bahkan ke Cina. Berperan sebagai pedagang keliling yang ulet, modal sedikit tetapi dapat menarik banyak keuntungan.
 

Kejayaan Muna ro Medi sebagai salah satu sumber penghasilan rumah tangga dan masyarakat, mulai mengalami kemunduran sekitar Tahun 1960-an. Saat itu kegiatan Muna ro Medi mulai ditinggalkan oleh para kaum wanita. Apresiasi terhadap hasil tenunan Mbojo seperti Tembe, Sambolo dan Weri kian berkurang. Dalam kesehariannya, jumlah masyarakat yang memakai Tembe, Sambolo dan Weri terus merosot. Masyarakat terutama kaum wanita lebih mencintai bahan dan model pakaian dari luar, bahkan bangga bila berbusana ala Barat.

Tenunan Bima – Dompu seluruhnya dikerjakan dengan tangan. Alat-alat yang digunakan masih tradisional yang umumnya terbuat dari bahan alam seperti kayu dan bambu. Nyaris tak digunakan bahan logam seperti besi. Alat utama dinamakan tandi. Alat ini adalah sebuah konstruksi kayu berukuran 2 x 1.5 meter tempat merentangkan benang yang akan ditenun.

  1. Tampe : Alat ini terbuat dari kayu Jati dengan panjang 1,2 Meter dan lebar 20 cm. Fungsi alat ini adalah untuk menggulung benang yang sudah di-hani.Hani adalah proses  Merentangkan dan mengatur posisi benang.
  2. Tandi : Alat ini adalah sebuah konstruksi kayu berukuran 2 x 1.5 meter tempat merentangkan benang yang akan ditenun.Ukuran Tandi dengan tinggi 30 cm, tinggi ujung  26 cm dan lebar 21 cm.
  3. Koro Besi : Alat untuk memindahkan posisi benang ( Gun Atas / Pengaturan benang). Alat ini terbuat dari besi panjang ukuran 1,46 meter yang terbuat dari besi ukuran 8 ml.
  1. Koro Kuku : Jika Koro Besi terbuat dari Besi, maka koro Kuku terbuat dari Kayu. Alat untuk memindahkan posisi benang ( Gun Atas / Pengaturan benang). Alat ini terbuat dari kayu panjang ukuran 1,46 meter.
  2. Piso Kuku : Alat yang digunakan pada saat kuku.Terbuat dari kayu panjang ukuran 1,44 cm.
  3. Pusu dan Saraja Pusu  adalah  alat sebagai tempat benang yang akan dipalet. Sedangkan Saraja Pusu adalah Alat sebagai tempat benang yang siap di hani ( Ngame/ Merentangkan dan mengatur posisi benang)
  4. Ngane : Alat Untuk Meng-hani ( Ngane/ merentangkan dan mengatur posisi benang ) benang lusi
  5. Sadike : Alat untuk mengencangkan kain agar jarak kain dan posisi sisi sama.
  1. Cau dan Sisi : Cau adalah alat untuk  Alat untuk memasukkan benang. Sedangkan Sisi adalah alat untuk memasang benang pada cau ( Sisir ). Cau memiliki panjang 2,6 cm dan lebar 9 cm.
  2. Dapo adalah alat untuk menggulung kain yang ditenun. Atau penanmpang sarung/kain yang sudah ditenun. Alat ini terbuat dari kayu jati dengan panjang 1,41 cm dan lebar 12 cm.
  3. Lira : Alat ini terbuat dari kayu pohon asam yang dalam bahasa Bima-Dompu disebut Tera Mangge. Kegunaan Alat kini adalah  untuk merapatkan benang. Panjangnya sekitar 1,41 Cm.
  4. Sadanta Lira : Alat untuk sandaran lira. Alat ini memiliki panjang sekitar 55 cm, tinggi 22 cm. terbuat dari kayu papan.
  5. Lihu : Alat ini terbuat dari kayu pohon beringin yang berfungsi sebagai penopang punggung penenun saat menenun. Panjangnya sekitar 1,45 cm.
  6. Janta : Alat ini berfungsi untuk memalet benang ( Pusu Kai Kafa ).
  7. Langgiri  : Alat untuk memasang benang yang akan di Palet.
  8. Taropo Wila : Alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan.
  9. Taliri : Alat untuk menempatkan pusu agar sama panjang dengan teropo.

Sudah tiba saatnya pemerintah bersama seluruh lapisan masyarakat, untuk segera menyusun langkah-langkah guna meningkatkan kembali apresiasi masyarakat, terhadap kegiatan Muna ro Medi seperti pada kejayaannya.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu