Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Jawa Timur
5_Menantu Pak Kyai
- 18 Mei 2018

Adalah seorang anak jejaka. Anak itu tidak dapat mengaji maupun sembahyang. Tapi ia ingin memperisterikan anak pak kyai. Pak kyai mempunyai dua orang anak.

Ia pernah mendengar kata-kata pak kyai itu kepada anaknya : ”Nak, kalau engkau ingin bersuami, suamimu harus hafal isi Qur'an yang tiga puluh jus. Kalau tidak, aku tidak mau meneri manya.”

Jejaka itu salah tafsir terhadap kata-kata pak kyai. Ia mengira bahwa yang harus menjadi suami anak pak kyai itu ialah laki-laki yang memiliki Qur'an banyak sekali.

Maka ia mencuri Qur'an banyak sekali, dipikul lewat di depan rumah pak kyai.

Pak kyai pun bertanya : ”Nak, apa itu?”

Jejaka menjawab : ”Kitab.” Pak kyai : ”Singgahlah sebentar. Anak dari mana?”

Jejaka : ”Saya dari Banyuwangi. Baru pulang belajar mengaji.”

Pak kyai : ”Oooo ...! Sekarang begini. Anak dari Banyuwangi? Jangan pulang dulu.”

Jejaka : ”Saya tergesa-gesa, pak.” Pak kyai : ”Nanti saya bayar ongkos perjalananmu.”

Jejaka : ”Tidak usah, pak. Saya akan pulang saja.”

Pak kyai : ”Kalau anak memaksa pulang, ini saya beri ongkos perjalanan. Tapi barang itu tinggalkan di sini. Kembalilah ke mari tiga hari lagi.”

Jejaka : ”Baiklah, pak.” Kemudian ia pun terus pulang.

Tiga hari kemudian, ia pun kembali ke rumah pak kyai. Maka pak kyai bertanya : ”Nak, kamu masih jejaka atau sudah punya keluarga?”

Jejaka : ”Saya masih jejaka, pak kyai.”

Pak kyai : ”Kalau begitu, engkau kukawinkan dengan anakku, saja. Maukah engkau?”

Jejaka : ”Entahlah. Saya pikir dulu,” jawabnya. Sebenarnya hatinya sangat senang.

Kemudian ia pun berkata kepada pak kyai : ”Baiklah. Saya bersedia pak kyai.”

Pak kyai : ”Engkau di sini tidak usah bekerja. Saya sangat ber sukur kalau engkau mau mengamalkan ilmumu. Tiap pagi engkau hanya keliling di sawah, tidak usah bekerja.”

Jejaka : ”Baiklah.”

Setelah kawin, resmilah ia menjadi menantu pak kyai. Dia dengan istrinya dibuatkan rumah sendiri. Kurang lebih setengah tahun ia menjadi menantu pak kyai, tetapi sama sekali tidak per nah terdengar suaranya mengaji. Maka pak kyai bertanya kepada anaknya yang kecil : ”Selama kakakmu di sini, kok tidak pernah membaca Al Qur'an?”

Anak : ”Ya, benar pak. Sebenarnya dia mempunyai Qur'an. Tapi tidak pernah terdengar suaranya mengaji.”

Kemudian adiknya bertanya : ”Kak, ayah ingin sekali mendengar suara kakak.”

Kakak (jejaka) : ”Suara yang bagaimana dik? Apakah saya di suruh marah?”

Adik : ”Tidak, tidak apa-apa. Kakak kan orang pandai.” jawabnya.

Kira-kira jam 12 malam terdengarlah suara kakaknya menga ji : ”Bismillah hirrokhmanirrahim. Kul kollu. Gellondhang kol lu. Gempol pait.”

Berulang-ulang ia mengaji. Yang dibaca tetap seperti itu. Dia sedang mengaji, mertua (pak kyai) sibuk mencari surat apa yang dibaca menantunya. Tetapi tidak ada dalam Qur'an. Paginya pak kyai bertanya : ”Nak.”

Menantu (jejaka) : ”Ya, pak.”

Pak kyai : ”Saya akan bertanya jangan salah paham. Surat apa yang kau baca semalam?”

Menantu : ”Di sini, pak.”

Dibukalah tiap-tiap halaman Qur'an, menantu tetap menga takan : ”Di sini pak, di sini,” sebenarnya memang tidak ada dan ia tidak dapat mengaji. Maka akhirnya pak kyai tidak senang, dan kemudian berkata : ”Kalau begitu, pergilah engkau dari sini. Kalau isterimu ikut, bawalah, Kalau tidak, tinggalkan saja.”

Maka ia pun pergi dari situ. Sebelumnya ia berkata kepada isterinya : ”Dik.” Isteri : ”Ya, kak.”

Suami (jejaka) : ”Saya sekarang diusir oleh bapak. Kalau engkau ikut, baik. Kalau tidak ikut, tidak apa.”

Akhirnya isterinya ikut juga. Mereka menyewa sebuah rumah di pinggir sawah. Suaminya berkata : ”Bagaimana dik. Tempat kita semula baik, sekarang jadi begini.”

Isteri : ”Biarlah kak. Asal kakak tetap baik kepadaku, aku pun demikian pula.”

Makin lama hidup mereka makin sulit. Akhirnya suaminya berkata : "Dik, pekerjaanmu kok sembahyang saja. Berhentilah Sembahyang.”

Isteri : ”Tidak bisa kak. Kalau saya belum mati saya tidak akan berhenti.”

Suami : ”Kalau begitu, makanlah dengan sembahyang itu.”

Kemudian suaminya pergi ke hutan mencari ular. Ular diba wa pulang agar menggigit isterinya. Ia baru pulang ketika hari sudah senja. Saat itu isterinya sedang sembahyang. Maka ia pun berkata kepada ular : ”Gigitlah orang itu.” Sambil berkata begitu ia meletakkan ular itu di depan isterinya yang sedang sembahyang. Isterinya tetap meneruskan sembahyangnya. Setelah selesai, di panggillah suaminya : ”Kak, ambillah ini.”

Suaminya datang, mengambil benda di depan isterinya. Ter nyata ular yang telah diletakkannya tadi telah berubah menjadi emas. Maka mereka pun bersenang-senang. Hidup berfoya-foya, sampai akhirnya emas itu pun habislah. Dan hidup mereka susah kembali.

Karena sudah tidak punya apa-apa lagi, maka ia bermaksud menyuruh isterinya menjual anjingnya.

Katanya : ”Dik.” Isteri : ”Ya, kak.”

Suami : ”Juallah anjing ini ke pasar.”

Isteri : ”Baiklah, kak.”

Anjing diikat, dimasukkan keranjang, kemudian dibawa ke pasar akan dijual kepada seorang Cina.

Isteri : "Tuan, belilah anjing ini.”

Cina : ”Coba saya lihat anjingnya.”

Isteri : ”Silahkan,” jawabnya. Cina ”Berapa harganya?”

Isteri : "Terserah tuan saja.”

Cina : "Sekarang begini saja. Toko ini saya serahkan kepada mu, dan anjing ini saya ambil.”

Isteri : ”Jangan bergurau, tuan. Tapi kalau tuan memang bersungguh-sungguh, harus ada saksinya.”

Maka dipanggillah beberapa orang untuk menyaksikan penu karan antara anjing dengan toko. Toko menjadi hak penjual anjing dan anjing menjadi hak pemilik toko. Sebenarnya anjing yang dibawanya tadi telah berubah menjadi emas.

Beberapa hari suaminya menunggu di rumah, tetapi isterinya tidak pulang. Akhirnya ia menyusul. Ia akan mencarinya di pasar. Ia mencari ke sana-ke mari, tidak juga bejumpa. Akhirnya di se buah toko, ia seperti melihat isterinya tetapi ia ragu-ragu. Kalau memang betul isterinya, mengapa berada di situ. Ia berjalan mon dar-mandir di situ sambil memperhatikan perempuan itu barangka li memang betul isterinya. Tak lama kemudian perempuan itu pun memanggilnya.: ”Kak, kemarilah.”

Suami : ”Dik, mengapa engkau ada di sini?”

Isteri : ”Anjing yang akan saya jual itu, ditukar dengan toko ini.”

Suami : ”Oooo ......! Jadi kalau demikian toko ini milikmu.”

Isteri : ”Bukan milik saya. Yang memiliki adalah kakak de ngan saya. Tapi kakak harus menurut apa yang saya katakan. Ini sudah kupilihkan pakaian yang baik.”

Suami : ”Bagaimana dik. Saya tidak mengerti apa-apa.”

Isteri : ”Belajarlah. Saya yang akan memberi pelajaran.”

Kemudian suaminya belajar sembahyang dan pelajaran lain yang baik. Dan akhirnya mereka pun hidup seperti orang lain dan berbahagia. Selesai.

Sumber: https://play.google.com/books/reader?id=gJkACwAAQBAJ&pg=GBS.PA52

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker