Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Sulawesi Selatan Wajo
Putri Tadampali
- 4 Januari 2021

Cerita rakyat ini telah lama berkembang terutama di daerah Wajo, Sulawesi Selatan. Konon kabarnya, cerita ini merupakan asal mula berkembangnya kepercayaan sebagian masyarakat Bugis, bahwa mereka tidak diperbolehkan memakan kerbau yang memiliki motif belang karena dianggap telah berjasa.

Cerita ini mengisahkan tentang seorang putri yang bernama Putri Tadampali dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan. Putri Tadampali, adalah anak Datu Luwu yang bernama La Busatana Datu Maongge. Beliau memerintah dengan arif dan bijaksana, masyarakatnya hidup dalam keadaan sejahtera, aman dan tenteram. Putri Tadampali memiliki wajah yang rupawan, dan kecantikannya itu tersohor bahkan terdengar hingga ke daerah Bone yang letaknya cukup jauh dari Luwu.

Raja Bone pun mengetahui kabar kecantikan Putri Tadampali hingga berniat mengawinkan anaknya dengan sang putri. Dia pun mengutus beberapa orang sebagai duta menemui Datu Luwu untuk melamar Putri Tadampali. Adanya lamaran tersebut membuat Datu Luwu merasa bimbang, karena di dalam adatnya tidak diperbolehkan seorang gadis Luwu menikah dengan orang yang tidak sekampung dengannya. Akan tetapi, jika dia menolak pinangan tersebut dia kuatir terjadi pertumpahan darah yang tidak diinginkan dan rakyatnyalah yang akan menjadi korban. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk menerima lamaran tersebut.

Malang nian nasib Putri Tadampali, karena tak disangka tiba-tiba dia menderita sakit kulit yang aneh. Tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang menjijikkan dan berbau tidak sedap. Seluruh tabib istana tidak mampu mengobatinya, dan mereka bahkan mengatakan bahwa penyakit yang diderita Putri Tadampali sifatnya menular. Karena takut dengan resiko itu, Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan sang putri di tempat yang jauh. Meski merasa sedih, namun Putri Tadampali tetap patuh pada keputusan ayahandanya. Dia bersedia untuk diasingkan demi kemaslahatan rakyat tanah Luwu, dan akhirnya berangkatlah dia berlayar bersama beberapa orang pengawalnya. Sebelum berangkat, ayahnya menitipkan sebilah keris sebagai tanda bahwa dia tidak membuang anaknya.

Setelah Putri Tadampali berlayar hingga berbulan-bulan tanpa tujuan yang pasti, mereka kemudian menemukan daratan. Seorang pengawalnya menemukan buah wajo saat menginjakkan kakinya di tempat itu, dan Putri Tadampali memutuskan untuk memberi nama daerah itu dengan Wajo. Karena tempatnya relatif subur dan sejuk, Putri Tadampali memilih untuk menetap di tempat itu. Mereka berusaha dan terus bekerja keras di dalam membangun kehidupan di pemukiman baru tersebut.

Selang beberapa waktu lamanya, saat Putri Tadampali sedang duduk-duduk di tepi danau, tanpa disadarinya seekor kerbau buleng (putih) mendekati dan menjilati kulitnya. Pada awalnya, dia ingin mengusirnya. Akan tetapi, kerbau tersebut tampak jinak, dia kemudian membiarkan dirinya dijilat oleh kerbau itu. Tanpa diduga, bekas jilatan kerbau putih tersebut ternyata menjadi obat bagi sang putri. Kulitnya menjadi bersih dan halus kembali. Putri Tadampali sangat bersyukur kepada Dewata Tuhan Yang Maha Esa) atas peristiwa tersebut. Sebagai bentuk penghargaannya kepada kerbau putih, Putri Tadampali memerintahkan kepada seluruh pengawalnya untuk tidak menyembelih apalagai memakan kerbau putih. Permintaan itu masih tetap diikuti oleh masyarakat Wajo sampai sekarang.

Pada suatu hari, putra mahkota Bone pergi berburu bersama Anre Paguru Pakkannyareng Panglima Kerajaan Bone dan beberapa pengawalnya. Dia berburu terlalu jauh sehingga tanpa sadar terpisah dari rombongannya. Hingga malam tiba, dia tidak juga menemukan para pengawalnya. Dia menjadi semakin gelisah dan tidak dapat memejamkan mata. Dari kejauhan dia melihat seberkas sinar, dan memberanikan diri untuk mendekati sumber cahaya. Sesampainya di sana, dia terkejut karena mendapati seorang puteri yang cantik jelita. Mereka pun berkenalan dan tidak lama menjadi akrab satu sama lain. Karena sudah terlanjur jatuh hati, sekembalinya ke negeri asalnya putra mahkota menjadi sering termenung. Ingatannya terus tertuju pada Putri Tadampali. Melihat gelagat putra mahkota, maka Anre Guru Pakkannyareng menceritakan perihal tersebut kepada Raja Bone. Raja Bone menerima usul dari Anre Guru Pakkannyareng untuk melamarkan Putri Tadampali.

Sesampainya utusan yang hendak meminang di daerah Wajo, Putri Tadampali menyerahkan sebilah keris yang dulu diberikan oleh ayahnya. Selanjutnya Putri Tadampali meminta kepada mereka menemui Datu Luwu dan mengatakan jika Datu Luwu menerima keris itu dengan baik berarti pinangan diterima. Putra Mahkota Bone berangkat sendirian menemui Datu Luwu, dan sesampainya di sana diceritakanlah semua kejadian yang dialaminya termasuk niatnya untuk memperistri Putri Tadampali. Tanpa menunggu waktu lama Datu Luwu dan permaisurinya segera menjemput anaknya dan kemudian menikahkannya dengan Putra Mahkota Bone. Pernikahan mereka dilangsungkan di Wajo, dan beberapa tahun kemudian, putra mahkota diangkat menjadi raja.

Sumber: Pencatatan Warisan Budaya TakBenda BPNB Sulsel

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum