Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Bengkulu Bengkulu
5_Penghuni Gua Suruman
- 20 Mei 2018
Penghuni Gua Suruman ~ Pada zaman dahulu tersebutlah empat orang pengembara yang keempatnya berasal dari kaki gunung Dempo. Mereka mengembara mengelilingi daerah-daerah di sekitar pantai Selatan pulau Perca. Tujuan mereka mengembara ialah mencari tempat yang baik untuk menetap, karena dikaki gunung Dempo telah padat penduduknya. Mereka akan membangun dusun yang baru untuk tempat tinggalnya. Itulah tujuan mereka mengembara yang berbulan-bulan lamanya untuk memilih tempat yang sesuai.
 
penghuni-gua-suruman.JPG

Setelah pengembara itu berjalan kian kemari berbulan-bulan lamanya, telah banyak tempat yang dilihat, akhirya sampailah mereka berempat di suatu daerah, daerah dataran tinggi yang luas dan subur, lalu kempatnya bermusyawarah dan tempat inilah yang mereka anggap baik. Memang daerah itu selain keadaaan tanahnya disamping itu dekat dengan sungai yang cocok benar untuk berlandang, berkebun dan beternak. Para pengembara itu bernama Sindang Bersi, Mate Abang, Ngawak baju Alum dan Sak Ura tanah Pilih.

Akhirnya permufakatan keempat pengembara itu telah bulat untuk menentukan pilihan tempat. Di daerah dataran. Di daerah dataran tinggi mereka menentukan pilihannya untuk dijadikan dusun yang baru, tempat keluarga mereka. Mereka mengatur rencana untuk memulai pekerjaan membangun Dusun yang baru, dan mulai membuka hutan, menebas  dan memotong serta membersihkan pepohonan yang ada untuk dijadikan kebun, ladang dan serta yang lain-lainnya. Mereka membangun dengan sederhana untuk tempat tinggalnya sementara. Cukup berat kerja mereka membuka hutan, bukan tak mungkin bahaya selalu mengintai mereka. Apakah itu binatang buas, apakah itu merupakan jin-jin penunggu rimba yang selalu mengganggu pendatang baru. Namun mereka tabah dan ulet menghadapi segalanya. Berpuluh-puluh hektar tanah sudah dibuka itulah sebabnya sebelum mendirikan dangau mereka mengadakan kenduri, meminta kepada Yang Maha Kuasa supaya mereka bebas dari mala petaka dan mendapat rezeki murah. Dan untuk memberi nama daerah itu mereka musyawarah kembali, yang akhirnya daerah itu diberi nama "Dataran Matai" artinya Tempatnya mengarah ke matahari hidup. "Dimana daerah itu sekarang terletak di antara daerah Kedurang dan Seginim.
 
 

Mulailah di sana mereka bercocok tanam, berladang berkebun, beternak dan sebagainya. Semua tanaman tumbuh subur, padi melimpah ruah, sayur mayur tumbuh subur, ternak cepat beranak pinak. Mereka berempat hidup rukun damai dan sehidup semati. Mereka bangun dusun yang dicita-citakannya agar menjadi dusun yang baik, sebaik dusun yang mereka tinggalkan. Untuk membangun dusun yang baik bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak sekali hambatan dan tantangan yang mereka temui. Dusun mereka masih dikelilingi hutan yang lebat, dan binatang buaspun sering mengganggu ternak mereka. Pada suatu malam, ternak mereka dimakan oleh seekor ular yang besar sekali. Sungguh marah mereka dengan kejadian itu. Karena marahnya Sindang Bersi pergi mengejar ular itu untuk dibunuhnya. Sindang Bersi mengejar ular tadi dengan tongkatnya dan diikuti oleh anjing piaraannya.


Ular besar penunggu ternaknya tadi terus dikejar oleh Sindang Bersi bersama anjingnya. Masuk hutan keluar hutan, dari bukit yang satu ke bukit yang lain terus diikuti kemana larinya. Berhari-hari, berminggu-minggu lamanya Sindang Bersi mengikuti dan mencari kemana dan dimana ular tadi lari. Sedangkan ketiga sahabatnya masih tinggal di rumah dengan hati bimbang. Mereka bertiga menunggu, namun yang ditunggu tak juga tiba. Akhirnya setelah sekian lamanya Sindang Bersi tak juga muncul, bermusyawarahlah mereka bertiga untuk mencari temannya itu. Kemana dan dimana Sindang Bersi sekarang, masih hidup ataukah sudah mati.

Setelah diambil kata mufakat berangkatlah dua orang diantara mereka. Berangkat dan menyusul Sindang Bersi. Ngawak Baju Alum dan Sak Ura tanah Pilih yang pergi dan Mate Abang menunggu  rumah dan menjaga ternak yang ada. Dua orang pergi menyusul perjalanan Sindang Bersi, kemana  dan di mana ia, masih hidup atau sudah mati harus mereka ketahui.

Diikutinyalah jejak Sindang Bersi oleh mereka berdua, masuk hutan keluar hutan mendaki bukit menuruni "Lurah," berhari-hari, berminggu-minggu. Cukup payah sudah mereka berdua menempuh perjalanan itu, mencari ke sana ke mari namun belum juga ketemu. Hampir saja mereka putus asa.

Akhirnya sampailah perjalanan mereka tadi ke sebuah sungai yang airnya jernih dan sejuk. Sungai dipegunungan. Beristirahatlah mereka di tepi sungai tadi untuk melepaskan lelah. Ketika mereka beristirahat terdengarlah sayup-sayup gongongan anjing  Nan Jauh. Mereka terkejut, ragu, bimbang dan gemira. Mungkin itu anjing Sindang Bersi yang sedang dicarinya. Segera mereka cari dimana  letak bunyi anjing tadi. Mereka kejar untuk mendapatkan tempat itu. Setelah sampai di tempat yang dicari, memang benar orang yang dicarinya sedang duduk termenung di tepi sebuah gua. Betapa gembira hati mereka semua, karena sudah sekian lamanya berpisah di tengah rimba belantara yang tak tentu tepinya. Terjadilah dialog dari mereka bertiga. "Apa yang engkau tunggu di sini?" tanya mereka berdua.

"Kemana ular yang kau kejar?" Apakah sudah kau bunuh?

Ular yang kukejar di  "Surun  gua ini" kata Sindang Bersi sambil masuki Gua. Sampai sekarang gua tadi disebut "Gua Suruman."

Setelah Ular yang dikejar tadi masuk ke dalan Gua, Sindang Bersi menunggu di mulut Gua tadi. Ditunggu sekian lama hingga teman-temannya curiga dan mencarinya. Di mulut gua itu Sindang Bersi ditemukan oleh dua orang temannya yang telah lama mencarinya. Ular yang ditunggu tak juga kunjung keluar, telah ditelan Gua Suruman.

Karena ular tadi tak juga mau keluar dari gua tadi, maka mereka bertiga bermusyawarahlah untuk mengambil keputusan. Ngawak Baju Alum Sak Ura Tanah Pilih mengajak Sindang Bersi pulang meninggalkan tempat itu. Biarlah ular tadi tak terbunuh oleh kita. Mari kita teruskan pekerjaan kita, membangun dusun yang baru.

Namun Sindang Bersi berkeras hati, ia penasaran pada ular tadi, ia tekad masih akan membunuh ular tadi walau bagaimana. Diputuskan oleh Sindang Bersi bahwa akan menunggu lobang itu sampai ia dapat membunuh ular yang dikejarnya. Ia akan tetap tinggal di mulut Gua Suruman sampai akhir.
 
Sumber: http://alkisahrakyat.blogspot.co.id/2016/04/penghuni-gua-suruman.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker