A. Pendahuluan
Produk sastra lisan yang merupakan karya sastra, adalah cerminan angan-angan kolektifnya (Dananjaya: 1991 ), serta dapat dianggap sebagai dokumen sejarah pemikiran, dan filsafat (Wellek, 1966). Dipahami, bahwa karya sastra (khususnya bentuk lisan) dapat menggambarkan keinginan, angan-angan, dan cara berpikir kolektifnya. Hal inilah, yang mendudukannya sebagai dokumen yang sangat penting dalam perkembangan kesusastraan secara khusus, dan kebudayaan bangsa secara umum.
Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam suku bangsa, sudah tentu kaya pula dengan berbagai cerita rakyat bentuk lisan. Semi (1993), menjelaskan bahwa sastra lisan yang terdapat pada masyarakat suku bangsa di Indonesia telah lama ada, bahkan setelah tradisi tulis berkembang, sastra lisan masih dijumpai. Baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas, sastra lisan di Indonesia luar biasa kayanya, dan luar biasa ragamnya. Setiap suku sebagai suatu kolektif tertentu di Indonesia, pasti memiliki khasanah sastra lisan, baik itu bentuk prosa maupun bentuk puisi. Thomson (1977), mengatakan bahwa sastra lisan tidak terbatas hanya pada satu tempat, atau lingkungan satu budaya tertentu saja.
Seperti suku-suku lainnya di Nusantara ini, suku Kutai pun memiliki sastra lisan, baik bentuk puisi, prosa, maupun bentuk drama tradisional. Salah satu bentuk prosanya, adalah cerita Aji Jawa.
Cerita Aji Jawa merupakan salah satu cerita rakyat Kutai yang mulai ‘langka’. Cerita ini mulai tidak dikenal oleh generasi muda dari kolektifnya karena para pencerita cerita Aji Jawa ini sudah lanjut usianya, dan malah sudah banyak yang meninggal. Selain itu para pencerita ini mulai meninggalkan tradisi bercerita secara lisan kepada anak cucu mereka. Akibatnya, cerita Aji Jawa ini tidak terwariskankepada generasi berikutnya.
B. Cerita “Aji Jawa”
Judul cerita Aji Jawa ini diambil dari nama tokoh utama dalam cerita, yaitu Aji Jawa. Kata Aji Jawa bukanlah nama gelar kebangsawanan dan tidak ada pula hubungannya dengan suku Jawa. Menurut salah seorang informan, Bapak Drs. H. Syahrani Effendi, kata Aji Jawa berasal dari olok-olok masyarakat sekitarnya kepada tokoh cerita yang selalu mengaku keturunan bangsawan Kutai yang bergelar Aji. Sang tokoh selalu mengatakan bahwa ia adalah Aji jua (bhs. Kutai) yang artinya dalam bahasa Indonesia Aji juga. Dari kata Aji jua oleh masyarakat sekitar tokoh diplesetkan menjadi Aji Jawa. Maka melekatlah nama Aji Jawa pada tokoh cerita Aji Jawa ini. Dongeng Aji Jawa ini sangat populer pada masa lalu sebelum sarana hiburan lain muncul, seperti radio, televisi, parabola, VCD, dan teknologi komunikasi canggih lainnya.
Cerita Aji Jawa tergolong cerita dongeng, tetapi cerita ini memiliki tiga macam genre, yaitu cerita binatang, cerita istanacentris (dongeng biasa), dan cerita jenaka (humor).
Cerita “Aji Jawa ngan Pelandok” atau “Aji Jawa ngan Berok Tunggal” merupakan dua contoh dongeng binatang (fabel) dalam cerita Aji Jawa. Pada cerita ini digambarakan Aji Jawa merupakan tokoh yang berprilaku sebagai manusia biasa. Tokoh ini dideskripsikan bukan sebagai manusia super atau yang memiliki kelebihan sehingga dapat mengatasi semua permasalahan yang dihadapinya seperti lazimnya cerita-cerita dongeng. Walaupun teks Aji Jawa ini termasuk klasifikasi cerita dongeng binatang, tokoh sentralnya tetap digambarkan sebagai manusia biasa yang penuh dengan berbagai kelemahan, dan kesalahan. Prilaku sebagai manusia biasa, lugu, dan terlalu mempercayai seseorang. Keluguan, dan rasa percaya yang berlebihan inilah menjadikan tokoh Aji Jawa terlihat lemah, dan bodoh. Lemah dan bodoh menimbulkan motif-motif cerita(Sutrisno, 1983) yang menjadi penggerak cerita Aji Jawa
“Bini Aji Jawa Beliuran Enda Makan Gangan Keladi” atau “Aji Jawa ngan Putri Tikus” adalah contoh varian dongeng biasa (cerita istanacentris) dari cerita Aji Jawa. Pada dongeng biasa ini tokoh Aji Jawa merupakan seorang raja. Begitu pula pada cerita “Putri Subang Sepasang” diceritakan Aji Jawa adalah seorang raja yang memiliki dua orang putra yang bernama Ahmad dan Muhammad.
Ingkar janji bukan gambaran tokoh hero lazimnya dalam dongeng, tetapi itulah gambaran watak manusia untuk melindungi sesuatu yang sangat disayanginya. Aji Jawa mengingkari janjinya karena sangat sayangnya pada Putri Bungsu Jawa. Dia tidak rela putrinya dijadikan istri oleh seekor ular naga. Padahal dalam cerita “Bini Aji Jawa Beliuran Enda Makan Gangan Keladi” ini tokoh Aji Jawaadalah seorang raja yang memerintah di sebuah negeri.
Pada akhir cerita tokoh Aji Jawa harus rela menepati janjinya. Dia tidak berdaya melawan kekuatan ular naga, tetapi dengan menepati janjinya tokoh Aji Jawa mendapat imbalan kebahagian karena ternyata ular naga itu adalah seorang pangeran tampan yang sangat sesuai disandingkan dengan Putri Bungsu Jawa.
Cerita “Bini Aji Jawa Beliuran Enda Makan Gangan Keladi” ini menunjukkan bahwa tokoh Aji Jawa walaupun seorang raja, dia tetaplah manusia biasa yang punya rasa sayang. Sehingga karena rasa sayang pada putrinya mempengaruhi keluhuran budinya sebagai raja.
Salah satu fungsi cerita Aji Jawa adalah sebagai sarana hiburan. Hal ini tergambar pada varian cerita humor (dongeng humor) “Aji Jawa Dikerongoi” atau “Aji Jawa Kehabisan Nyaman”. Walaupun kedua contoh cerita ini berfungsi sebagai sarana hiburan tetapi tetap saja memiliki pesan yang ingin disampaikan pencerita kepada para penikmat cerita tersebut. Pesan yang disampaikan bisa saja mengandung fungsi pendidikan maupun fungsi kritik sosial.
C. Penutup
Cerita “Aji Jawa” merupakan proyeksi masyarakat suku Kutai; baik itu merupakan buah pikiran, kepercayaan, prilaku, kebiasaan, adat-istiadat, maupun pandangan hidup. Hal ini sesuai dengan pendapat A. Teeuw (1984) bahwa sebuah karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya.
Daftar Pustaka :
Danandjaya, James. 1991. Folklor Indonesia. Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: PT. Temprint.
Semi, M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Thomson, Stith. 1977. The Folktale. Oxford: University of Calofornia Press.
Wellek, Rene and Austin Werren. 1966. Theory of Literature. Penguin Books: Harmondsworth, Middlesex, England.
*) Staf Pengajar Program Studi Pend. Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP Univ. Mulawarman
Materi seminar sastra ini disajikan pada seminar sastra yang dilaksanakan oleh Yayasan Kaki Langit pada tanggal 23 Februari 2011 di Taman Budaya Samrinda.
sumber : (http://senibudayakutai.blogspot.co.id)
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...