Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Maluku Ambon
5_Kisah Pertemuan Tanjung Alang Dan Nusaniwe
- 19 Mei 2018

Kisah Pertemuan Tanjung Alang Dan Nusaniwe. Pulau Ambon dikelilingi oleh laut Banda, laut Buru dan laut Seram. Pada pintu masuk ke Teluk Ambon terdapat dua buah tanjung yang saling berhadapan yaitu tanjung Alang dan Tanjung Nusaniwe. Kedua Tanjung ini dianggap sebagai pintu masuk ke pulau Ambon jika kita datang dari arah laut menggunakan kapal yang nantinya berlabuh di pelabuhan Yos Sudarso. Tanjung Nuwaniwe terletak di desa Latuhalat yaitu sebelah Selatan sedangkan tanjung Alang berada di sebelah Utara pulau Ambon.

 
Menurut ceritera yang berkembang sampai saat ini pada waktu-waktu tertentu atau bila ada tanuar kedua tanjung yang saling berhadapan itu bertemu atau bergabung menjadi satu. Adapun sampai peristiwa itu terjadi memiliki sebuah kisah sebagai berikut   :
 
Di waktu dahulu sebelum penduduk memeluk agama-agama resmi di pulau Ambon penduduk masih percaya kepada roh-roh leluhur atau roh-roh datuk-datuk yang berada di sekitar tempat tinggal mereka. Konon di pulau Ambon tinggallah sepasag suami isteri. Mereka hidup rukun dan damai. Sayangnya suami isteri itu belum memiliki anak dan untuk itu mereka terus berusaha untuk mendapatkannya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulang berganti bulan dan tahun berganti tahun namun belum juga ada tanda-tanda bahwa akan lahir seorang anak dari perkawinan mereka. Akhirnya kehidupan yang aman dan damai ini berubah menjadi suasana yang saling menyalahkan. Seringkali terjadi pertengkaran diantara mereka mengenai siapa yamg salah atau telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak datuk-datuk sehingga dikutuki untuk tidak memiliki anak.
 
Pertengkaran berjalan hampir setiap hari namun tetap saja tidak ada di antara mereka yang mau mengaku siapa yang telah berbuat kesalahan. Oleh karena tidak ada yang mau dipersalahkan maka akhirnya mereka mempersalahkan datuk-datuk mereka sendiri. Sepasang suami isteri itu sudah tidak mau lagi menghormati roh para datuk-datuk. Kebiasaan untuk menghormati roh datuk-datuk dalam bentuk memberikan sajian atau pemujaan sudah tidak dilakukan lagi. Keadaan ini membuat para datuk menjadi marah dan mengutuk suami isteri itu berubah menjadi dua buah batu. Suami dikutuk menjadi batu yang berbentuk kelamin laki-laki dan isteri menjadi batu dalam wujud kelamin perempuan. Kedua batu itupun dipisahkan. Suami ditempatkan di Tanjung Alang sedangkan isteri dibiarkan tetap tinggal di Tanjung Nusaniwe.
 
 
Ada sebuah lautan luas yang memisahkan mereka. Walaupun telah mendapat kutukan dan kini hidup terpisah kedua orang suami isteri ini tetap saja tidak mau berpisah bahkan mereka terus berusaha untuk memperoleh anak yang selalu dirindukan. Mereka tetap menjalin hubungan sebagai suami dan isteri. Kadang-kadang suami dan isteri itu bertemu. Hal ini ditandai dengan adanya pertemuan atau menyatunya tanjung Alang dan tanjung Nusaniwe sehingga menutupi jalan masuk ke teluk Ambon. Kapal-kapal yang hendak memasuki Teluk Ambon tidak dapat melanjutkan pelayarannya karena tidak ada jalan atau cela yang terbuka untuk dapat dilewati oleh kapal.

Menurut masyarakat Latuhalat dan Alang itu pertanda kedua suami isteri itu sedang kawin (melakukan hubungan suami isteri). Peristiwa itu sampai sekarang sering terjadi dan dapat disaksikan oleh orang yang kebetulan sedang berlayar di sekitar dua tanjung tersebut. Konon hal ini sering terjadi pada bulan-bulan Desember. Pada saat terjadinya peristiwa perkawinan itu (dialek Melayu Ambon Tanjung Nusaniwe deng tanjung Alang kaweng) maka saat itu pula terjadilah perubahan alam. Laut disekitar teluk Ambon menjadi ganas dan bergelora keras, kabut menutupi pulau Ambon. Dari jauh terlihat dua buah tanjung melingkar menjadi satu mirip sebuah cincin yang bulat atau menjadi sebuah benteng pertahanan kota yang kokoh dan kuat.

