Ritual
Ritual
Ritual Jawa Barat Cirebon
Ajian Jaran Goyang #OSKMITB2018

http://kahaba.net/wp-content/uploads/2014/11/Ilustrasi-Dukun-Santet.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  “Apa salah dan dosaku sayang

Cinta suciku kau buang-buang

Lihat jurus yang kan ku berikan

Jaran goyang jaran goyang."

 

Cinta ditolak, pelet pun bertindak. Ajian Jaran Goyang merupakan salah satu mantra kuno yang sudah melegenda di kalangan nenek moyang terdahulu. Keampuhannya dalam urusan percintaan, khususnya cinta yang bertepuk sebelah tangan, membuat kaum adam maupun kaum hawa melakukan salah satu ilmu pengasihan tingkat tinggi ini. Ajian Jaran Goyang sendiri diciptakan oleh seorang Mpu Sakti bernama Ki Buyut Mangun Tapa, dimana Ki Buyut Mangun Tapa banyak menciptakan ajian-ajian spiritual yang termasuk dalam ilmu pelet. Ki Buyut Mangun Tapa menyusun berbagai macam mantra pelet dan rahasia ilmu percintaan menjadi sebuah kitab yang diberi nama Mantra Asmara.

 

Menurut legenda, Mantra Asmara berhasil direbut oleh Nini Pelet dari Gunung Ciremai untuk menundukkan dan menaklukkan para lelaki maupun Raja-Raja Jawa pada zamannya. Tidak hanya Nini Pelet, dalam cerita rakyat Baridin dan Ratminah, ditampilkan Kemat Jaran Goyang. Cinta Baridin yang dipatahkan oleh kesombongan dan keangkuhan Ratminah maupun keluarganya, membuat cinta itu menjadi kebencian penuh dendam. Akhirnya Baridin bersemedi di salah satu gua guna melafalkan mantra tersebut, diikuti dengan puasa ngebleng (tanpa buka sahur) selama 40 hari 40 malam. Namun, pada akhirnya Kemat Jaran Goyang berujung pada kematian Baridin dan Ratminah.

 

“Niyat ingsun amatek ajiku sijaran goyang.  Tak goyang ing tengah latar,  cemetiku sodo lanang upet upet ku lewe benang.  Tak sabetake gunung jugrug watu gempur, tak sabetake segoro asat, tak sabetake ombak gedhe sirep, tak sabetake atine si [nama orang yang dituju] pet sidho edan ora edan sidho gendeng ora gendeng. Ora mari-mari yen ora ingsun sing nambani.”

 

Tulisan di atas merupakan mantra yang harus dilafalkan guna melakukan Ajian Jaran Goyang. Selain membaca mantra tersebut, jika ingin melakukan ritual ini, maka harus melakukan puasa mutih selama tujuh hari berturut-turut dan hanya berbuka dengan tiga kepal nasi dan segelas air putih. Selama berpuasa pun seseorang yang menjalankan ritual ini harus menjaga panca indera dari hal-hal yang tidak baik dan diharuskan membaca mantra Ajian Jaran Goyang sebanyak 111 kali saat tengah malam, 33 kali saat fajar, dan sebanyak 44 kali saat senja, sambil membayangkan wajah wanita atau pria yang disukai. Setelah semua persyaratan dilakukan dengan benar, maka orang yang disukai akan datang di hari kedelapan atau lebih, dan akan takluk serta menuruti semua keinginan maupun perkataan orang yang melakukan ritual ini alias akan menjadi BUCIN.

 

Pesona Ajian Jaran Goyang seakan tak memudar, masih banyak kalangan masyarakat yang mempercayai keampuhan ilmu pelet ini. Namun, seharusnya ritual ilmu pelet seperti ajian ini tidak lagi dilakukan. Jodoh di tangan Allah, jemputlah jodoh kita dengan kebaikan agar hidup pun terasa menyejukkan. Cinta tak bisa dipaksakan, walaupun cinta dapat dipikat dengan pelet, cinta yang kita dapat bukanlah cinta yang tulus, melainkan hanya sekedar cinta yang semu. Carilah jodoh yang menerima kita apa adanya, bukan ada apanya.

 

Pict : http://kahaba.net/wp-content/uploads/2014/11/Ilustrasi-Dukun-Santet.jpg

 

#OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Jarang goyang

Kitap lawas

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (PERIUK TANAH)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
BENDA MAGIS MASYARAKAT BATAK
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah