Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Riau Riau
ASAL USUL SELAT NASIK DI PULAU SUBI
- 21 Juli 2018
ASAL%2BMULA%2BSELAT%2BNASI%2BRIAU.gif
 
Selat Nasik adalah sebuah selat yang memanjang lurus dari timur ke barat membelah (di sebelah utara) dan Pulau Subi Besar (di sebelah selatan), yang terletak di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Menurut cerita, keberadaan Selat Nasik ini disebabkan oleh ulah Datuk Kaya yang menghamburkan Nasik basi di Pulau Subi. Mengapa Datuk Kaya menghamburkan Nasik basi sehingga menyebabkan hamburan Nasik itu menjelma menjadi selat? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Selat Nasik Di Pulau Subi berikut ini! 
* * *
Alkisah, di daerah Natuna, Kepulauan Riau, terdapat sebuah pulau bernama Pulau Subi yang dikuasai oleh seorang Datuk Kaya. Sang Datuk Kaya mempunyai seorang istri bernama Cik Wan dan seorang putri yang cantik nan rupawan bernama Nilam Sari. Ia seorang gadis yang rajin, berbudi pekerti luhur, dan tidak angkuh. 
 
Setiap hari ia duduk menekat (membordir), menyulam, dan merenda benang sutra. Ia juga pandai memasak dan membuat kueh-mueh. Dalam pergaulan sehari-hari, ia juga tidak membedakan antara si kaya dan si miskin untuk dijadikan sebagai teman. Tak heran jika orang-orang di sekitarnya sangat kagum dan memuji perangainya. Kapan dan di manapun orang berkumpul, pasti mereka membicarakan dirinya. 
 
Pada suatu hari, sekelompok pedagang dari Palembang singgah di Pulau Subi. Secara tidak sengaja mereka mendengar percakapan orang-orang kampung di pulau itu tentang kecantikan dan keelokan perangai Nilam Sari. Kemudian dari mulut ke mulut, cerita itu pun tersebar di kalangan masyarakat Palembang, dan akhirnya sampai pula ke telinga Permaisuri Raja Palembang. 
 
Mendengar cerita itu, Permaisuri pun bercita-cita ingin menjadikan Nilam Sari sebagai anak menantunya. Pada suatu malam, Permaisuri pun menyampaikan niat tersebut kepada putranya, Pangeran Demang Aji Jaya, dengan ungkapan berikut: 

  • “Demang Aji, anakku semata wayang kini dirimu telah besar panjang 
  • umpama burung telah dapat terbang umpama kayu sudah berbatang 
  • umpama ulat telah mengenal daun umpama serai sudah berumpun 
  • selesai menuntut ilmu ke sana kemari ke Malaka sudah, ke Jawa pun sudah 
  • ke Negeri Cina telah menamatkan pelajaran bersilat tembung 
  • ke negeri Hay Lam belajar kontao 
  • ke Pathani Negeri Siam selesai mengaji menikah saja yang belum” 

Mendengar ungkapan sang Bunda, Pangeran Demang Aji Jaya terdiam sejenak. Ia berusaha untuk memahami maksud dari ungkapan Bundanya, tapi ia tetap tidak mengerti. 

“Maafkan Nanda, Bunda! Nanda tidak benar-benar mengerti maksud Bunda,” ucap Pangeran Demang Aji Jaya. Sambil tersenyum, 

Permaisuri kembali bertutur untuk menyampaikan harapannya kepada putranya dengan ungkapan yang lebih jelas seperti berikut ini: 

  • “niat Bunda tersemat sudah di hati
  • di Negeri Palembang sedia ada kumbang jati
  • di Pulau Subi sedang mekar sekuntum bunga bersari wangi
  • setinggi Mahameru harapan Bunda hendak mengantar tepak puan (tepak sirih)
  • berikut pula emas-perak intan-berlian ke Pulau Subi
  • mengirim utusan menjunjung titah dan salam
  • nahkoda perpengalaman di laut dalam
  • penumpangnya segala cerdik pandai
  • ahli waris yang menyampaikan hajat hati
  • sirih-pinangan diunjukkan kepada Nilam Sari”

“Baiklah, Bunda! Sekarang Nanda dapat mengerti maksud dan keinginan Bunda. Jika itu sudah menjadi keinginan Bunda, Nanda bersedia untuk menikah dengan Putri Nilam Sari,” kata Pangeran Demang Aji Jaya. 

Alangkah senang hati sang Bunda mendengar pernyataan putranya. Ia pun segera menyampaikan kabar gembira itu kepada sang Raja. Sang Raja pun setuju dan segera menyebarkan berita tentang pernikahan putranya dengan Nilam Sari kepada seluruh keluarga istana dan rakyat Negeri Palembang. 
 
Keesokan harinya, seluruh keluarga istana sibuk mempersiapkan segala hantaran dan hadiah-hadiah, seperti tepak sirih, emas-perak, dan intan berlian untuk diserahkan kepada keluarga Nilam Sari. Sang Raja kemudian menunjuk beberapa orang cerdik pandai untuk menyampaikan hajat hati (lamaran) dan beberapa orang nahkoda perpengalaman untuk menahkodai kapal menuju Pulau Subi. Setelah semuanya siap, para utusan Raja Palembang berangkat menuju ke Pulau Subi untuk menyampaikan lamaran Pangeran Demang Aji Jaya kepada Putri Nilam Sari. 
 
Sesampainya di Pulau Subi, utusan Raja Palembang yang diwakili seorang juru cakap mengungkapkan maksud kedatangan mereka dengan untaian pantun berikut ini: 

  • Cantik memanjat pohon ara
  • Nampaknya cantik berseri laman
  • Besar hajat kami tidak terkira
  • Hendak memetik bunga di taman
  • Rumah besar alangnya besar
  • Rumah Datuk Perdana Menteri
  • Kalau tidak hajat yang besar
  • Kami tidak sampai datang kemari
  • Dari paya turun ke lembah
  • Petik pinang dipilih-pilih
  • Saya sudah mohonkan sembah
  • Adat meminang bertepak sirih 

Untaian pantun yang berisi lamaran tersebut kemudian dibalas oleh keluarga Datuk Kaya Pulau Subi dengan untaian pantun pula: 

  • Yang datang berulang-alik
  • Yang pergi terbayang-bayang
  • Yang bulat datang menggolek
  • Yang pipih datang melayang
  • Kalau bukit gunakan galah
  • Cepat tuan tiba ke pantai
  • Kalau sudah kehendak Allah
  • Niat terkabul hajat pun sampai

Pinangan Putra Raja Palembang, Pangeran Demang Aji Jaya, diterima oleh pihak keluarga Datuk Kaya Pulau Subi. Juru cakap Raja Palembang pun segera melantunkan pantun untuk mengungkapkan rasa suka cita dan ungkapan terima kasih atas diterimanya pinangan mereka sambil menengadahkan kedua tangannya sebagai penghormatan. 

  • Berkokok ayam di pagi hari
  • Putus kali dari tambatan
  • Datuk sudah menerima tadi
  • Kecil tapak tangan saya tadahkan

Setelah peminangan selesai, kedua belah pihak kemudian menentukan hari perkawinan kedua calon mempelai pengantin. Melalui musyawarah mufakat, mereka pun memutuskan hari perkawinan sekaligus naik ke pelaminan jatuh pada hari kesepuluh bulan Syafar. 
 
Sebelum kembali ke negerinya, para utusan Raja Palembang dipersilahkan untuk menikmati berbagai jamuan makanan yang telah dihidangkan. Kemudian pihak keluarga Datuk Kaya memberikan hadiah kepada mereka untuk dibawa pulang ke Negeri Palembang. Setelah itu, para utusan pun mohon diri kepada keluarga Datuk Kaya Pulau Subi. 

  • “Izinkanlah kami untuk memohon diri. Segala kata dan tingkah yang tidak berkenan mohon dimaafkan. Kami berjanji, pada hari sepuluh bulan Syafar, arak-arakan pengantin dari Palembang akan tiba di Pulau Subi ini,” janji para utusan Raja Palembang. 
  • “Baiklah. Kami tunggu kedatangan kalian. Kami harap tidak akan ada selisih hari dan bulan,” sahut Datuk Kaya Pulau Subi seraya berjabat tangan sebagai tanda berteguh janji. 

Setelah itu, para utusan Raja Palembang kembali ke negeri mereka untuk menyampaikan berita gembira tersebut kepada raja mereka. Sang Raja Palembang dan permaisuri pun menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Waktu berjalan begitu cepat. Sepekan lagi hari kesepuluh bulan Syafar akan tiba. 
Para penduduk Pulau Subi mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan penyambutan rombongan mempelai laki-laki dari Negeri Palembang. Ada yang sibuk membelah kayu api, dan ada pula yang menegakkan selasar (rumah sambung). 
 
Pada hari ketujuh bulan Syafar, berpuluh-puluh ekor lembu dan kambing, serta beratus-ratus ekor ayam dan itik disembelih. Pada hari kedelapan dan kesembilan bulan Syafar, kaum perempuan, tua dan muda sibuk memasak dan mengukus kue, serta menggulai dan merendang daging untuk lauk-pauk. Pemangku adat Pulau Subi pun sibuk memasang tabir dan menggantung tirai seri balai pelaminan. Memasuki hari kesepuluh bulan Syafar, segala keperluan penyambutan rombongan pengantin laki-laki telah siap. Nasik berdandang-dandang dan lauk-pauk berdulang-dulang sudah terhidang. 
 
Asal%2BMula%2BSelat%2BNasi%2BDi%2BPulau%2BSubi%2B%2528Kepuluan%2BRiau%2529.jpg
 
 
Nilam Sari pun telah dirias dengan busana yang sangat indah dan menawan. Ia mengenakan baju kurung bertepih sutra bercorak lintang tenunan Siantang, bertudung manto (tudung kepala pengantin perempuan) kain mastuli Daik-Lingga. Ikatan pending (hiasan emas tali pinggang perempuan) melilit di pingggang. Dukuh tiga rengkat terkalung di leher Nilam Sari hingga menutup dadanya, layaknya putri datuk-datuk bermahar maskawin (nilai adat) seratus dua puluh real. 
 
Dengan mengenakan busana itu, Putri Nilam Sari tampak semakin cantik dan anggun. Ia tidak sabar lagi menanti kedatangan sang Pangeran tampan dari Negeri Palembang. Demikian pula keluarga Datuk Kaya serta para tamu undangan yang sudah memenuhi ruang selasar. Namun, hingga hari menjelang siang, rombongan pengantin laki-laki belum juga datang. 
 
Datuk Kaya pun mulai gelisah. Ia berjalan mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah mulai memutih. Sementara istrinya, Cik Wan, berusaha menenangkan hatinya. 

“Tenanglah, Bang! Sebentar lagi juga mereka datang,” bujuk Cik Wan. 

Datuk Kaya pun berusaha untuk bersabar dan bersikap tenang. Hingga hari menjelang malam, rombongan pengantin dari Negeri Palembang tidak juga kunjung datang. Datuk Kaya semakin gelisah dan kesabarannya pun mulai goyah. 

  • “Mereka benar-benar keterlaluan! Mereka telah mengingkari janji,” ucap Datuk Kaya dengan nada kesal. 
  • “Sabar, Bang! Barangkali mereka sedang mengalami halangan di perjalanan,” Cik Wan kembali menenangkan hati suaminya. 

Datuk Kaya dan seluruh penduduk Pulau Subi terus menunggu hingga hari kesebelas dan keduabelas. Namun, rombongan pengantin dari Negeri Palembang bulan juga tiba. Barulah pada hari ketigabelas bulan Syafar arak-arakan pengantin laki-laki Negeri Palembang tiba di Pulau Subi. Tanpa menunggu lagi, kedua mempelai segera dinikahkan dan didudukan bersanding di atas pelaminan. Melihat tamu rombongan yang datang, istri Datuk Kaya mulai bingung bagaimana menjamu mereka. Nasik yang berdandang-dandang dan lauk-pauk berdulang-dulang semuanya sudah basi. 

  • “Bang! Semua persediaan jamuan makanan sudah basi dan tidak layak lagi untuk dihidangkan kepada tamu kita. Apakah sebaiknya kita mengganti hidangan yang yang sudah basi itu dengan Nasik dan lauk pauk yang baru?” usul Cik Wan kepada suaminya. 
  • ‘Tidak, Istriku! Biar orang Palembang itu tahu diri. Mereka telah ingkar janji. Ikrar kita pada hari kesepuluh bulan Syafar tidak mereka tepati. Pantas kalau kita hidangkan Nasik dan lauk pauk basi kepada mereka,” pungkas Datuk Kaya. 
  • “Tapi, Bang! Apa sebaiknya kita tanyakan dahulu, barangkali mereka terserang badai di perjalanan,” pinta Cik Wan. 

Ternyata memang benar, rombongan pengantin laki-laki dari Negeri Palembang tersebut dilanda badai di tengah laut, sehingga mereka harus singgah di teluk Pulau Kiabu untuk berlindung dari amukan badai yang sangat dahsyat. Hal ini dikatakan oleh Pangeran Demang Aji Jaya kepada Nilam Sari di saat mereka sedang duduk bersanding di atas pelaminan. 
 
Namun, kabar itu tidak sempat terdengar oleh Datuk Kaya. Lagi pula, Datuk Kaya memang tidak mau tahu masalah itu. Melihat sikap suaminya itu, Cik Wan terus membujuknya agar hidangan jamuan makan untuk para tamu dari Negeri Palembang tersebut diganti dengan makanan yang baru. 

“Bang! Sebaiknya hidangan kita ganti dengan yang baru. Kita akan malu jika kita menghindangkan makanan basi buat mereka. Jika Abang tidak mengindahkan permintaan Adik, gugurkan Adik ke talak satu!” pinta Cik Wan. 

Datuk Kaya tetap tidak mengindahkan permintaan Cik Wan. Bahkan, ia segera mempersilahkan kepada para tamu dari Negeri Palembang untuk mencicipi makanan basi tersebut. 

  • “Cicipilah apa adanya yang tersedia!” seru Datuk Kaya kepada para tamunya. Cik Wan pun semakin kesal dengan sikap suaminya itu. 
  • “Bang! Berarti gugur talak satu buat Adik!” teriak Cik Wan. 
  • “Hai, Cik Wan! Bukan hanya talak satu yang gugur, tapi talak tiga kujatuhkan kepadamu!” teriak Datuk Kaya sambil menghambur-hamburkan Nasik basi tersebut sehingga membentuk garis memanjang seakan membelah Pulau Subi menjadi dua bagian. 
  • “Kita bercerai berbatas Nasik basi ini, Cik Wan!” pungkas Datuk Kaya. 

Beberapa saat setelah Datuk Kaya menghamburkan Nasik basi tersebut, tiba-tiba kilat menyambarnyambar disertai angin kencang dan hujan deras. Air laut pun bergulung-gulung setinggi gunung menghantam Pulau Subi. 

  • Pulau Subi pun terbelah menjadi dua bagian, satu di sebelah utara dan satu lagi di bagian selatan. 
  • Pulau Subi Kecil (di sebelah utara) milik Cik Wan, 
  • sedangkan Pulau Subi Besar (di sebelah selatan) menjadi milik Datuk Kaya. 

Pulau Subi itu terbelah oleh sebuah selat yang memanjang lurus dari timur ke barat. Oleh masyarakat setempat, selat itu diberi nama Selat Nasik, karena keberadaannya disebabkan oleh hamburan Nasik Datuk Kaya Pulau Subi. 
* * *
Demikian cerita Asal Mula Selat Nasik Di Pulau Subi dari daerah Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Cerita di atas termasuk cerita legenda yang mengandung pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral penting yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah :

akibat buruk dari sifat kurang dewasa dalam menghadapi permasalahan. 

Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan tindakan Datuk Kaya Pulau Subi yang tidak melalui usul-periksa tentang penyebab keterlambatan rombongan Pangeran Demang Aji Jaya tiba di Pulau Subi.
 
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/07/asal-usul-selat-nasik-di-pulau-subi.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu