Pada waktu itu Abo' Mamongkuroit ini mendirikan sebuah rumah ditengah-tengah hutan. Abo' Mamongkuroit ini kawin dengan Buwa (putri) Monondeaga. Rumah tangga mereka sangat berbahagia. Mereka saling harga menghargai satu dengan yang lain. Berapa lama berselang dari pergaulan mereka, pada suatu hari Abo' Mamongkuroit memanggil istrinya lalu berkata, "Jika sekiranya diijinkan baiklah aku pergi merantau untuk mencari nafkah bagi kita berdua. Tidak lama aku bepergian."
Istrinya menjawab, "Terserah kepadamu, jika ingin merantau aku tidak melarangmu, rela hatiku asalkan jangan terlalu lama." Sesudah itu suaminya bergegas-gegas lalu disuruhnya membuatkan bekal ketupat dan telur ayam rebus.
Belum berapa lama kemudian suaminya berangkat dari rumahnya, datanglah si Tulap. Melihat si Tulap datang istrinya takut. Tetapi si Tulap melihat ia takut berkatalah ia, "Jangan takut padaku karena aku tidak memakanmu."
"Bagaimana caraku agar supaya aku tidak dibawa oleh si Tulap." Pikir putri itu. Pada waktu yang bersamaan si Tulap mengatakan bahwa putri itu akan didukung dan dibawa ke rumahnya. Tetapi putri itu berkata, "Hari ini jangan dulu aku dibawa ke rumahmu sebab aku akan mencuci rambut dulu. Alangkah baiknya besok sore saja baru engkau datang ambil padaku ditempat ini. Mendengar perkataan demikian si Tulap pulang lagi, dan putri itu masuk ke rumahnya. Malam itu putri berpikir, bagaimana lagi caranya memperdaya supaya besok ia belum dibawa oleh si Tulap. Sampai kesiangan ia tak tidur karena memikirkan nasibnya.
Keesokan harinya waktu petang, datanglah si Tulap untuk mengambil putri Monondeaga yang akan dibawanya ke rumahnya tempat tinggalnya. "Bagaimana akalku lagi supaya belum dibawa oleh si Tulap," kata putri itu dalam hatinya. Setibanya si Tulap di tempat itu, ia berkata kepada putri itu, "Kini aku telah datang untuk mendukungmu dan membawamu ke rumahku sesuai dengan janjimu kemarin."
Putri menyahut, "Hari ini jangan dulu aku dibawa ke rumahmu, karena aku belum mandi. Baiklah nanti besok karena kini hari sudah hampir malam. "Mendengar ucapan itu si Tulap kemudian pulang ke rumahnya. Putri itu membuat siasat demikian agar supaya sambil menunggu suaminya kembali dari perantauan. Tetapi sampai sekarang itu suaminya belum juga muncul-muncul.
Keesokan harinya datang lagi si Tulap, menepati janji putri itu, dan berkata, "Kini aku sudah datang kembali untuk menjemputmu. Marilah karena telah tiga hari aku datang mengambil padamu tetapi engkau selalu menundanya". Putri itu tak dapat akal lagi untuk menghindari agar supaya tidak dibawa oleh si Tulap.
"Tunggulah," kata putri "Sementara ini aku menyisir rambutku dan mengenakan baju yang bagus dan menghias diriku. selesai menghias dirinya, Buwa' Monondeaga keluar dari rumahnya lalu didukung oleh Tulap dan dibawa ke rumahnya. Setibanya di rumahnya, terus dimasukkan ke dalam kandang besi di bawa kolong rumahnya.
Putri tidak tahu lagi apa yang akan diperbuat oleh Tulap terhadap dirinya. Ia berpikir dalam hatinya, "Mungkin aku ini akan dibunuh atau dimakan oleh si Tulap karena langsung dikurungnya dalam kandang besi. Suamiku tidak mengetahui dimana aku berada." Putri ini bertambah takut dan hilang semangatnya serta berdebar-debar jantungnya.
Seminggu berselang, kembalilah Abo' Mamongkuroit turun dari perantauan. Setibanya di rumahnya, ia melihat rumahnya sunyi dan istrinya tidak ada di dalam rumah. Sedih sekali hatinya karena hanya dialah satu-satunya yang mempunyai rumah ditengah-tengah hutan. Ia berpikir, "Karena istriku ini telah dilarikan oleh iblis dan tidak ada yang melihatnya. Ataukah baru pergi ke sungai lalu hanyut?"
Kemudian ia mencarinya di sekitar rumahnya, tetapi tidak juga nampak istrinya yang tersayang itu. Karena tidak ada disekitarnya maka ia lalu menyediakan bekal dan keluar mencari istrinya. Dalam hatinya berkata bahwa, seandainya dia belum menemukan istrinya dia tidak akan kembali ke rumahnya. Dia baru akan kembali jika istrinya telah ditemukannya.
Kini berangkatlah ia pergi mencarinya. Tidak berapa lama ia berjalan, tibalah ia pada suatu perkampungan. Di sini ia bertanya tentang istrinya yang hilang.
"Hai orang kampung.......... tidaklah lewat di sini Buwa Monondeanga, istriku?"
Mereka menjawab, "Kami tidak melihat "Buwa Monondeaga" Dari situ Abo' Mamongkuroit melanjutkan perjalanan, tidak lama kemudian tibalah pada kampung yang kedua. Di situ ia bertanya pula tentang istrinya yang hilang.
"Hai orang kampung........ tidak lewat disinikah Buwa Monondeaga istriku.....?"
Mendengar pertanyaan itu mereka menjawab. "Ada lewat tadi di dukung oleh si Tulap."
Kemudian ia meneruskan perjalanan, tibalah ia pada suatu kampung dan bertanya lagi katanya,
Hai orang kampung...... tidak lewat disinikah Buwa' Monondeaga, istriku.....?"
Mendengar itu mereka menjawab, "Hai Abo' Mamongkuroit, tadi si buwa' (puteri) melewat di sini bermandikan peluh. Dimasukkan oleh Tulap ke dalam bungkusan yang didukungnya." Dari situ ia meneruskan perjalanan, walaupun sudah letih ia berjalan terus juga. Tidak berapa lama, tibalah ia pada sebuah rumah yang besar.
Terus ia naik ke rumah itu, sebab ia melihat istrinya berada di bawah kolong rumah dan dalam kandang besi. Bangkitlah marahnya tetapi diusahakannya supaya tidak tampak oleh si Tulap. Setelah Tulap melihat wajahnya, segera ia menegur, "Hai Abo' Mamongkuroit datang!"
Abo' Mamongkuroit menjawab, "Ya, saya datang bertemu" Tulap berkata. "Jangan dahulu lekas-lekas pulang, karena aku mau layani dengan air panas (kopi), nanti selesai minum barulah engkau pulang ke rumahmu."
Sesudah itu Tulap mengajak Abo' Mamongkuroit, "Marilah kita turun ke tanah untuk membuat ketamaian, adu betis!" Jawab Abo' Mamongkuroit, "Baiklah, aku yang pertama bersiap menerima serangan, sudah itu baharu ayah (Tulap) yang aku serang."
Selesai berkata demikian turunlah keduanya ke tanah. Kini Abo' Mamongkuroit menunggu pukulan (adu betis). Begitu Abo' Mamongkuroit menunggu, begitu serangan si Tulap. Abo' Mamongkuroit yang menahan serangan tidak terasa sedikit pun sakitnya, sebaliknya si Tulap yang menyerang, dialah yang terpelanting sejauh-jauhnya.
Kata Abo' Mamongkuroit, "Ternyata aku yang lebih kuat ayah, karena aku tidak terpelanting."
Sesudah itu si Tulap yang menunggu pukulan dari Abo' Mamongkuroit Begitu kena serangan begitu pula si Tulap terlempar terpelanting ke angkasa hingga puncak pohon yang tinggi, menggelepar-gelepar lalu mati. Melihat itu istri si Tulap turun membawa pisau untuk membantu suaminya. Begitu ia mendekati Abo' Mamongkuroit, begitu ia mendapat pukulan. Tidak diketahui dimana terlempar badan tangan dan kaki istrinya. Hanya kepala yang tinggal terletak di tanah dan matanya melotot keluar.
Abo' Mamongkuroit yang masih berada di dalam kurungan, segera dikeluarkan. Setelah Tulap dan istrinya mati, naiklah pula ia ke dalam rumah dan tampak olehnya manusia tahanan banyak sekali, yakni sisa-sisa dari mereka yang telah dimakan lebih dahulu. Puteri Momondeaga istri Abo' Mamongkuroit yang masih berada di dalam kurungan, segera dikeluarkan. Semua orang yang dikurung dilepaskan, lalu ia berkata, "Pulanglah kamu sekalian ke kampung masing-masing, jangan lagi takut/khawatir akan Tulap dan istrinya pemakan orang itu, karena aku telah menamatkan riwayatnya. Pulanglah kamu sekalian berkebun supaya kita semua tidak mati kelaparan."
Setelah itu masing-masing pulang ke tempatnya dengan perasaan gembira. Istri dari Abo' Mamongkuroit pun kini telah dibawa pulang ke rumahnya.
sumber:
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...