Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah
ASAL USUL RUMAH KAYU – LEGENDA DAYAK BENUAQ
- 23 Agustus 2018

Saya meriwayatkan pula Raja Kilip, yang tinggal di daerah Renayas, daerah tanah tandus tidak ada tumbuh-tumbuhan. Suatu hari timbullah pemikirannya untuk pergi  mencari bibit kayu ke wilayah dunia atas langit. Raja Kilip berjalan membawa satu tabung pasak. Setelah berjalan sehari penuh, pada saat matahari terbenam sampailah dia di bawah sebatang pohon besar bernama putakng kayutn tangiiq. Setelah subuh terdengar suara kokok burung raksasa di dahan besar paling bawah. Kokok tersebut berbunyi: “Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang bertamu ke Dusutn Tana Tamui.” Kemudian terdengar kokok burung raksasa pada dahan yang lebih tinggi sebagai berikut:”Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang bertamu ke negeri Cina pembuat garam.” Selanjutnya pada dahan berikutnya terdengar kokok sebagai berikut:” Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang menuju Sanikng Bentiatn, Rabukng Rasaau Koakng Ketapm, Jonyokng Ariq Koakng Jangaang.” Kemudian berkokoklah burung raksasa yang terbesar di puncak pohon sebagai berikut:”Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya aka n terbang ke Lopiq Liputn Jalaq Tunaq, pergi menerkam kerbau lading emas (Kerewau ladikng bulau), peliharaan Tuan Taruntaaq.” Kilip lalu berseru:” Saya ikut kakek.” Jawab burung raksasa tersebut: “Ya boleh. Engkau memasang pasak di pohon ini untuk naik ke atas, dan buat palang tempat duduk di taji saya.” Raja Kilip lalu menanam pasak di batang pohon putakng kayun tangiq lalu memanjat. Sesampai di atas, Raja Kilip membuat palang untuk duduk lalu setelah selesai, maka dia mengikat badannya dengan tali dari pohon terap di kaki raksasa tersebut. Raksasa kemudian terbang dengan suara gemuruh dan setelah sekian lama terbang akhirnya masuk kepintu langit lalu terjun di simpang Delapan. Di sana raksasa meninggalkan Raja Kilip dan berjanji delapan hari kemudian akan bertemu di tempat yang sama untuk pulang. Kemudian Raja Kilip berjalan dari Simpang Delapan dan setelah berjalan sekian lama, sampailah dia di pancuran pemandian. Kilip lalu tinggal di pancuran pemandian. Seseorang pergi mandi ke pancuran dan melihat kilip lalu menyapa:”Mengapa engkau tinggal di pancuran, silahkan terus naik ke lamin.” Kata Raja Kilip Dalam hati:”Oh, ini namanya pancuran pemandian, baru saya tahu.” Kemudian Raja Kilip naik dan tinggal di tempat pegangan (serntenaan) di tengah jalan menuju lamin. Datanglah seorang gadis pergi mandi, lalu menyapa:”Mengapa engkau tinggal di tengah jalan di tempat pegangan, silahkan terus naik ke lamin.” Kata Kilip dalam hati:” Oh, ini yang namanya pegangan (serentenan), baru saya tahu.”

Kemudian Raja Kilip naik lagi dan tinggal di ujung serentenan. Lalu datanglah seorang anak gadis yang lain pergi mandi dan menyapa :” Mengapa engkau tinggal diujung pegangan (serentenan), silahkan terus naik ke lamin.” Kata Raja Kilip dalam hati:” Oh, ini yang namanya ujung pegangan (serentenan).” Kemudian Raja Kilip berjalan mendaki sampai ke lamin lalu duduk di pinggir kandang babi. Ketika seorang gadis pergi memberi makan babi, maka dilihatnya Raja Kilip duduk lalu dian menyapa:”Mengapa engkau duduk dipinggir kandang babi, silahkan terus naik ke lamin.” Kata Raja Kilip dalam hati:” Oh, benda ini namanya kandang babi, baru sekarang saya tahu.”  Kemudian dia pindah ke pangkal tiang di bawah tempat ayam bertelur (bowoot). Datanglah seorang perempuan tua pergi mengurung ayam, lalu menyapa Raja Kilip:” Mengapa engkau tinggal di pangkal tiang dan di bawah tempat ayam bertelur, di situ banyak kutu ayam, silahkan naik ke lamin.” Kata Kilip dalam hati:” Oh, baru tahu saya kalau benda tersebut namanya tiang (ori) dan tempat ayam bertelur (bowoot).” Kemudian Raja Kilip beranjak dan tinggal di halaman lamin, maka datanglah anak-anak mau bermain lalu menyapa:” Mengapa engkau tinggal di halaman lamin, nanti digigit nyamuk dan agas, silahkan naik ke lamin.”  “Oh, baru tahu saya ini yang bernama halaman,” kata Raja Kilip dalam hati. Lalu dia naik tangga lamin dan tinggal di pelataran. Lalu orang lewat dan menyapa:” Mengapa Engkau tinggal di pelataran, silahkan terus masuk ke dalam lamin.” “Oh, ini namanya pelataran (ketetalaaq), “ kata Raja Kilip dalam hati. Raja Kilip kemudian masuk ke dalam ruangan lamin,  lalu disambut oleh Nayuq Bentaraq Tuhaaq, dipersilahkan duduk di atas tikar besar (bahaau), mereka lalu menyirih. Kemudian tuan rumah menghidangkan makanan untuk Raja Kilip. Setelah makan, maka Raja Kilip mulai bercerita mkasud dan tujuan kedatangannya kepada nayuq Bentaraq Tuhaaq. Maksud dan tujuannya ke dunia atas langit dan bertemu Nayuq Bentaraq Tuhaaq kemudian menyuruh membuat delapan buah keranjang untuk tempat segala macam biji-bijan tumbuhan yang ada di negeri atas langit. Setelah 8 keranjang penuh, nayuq Bentaraa1q Tuhaaq berkata kepada Raja Kilip: “ Engkau tidak usah membawa semua biji-bijian ini ke bawah sana, tetapi hampurlah biji-bijian ini dari pintu langit, maka lahan gundul akan segera ditumbuhi oleh segala jenis tumbuh-tumbuhan besar kecil, pohon, rotan, sulur-suluran dan paku-pakuan. Kalau engkau mau belajar membuat rumah, janganlah meniru rumah kami karena rumah kami dari batu, tetapi tirulah rumah Demung Mentelaus yang berada di depan lamin, karena dia membuat rumah dari kayu, dinding kulit kayu, lantai bambu, memakai ikat dari rotan dan atap dari papan”. Raja Kilip lalu belajar membuat rumah kepada Demung Mentelaus. Setelah delapan hari, maka Raja Kilip pamit pulang sama nayuq Bentaraq Tuhaq dan berjalan sampai ke Simpang Delapan. Lalu datanglah burung raksasa.  Raja Kilip kemudian membuat palang dan mengikat semua keranjang dan badannya pada kaki raksasa. Raksasa kemudian terbang dengan kepak sayap yang bergemuruh. Ketika melewati pintu langit, Raja Kilip lalu membuang semua keranjang biji-bijian tersebut, sehingga semua biji-bijian jatuh berhamburan ke bawah dan segera tumbuh menjadi berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Setelah sampai ke bawah Raja Kilip melihat tanah Tenukng Renayaas yang sebelumnya tandus dan gersang telah menjadi hutan rimba belantara yang dipenuhi oleh berbagai jenis tumbuhan.

Itulah asal usul segala macam tumbuhan, agar semua diketahui asal usulnya. Dan asal usul manusia bisa bikin rumah dari kayu meniru rumah Demung Mentelaus. Cerita asal usuh kayu dan rumah. Sudah selesai, sudah tuntas, diceritakan sesuai apa adanya. Agar kami mulai saat ini hidup subur makmur damai sejahtera serba berkecukupan dan dijauhkan dari sakit penyakit dan marabahaya serta kesialan.

Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2014/02/16/asal-usul-rumah-kayu-legenda-dayak-benuaq/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker