Suku Tidung Merupakan suku yang tanah asalnya berada di bagian utara kalimantan timur. Suku ini juga merupakan anak negeri di Sabah, jadi merupakan suku bangsa yang terdapat di indonesia maupun malaysia (negeri Sabah). Suku Tidung semula memiliki kerajaan yang disebut Kerajaan Tidung. Tetapi akhirnya punah karena adanya politik adu domba oleh pihak Belanda.
Bahasa Tidung dialek Tarakan merupakan bahasa Tidung yang pertengahan karena dipahami oleh semua warga suku Tidung. Beberapa kata bahasa Tidung masih memiliki kesamaan dengan bahasa Kalimantan lainnya. Kemungkinan suku Tidung masih berkerabat dengan suku Dayak rumpun Murut (suku-suku Dayak yang ada di Sabah). Karena suku Tidung beragama Islam dan mengembangkan kerajaan Islam sehingga tidak dianggap sebagai suku Dayak, tetapi dikategorikan suku yang berbudaya Melayu (hukum adat Melayu) seperti suku Banjar, suku Kutai, dan suku Pasir.
Sama halnya dengan suku lain, suku Tidung juga memiliki banyak tradisi yang kerap dilakukan dalam berbagai kesempatan. Salah satu diantaranya ialah tradisi pernikahan. Seperti pada umumnya, pernikahan diantara kedua pengantin diawali dengan berbagai prosesi. Diantaranya prosesi lamaran, akad nikah, hingga resepsi. Begitu juga dengan suku Tidung. Uniknya, setelah melakukan prosesi lamaran hingga resepsi, ada beberapa rangkaian tradisi lagi yang harus dilakukan oleh pengantin Tidung. Seperti Kiwon Talu Landom; Bendiuk; hingga Nyembaloy.
Kiwon Talu Landom merupakan tradisi dengan menggelar acara kumpul-kumpul bersama keluarga dan tamu undangan yang dilakukan pada malam ketiga setelah prosesi akad nikah berlangsung. Kiwon Talu Landom, bukan hanya sekadar acara untuk berkumpul keluarga dan kerabat. Namun juga diisi dengan berbagai hiburan, seperti tari Jepin. Tari Jepin merupakan tarian khas suku Tidung dengan menyanyikan satu lagu daerah yang berjudul Bebalon. Lebih uniknya lagi, di malam Kiwon Talu Landom terdapat acara Sedulang. Pada acara Sedulang ini, peralatan makan yang telah dibersihkan akan dibagikan kepada para keluarga ataupun kerabat terdekat.
Setelah malam Kiwon Talu Landom berlalu, selanjutnya digelar tradisi Bendiuk yang dilakukan di subuh hari. Bendiuk merupakan prosesi memandikan pengantin perempuan. Sang pengantin perempuan akan dimandikan oleh beberapa tetua dengan musik Hadrah yang mengiringinya. Seperti yang kita ketahui, beberapa suku (khususnya yang beragama Islam) mewajibkan pengantin untuk menamatkan bacaan Al-Qur’annya terlebih dahulu ketika hendak menikah. Di dalam tradisi suku Tidung, menamatkan Al-Qur’an disebut dengan Betamot. Acara ini dapat dilakukan pada pagi hari setelah Bendiuk kelar.
Tradisi Nyembaloy merupakan acara kunjungan pengantin wanita kerumah mertuanya. Nyembaloy merupakan istilah untuk ajang silaturahmi pengantin wanita beserta keluarganya untuk bertandang ke rumah mempelai pria. Dalam bahasa Tidung, baloy berarti rumah. Nyembaloy dapat dilakukan pada siang hari usai Betamot ataupun tiga hari setelah akad nikah berlangsung. Pada saat Nyembaloy, kedua mempelai akan melakukan upacara adat yang dinamai Kidau Batu dan Gabut Lading. Selain itu, mempelai pria akan meminum air putih yang konon merupakan simbol keteguhan dalam menjalani rumah tangga nantinya. Ketika acara Nyembaloy dilaksanakan, akan dilakukan pembongkaran tenda dan peralatan acara resepsi lainnya dirumah mempelai wanita. Ini merupakan penanda bahwa semua acara telah selesai dilaksanakan.
Ada ritual unik yang tak boleh dilewatkan dari serangkaian prosesi pernikahan. Mungkin yang paling menggemaskan dari prosesi adalah adat di mana pengantin pria tidak diperbolehkan melihat wajah pengantin wanita sampai dia menyanyikan beberapa lagu cinta. Tirai yang semula dipasang dan memisahkan keduanya akan disingkap dan keduanya dapat melihat satu sama lain setelahnya. Sebelumnya, syarat lain juga harus dipenuhi oleh pihak mempelai wanita, yakni dia tidak diizinkan meninggalkan batas-batas rumahnya selama periode pertunangan. Ada juga aturan yang meMberlakukan denda berupa perhiasan bagi mempelai pria jika datang terlambat ke pernikahan.
Namun itu semua kalah unik karena pasangan pengantin dilarang buang air selama 3 hari 3 malam. Hal ini mungkin terdengar menyiksa bagi masyarakat luar, namun tidak bagi orang-orang Tidung. Adat kebiasaan ini sangatlah normal dan alami bagi mereka. Mereka percaya jika tidak menjalankan larangan ini maka nasib buruk akan menimpa pasangan pengantin. Pernikahan akan rusak, rumah tangga akan tertimpa kasus perselingkuhan, atau kematian yang mengintai bagi anak yang akan dilahirkan. Oleh karena itu syarat tidak buang air besar diantisipasi dengan hanya makan atau minum sedikit. Tradisi dalam tiga hari tiga malam itu juga melibatkan beberapa orang lain untuk mengawasi pasangan agar berhasil
sumber :
http://nzrmaulana.blogspot.co.id/2015/05/sejarah-dan-kebudayaan-suku-tidung.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tidung
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...