Alameng, ialah senjata menyerupai kelewang, namun penggunaannya diletakkan (lihat gambar 3). Bentuk alameng ini dikenal hampir di seluruh wilayah pemu kiman suku Bugis. Hal ini tidak mengherankan karena sejak zaman yang silam alameng termasuk salah satu jenis senjata tradisional yang selalu digunakan dalam pertempuran.
Alameng adalah salah satu jenis senjatra tradisional yang digunakan untuk menyerang lawan. Dalam hal ini, alameng sebagai senjata untuk menyerang, cara penggunaannya ialah menetakkan nya atau membacokkannya ke badan lawan. Senjata ini pun ter masuk salah satu alat perang di zaman dahulu kala. Namun, se karang tidak digunakan lagi untuk tujuan perang. Dalam konteks kehidupan budaya, selain untuk berperang alameng dianggap mempunyai tujuan-tujuan tertentu, yaitu: perdamaian/persahabatan, ekonomi, politik, religious dan lain sebagainya. Tujuan penggunaan alameng tersebut berkaitan dengan fungsi fungsinya sebagai alat yang dianggap mempunyai arti dan makna tertentu dalam menjawab tantangan alam bagi masyarakat pen dukungnya. Mengenai hal ini akan diuraikan secara lebih mende tail pada subbab lain.
Alameng adalah salah satu jenis senjata tradisional yang tidak diproduksi lagi. Banyak anggota masyarakat di daerah Bone tidak pernah mengenal, bahkan tidak mengetahui senjata seperti itu. Fungsi-fungsi kekerabatan alameng hampir seluruhnya sama de ngan tappi maupun kawali. Senjata jenis ini menjadi barang pu saka turun-temurun. Itulah sebabnya, maka sampai kini masih ada sebagian kecil anggota masyarakat Bone yang menyimpan dan memilikinya. Alameng yang terkenal dalam daerah Bone ialah milik kerajaan Awang Pone yang disebut "Lateariduni” Latar belakang penamaan alameng mengandung mitos, yaitu bahwa pada saat raja Awang Pone menjelang masa wafatnya, beliau berpesan agar alameng miliknya itu dikuburkan bersama tubuhnya jika ia wafat. Pesan itu kemudian dilakukan oleh pu teranya. Namun setelah tiga hari sesudah penguburannya, ter nyata alameng pusaka itu timbul kembali ke atas pusara. Hal itu disampaikan kepada raja Bone. Mendengarkan laporan perihal alameng yang aneh itu bersabdalah raja Bone ”Teyaitu Bakke. Tella'ni Lateariduni. Nigi-nigi tappi'i LAMAKKA WE napaddu wanngi LATEARIDUNI iyanatu Arung ri Bone”. Maksudnya, ia (alameng itu) rupanya tidak sudi menjadi bangkai. Namakanlah ia Lateariduni tidak sudi dikuburkan). Siapapun yang membawa (menyelipkan di pinggang) Lamakkawe bersama Lateariduni, maka dialah Baginda raja yang dipertuan agung di Bone. Jelaslah bahwa alameng mempunyai fungsi kekerabatan ter masuk fungsi kepemimpinan dalam negeri.
Jenis-jenis alameng:
1) Alameng yang bilahnya terdapat bulatan dan berjalin dengan uratnya adalah ideal untuk pembela diri. Siapa pun yang mem bawanya tidak akan menjadi korban kedengkian; tepatnya orang bersangkutan senantiasa aman sentosa.
2) Alameng yang urat besarnya berjalin dengan urat kecilnya merupakan pertanda tidak ideal untuk tujuan apapun juga.
3) Alameng yang tidak mempunyai urat jawi-jawi tidak dianggap ideal. Pemiliknya tidak akan mempunyai anak keturunan.
4) Alameng yang mempunyai bercak pada pangkalnya dan tidak terdapat pada bagian ujungnya, pertanda tidak ideal untuk tujuan keselamatan dan kesejahteraan. Pemiliknyapun berusia pendek.
5) Alameng yang terdapat bercak atau lilitan bulan di bagian pangkalnya adalah pertanda baik. Alameng ini disebut "Lauleng Tepu", maksudnya Sibulan purnama.
6) Alameng yang mempunyai pecahan di sekitar satu jari dari bagian pangkalnya pertanda ideal untuk tujuan apa saja.
7) Alameng yang mempunyai pecahan secara berhadap-hadapan adalah pertanda baik dan ideal untuk tujuan keselamatan. Bagi siapa saja yang membawa alameng seperti itu senantiasa akan beroleh keselamatan, kendatipun ia berada dalam kepungan dan keroyokan musuh.
8) Alameng yang mempunyai pecahan secara berhadap-hadapan adalah pertanda baik dan ideal untuk digunakan dalam pertem puran. Pemiliknya tidak akan gugur, walaupun pertempuran yang sedang berkecamuk dahsyat.
10) Alameng yang mempunyai bercak bundar pada bahagian te ngah dari bilahnya, pertanda baik untuk tujuan kesejahteraan. Pemilik tidak akan kekurangan apapun. Alameng ini disebut "Latemmade” (lihat gambar 16)
11) Alameng yang mempunyai tandalgutaran berbentuk S pada bagian pangkalnya disebut "Laboting-Cala". Alameng ini baik, untuk tujuan apapun. Pemiliknya tidak akan mengalami kesulitan yang berarti dalam hidupnya (Gambar 17).
12) Alameng yang mempunyai tiga guratan dari bahagian ujung sampai ke bahagian pangkal (lihat gambar 18) disebut "Lamal linrung Mpulu”. Alameng ini baik untuk tujuan apapun yang diusahakan pemiliknya.
13)Alameng yang mempunyai bercak melingkar pada bahagian dekat hulu (Gambar 19) disebut ”Latenridolong”, merupakan senjata yang baik untuk tujuan pertempuran. Pemiliknya tidak akan cidera dalam peperangan.
14) Alameng yang mempunyai garis melengkung dekat pangkalnya disebut ”LATENRILEKKE” (lihat gambar 20). Alameng ini termasuk senjata yang baik untuk tujuan perjalanan maupun penjaga kubu pertahanan.
15)Alameng yang mempunyai garis melintang pada bagian pang kalnya disebut ”LAPALUTTURI”. Alameng ini baik untuk menyerang lawan, baik dalam peperangan maupun pertarung an individual. Bentuk alameng tersebut dapat dilihat secara jelas pada gambar 21 di bawah ini.
16) Alameng yang disebut ”LASALAGA” seperti terlihat pada gambar 22, amat baik untuk tujuan pertanian. Pemiliknya tidak akan mengalami hambatan apapun, sehingga kehidupan nya cukup sejahtera. Lasalaga berarti sang lukuh, sehingga masyarakat Bugis di Bone mengganggapnya ideal untuk tujuan pertanian.
17) Alameng yang mempunyai guratan menyerupai simpulan di bagian pangkalnya, pertanda baik untuk tujuan pencaharian rezeki. Pemiliknya cepat kaya. Bentuk alameng ini dapat dilihat secara jelas pada gambar no. 23 di bawah ini.
18). Alameng yang pada bahagian pangkalnya terdapat lilitan bak bulan merupakan sejata yang sangat baik untuk tujuan penca harian hidup. Pemilik alameng ini bagaimanpun juga akan menjadi kaya, Bentuk alameng dimaksud dapat dilihat pada gambar No. 24 di bawah ini.
19) Alameng yang sepanjang sisinya mempunyai lilitan berbentuk setengah lingkaran, pertanda senjata yang baik untuk diguna kan bagi para petani. Lilitan ini dikenakan dalam istilah Bugis sebagai "rakkapeng", artinyai anai-anai. Itulah sebabnya maka dikonsepsikan sebagai senjata ideal untuk tujuan pertanian. Agar jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
20) Alameng yang bagian tajamnya, dekat pangkal terpotong, di samping terdapat lingkaran menyerupai mata burung di ujungnya adalah pertanda senjata yang baik untuk tujuan penataan masa depan. Alameng seperti ini dapat dilihat ben tuknya pada gambar No. 26.
21 )Alameng yang mempunyai garis bersambung menyerupai spiral, mulai dari bagian pangkal sampai ke ujung disebut ”LATEA COCCO TORIMUNRINNA” ,adalah senjata yang baik untuk tujuan kesejahteraan. Keturunan orang yang memiliki alameng seperti ini tidak akan menderita di kemu dian hari (Gambar 27)
22) Alameng seperti terlihat dalam gambar No. 22 di bawah ini termasuk jenis alameng yang tidak baik untuk tujuan penataan kehidupan. Pemilik alameng tersebut niscaya pendek usia.
23) Alameng seperti terlihat dalam gambar di bawah ini termasuk salah satu jenis alameng yang tidak baik untuk tujuan apa pun. Pemiliknya senantiasa dirundung duka.
24) Alameng yang terlihat pada gambar di bawah ini juga tidak untuk tujuan apapun saja. Karena itu orang Bugis mengonsep sikannya sebagai senjata yang tidak ideal.
Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan
https://play.google.com/books/reader?id=hJ6KCgAAQBAJ&pg=GBS.PA35
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...