Alat Musik
Alat Musik
seni musik dan pertunjukan Jawa Timur SITUBONDO
musk bambu Pa'Beng
- 15 Februari 2019

Tim Musik Bambu Dewasesi (DKS/Dewan Kesenian Situbondo) di ajang Festival Musik Bambu Jawa Timur di Hotel Bumi Surabaya menyuguhkan kesan unik. Pasalnya, sesaat setelah MC acara meminta para seniman itu menyiapkan instrumen, mendadak angin bertiup kencang dan petir menggelegar.

Para undangan termasuk dari Konjen RRT (Republik Rakyat Tiongkok), Manajer Hotel Bumi Guntur Tampubolon dan fungsionaris Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), dibikin berhamburan untuk berteduh.

Seperti dilaporkan Suarajatimpost.com, begitu Tim Dewasesi naik ke panggung MC meminta koordinator tim untuk menjelaskan sekilas historis pa’beng. Ketika pertunjukan berjalan sekitar tiga menit, gerimis mulai turun. Penonton di area out door masih belum beranjak. Namun saat gerimis mulai deras, mereka berhamburan mencari peneduh.

Menariknya, pertunjukan terus berlangsung. Pemain musik itu diguyur hujan. Uniknya lagi, Taufik ‘Monyong’ Hidayat Monyong yang merupakan Ketua DKJT terus memberi support. “Ayo, lanjuut,” teriaknya. Bahkan ia juga rela berbasah-basah di kursinya.

Usai penampilan, Taufik menyalami ‘kegigihan’ penyaji pa’beng. Ia menilai itu bukan hujan biasa, karena Surabaya tak diguyur hujan hampir seminggu.

“Ada enam kabupaten di Jawa Timur yang kita undang di hotel bintang lima ini. Pa’beng salah satu temuan alternatif dengan konsep spiritual yang tidak terbatas ruang dan waktu. Gabungan komposif yang layak dibaca. Tidak bisa hanya dinikmati, tetapi harus dengan rasa. Saya merasakan guyuran hujan itu anugerah,” ungkap Taufik.

Sementara itu, seniman penyaji dari Rengel, Tuban, Hewodn merasakan hujan itu sesuatu yang mistis. “Salahnya bawa perangkat ritual memanggil hujan,” kelakarnya.

Berdasarkan catatan suarajatimpost.com, subetnik Pariopo asal pa’beng lestari di jaman dulu, memang kerap menyelenggarakan upacara adat Pojhian Hodo, yaitu untuk memanggil hujan.

“Mungkin ini yang dihubung-hubungkan dengan kejadian ini. Entah, yang pasti ini kehendak Allah. Saya ingat, odheng (ikat kepala, red) yang dipakai vokalis adalah yang juga dipakai para Pamojhi kala melakukan upacara. Apalagi syair yang dibawakan juga memuat nama leluhur Pariopo, Ju’ Modhi’ dan juga tempat-tempat upacara yang dikeramatkan. Wallaahua’lam bisshawaab,” ujar Agung Hariyanto salah satu personel.

Salah satu personel lainnya, Agus Sodu menuturkan pada bahwa pa’beng adalah alat musik tradisional dari bambu yang pada jaman dahulu sering dimainkan oleh para perambah hutan di Dukuh Pariopo, Dusun Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo.

Sementara itu, Marketing DKJT, Mei Margaretha menyatakan bahwa penyajian musik bambu di hotel-hotel di wilayah Jawa Timur akan terus berlanjut.

“Dalam rangka pelestarian kearifan lokal, kita perlu memasarkan musik tradisional milik Jatim sendiri. Kita juga sudah menyiapkan langkah pemasaran dalam bentuk CD (Compact Disc). Untuk itu, kita harap para pelestari musik tradisi dapat merekam karyanya,” harap Mei. (ist)

http://www.timurjawa.com/2017/11/02/musik-bambu-pabeng-pariopo-situbondo-mistis/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu