Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Banjar
5_Jinglur, si Kura-kura Cerdik
- 19 Mei 2018

Pada zaman dahulu kala, di tengah belantara rimba tinggallah bersama binatang aneka ragam. Diantaranya seekor kura-kura kerdil berwarna hitam bernama Jinglur. Jinglur memiliki teman yaitu Si Kera. Setiap hari mereka bermain bersama. Bahkan sering tinggal bersama di sebuah ceruk gua yang berada di tengah hutan itu.
Suatu siang, Si Kera sedang bermain-main dengan Jinglur. Si Kera duduk di atas batu berlumut yang berada di bawah sebuah pohon rindang. Tak jauh dari situ Jinglur sedang menyantap rerumputan untuk makan siang.
“Jinglur, bagaimana kalau kita bertanding menanam pisang?” Tantang Si Kera tiba-tiba, “Siapa yang kelak berhasil sampai panen tiba maka dialah yang menang!” Sambung Si Kera.
“Menanam pisang?” Sahut Jinglur sambil menghentikan makannya. Menatap Si Kera dengan tatapan tidak percaya. Jinglur sering mendengar Kera suka mencuri pisang milik ladang Pak Beruang.
“Mungkin sahabatku itu telah bertobat,” pikir Jinglur. Maka Jinglur pun menyanggupi tantangan Si Kera.
“Baiklah aku mau! Mari kita mulai!” Kata Jinglur.
Jinglur mulai menanam pisang bersama-sama dengan Si Kera. Dengan telaten dan hati-hati Jinglur menancapkan tunas-tunas pisang yang telah dikumpulkannya bersama Si Kera. Dengan sembarangan Si Kera menanam pisang-pisangnya.
Setelah ditunggu beberapa lama mereka melihat-lihat kebun pisang mereka. Pisang yang ditanam Jinglur jauh lebih subur dibanding pisang-pisang Si Kera. Jinglur rajin memberinya air, mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di sekelilingnya. Pisang yang ditanam Si Kera tumbuh juga, tetapi tidak sesubur tanaman Jinglur. Ditambah, setiap keluar satu kuncupnya maka buru-buru Si Kera memakannya. Lama-kelamaan pisang yang ditanam Si Kera mati.
Pisang Jinglur lama-kelamaan tumbuh semakin besar hingga tiba waktunya pisang itu berbuah dan menjadi matang. Tetapi Jinglur tak bisa memanjat pisang itu untuk memetik buahnya. Kura-kura itu mencoba memanjat. Namun segera jatuh. Dia mencobanya berkali-kali namun tetap tidak berhasil. Kera menungguinya. Ingin sekali rasanya memanjat pohon pisang itu namun Jinglur tidak menyuruhnya.
“Coba pohon pisang itu milikku! Sekali lompat dengan mudah pohon itu kupanjat!”kata Si Kera dalam hati.
Merasa tidak dapat memanjat sendiri Jinglur kemudian meminta tolong Si Kera yang berada tak jauh dari situ.
“Kawan, tolonglah petikkan pisang-pisangku yang telah matang itu,” Suruh Jinglur kepada Si Kera.
“Baiklah,” Jawab Si Kera.
Kera dengan cekatan segera memanjat pohon pisang itu. Dengan tangkas dipetiknya pisang-pisang yang telah masak lalu segera dimakannya. Satu…dua…tiga…telah masuk ke mulut Si Kera. Jinglur dengan sabar menanti buah-buah yang bakal dijatuhkan Si Kera. Tetapi satu pun tak ada yang jatuh.
“Ayo kawan. Cepat jatuhkan untukku!” Teriak Jinglur dari bawah.
“Wah, sebentar. Enak sekali! Biar aku cicipi dulu!” Sahut Si Kera dari atas pohon.
“Jatuhkan satu dulu saja. Aku ingin makan!”
“Nanti saja kau!” Sahut Si Kera dengan suara tak jelas karena mulutnya penuh kunyahan pisang.
“Jatuhkanlah! Kulitnya saja!” Pinta Jinglur.
“Tidak bisa! Kulitnya pun enak dimakan!” Jawab Si Kera sambil memakan pisang-pisang itu.
Jinglur sangat sedih. Menyesal memiliki sahabat yang berbohong. Sementara itu Si Kera terus memakan pisang-pisang itu. Akhirnya habislah satu tandan. Dengan raut muka sedih Jinglur menatap Si Kera yang kekenyangan. Air liurnya menetes-netes melihat Si Kera begitu keenakan memakan buah-buah pisang yang telah ditanamnya.
Jinglur akhirnya menangis melihat buah-buah pisangnya yang telah masak dimakan habis Si Kera.
“Kau jahat Kera!” Kata Jinglur sambil menangis.
“Ha..ha..ha…! Salahmu sendiri mengapa kau tak bisa memanjat!” Si Kera tertawa puas.
“Awas, nanti pasti kubalas!” Kata Jinglur dalam hati sambil menunggu Si Kera turun dari pohon itu.
Mereka lalu pulang ke rumah. Jinglur tampak lesu, berjalan dengan langkah kesal. Si Kera menari-nari kesenangan.
”Aku akan menginap di rumahmu!” Kata Si Kera setelah sekian lama saling diam.
”Hmm…!” Sahut Jinglur dengan nada malas.
Malam itu mereka tinggal di dalam ceruk gua. Sampai larut malam Jinglur tak dapat memejamkan matanya. Perutnya keroncongan karena lapar. Sedangkan kera tidur nyenyak sambil mengorok. Suaranya mengganggu Jinglur.
”Begitulah kalau kekenyangan! Tak ingat kawan!” Jinglur menatap sedih sahabatnya yang telah terlelap.
Sambil berbaring Jinglur berusaha mencari cara untuk membalas sakit hatinya kepada Si Kera.
Tiba-tiba Jinglur teringat sebuah pohon rambutan yang buah-buahnya telah marang. Kura-kura itu berseru, “Ger…..!” Suaranya yang nyaring menyebabkan Si Kera terbangun dari mimpi indahnya.
“Hei Jinglur? Mengapa kau berteriak sampai membangunkanku?” Tanya Si Kera dongkol sambil membuka matanya.
“Aku bermimpi.” jawab Jinglur.
“Mimpi apa?” Tanya Si Kera keheranan.
“Aku bermimpi melihat buah rambutan yang sangat lebat! Buahnya merah ranum dan matang! Ingin rasanya aku memakan buah-buahnya. Tapi, aku tidak bisa memanjat!” Jawab Jinglur pura-pura sedih.
”Di mana? Di mana pohon rambutan itu? Cepat katakan?” Tanya Si Kera sambil menelan air liurnya.
“Di sana!” Jawab Jinglur singkat.
“Bagaimana kalau besok kita bangun pagi-pagi lalu ke sana?” Ajak Kera bersemangat.
“Ayo! Aku setuju!” Jawab Jinglur.
Seperti yang telah mereka sepakati, pagi-pagi sekali Si Kera tidak seperti biasanya. Ketika mentari terbit biasanya Si Kera masih tidur mendengkur. Kali ini Si Kera yang membangunkan Jinglur.
“Jinglur ayo bangun! Cepat kita menuju ke pohon rambutan itu. Sebelum habis kedahuluan yang lain!” Kata Si Kera sambil menggerak-gerakkan tubuh Jinglur.
Mereka pun berjalan beriringan. Jinglur mengeluh karena tak kuat berjalan jauh. Badannya letih, perutnya lapar.
“Ayolah, lamban sekali kau berjalan!” Ajak Si Kera bersemangat.
“Kau tahu aku kelaparan! Sejak kemarin aku tidak makan!” Jawab Jinglur lirih.
Akhirnya Si Kera menggendongnya. Kera dengan langkah cepat menyusuri jalan setapak di tengah hutan itu. Tujuannya hanya satu, pohon rambutan yang dijanjikan Jinglur.
Setelah lama berjalan mereka tiba di bawah sebuah pohon rambutan yang besar. Pohon rambutan itu seperti yang dimimpikan Jinglur. Tanpa berbasa-basi Jinglur diturunkan dari punggungnya. Si Kera langsung memanjat pohon rambutan itu. Tanpa basa-basi, dengan rakus Si Kera menggasak rambutan-rambutan itu. Dari bawah pohon Jinglur memperhatikan tingkah Si Kera. Air liurnya menetes-netes melihat Si Kera menyantap rambutan-rambutan yang telah matang.
“Kera, jatuhkanlah sebuah saja untukku!”
“Hmm…nyam…nyam…nyam…!” Jawab Kera tanpa memberikan sebuah pun kepada Jinglur.
“Kera, kulitnya pun aku mau!” Kata Jinglur mengiba.
“Waaahhh. Tidak bisa, kulitnya pun enak!” Sahut Si Kera.
“Awas kamu!” pikir Jinglur dalam hati.
Jinglur mengumpulkan kayu-kayu yang telah kering kemudian ditumpuk di bawah pohon rambutan itu. Selama Si Kera memakan rambutan-rambutan itu telah cukup banyak tumpukan kayu yang dikumpulkan Jinglur. Jinglur kemudian membakar tumpukan kayu itu. Tak lama kemudian asap mengepul dari tumpukan kayu itu. Asap yang membumbung itu sampai ke ranting-ranting rambutan.
“Hei, Jinglur! Apa yang kamu kerjakan di bawah situ?” Teriak Si Kera.
“Tidak ada apa-apa! Biasa musim kemarau. Tanah sering mengeluarkan asap!” jawab Jinglur berbohong kepada Si Kera.
Semakin lama api semakin membesar. Jinglur terus menambahkannya dengan kayu-kayu bakar. Daun-daunan kering pun ikut dibakarnya.
Tiba-tiba Jinglur berteriak-teriak.
“Api…api…!” Si Kera terkejut mendengar teriakan Jinglur.
Kera menjadi gugup ketika melihat api besar telah menyala berkobar-kobar di bawahnya, menjilat-jilat ranting-ranting pohon rambutan yang dipanjatnya. Si Kera kepanasan. Beberapa bulunya telah rontok terkena panas. Si Kera kebingungan. Dia mencoba terjun ke bawah tetapi api besar telah menghadangnya. Si Kera menjatuhkan tubuhnya ke atas bakaran kayu itu. Seketika itu Si Kera mati. Badannya hangus terbakar.
Jinglur menunggu-nunggu di pinggir perapian. Tak didengarnya lagi suara teriakan Si Kera.
Setelah api padam, Jinglur mengambil air untuk mematikan bara api yang masih tersisa. Jinglur tak menemukan lagi bangkai Si Kera. Tinggal tulang-tulang Si Kera teronggok bersama abunya yang berwana putih. Tulang-tulang Si Kera akan dibuatnya menjadi kapur. Kapur itu kemudian dimasukkan ke dalam kulit nangka. Jinglur bermaksud menjual kapur-kapur tersebut kepada kera-kera yang lain.
Sambil berjalan Jinglur berteriak-teriak menjajakan kapurnya, “Kapur…kapur…!”
Kera-kera yang sedang beristirahat di ranting-ranting pohon serentak turun lalu mendekati suara yang menjajakan kapur.
“Hei, kapur! Sini aku beli!” Teriak beberapa ekor kera.
Jinglur pun mendekati mereka.
“Kami akan beli kapurmu, tapi kalau dimakan dengan sirih merah apa tidak?” Tanya seekor kera perempuan disusul kera-kera yang lain.
“Coba lihat bibirku ini. Merah apa tidak?” jawab Jinglur sambil membuktikan bibirnya yang merah.
Sebelum berangkat menjajakan kapur itu, Jinglur telah melumuri bibirnya dengan daun dadap. Melihat bibir Jinglur yang merah, semua kera membeli kapur Jinglur. Jingur pun senang karena kapurnya dibeli oleh kera-kera itu. Kera-kera itu segera memakan sirih dengan kapur yang dijual Jinglur.
Sambil berjalan pulang Jinglur menyanyi-nyanyi
“Nyu nyu nya, ia makan kawannya juga”.
“Nyu nyu nya, ia makan kawannya juga”.
“Nyu nyu nya, ia maka tulang kawannya juga.”
Nyanyian Jinglur itu lama kelamaan membuat kera-kera tadi menjadi curiga. Mereka saling pandang. Kera yang tertua segera memuntahkan sirih dan kapur yang baru saja dikunyahnya.
“Bah, rasanya berbeda. Ini bukan kapur!”
“Coba hitunglah kawan kita!” perintah kera tertua kepada temannya.
Lalu temannya menghitung.
“Satu…dua…tiga…Satu…dua…tiga…! Kurang satu,“ Kata kera yang bertugas menghitung.
“Wah, kalau begitu pasti teman kita telah dia bunuh dan tulang-tulangnya dibikin kapur! Tangkap kura-kura jahanam itu!” Perintah seekor kera tua yang telah beruban.
Kera-kera yang lain segera meninggalkan tempat itu beramai-ramai. Mereka berlari menuju tempat tinggal Jinglur.
Jinglur sedang enak-enak tidur di dalam ceruk gua. Tiba-tiba terdengar suara sekawanan kera membangunkannya. Tanpa basa-basi mereka beramai-ramai mengeroyok Jinglur. Tubuh Jinglur diseret.
“Bawa ke sana!” Teriak pemimpin kera.
Mereka segera membawa Jinglur ke tempat kering berbatu-batu di bawah terik sinar matahari.
“Bunuh saja kura-kura ini!” Teriak kera-kera serempak. Tubuh Jinglur dilempar ke atas bebatuan di bawah terik matahari.
“Tenang…tenang dulu…jangan bunuh aku!” Ujar Jinglur memohon.
“Jemur saja kura-kura ini di bawah panas matahari! Kita tindih tubuhnya dengan batu!” Kata kera tua yang tiba-tiba hadir di tempat itu.
“Waaahhh, kalau hanya dijemur aku tak akan mati! Bukankah kalian melihat punggungku ditutupi dengan topi baja ini! Topi ini bisa melindungiku dari sinar matahari! Dia lebih keras dari batu! Aku takkan terluka sedikitpun, apalagi mati!” Jawab Jinglur sambil menepuk tempurung bajanya.
“Pukul saja dengan kayu!” Usul seekor kera perempuan sambil mengacungkan sebuah kayu.
Kera-kera itu beramai-ramai memukul Jinglur. Jinglur segera menyembunyikan kepalanya. Punggung bajanya yang berwana hitam keras melindungi dari serangan kera-kera itu. Tak sedikitpun goresan luka tertinggal di tubuh Jinglur.
“Sia-sia kalian memukulku! Aku takkan mati kalau hanya dipukul seperti ini”, seru Jinglur dengan nada mengejek.
“Menyerahlah, bagaimana caranya supaya kau mampus?” Tanya kera yang tertua.
“Mudah sekali”, jawab Jinglur, “Coba lemparkan aku ke sana! Ke air yang banyak tumbuhan kangkungnya. Aku akan mati perlahan-lahan!” Jinglur menerangkan. Pura-pura menyerah kepada kera-kera itu.
Melihat tingkah laku Jinglur, tanpa ragu lagi kera-kera itu mengangkat tubuh Jinglur lalu melemparkannya ke dalam air yang banyak ditumbuhi tumbuhan kangkung.
Setelah terlempar ke dalam air, amat senang hati Jinglur. Dia bernyanyi sambil melambai-lambaikan tangannya kepada kera-kera yang menunggunya di daratan.
“Nyu nyu nya, aku pulang ke negeriku”.
“Nyu nyu nya, aku pulang ke negeriku juga”.
“Nyu nyu nya, aku pulang ke negeriku juga”.
Kera-kera itu menatap heran. Bukan Jinglur mati yang dilihat, melainkan Jinglur bernyanyi menghina mereka.
“Waaahhhh kita tertipu.” Ujar kera-kera serempak.
“Kalau begitu, kita kuras saja airnya sampai kering. Pasti dia mati! Ambil selang! Kita sedot airnya!” perintah kera yang paling tua.
Jinglur melihat kera-kera itu mulai bekerja. Buru-buru Jinglur mencari kawan-kawannya yang berada di dalam air, yaitu seekor ketam.
“Ketam, bangunlah, bantulah aku!” Kata Jinglur.
“Hmmm, apa yang harus kulakukan?” tanya Ketam dengan malas, sambil menggeliat. Tak lama kemudian terdengar suara kera-kera yang ribut. Ketam pun terusik dari tidurnya.
“Ketam, kera-kera itu akan mengeringkan air kita!”
“Hah? Apa? Tidak bisa!” Ketam terkejut.
Jinglur segera mengatakan permintaan bantuannya “Jika kera-kera telah berhasil mengeringkan air, jika kera-kera sudah memasuki danau kecil itu, Ketam disuruh menjepit pipa yang dipakai untuk menahan air itu. Jika mereka telah masuk ke dalam danau segera buka selang itu, maka mereka akan ikut tergenang.”
Kera-kera itu bekerja keras menguras air danau itu. Tak lama kemudian pekerjaan mereka membawa hasil. Air sebentar lagi mengering. Kera-kera itu masuk ke dalam ceruk air. Mereka mendekati Jinglur yang ada di tengah. Mereka berusaha menangkap Jinglur.
“Hiyaaa…tak akan lepas lagi kau?” Seru kera yang paling tua.
Jinglur menunggu dengan cemas, menunggu Ketam memenuhi janjinya. Tak lama kemudian ketika kera-kera itu hampir menyentuh tubuhnya tiba-tiba Ketam melepaskan jepitannya. Air yang telah mereka kuras masuk kembali ke dalam danau, memenuhi danau itu. Kera-kera yang sedang berusaha menangkap Jinglur itu tidak mampu menyelamatkan diri. Mereka berada di tengah-tengah danau. Karena tak bisa berenang, mereka tenggelam ke dalam air.

Sumber: https://aning99.wordpress.com/page/1/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu