Di sebuah hutan yang berada di pinggiran pantai tinggallah seekor kera yang menginjak remaja. Kera itu bertubuh tinggi, bulu-bulunya hitam, bermata tajam, gigi-giginya pun sangat tajam. Setiap hari kera bermain-main dengan sahabatnya, bangau. Bangau adalah seekor anak bangau yang masih kecil, bulunya putih, berkaki dan berpauh langsing.
Pada suatu siang mereka bermain-main di bawah pohon bakau di tepi pantai. Kera merasa lapar karena sejak pagi perutnya belum terisi makanan. Ketika si kera melihat laut yang terbentang di hadapannya, timbul dalam pikirannya untuk mengajak bangau mencari ikan untuk makan siang.
“Bangau, ayolah kita turun ke laut. Di sana banyak ikan. Bukankah kita belum makan siang?” Ajak kera.
“Tidak mau! Aku takut, aku masih kecil, kera!” Jawab bangau memperlihatkan ketakutannya.
“Mengapa takut? Bukankah ada aku? Kalau kamu tidak mau aku akan menggigitmu!” Ancam kera sambil membuka mulutnya, berpura-pura akan mengigit Bangau. Bangau bergidik melihat baris-baris gigi kera yang tajam.
“Baiklah, tapi jangan lama-lama!” Bangau akhirnya memerima ajakan kera.
Mereka menjejakkan kaki ke pantai, kemudian berjalan pelan-pelan menuju ke pinggiran laut. Di sana terdapat ikan-ikan kecil berseliweran di antara batu-batu karang yang berada di pinggian laut. Bangau mencotok ikan demi ikan dengan paruhnya yang panjang. Dalam waktu singkat bangau berhasil menangkap beberapa ekor ikan laut.
Sejak menceburkan kakinya ke laut tak seekor pun ikan yang berhasil ditangkap kera. Ketika hendak menangkap ikan, air yang dipijaknya berguncang-guncang sehingga ikan-ikan lari ketakutan. Berbeda dengan bangau yang melangkah dengan hati-hati, paruhnya yang panjang pandai mencotok ikan-ikan. Konon, kakek dan nenek moyang bangau adalah pencari ikan yang ulung.
Menjelang sore hari, tak seekor pun ikan yang berhasil ditangkap kera. Perutnya melilit-lilit karena lapar. Melihat ikan-ikan tangkapan bangau, kera tidak senang.
Kera mendekati bangau, “Bangau, aku ingin memakan ikan-ikanmu!” katanya kera sambil merampas seluruh ikan hasil tangkapan bangau.
“Tunggu dulu, kalau kau lapar aku akan memberimu sebagian!” Kata bangau sambil berusaha merebut kembali ikan-ikannya.
Bangau bersikeras merebut ikan-ikannya. Namun, tubuh kera lebih tinggi dan badannya lebih kuat dibanding bangau. Bangau dengan sekuat tenaga melawan kera. Kera kesakitan lalu seperti kesetanan mencabut bulu-bulu bangau. Dengan cepat tangannya yang kekar mencabik-cabik bulu-bulu bangau. Dengan singkat bulu-bulu bangau habis tercerabut, begitu pula bulu sayapnya.
Bangau berdiri di pantai. Bulunya telah habis, kulitnya merah-merah kesakitan. Sambil tertawa-tawa, kera membawa pulang ikan-ikan yang dirampas dari bangau.
“Rasakan itu. Makanya jangan mudah percaya!” Ejek Kera.
Bangau dengan sedih menatap sahabatnya yang telah menghilang masuk ke dalam hutan. Bangau tidak dapat terbang karena bulunya telah habis.
Senja telah turun, matahari telah bersembunyi. Udara semakin dingin bercampur dengan angin laut yang berhembus ke daratan. Bangau menangis sambil menggigil kedinginan.
Setibanya di rumah, kera memasukkan ikan-ikan rampasannya ke dalam periuk besar kemudian dimasaknya. Melihat ikan-ikan yang sedang dimasak itu, kera merasakan perutnya semakin lapar. Tak berapa lama kemudian ikan-ikan itu telah matang. Si Kera pun menyantapnya dengan lahap.
Sementara itu, malam telah larut. Suasana gelap gulita. Mendung menggantung di langit. Langit berkelap-kelip. Ibu bangau gelisah menanti bangau yang belum tiba di rumah. Malam itu juga Ibu bangau berjalan ke rumah kera. Kera terkejut ketika tiba-tiba Ibu bangau mendatanginya. Kera cepat-cepat meletakkan santapannya.
“Ibu bangau? Mengapa malam-malam kemari?” Tanya kera gelagapan.
“Hei kera, di mana bangau?” Kenapa malam begini belum sampai ke rumah?”
“Saya tidak tahu!” Jawab kera berbohong.
“Bukankah tadi pagi dia bermain bersamamu?”
“Ya, tapi sekarang saya tidak tahu. Tadi siang saya ajak pulang ke rumah tidak mau!”
Ibu bangau geleng-geleng kepala, tidak percaya dengan jawaban kera.
“Kera pasti berbohong. Bangau selalu menuruti nasihatku. Tidak mungkin dia tak mau diajak pulang!” Pikir Ibu bangau.
“Baiklah! Akan kucari sendiri anakku!” Kata Ibu bangau.
Ibu bangau meninggalkan rumah kera. Ibu Bangau sangat sedih, diselimuti rasa cemas kalau-kalau anaknya dimangsa binatang buas. Ibu bangau menangis, terbang mengitari hutan serta memanggil-manggil anaknya. Setelah lama berputar-putar tak terdengar suara anaknya menyahut. Langit telah gelap pekat, titik-titik gerimis, angin kencang dan halilintar berdentum-dentum membelah langit. Ibu bangau menduga-duga di mana kira-kira anaknya berada. Induk bangau itu mengepakkan sayapnya, menembus angin terbang menuju pantai.
Ibu bangau menapakkan kakinya di bibir pantai, memanggil-manggil anaknya. Dalam kegelapan itu terlihat sosok kecil sedang mendekam dengan tubuh menggigil kedinginan di bawah pohon bakau. Ibu bangau segera menghampiri anaknya.
“Ya Tuhan. Mengapa engkau sampai begini, Nak! Kasihan!” Ibu bangau memeluk erat anaknya.
“Ibu, ikanku habis dirampas kera. Buluku dicabuti sampai habis!” Jawab bangau lirih sambil menangis terisak-isak. Tubuhnya menggigil kedinginan. Ibu Bangau melindungi dengan sayapnya yang lebar.
Mendengar perkataan anaknya, Ibu Bangau menyimpan amarah besar kepada kera. Hatinya sangat sakit, anaknya yang masih kecil telah disiksa dengan semana-mena.
“Oo…dasar kera! Tukang bohong!” Kata Ibu bangau geram.
Tubuh bangau segera disambar, dicengkeram kuat-kuat dengan kakinya. Ibu bangau segera membawanya ke sebuah gua tak jauh dari tempat itu.
“Kita tinggal di sini dulu, Nak! Badanmu tak akan tahan angin dan dingin!”
“Baik Ibu!” Bangau menurut ibunya.
Setiap hari Ibu bangau merawat anaknya. Ibu Bangau berkelana ke dalam hutan, mencari daun-daunan obat untuk menyembuhkan anaknya. Setelah terkumpul dibawa ke dalam gua. Bangau selalu menuruti perintah ibunya. Lama kelamaan kulitnya yang tipis dan memar-memar kemerahan menjadi sembuh, disusul dengan tumbuhnya tunas-tunas bulu yang semakin lama semakin tebal. Demikianlah pekerjaan Ibu bangau sehari-hari hingga seluruh bulu badan dan sayap bangau pulih seperti sediakala.
Mereka merentangkan sayapnya meninggalkan gua itu. Tak lama kemudian bangau telah sampai ke dalam rumah lamanya.
Karena perbuatan kera, Ibu bangau mengumpulkan kawan-kawannya. Mereka diajak bersama-sama membalaskan sakit hatinya.
“Kalau begitu, kera kita bujuk supaya ikut dengan kita bertamasya ke pulau seberang. Di sana banyak ikannya!” usul seekor bangau jantan.
“Ya, aku setuju. Nanti di tengah laut kita tenggelamkan kera itu!” Usul seekor bangau betina yang lain.
“Aku setuju! Sebaiknya sekarang kita buat sebuah perahu!” kata Ibu bangau.
Sekawanan bangau segera bergotong-royong membuat perahu. Ada yang mengambil tanah, mengusung air, mencetak dinding perahu. Mereka bekerja dengan cekatan hingga tak lama kemudian terciptalah sebuah perahu pesiar mungil.
Esoknya perahu itu telah disiapkan di tepi pantai. Kera bersama teman-temannya telah siap berpesiar dengan perahu itu bersama-sama dengan sekawanan bangau.
Perahu kecil itu segera meninggalkan pantai, bergerak pelan ke tengah samudra. Kera-kera tertawa-tawa sambil bernyanyi riang. Masing-masing dibayangi sebuah pulau dengan ikan yang melimpah.
“Kita akan puas makan ikan!” Kata seekor kera.
Kera-kera yang lain mengiyakan. Bangau-bangau diam, mereka telah mengatur sebuah siasat. Jika telah sampai di tengah laut, bangau-bangau akan mematuk dinding-dinding dan lantai perahu. Kera-kera tidak menaruh rasa was-was atau curiga. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan gembira. Sementara bangau-bangau tidak berhenti melubangi dinding perahu. Lama-kelamaan perahu itu bocor, airnya masuk ke dalam perahu. Semakin lama bertambah banyak.
“Perahu bocor!” Teriak Ibu bangau.
Kera-kera menjadi panik, mereka saling pandang dengan muka khawatir. Dengan cepat bangau-bangau beterbangan ke atas laut, meninggalkan perahu yang sebentar lagi akan karam ke dasar laut. Kera-kera yang tidak bisa terbang itu akhirnya tenggelam, kecuali seekor kera yang telah menyakiti anak bangau. Teman-temannya telah tenggelam, tinggal dia yang terapung-apung di permukaan laut. Dengan sekuat tenaga kera itu berenang mencapai pulau tujuan.
Kera itu dengan selamat tiba di daratan. Badannya basah kuyup. Bulu-bulunya mengatup. Kera itu menggigil kedinginan, sendirian terasing di pulau seberang.
“Sial benar. Tak kusangka bangau-bangau itu memperdayaku sehingga semua temanku tenggelam ke dalam laut!” Gumam kera.
Kera tertidur di tempat itu. Ketika terbangun, Si kera merasakan perutnya lapar. Ketika menginjak pantai itu tak seekor ikan pun yang berhasil ditangkapnya. Dengan tertatih-tatih kera berjalan ke darat, bermaksud mencari buah-buahan yang bisa mengganjal perutnya.
Ketika kera memasuki hutan, dihadang seekor ulat bulu yang hinggap di atas daun pohon kayu. Ulat bulu yang sedang menyantap daun itu terkejut melihat seekor kera asing berjalan memasuki hutan.
“Hei, dari mana engkau, kera?” Tanya ulat bulu.
“Baru saja tiba dari pulau seberang!” Jawab kera dengan malas. Matanya berputar-putar, mengincar buah-buah yang bisa dimakan.
“Wah, kamu bohong. Mungkin kamu dibuang ke sini karena mencuri buah-buahan yang ditanam orang!” Ejek ulat bulu.
Mendengar perkataan ulat bulu, kera menjadi naik pitam. “Hei, ulat bulu. Lancang sekali mulutmu! Awas akan kusiksa seperti bangau! Kumasukkan ke dalam hidung baru tahu rasa kamu!” Ancam kera sambil menunjukkan lubang hidungnya yang besar. Ulat bulu terkejut mendengar ancaman kera.
“Kalau kamu berani menangkapku lakukan saja! Kita lihat nanti!” Jawab ulat bulu.
Tanpa pikir panjang kera segera menjumput ulat bulu itu kemudian memasukannya ke dalam hidung.
“Rasakan, kau akan mati kegelapan!” Ejek kera.
Ulat bulu tidak menjawab. Setelah masuk ke dalam hidung, ulat bulu bergoyang-goyang sehingga kera merasakan geli. Ketika kera bermaksud mengambil dengan tangannya, ulat bulu semakin dalam merayap ke dalam lubang hidung kera.
“Ayo, keluar ulat bulu!” Kata kera dengan marah.
Ulat bulu tidak mempedulikan perintah kera. Binatang itu terus merayap ke atas, masuk lebih jauh ke dalam lorong hidung kera.
Kera kesakitan. Karena tak tahan lagi kera berteriak-teriak,”Keluarlah ulat bulu! Aku hanya bermain-main! Keluarlah, sakit sekali!” Kedua tangan kera memegang kepalanya. Kera jatuh terguling-guling, memohon supaya ulat bulu keluar dari hidungnya.
Sumber: https://aning99.wordpress.com/
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...