Untuk beberapa saat kapal-kapal atau perahu tidak dapat melaju masuk ke Teluk Ambon. Pulau Ambon seketika menjadi tertutup diselimuti oleh kabut yang tebal. Bilamana kejadian itu terjadi maka para pelaut yang kebetulan ada di sekitar perairan itu akan menghentikan kapal-kapal mereka dan serentak dengan itu langsung melepaskan kemeja yang sedang dipakainya dan dibuang ke laut. Hal ini diartikan seolah-olah mereka sama sekali tidak melihat adanya persetubuhan di antara suami isteri tersebut. Kemeja yang dilemparkan ke laut itu dijadikan sebagai penutup tubuh kedua suami isteri itu sehingga keduanya tidak merasa malu. Hal ini telah dipahami betul oleh para pelaut yang sering masuk dan keluar Teluk Ambon.
 
Bila ada kapal yang tidak menghiraukan peristiwa yang sedang terjadi itu dan terus berlayar masuk ke dalam Teluk biasanya akan terjadi kecelakaan misalnya tiba-tiba saja kapal itu diterjang ombak yang keras sehingga membuat kapal menjadi tenggelam atau tiba-tiba saja ada ombak keras yang membuat seseorang jatuh ke dalam laut pertanda kedua suami isteri itu menjadi marah. Biasanya korban yang jatuh ke dalam laut tubuhnya tidak pernah ditemukan. Peristiwa mengerikan itu terjadi hanya beberapa saat dan sesudah itu laut menjadi tenang kembali dan kabut yang menyelimuti pulau Ambon pun menghilang. Tanjung Alang dan tanjung Nusaniwe terpisah lagi. Kapal-kapal berlayar hilir mudik seperti biasa lagi. Orang Ambon terutama masyarakat Latuhalat dan Alang sampai saat ini masih tetap percaya bahwa peristiwa itu masih sering terjadi bahkan mereka pun dapat membuat upacara-upacara adat tertentu yang membuat kedua tanjung tersebut bertemu lagi. 
 
Menurut informasi yang tim terima ketika kota Ambon dilanda kerusuhan baru-baru ini dan masyarakat kota Ambon mendengar isu bahwa akan datang kaum perusuh yang akan meyerang penduduk kota Ambon dan sekitarnya maka mereka lalu mempersiapkan acara-acara adat untuk sewaktu-waktu menutup pulau itu dengan dua buah tanjung tersebut. Sampai sekarang orang masih mencari kedua batu yang berbentuk kelamin laki-laki dan perempuan tersebut. Menurut informasi batu yang berbentuk kelamin laki-laki telah ditemukan di desa Alang namun batu yang berbentuk kelamin perempuan di desa Latuhalat belum ditemukan.
 
Sumber: http://www.tihulale.com/2015/06/Kisah-Pertemuan-Tanjung-Alang-Dan-Nusaniwe.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara Membuat Sayur Sop Ayam yang Enak, Segar, dan Gurih
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Sayur sop ayam adalah salah satu masakan rumahan yang sangat populer di Indonesia khas ala Nur Kitchen . Rasanya yang ringan, segar, dan gurih membuat hidangan ini cocok disantap kapan saja, terutama saat cuaca dingin atau saat ingin makanan yang menenangkan. Selain enak, sayur sop ayam juga kaya akan nutrisi karena terdiri dari berbagai sayuran dan protein dari ayam. Bahan-Bahan Sayur Sop Ayam Berikut bahan yang perlu disiapkan: 500 gram daging ayam (potong sesuai selera) 2 buah wortel (iris bulat) 2 buah kentang (potong dadu) 1 batang daun bawang (iris) 1 batang seledri (ikat atau iris) 1 liter air Bumbu Halus: 4 siung bawang putih 1/2 sendok teh merica Garam secukupnya Bumbu Tambahan: 1/2 sendok teh gula Kaldu bubuk secukupnya (opsional) Cara Membuat Sayur Sop Ayam Rebus Ayam Didihkan air, lalu masukkan potongan ayam. Rebus hingga setengah matang. Buang kotoran atau busa yang muncul agar kuah tetap jernih. Tumis Bumbu Haluskan bawang putih dan merica, lalu...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua
Makanan Minuman Makanan Minuman
Papua

Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara
- -
-

Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara
- -
-

Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Jawa Tengah

Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional merupakan warisan kesehatan asli Indonesia berupa ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan alami [S1][S3]. Sebagai sistem pengobatan tradisional, jamu telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya nasional [S1][S2]. Praktik ini mencakup pengetahuan meracik, filosofi kesehatan, hingga aspek sosial-budaya yang menyertainya. Sejarah jamu berpusat di Jawa, dengan Kota Surakarta (Solo) sebagai salah satu episentrum utama yang masih aktif memproduksi dan melestarikan tradisi ini [S4]. Akar tradisi jamu dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Mataram, di mana pengetahuan pengobatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi [S6]. Hingga kini, Jawa tetap menjadi daerah asal dan pusat budaya jamu yang paling kuat [S2][S6]. Bukt...

avatar
Kianasarayu