Ritual
Ritual
Ritual Sulawesi Tenggara Tolaki
3 - Kalo (Kalosara)
- 20 Mei 2018
“Kalo” adalah suatu benda yang berbentuk lingkaran, cara-cara mengikat yang melingkar, dan pertemuan-pertemuan atau kegiatan bersama di mana para pelaku membentuk lingkaran. Kalo dapat dibuat dari rotan, emas, besi, perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu dan dari kulit kerbau. Pembuatan kalo pada dasarnya adalah dengan jalan mempertalikan atau mempertemukan kedua ujung dari bahan-bahan tersebut pada suatu simpul. Kalo meliputi osara (adat istiadat) yang berkaitan dengan adat pokok dalam pemerintahan, hubungan kekeluargaan-kemasyarakatan, aktivitas agama- kepercaya-an, pekerjaan-keahlian dan pertanian (Tarimana 1993: 20).
 
Dari berbagai jenis kalo, yang dikenal luas adalah yang terbuat dari rotan, kain putih dan anyaman. Lingkaran rotan adalah simbol dunia atas, kain putih adalah simbol dunia tengah dan wadah anyaman adalah simbol dunia bawah. Kadang-kadang juga ada yang mengatakan bawah lingkaran rotan itu adalah simbol matahari, bulan dan bintang-bintang; Kain putih adalah langit dan wadah anyaman adalah simbol permukaan bumi. Mereka juga mengekspresikan bahwa lingkaran rotan adalah simbol Sangia Mbu’u (Dewa Tertinggi), Sangia I Losoanooleo (Dewa di Timur) dan Sangia I Tepuliano Wanua (Dewa penguasa kehidupan di bumi), dan wadah anyaman adalah simbol Sangia I Puri Wuta (Dewa di Dasar Bumi). Kalo juga adalah simbol manusia: lingkaran rotan adalah simbol kepala manusia, kain putih adalah simbol badan dan wadah anyaman adalah simbol tangan dan kaki (angota).
 
Demikianlah kalo pada pola pikir dan mentalitas Tolaki menyangkut seluruh aspek kehidupan mereka. Kalo juga merupakan ekspresi konsepsi orang Tolaki mengenai unsur-unsur manusia, alam, masyarakat dan hubungan selaras antarmanusia dan antara manusia dengan unsur-unsur tersebut, termasuk dalam komunitas dan pola permukiman, organisasi kerajaan dan adat dan norma agama yang mengatur tata kehidupan mereka. Akhirnya dapat dikatakan bahwa kalo melambangkan keselarasan dalam kesatuan-persatuan antara segala hal yang bertentangan dan tampak bertentangan dalam alam tempat berhuni manusia Tolaki.
 
 
Kalosara adalah lambang pemersatu dan perdamaian yang sangat sakral dalam kehidupan Suku Tolaki. Secara fisik, Kalosara ini diwujudkan dengan seutas rotan berbentuk lingkaran yang kedua ujungnya disimpul lalu diletakkan di atas selembar anyaman kain berbentuk bujur sangkar. Tradisi yang tetap lestari ini biasa digelar dalam menyelesaikan suatu pertikaian atau perselisihan dalam kehidupan masyarakat Suku Tolaki yang saat ini tersebar di Wilayah Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan dan Kota Kendari.
Kalo atau Kalosara adalah sebuah benda yang berbentuk lingkaran yang terbuat dari tiga utas rotan yang kemudian dililit ke arah kiri berlawanan dengan arah jarum jam. Ujung lilitannya kemudian disimpul atau diikat, dimana dua ujung dari rotan tersebut tersembunyi dalam simpulnya, sedangkan ujung rotan yang satunya dibiarkan mencuat keluar. 
 
Tiga ujung rotan, dimana yang dua tersembunyi dalam simpul dan ujung yang satunya dibiarkan mencuat keluar memiliki makna bahwa jika dalam menjalankan adat terdapat berbagai kekurangan, maka kekurangan itu tidak boleh dibeberkan kepada umum atau orang banyak, sehingga pada Orang Tolaki terdapat kata-kata bijak: kenota kaduki osara mokonggadu’i, toono meohai mokonggoa’i, pamarenda mokombono’i. Arti dari kata-kata bijak tersebut adalah bila dalam menjalankan sesuatu adat terdapat kekurangan, maka adat, para kerabat, dan pemerintahlah yang akan mencukupkan semua itu atau dapat pula dimaknai kekurangan apapun yang terjadi dalam suatu proses adat, maka hal itu harus dapat diterima sebagai bagian dari adat Orang Tolaki. 
 
Lilitan tiga utas rotan mempunyai makna sebagai kesatuan dari stratifikasi sosial Orang Tolaki yang terdiri dari anakia (bangsawan), towonua (penduduk asli atau pemilik negeri) yang juga bisaa disebut toono motuo (orang-orang yang dituakan) atau toono dadio (penduduk atau orang kebanyakan), dan o ata (budak) (Tarimana, 1989:199). Selain itu, tiga lilitan rotan juga memiliki makna sebagai kesatuan dari keluarga, yakni bapak, ibu, dan anak sebagai unit awal atau unit terkecil yang jika digabungkan atas beberapa keluarga akan membentuk suatu masyarakat. 
 
Ketiga stratifikasi sosial di atas merupakan bentuk stratifikasi sosial Orang Tolaki di zaman dahulu. Saat ini stratifikasi sosial pada Orang Tolaki telah mengalami pula pergeseran dengan munculnya stratifikasi sosial baru walaupun stratifikasi sosial yang lama juga masih dikenal. Stratifikasi sosial yang baru ini adalah golongan terpelajar yang kemudian menduduki posisi-posisi penting dipemerintahan, golongan pegawai dan orang kaya, dan kaum petani, buruh, atau mereka yang tidak masuk pada golongan pertama dan kedua. Selain itu, stratifikasi sosial Orang Tolaki yang mengalami pergeseran, terutama terlihat pada golongan o ata atau budak yang saat ini sudah hampir tidak ada atau hampir tidak dikenal lagi oleh Orang Tolaki. 
 
Terkait dengan adanya pergeseran stratifikasi pada Orang Tolaki, maka ukuran kalo yang dipergunakan juga ikut berubah. Jika dahulu kala Orang Tolaki mengenal adanya tiga jenis kalo yang penggunaannya diperuntukkan untuk tiga stratifikasi sosial, maka saat ini Orang Tolaki hanya mengenal dua ukuran kalo sesuai peruntukkannya. 
 
Ukuran yang pertama adalah kalo dengan diameter 45 cm yang diperuntukkan bagi golongan anakia dan pejabat Bupati ke atas (Bupati, Gubernur dan seterusnya), ukuran yang kedua adalah kalo dengan diameter 40 cm yang diperuntukkan bagi golongan toono motuo (orang-orang yang dituakan dalam orang) dan toono dadio (penduduk atau orang kebanyakan). 
 
Kalo/Kalosaratidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari orang Tolaki. Kalo/Kalosara sebagai simbol persatuan-kesatuan dan simbol hukum adat selalu hadir dalam berbagai peristiwa penting dalam kehidupan orang Tolaki. Misalnya dalam penyelesaian berbagai konflik/sengketa baik dalam skala besar (misalnya sengketa yang melibatkan kampung dengan kampung) maupun dalam skala kecil (misalnya sengketa yang melibatkan individu dengan individu), dalam pengurusan perkawinan, dalam menyambut tamu, dalam menyampaikan undangan lisan, menyampaikan berita duka, dan berbagai peristiwa-peristiwa lainnya. 
 
Kalo/Kalosara sebagai simbol yang selalu hadir dalam berbagai peristiwa penting tidak dapat dihadirkan oleh orang-orang biasa dalam masyarakat. Di dalam masyarakat orang Tolaki terdapat tokoh adat yang disebut sebagai Tolea dan Pabitara. Tolea dan Pabitara ini merupakan juru penerang adat yang tugasnya adalah menyampaikan suatu pemberitahuan kepada orang banyak. Mereka adalah tokoh adat yang diangkat sebagai tokoh karena kepandaiannya dalam menjelaskan sesuatu serta dianggap mampu berbicara dalam berbagai urusan-urusan penting dalam kehidupan sehari-hari. Kedua tokoh adat inilah yang juga berhak untuk membawa kalo/Kalosara serta berbicara atas nama hukum adat dengan menggunakan kalo/Kalosara dalam berbagai urusan pada orang Tolaki. 
 
 
 
Kalosara bagi masyarakat suku Tolaki di Sulawesi Tenggara bukan hanya sebatas lilitan rotan biasanya, namun sebuah simbol tentang aturan- aturan yang harus dipatuhi oleh suku Tolaki
 
Ada banyak hal yang dapat dijadikan simbol dari kekuatan dalam sebuah suku atau bangsa bahkan negara. Baik itu simbol yang menyatakan kejantanan ataupun persatuan dan kesatuan. Hal inipun juga dimiliki oleh masyarakat di Sulawesi Tenggara. Untuk menyimbolkan sebuah persatuan dan kesatuan, masyarat suku Tolaki menyimbolkan benda yang berbentuk lingkaran rotan yang dikenal dengan nama Kalosara.
 
Suku Tolaki adalah salah satu suku Indonesia yang mendiami pulau Sulawesi Tenggara. Kebanyakan suku ini berdiam di kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara. Suku Tolaki biasanya hidup sebagai petani yang memiliki sifat rajin dalam bekerja. Selain dikenal sebagai suku yang rajin dalam bekerja sebagai petani, suku Tolaki di Kendari juga terkenal dengan semangat gotong royongnya yang sangat tinggi.
 
Nama Tolaki adalah nama yang berasal dari kata To dan Laki. To bermakna orang atau manusia, sedangkan Laki adalah laki- laki. Sehingga Tolaki dapat diterjemahkan sebagai Orang Laki- Laki. Karena menurut mereka seorang laki- laki adalah sosok manusia yang memiliki kekuatan, keberanian, dan kejantanan yang tinggi serta sangat menjunjung tinggi kehormatan diri atau harga diri. Tapi suku Tolaki tidak hanya bermakna sebagai Orang Laki- Laki. Karena sebelum nama ini digunakan, suku Tolaki terlebih dahulu menamakan dirinya Tolohianga yang bermakna Orang Dari Langit.
 
Sedangkan Kalo atau Kalosara adalah sebuah benda yang memiliki makna mendalam bagi suku Tolaki dalam memaknai persatuan dan kesatuan. Jika dilihat, Kalosara adalah sebuah benda yang berbentuk lingkaran yang terbuat dari rotan yang saling melilit kearah kiri. Salah satu ujung lilitannya disatukan dengan suatu simpul sedangkan ujung lainnya dibarkan mencuat keluar. Biasanya Kalosara diletakan diatas selembar kain putih dan anyaman daun palem hutan yang berbentuk persegi.
 
 
Kalosara jika dilihat dalam sisi budaya merupakan sistem norma adat yang berfungsi mewujudkan ide- ide yang mengkonsepsikan hal- hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat suku Tolaki. Dalam konsep, Kalosara yang mengatur aktifitas kehidupan masyarakat suku Tolaki dalam keseharian dikenal dengan nama Meraou. Meraou sendiri adalah sejenis aturan khusus yang mengatur setiap orang atau individu untuk selalu menunjukan tata krama atau sopan santun. Dari hal inilah kita bisa mengetahui bahwa Kalosara bagi masyarakat suku Tolaki di Sulawesi Tenggara bukan hanya sebatas lilitan rotan biasanya, namun sebuah simbol tentang aturan- aturan yang harus dipatuhi oleh suku Tolaki. Karena itulah Kalosara tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari- hari masyarakat suku Tolaki di Sulawesi Tenggara. 
 
 
Biasanya Kalosara digunakan pada saat terjadi sebuah permasalahan didalam tubuh masyarakat suku Tolaki. Baik yang satu desa ataupun berbeda desa tapi satu suku. Seperti misalnya penyelesaian berbagai konflik atau sengketa baik dalam skala besar atau kecil. Namun selain digunakan sebagai penyelesaian sebuah permasalahan, Kalosara biasanya juga di gunakan dalam urusan pernikahan, dalam penyambutan tamu, dalam menyampaikan undangan lisan, menyampaikan berita duka ataupun peristiwa lainnya.
Sedangkan jika dinilai dari sisi Antropologis, Kalosara adalah sebuah unsur pusat dalam kebudayaan masyarakat suku Tolaki. Inilah hal lain yang menyebabkan Kalosara tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari- hari masyarakat suku Tolaki karena Kalosara sangat mendominasi banyak aktifitas atau pranata lain dalam kehidupan suku.
 
Selain sebagai simbol persatuan dan kesatuan bagi masyarakat suku Tolaki, Kalosara jika dicermati memiliki nilai filosofis yang sangat beragam. Baik dari sisi bentuk ataupun hal lainnya. Seperi misalnya bentuknya yang melingkar yang melambangkan kesatuan rohani dan jasmani sebagai bentuk manusia yang utuh. Tiga lilitan rotan yang melingkar adalah lambang keharusan untuk bersatu antara Tuhan sebagai penguasa alam semesta dengan pemerintah yang memerintah di bumi.
 
Tidak hanya dalam bentuknya, kain putih yang dijadikan alas menempatkan Kalosara juga memiliki makna tersendiri bagi masyarakat suku Tolaki. Sehelai kain putih adalah lambang dari kesucian, ketentraman, kesejahteraan dan kemakmuran. Sedangkan persegi empat yang terbuat dari anyaman daun palem hutan, alas dibawah kain putih, merupakan simbol dari unsur- unsur kesucian terhadap air dan tempar sumber mata angin yang memberi kehidupan dan kesegaran rohani serta jasmani kepada setiap manusia.
 
 
Jika dinilai dari sisi kosmologi dan sistem kepercayaan masyarakat suku Tolaki Sulawesi Tenggara, Kalosara memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Karena bagi masyarakat suku Tolaki Sulawesi Tenggara, Kalosara adalah simbol dari tiga hal. Yaitu sebagai simbol dari bentuk dan susunan alam semesta beserta isinya, bentuk mansia dan susunannya, serta sebagai benda yang dikeramatkan dalam bentuk upacara adat masyarakat suku Tolaki. Namun selain itu masyarakat suku Tolaki menyimbolkan bahwa lingkaran rotan sebagai simbol dari Sangia Mbu’u yang merupakan dewa tertinggi atau Allah, Sangia I Losoano eleo yang merupakan dewa di timur, dan Sangia I Tepuliano Wanua yang merupakan dewa penguasa kehidupan di bumi. Sedangkan wadah anyaman adalah simbol dari Sangia I Puri Wuta yang merupakan Dewa di dasar bumi.
 
Selain itu, Kalosara juga dikenal sebagai simbol dari manusia oleh masyarakat suku Tolaki di Sulawesi Tenggara. Lingkaran rotan adalah simbol dari kepala manusia, kain putih adalah simbol dari badan sedangkan anyaman daun palem adalah simbol dari tangan dan kaki atau anggota badan yang lainnya.
 
Suku Tolaki di Sulawesi Barat adalah bagian kecil dari banyak kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Kebudayaan tersebut adalah kebudayaan yang membentuk Indonesia hingga bisa berjalan sampai dengan hari ini. Dan dari suku Tolaki kita bisa mengetahui bahwa ajaran nenek moyang bangsa Nusantara adalah sangat erat kaitannya dalam kehidupan sehari- hari generasi penerusnya. Dan mungkin karena itulah kemudian nilai- nilai dari ajaran- ajaran nenek moyang bangsa Nusantara itu disimbolkan oleh suku Tolaki di Sulawesi Tenggara dengan Kalosara agar selalu diingat oleh masyarakat suku Tolaki.
 
Salah satunya dapat terlihat dalam suatu upacara adat yang menggunakan Kalosara sebagai benda utama dalam keberlangsungan upacara tersebut sebagai benda yang diyakini dapat menghubungkan masyarakat suku Tolaki dengan nenek moyang mereka. Dan karena Kalosara inilah kehidupan masyarakat suku Tolaki tidak bisa bergeser dari ajaran yang telah diajarkan nenek moyang mereka. Dan mungkin hal ini jugalah yang menjadikan suku Tolaki dikenal sebagai suku Tolohianga karena memegang erat ajaran- ajaran nenek moyang mereka sampai saat ini yang mengajarkan tentang menjaga hubungan dengan pencipta alam semesta, antar manusia, dan alam semesta yang diatur dalam aturan- aturan adat yang harus dipatuhi. Hal inilah yang menjadikan suku Tolaki menjadi kuat, berani, perkasa dan mampu menjaga harga dirinya di zaman modern seperti saat ini sehingga pantas jika mereka dinilai sebagai suku Orang Laki- Laki.
 
 
 
Sumber:
  1. https://kareemlanurfan.wordpress.com/2014/05/12/adat-istiadat-suku-suku-di-sulawesi-tenggara/
  2. https://www.kalosaranews.com/2016/10/makna-kalo-sara-tolaki/
  3. http://tolaki-konawe-mekongga.blogspot.co.id/2013/10/makna-kalo-sara.html
  4. http://sayanusantara.blogspot.co.id/2016/04/terpecahkan-inilah-makna-lilitan-rotan.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu