Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat Sumbawa
Ai Mangkung
- 13 Desember 2014

Ai Mangkung adalah sejenis nama air sungai yang terdapat di daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika air Ai Mangkung tersebut diminum oleh penduduk Desa Tarusa, selain terasa sepat air tersebut juga dapat menimbulkan penyakit. Mengapa air Ai Mangkung terasa sepat dan menimbulkan penyakit bagi penduduk Desa Tarusa yang meminumnya? Ingin tahu penyebabnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Ai Mangkung berikut ini!

Alkisah, di sebuah bukit dekat Olat Pamanto Asu`, Sumbawa, terdapat sebuah desa yang tenteram bernama Jompang. Desa tersebut dipimpin oleh seorang datu atau kepala desa yang bernama Datu Palowe`. Ia mempunyai dua orang anak, yaitu seorang anak laki­laki bernama Lalu Wanru, dan seorang anak perempuan bernama Lala Sri Menanti. Keduanya telah beranjak dewasa. Lala Sri Menanti seorang gadis yang cantik nan rupawan. Karena kecantikannya, ia menjadi anak kesayangan Datu Palowe`. Segala keinginannya selalu dipenuhi oleh sang Ayah. Mulai dari pakaian yang bagus­bagus hingga berbagai perhiasan yang indah­indah. Tak heran, jika anting­anting, kalung, gelang tangan, hingga gelang kaki senantiasa menghiasi seluruh tubuhnya.

Pada suatu hari, Lala Sri Menanti ingin sekali makan udang. Keinginan itu pun ia sampaikan kepada ayahnya. Tanpa berpikir panjang, sang Ayah pun bersedia memenuhi keinginan anak kesayangannya itu. Ai Mangkung, Kabupaten Sumbawa ­ NTB ­ Indonesia

 “Baiklah, Anakku! Keinginanmu akan segera terpenuhi,” kata ayahnya seraya memerintahkan Amaq Bangkel dan Inaq Bangkel pergi ke sungai untuk me­nempas.

Mendengar perintah itu, kedua suruhan Datu Palowe` tersebut segera bersiap­siap untuk berangkat ke sungai. Ketika mereka sedang sibuk menyiapkan peralatan yang akan mereka bawa, Lala Sri Menanti mengajukan satu permintaan lagi kepada ayahnya. “Ayah! Bolehkah Lala ikut bersama mereka ke sungai? Lala ingin melihat mereka menangkap udang,” pinta Lala Sri Menanti.

Sang Ayah pun memenuhi permintaannya. Akhirnya, Lala Sri Menanti bersama Amaq Bangkel dan Inaq Bangkel, serta beberapa orang lainnya berangkat ke sungai Olat Pamanto Asu`. Setibanya di tepi sungai, Lala duduk di atas sebuah batu besar sambil menyaksikan orang­orang menempas dan menunggu udang hasil tangkapan mereka. Pada saat itu, datang pula empat orang pemuda dari desa tetangga, Desa Tarusa, hendak menebang bambu yang banyak tumbuh di tepi Sungai Olat Pamanto Asu`. Rupanya, kedatangan mereka tidak diketahui oleh Lala Sri Menanti dan rombongannya. Salah seorang pemuda yang melihat Lala duduk seorang diri di tepi sungai tersentak kaget.

“Hai, lihat! Siapa gadis yang duduk di atas batu itu?” seru salah seorang pemuda.

“Bukankah gadis itu putri Datu Palowe` dari Desa Jompang?” sahut seorang pemuda yang lain.

“Kamu benar, kawan!” sambung pemuda yang lainnya seraya memuji, ”Aduhai, cantiknya gadis itu!”

Keempat pemuda tersebut terpesona melihat kecantikan Lala Sri Menanti. Tapi, rupanya mereka lebih tertarik pada perhiasan yang dikenakan gadis cantik itu. Meskipun mengetahui bahwa Lala Sri Menanti putri Datu Palewo`, mereka tetap berniat merampas perhiasannya.

“Apa yang harus kita lakukan agar tak seorang pun yang mengetahui perbuatan kita?” tanya salah

seorang dari pemuda tersebut dengan bingung. Setelah berunding, keempat pemuda tersebut menemukan sebuah cara, yaitu akan menyergap Lala Sri Menanti dari belakang secara diam­diam. Begitu para pencari udang tersebut semakin jauh meninggalkan Lala di tepi sungai, mereka pun mengendap­endap dari balik semak belukar, lalu menyergap tubuh Lala. Gadis cantik itu pun tersentak kaget. Ketika ia hendak berteriak meminta tolong, salah seorang di antara mereka menyumbat mulutnya dengan sehelai kain. Sementara tiga pemuda lainnya segera melucuti satu per satu perhiasan yang melekat pada tubuhnnya. Gadis malang itu meronta­meronta berusaha untuk melepaskan diri. Namun apa daya, ia tidak mampu mengimbangi kekuatan mereka. Ia hanya bisa pasrah  seluruh perhiasannya dirampas oleh keempat pemuda tersebut. Usai merampas seluruh perhiasan Lala Sri Menanti, salah seorang di antara mereka yang bernama Ua Nyawa mencabut parang yang terselip dipinggangnya, lalu memotong lengan kanan Lala. Hanya sekali tebasan, lengan Lala pun terputus. Dalam waktu singkat, gadis cantik yang malang itu langsung kehabisan darah dan akhirnya meninggal dunia di tepi sungai itu. Melihat putri Datu Palowe` tidak bernyawa lagi, keempat pemuda tersebut segera meninggalkan tempat itu dan membawa seluruh perhiasan hasil rampasan mereka ke Desa Tarusa. Namun, sebelum meninggalkan tempat itu, Ua Nyawa membuang potongan lengan Lala Sri Menanti ke sungai. Sementara itu, Amaq Bangkel dan Inaq Bangkel dan teman­temannya tidak mengetahui kejadian mengerikan yang menimpa Lala Sri Menanti, karena asyik mencari udang. Begitu selesai menangkap udang, mereka kembali ke tepi sungai untuk menemui Lala Sri Menanti. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati anak kesayangan pemimpin mereka dalam keadaan tewas mengenaskan. Mereka sangat menyesal karena tidak mampu menjaga keselamatan Lala Sri Menanti. Mereka kemudian membawa pulang jasad Lala Sri Menanti ke desa. Datu Palowe` pun tak sanggup menahan air mata atas musibah yang menimpa anaknya. Beberapa hari kemudian, terdengarlah kabar bahwa orang yang telah menghabisi nyawa Lala Sri Menanti adalah empat orang pemuda dari Desa Tasura. Mengetahui hal tersebut, Datu Malewo` melarang keempat pemuda tersebut meminum air Sungai Olat Pamanto Asu`. Jika mereka meminumnya, selain terasa sepat air itu juga dapat menimbulkan penyakit. Sejak itu, para penduduk Desa Tarusa pun tidak berani meminum air sungai itu, karena takut terkena penyakit.

Demikian cerita Ai Mangkung dari daerah Sumbawa, Nusantara Tenggara Barat. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, tangan Lala Sri Menanti yang dibuang ke sungai menjelma menjadi seekor ikan tuna buntung dan mulutnya berwana merah delima seperti bibir seorang gadis. Mereka juga mempercayai bahwa bukit yang berada di dekat Sungai Olat Pamanto Asu` merupakan bekas tempat tinggal Datu Palewo`. Di bagian atas bukit tersebut terdapat beberapa batu yang berbentuk dipan berukir, peti, dan kursi yang dipercaya sebagai peninggalan Datu Palowe`.

Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa hendaknya orang tua tidak terlalu memanjakan anak dengan menuruti segala keinginannya, karena hal tersebut dapat menimbulkan malapetaka bagi anak itu sendiri. Hal ini terlihat pada sikap dan perilaku Datu Malewo` yang telah menuruti segala kinginan anaknya dengan membelikan berbagai macam perhiasan. Akibatnya, ketika anaknya pergi ke sungai tewas setelah seluruh perhiasannya dirampas oleh empat orang pemuda. Dari sini dapat sebuah pelajaran bahwa jika kita hendak bepergian hendaknya tidak mengenakan pakaian atau pun perhiasan yang mencolok, sehingga tidak mengundang perhatian orang lain untuk berbuat jahat kepada kita. 

 

http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/190-Ai-Mangkung

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu