Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jambi Tanjung Jabung Barat
ASAL-USUL SUKU MELAYU TIMUR
- 18 Juli 2018

Suku Melayu Timur termasuk salah satu suku bangsa Melayu yang kini sebagian besar mendiami daerah Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Konon, orang yang disebut-sebut sebagai nenek moyang suku ini bernama Datuk Kedanding, yang diduga merupakan keturunan dari orang-orang Mindanau (Filipina).

Asal%2BUsul%2BSuku%2BMelayu%2BTimur-2.jpg
 
Ratusan tahun silam, di Negeri Melabang, Mindanau (kini menjadi sebuah wilayah di Filipina), berdiri sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja bernama Sultan Iskandar Bananai. Sang Raja memiliki dua orang putra yang bernama Patukan (sulung) dan Mata Empat (bungsu). Kedua pangeran itu memiki tabiat yang bertolak belakang. Pangeran Patukan adalah seorang pemuda tampan yang baik hati, berbudi luhur, dan suka menolong. Sedangkan, Pangeran Mata Empat memiliki sifat yang sangat buruk, kasar, tidak sopan, dan sifat-sifat yang tidak terpuji lainnya. Raja sudah menasehati anak bungsunya itu, tapi kelakuan Pangeran Mata Empat justru semakin menjadi-jadi. Sang Raja sangat malu dengan sifat dan kelakuan putranya itu. 
Suatu hari, Sultan Iskandar Bananai memanggil seluruh panglima dan penasehatnya untuk bermusyawarah di ruang sidang istana. 
  • “Wahai, para panglima dan penasehat kerajaan! Kalian pasti sudah tahu dengan sifat dan perilaku putraku, Mata Empat. Aku mengumpulkan kalian untuk membicarakan masalah ini,” kata sang Raja, 
  • “Terus terang, aku sudah tidak sanggup lagi mengatasi kelakuannya. Apakah kalian mempunyai pandangan mengenai hal ini?” Mendengar pertanyaan sang Raja, para panglima dan penasehat kerajaan tertunduk diam. 
Mereka semua berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Beberapa saat kemudian, salah seorang penasehat kerajaan angkat bicara. 
  • “Ampun, Baginda. Izinkanlah hamba menyampaikan saran untuk mengatasi kelakuan putra Baginda,” kata penasehat kerajaan itu. 
  • “Apakah saranmu itu? Katakanlah!” jawab sang Raja dengan tidak sabar. 
  • “Ampun, Baginda. Jika hamba boleh menyarankan, alangkah baiknya jika Pangeran Mata Empat diasingkan dari negeri ini,” ungkap penasehat kerajaan itu. 
  • “Apa maksudmu diasingkan?” tanya sang Raja bingung. 
  • “Ampun Baginda jika kata-kata hamba terlalu kasar. Maksud hamba, barangkali akan lebih baik jika Pangeran Mata Empat diperintahkan untuk pergi merantau mencari pengalaman,” jelas penasehat itu. 
  • “Hmmm... saran yang bagus,” sahut sang Raja, 
  • “Aku setuju saran itu.” 
  • “Bagaimana dengan pendapat yang lain? Apakah kalian setuju saran ini?” tanyanya seraya memandangi para peserta sidang lainnya. 
  • “Setuju, Baginda,” jawab para peserta sidang dengan serentak. 
  • “Baiklah kalau begitu. Tolong panggilkan Pangeran Mata Empat untuk menghadapku sekarang,” titah sang Raja. 
Salah seorang panglima bergegas memanggil sang Pangeran. Tidak lama kemudian, panglima itu pun kembali bersama Pangeran Mata Empat. Saat tiba di ruang sidang, sang Pangeran terlihat kebingungan melihat semua pembesar kerajaan sedang berkumpul menghadap ayahandanya. 
“Ada apa Ayah memanggilku?” tanya Pangeran Mata Empat. 
Dengan halus, Sultan Iskandar Bananai pun menyampaikan hasil keputusan rapat itu kepada putranya. Mendengar keputusan itu, Pangeran Mata Empat sangat marah. 
  • “Ayah, keputusan ini tidak adil. Kenapa aku saja yang disuruh merantau, sementara Abangku tidak?” tanya Pangeran Mata Empat dengan kesal. 
  • “Maafkan Ayah, Putraku! Ini sudah keputusan bersama dalam sidang,” jawab sang Raja.
Pangeran Mata Empat tetap saja merasa keberatan. Ia tidak ingin kalau hanya dirinya saja yang disuruh pergi merantau. 
“Ayah, demi keadilan, Abang Patukan juga harus pergi merantau. Tidak hanya aku,” pinta Pangeran Mata Empat. 
Mendengar permintaan itu, Sultan Iskandar Bananai justru yang keberatan. Ia amat sayang kepada Patukan. Ia adalah tumpuan harapannya yang kelak akan menggantikan kedudukannya sebagai raja. 
Setelah lama berpikir, akhirnya sang Raja memenuhi permintaan itu. 
“Baiklah, Putraku. Demi keadilan, Ayah memenuhi permintaanmu. Abangmu pun akan Ayah perintahkan untuk pergi merantau,” ujar sang Raja. 
Pangeran Patukan adalah pemuda yang penurut. Maka, ketika sang Ayah memintanya pergi merantau, ia tidak menolak. Bahkan, ia menyambutnya dengan senang hati. Keesokan harinya, kedua pangeran itu bersiap-siap untuk berlayar. Pangeran Patukan diberi sebuah kapal layar yang dilengkapi perbekalan makanan serta beberapa pengawal dan dayang-dayang. 
Sementara itu, Pangeran Mata Empat diberi sebuah rakit yang juga dilengkapi dengan perbekalan, pengawal, dan dayang-dayang. Ketika keduanya hendak berangkat, Sultan Iskandar Bananai bersama permaisuri dan segenap rakyat berbondong-bondong menuju pelabuhan untuk melepas kepergian dua pangeran itu. 
  • “Semoga kalian berhasil, wahai putra-putraku,” ucap sang Raja melepas kedua putranya dengan doa. 
  • “Terima kasih, Ayahanda! Nanda pun berharap agar Ayah dan Ibunda tetap menjaga kesehatan,” kata Pangeran Patukan seraya mencium tangan kedua orang tuanya. 
Asal%2BUsul%2BSuku%2BMelayu%2BTimur-3.jpg
 
Sementara itu, Pangeran Mata Empat sudah berada di atas rakit tanpa menyalami ayah dan ibundanya. Bahkan, ketika rakit itu mulai meninggalkan pelabuhan, ia berkacak pinggang, tanpa melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Rupanya, ia masih kesal dengan keputusan ayahnya yang mengharuskan dirinya pergi meninggalkan istana. 
 
Lain halnya dengan Pangeran Patukan, ia terus melambaikan tangan kepada orang-orang yang melepasnya di pelabuhan hingga kapal layarnya hilang dari pandangan mata. Kedua pangeran itu berlayar terpisah tanpa tentu arah untuk mencari keberuntungan masing-masing. 
 
Setelah berhari-hari berlayar, kedua putra raja itu terombang-ambing di tengah laut. Suatu ketika, rakit Pangeran Empat Mata terhempas badai hingga hancur berkeping-keping. Seluruh penumpangnya jatuh ke laut dan terbawa arus gelombang. Untung ia berhasil meraih salah satu potongan rakitnya. Ia pun terapung-apung di atas potongan rakit itu hingga akhirnya terdampar di Tanah Merah (kini dekat Palembang). Konon, Pangeran Empat Mata menetap di daerah itu hingga akhir hayatnya. 
 
Sementara itu, Pangeran Patukan juga mengalami nasib sama. Kapal layarnya dihempas badai dan gelombang besar hingga hancur. Seluruh pengawal dan dayang-dayangnya tenggelam di tengah laut Sang Pangeran pun dapat menyelamatkan diri hingga terdampar di Pulau Lingga. Untung nasib baik berpihak kepadanya karena ia berhasil ditemukan oleh Raja Lingga dan kemudian dibawa ke istana. 
  • “Hai, anak muda siapa kamu dan dari mana asalmu?” tanya Raja Lingga. 
  • “Ampun, Baginda. Hamba Pangeran Patukan, putra sulung Sultan Iskandar Bananai dari Negeri Mindanau,” jawab sang Pangeran. 
Pangeran Patukan kemudian menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga terdampar di Pulau Lingga. Mendengar cerita itu, Raja Lingga merasa amat gembira. 
  • “Oh, kebetulan sekali, Pangeran. Sudah bertahun-tahun kami menikah, tapi sampai sekarang Tuhan belum juga mengaruniai kami seorang putra,” ungkap Raja Lingga, 
  • “Jika Pangeran berkenan, aku ingin mengangkat Pangeran sebagai putraku. Setelah aku wafat kelak, engkaulah yang akan menggantikanku sebagai raja di negeri ini.” 
Mulanya, Pangeran Patukan bingung atas permintaan Raja Lingga itu. Di negerinya, ia juga diharapkan untuk menjadi pengganti ayahandanya sebagai raja. Namun, setelah mempertimbangkan bahwa Raja Lingga telah menyelamatkannya, maka ia pun menerima permintaan tersebut. 
Sejak itulah, Pangeran Patukan tinggal di istana dan menjadi anak angkat Raja Lingga. Beberapa tahun kemudian, Raja Lingga wafat. Pangeran Patukan pun dinobatkan sebagai Raja Lingga yang baru. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dalam waktu singkat negeri itu menjadi makmur dan sejahtera. Ia pun amat dicintai oleh rakyatnya. 
Suatu hari, berita tentang Pangeran Patukan menjadi Raja Lingga sampai juga ke Negeri Mindanau. Seluruh rakyat Mindanau menyambut gembira kabar tersebut, terutama Sultan Iskandar Bananai dan permaisurinya. Banyak di antara rakyat Mindanau yang ingin pindah ke Pulau Lingga untuk mengabdi kepada Pangeran Patukan. Maka, dengan izin Sultan Iskandar Bananai, penduduk Mindanau pun mulai berangsur-angsur pindah ke Negeri Lingga. 
 
Semasa perpindahan penduduk Mindanau ke Pulau Lingga, sebagian di antara mereka ada yang tersesat sampai ke Kuala Tungkal akibat tidak tahu arah, salah satunya adalah adalah Datuk Kedandingbersama keluarganya. Konon, Datuk Kedanding inilah yang dipercaya sebagai nenek moyang orang-orang Suku Melayu Timur yang bermukim di daerah Kuala Tungkal. 
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/09/asal-usul-suku-melayu-timur.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu