Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti Kalimantan Timur OSAN Knowledge Base
Prasasti Yupa: Sebuah prasasti yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai
- 18 Mei 2026

Prasasti Yupa: Sebuah prasasti yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai

Identitas dan Asal-Usul

Prasasti Yupa merupakan peninggalan tertulis tertua dari Kerajaan Kutai, sebuah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara [S2]. Objek ini dikategorikan sebagai prasasti, yaitu media tulis kuno yang dipahatkan pada bahan tidak mudah rusak seperti batu, yang menandai peralihan dari zaman prasejarah ke zaman sejarah di Indonesia [S1][S3]. Secara resmi, tujuh Prasasti Yupa koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris D.2A, D.2B, D.2C, D.2D, D.175, D.176, dan D.177 telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 279/M/2014 [S5].

Istilah "yupa" sendiri merujuk pada tugu batu yang berfungsi sebagai tiang pengikat hewan kurban dalam upacara keagamaan Hindu [S2]. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa Pra-Nagari dan berbahasa Sanskerta, yang berdasarkan bentuk dan jenis hurufnya diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi [S2]. Keberadaannya menjadi bukti utama masuknya pengaruh budaya India, khususnya tradisi tulis dan sistem kerajaan, ke wilayah Kalimantan Timur. Berbeda dari pengertian harfiah "prasasti" dalam bahasa Sanskerta yang berarti 'puji-pujian', Prasasti Yupa lebih berfungsi sebagai piagam peringatan yang mendokumentasikan kedermawanan seorang raja [S1][S2].

Terdapat tujuh buah yupa yang memuat inskripsi, namun baru empat di antaranya yang berhasil dibaca dan diterjemahkan [S2]. Isi prasasti ditulis dalam bentuk puisi anustub dan menceritakan tentang Raja Mulawarman yang memberikan sumbangan berupa ribuan ekor sapi kepada kaum Brahmana [S2]. Keunikan Prasasti Yupa terletak pada posisinya sebagai sumber primer tertua yang mampu memberikan kronologi peristiwa sejarah di Nusantara, sebuah fungsi yang menjadikan prasasti sebagai sumber sejarah terpenting dibandingkan naskah atau berita asing [S1]. Saat ini, signifikansinya diakui secara global dengan diajukannya Prasasti Yupa sebagai nominasi Memory of the World (MOW) UNESCO [S6].

Ciri dan Unsur Utama

Ciri paling menonjol dari Prasasti Yupa adalah bentuk fisiknya yang bukan berupa lempengan batu datar, melainkan sebuah tugu batu (menhir) yang berdiri tegak. Bentuknya silindris dengan bagian puncak yang sedikit membulat, menyerupai tiang atau tonggak [S2]. Kata "Yupa" sendiri merujuk pada tugu batu yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu kuno, khususnya sebagai tiang pengikat hewan kurban [S6]. Hal ini membedakannya secara fundamental dari pengertian umum prasasti sebagai media tulis pada permukaan datar [S1], karena pada Yupa, teks dipahatkan mengelilingi badan tugu. Tujuh buah Yupa dengan ukuran bervariasi telah ditemukan, dengan tinggi rata-rata sekitar 1 meter [S6], dan ketujuhnya telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 279/M/2014 [S5].

Dari segi bahan dan teknik, Prasasti Yupa dibuat dari batu andesit, jenis batuan beku vulkanik yang keras dan tidak mudah rusak, sesuai dengan karakteristik umum bahan prasasti yang bertujuan agar pesan di dalamnya lestari [S1][S2]. Pemilihan batu andesit menunjukkan pemahaman tinggi akan ketahanan material. Teknik pembuatannya adalah dengan memahat langsung aksara pada permukaan batu yang telah dibentuk menjadi tugu. Proses ini membutuhkan keahlian tinggi, mengingat permukaan bidang pahat yang melengkung, bukan datar. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara detail alat atau metode spesifik yang digunakan untuk memahat batu andesit tersebut pada masa Kerajaan Kutai abad ke-5 Masehi.

Unsur pembeda paling krusial terletak pada aksara dan bahasa yang digunakan. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa yang oleh para ahli disebut sebagai tipe "Pra-Nagari", dan berbahasa Sanskerta [S2][S3]. Penggunaan aksara dan bahasa dari India Selatan ini menjadi bukti kuat pengaruh kebudayaan India, khususnya agama Hindu, yang telah mengakar di Kalimantan Timur pada abad ke-5 Masehi [S6]. Lebih lanjut, teks pada Yupa tidak ditulis dalam bentuk prosa naratif biasa, melainkan digubah dalam bentuk puisi dengan metrum anustub [S2]. Gaya penulisan puitis ini menunjukkan tingkat kesusastraan dan intelektualitas yang tinggi dari para penulisnya, yang kemungkinan besar adalah kaum Brahmana, serta menegaskan fungsi prasasti ini tidak hanya sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai karya sastra pujian (prasasti dalam arti harfiahnya) bagi seorang raja [S1][S2].

Fungsi dan Makna

Fungsi utama Prasasti Yupa berkaitan erat dengan ritual keagamaan dan pencatatan kemurahan hati seorang raja. Yupa sendiri, secara fisik, adalah tugu batu yang digunakan sebagai tempat mengikat hewan kurban dalam upacara soma atau upacara korban Hindu [S2]. Prasasti yang dipahatkan pada tugu-tugu ini berfungsi sebagai dokumen peringatan atas pelaksanaan upacara tersebut, yang secara khusus mencatat kedermawanan Raja Mulawarman [S2]. Dengan demikian, fungsi sosial dan adatnya sangat menonjol, yaitu sebagai legitimasi dan publikasi resmi atas tindakan seorang pemimpin yang dianggap luhur, memperkuat hubungan antara raja, kaum brahmana, dan rakyatnya.

Dari segi fungsi simbolik dan ekonomi, isi prasasti yang mencatat pemberian 20.000 ekor sapi kepada para brahmana oleh Raja Mulawarman bukan sekadar catatan transaksi [S2]. Tindakan ini merupakan simbol kekuasaan, kekayaan, dan kesalehan raja yang luar biasa. Pemberian dalam jumlah besar ini menandakan surplus ekonomi kerajaan dan sekaligus berfungsi sebagai redistribusi kekayaan yang dikelola oleh kaum agamawan. Prasasti ini menjadi bukti simbolik dari hubungan patron-klien yang ideal antara seorang raja pelindung dan kaum brahmana penjaga spiritual, sebuah konsep penting dalam kosmologi kerajaan Hindu di Asia Tenggara [S2][S6].

Fungsi edukatif dan historis Prasasti Yupa kini menjadi yang paling menonjol. Sebagai sumber primer, prasasti ini memberikan kronologi peristiwa yang tak terbantahkan, menandai berakhirnya zaman prasejarah dan dimulainya zaman sejarah di Nusantara [S1]. Lebih dari itu, penetapan ketujuh Prasasti Yupa sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 279/M/2014 menegaskan fungsinya sebagai bukti otentik dan sumber pengetahuan utama untuk memahami struktur sosial, praktik keagamaan, dan kehidupan politik kerajaan tertua di Indonesia [S5]. Pengajuan prasasti ini sebagai nominasi Memory of the World UNESCO semakin memperkuat maknanya sebagai warisan dokumenter yang bernilai dunia, berfungsi untuk edukasi publik global tentang akar peradaban Indonesia [S6].

Konteks dan Pelestarian

Prasasti Yupa tidak memiliki komunitas adat atau pewaris tradisi langsung yang masih mempraktikkan ritual sebagaimana tercatat dalam inskripsinya. Fungsi asli yupa sebagai tugu batu dalam upacara korban keagamaan Hindu kuno telah berhenti seiring runtuhnya Kerajaan Kutai dan pergeseran keyakinan masyarakat setempat [S2]. Saat ini, konteks komunitas yang relevan adalah institusi negara, khususnya Museum Nasional Indonesia, yang bertindak sebagai kustodian resmi ketujuh yupa tersebut. Penetapan status hukum sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 279/M/2014 menegaskan bahwa tanggung jawab pelestarian berada di bawah otoritas pemerintah pusat, bukan kelompok masyarakat tertentu [S5].

Tidak terdapat variasi daerah dari Prasasti Yupa dalam pengertian persebaran salinan atau adaptasi lokal di luar temuan asli di Kutai. Tujuh yupa yang ditemukan merupakan satu kesatuan konteks arkeologis dari satu situs dan periode yang sama, yakni sekitar abad ke-5 Masehi [S2]. Perbedaan di antara ketujuh yupa terletak pada isi inskripsi dan tingkat keterbacaannya, bukan pada variasi bentuk atau fungsi regional. Hanya empat dari tujuh yupa yang telah berhasil dibaca dan diterjemahkan oleh para ahli epigrafi, sementara tiga lainnya masih menyimpan keterbatasan data karena kondisi fisik prasasti [S2]. Hal ini menjadi batasan sumber primer yang signifikan; pemahaman kita tentang Kerajaan Kutai melalui yupa masih bersifat parsial dan bergantung pada keberhasilan pembacaan di masa depan.

Perubahan paling fundamental pada Prasasti Yupa adalah transformasi fungsinya dari objek sakral ritual menjadi artefak sejarah dan objek kajian ilmiah. Yupa yang semula didirikan sebagai bagian dari upacara keagamaan Hindu kini sepenuhnya menjadi data arkeologis dan epigrafis yang disimpan dalam lingkungan museum [S2][S5]. Tantangan pelestarian materialnya mencakup kerentanan batu terhadap pelapukan dan kerusakan fisik, yang lazim dihadapi prasasti berbahan batu [S1]. Upaya pelestarian kontemporer diarahkan pada konservasi fisik di Museum Nasional serta pengajuan nominasi sebagai Memory of the World (MOW) UNESCO, sebuah langkah yang menandai pergeseran strategi dari pelestarian pasif menjadi diplomasi budaya dan pengakuan memori dunia [S6].

Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara rinci kondisi komunitas lokal di Kutai saat ini dalam kaitannya dengan warisan yupa, atau apakah terdapat tradisi lisan yang mengingat keberadaan kerajaan kuno tersebut di luar bukti arkeologis. Sumber-sumber yang tersedia terfokus pada aspek epigrafis, sejarah politik, dan status hukum benda cagar budaya, namun belum mendokumentasikan dimensi sosial-budaya kontemporer dari masyarakat di sekitar lokasi penemuan [S2][S5][S6]. Batasan ini menunjukkan bahwa pengetahuan kita tentang Prasasti Yupa lebih kuat pada aspek material dan tekstualnya, sementara konteks manusia dan komunitas yang melingkupinya di masa kini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

This article is AI generated with layered facts validation

Referensi

[S1] Prasasti. https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti [S2] Prasasti Yupa. https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Yupa [S3] 10 Prasasti Paling Penting dalam Sejarah Indonesia yang Wajib Kamu Ketahui!. https://cianjur.viva.co.id/news/20309-10-prasasti-paling-penting-dalam-sejarah-indonesia-yang-wajib-kamu-ketahui [S4] Penemuan Prasasti Kuno di Sungai Luwa Lengkiti OKU, Peninggalan Abad 16, Ada Simbol Dewi Asintia. https://palembang.tribunnews.com/sumsel/1317878/penemuan-prasasti-kuno-di-sungai-luwa-lengkiti-oku-peninggalan-abad-16-ada-simbol-dewi-asintia [S5] Salinan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 279/M/2014 tentang Tujuh Prasasti Yupa Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris D.2A, D.2B, D.2C, D.2D, D.175, D.176, D.177 sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional, tanggal 17 Oktober 2014 - We bring people and nations together through education, culture and science (UNESCO). https://mowid.anri.go.id/index.php/1-salinan-keputusan-menteri-pendidikan-dan-kebudayaan-nomor-279-m-2014-tentang-tujuh-prasasti-yupa-koleksi-museum-nasional-nomor-inventaris-d-2a-d-2b-d-2c-d-2d-d-175-d-176-d-177-sebagai-benda-cagar-budaya-peringkat-nasional-tanggal-17- [S6] EKSPOSKALTIM - Prasasti Yupa, Bukti Keluhuran Tertua Nusantara. https://eksposkaltim.com/berita-15159-prasasti-yupa-bukti-keluhuran-tertua-nusantara.html


AI Generated Content from Obrol Sandi Crawler Account

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Jaipong: Lincah, Ceria, dan Identitas Sunda yang Membara
Tarian Tarian
Jawa Barat

Jaipong: Lincah, Ceria, dan Identitas Sunda yang Membara Identitas dan Asal-Usul Tari Jaipong merupakan salah satu tarian tradisional Indonesia yang secara spesifik diidentifikasi berasal dari daerah Jawa Barat [S1], [S3], [S8]. Tarian ini berfungsi sebagai seni pertunjukan khas yang merepresentasikan identitas masyarakat Sunda, dengan karakteristik yang lincah, ceria, dan penuh energi [S2]. Meskipun publikasi umum seperti [S1] mengawali penjelasan dengan pernyataan bahwa Indonesia memiliki beragam tarian dari Sabang hingga Merauke, klaim tersebut bersifat nasional dan tidak spesifik pada data identitas Jaipong, sehingga identifikasi asal yang valid dan terverifikasi adalah Jawa Barat [S3], [S8]. Tari Jaipong diciptakan oleh seorang seniman asal Bandung bernama Gugum Gumbira sekitar tahun 1970-an [S1], [S3]. Gugum Gumbira dikenal sebagai tokoh karawitan Sunda yang memiliki visi untuk menciptakan sebuah tarian yang modern dan dinamis, tetapi tetap berakar pada tradisi seni yang k...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Jaipong: Lincah, Ceria, dan Identitas Sunda yang Membara
Tarian Tarian
Jawa Barat

Jaipong: Lincah, Ceria, dan Identitas Sunda yang Membara Identitas dan Asal-Usul Tari Jaipong merupakan salah satu tarian tradisional Indonesia yang secara spesifik diidentifikasi berasal dari daerah Jawa Barat [S1], [S3], [S8]. Tarian ini berfungsi sebagai seni pertunjukan khas yang merepresentasikan identitas masyarakat Sunda, dengan karakteristik yang lincah, ceria, dan penuh energi [S2]. Meskipun publikasi umum seperti [S1] mengawali penjelasan dengan pernyataan bahwa Indonesia memiliki beragam tarian dari Sabang hingga Merauke, klaim tersebut bersifat nasional dan tidak spesifik pada data identitas Jaipong, sehingga identifikasi asal yang valid dan terverifikasi adalah Jawa Barat [S3], [S8]. Tari Jaipong diciptakan oleh seorang seniman asal Bandung bernama Gugum Gumbira sekitar tahun 1970-an [S1], [S3]. Gugum Gumbira dikenal sebagai tokoh karawitan Sunda yang memiliki visi untuk menciptakan sebuah tarian yang modern dan dinamis, tetapi tetap berakar pada tradisi seni yang k...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batu Rosetta: Kunci Membuka Tabir Prasasti Nusantara?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
-

Batu Rosetta: Kunci Membuka Tabir Prasasti Nusantara? Identitas dan Asal-Usul Prasasti adalah dokumen tertulis yang diukir pada bahan yang tahan lama seperti batu atau logam, berfungsi sebagai catatan penting mengenai sejarah, hukum, atau upacara keagamaan suatu masyarakat. Istilah "prasasti" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti 'puji-pujian' dan secara luas merujuk pada piagam atau maklumat resmi [C1]. Dalam konteks sejarah Indonesia, prasasti menjadi jendela untuk memahami peradaban yang telah ada sejak ribuan tahun lalu, menandai transisi dari zaman prasejarah ke zaman sejarah ketika masyarakat mulai mengenal tulisan [C3][C10]. Prasasti ditemukan di berbagai lokasi di Indonesia, mencerminkan keberagaman budaya dan peradaban yang ada. Beberapa prasasti terkenal berasal dari kerajaan-kerajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, yang memberikan informasi penting tentang struktur sosial, politik, dan budaya masyarakat pada masa itu [C7][C11]. Selain itu, prasas...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batu Rosetta: Kunci Membuka Tabir Prasasti Nusantara?
- -
-

Batu Rosetta: Kunci Membuka Tabir Prasasti Nusantara? Identitas dan Asal-Usul Prasasti adalah dokumen tertulis yang diukir pada bahan yang tahan lama seperti batu atau logam, berfungsi sebagai catatan penting mengenai sejarah, hukum, atau upacara keagamaan suatu masyarakat. Istilah "prasasti" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti 'puji-pujian' dan secara luas merujuk pada piagam atau maklumat resmi [C1]. Dalam konteks sejarah Indonesia, prasasti menjadi jendela untuk memahami peradaban yang telah ada sejak ribuan tahun lalu, menandai transisi dari zaman prasejarah ke zaman sejarah ketika masyarakat mulai mengenal tulisan [C3][C10]. Prasasti ditemukan di berbagai lokasi di Indonesia, mencerminkan keberagaman budaya dan peradaban yang ada. Beberapa prasasti terkenal berasal dari kerajaan-kerajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, yang memberikan informasi penting tentang struktur sosial, politik, dan budaya masyarakat pada masa itu [C7][C11]. Selain itu, prasas...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Saman: Dakwah dalam Gerak, Pesan dari Gayo
Tarian Tarian
Aceh

Saman: Dakwah dalam Gerak, Pesan dari Gayo Identitas dan Asal-Usul Tari Saman adalah tarian tradisional yang berasal dari suku Gayo di Provinsi Aceh, Indonesia. Tarian ini dikenal sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya yang menggabungkan gerakan, nyanyian, dan ritme yang dinamis, mencerminkan nilai-nilai keagamaan, sopan santun, pendidikan, dan kebersamaan dalam masyarakat Gayo [S1][S3]. Tari Saman sering dipertunjukkan dalam berbagai acara, termasuk perayaan keagamaan dan upacara adat, menjadikannya sebagai media untuk menyampaikan pesan dakwah [S2][S6]. Sejarah Tari Saman dapat ditelusuri kembali ke abad ke-14, ketika tarian ini digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran Islam di kalangan masyarakat Gayo. Tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat pendidikan moral dan sosial [S2][S3]. Dalam perkembangannya, Tari Saman telah mengalami variasi, dengan beberapa bentuk seperti Saman Jejuntèn dan Saman Bale Asam, yang masing-masing memiliki...

avatar
Kianasarayu