Sumber: https://lektur.kemenag.go.id/
Logo Kemenag RI LKK_BANTEN2013_MBG03 [I’rab Jurumiyah]
LKK_Banten2013_MBG03
Bhs. Arab
Aks. Arab
Prosa
TB
32 hal/19 baris/hal.
22 x 18 cm
Kerta Hvs
Naskah ini berisi satu teks, yaitu naskah yang berisikan tentang pelajaran bahasa Arab. Naskah didapat dari salah seorang warga yang berada di Banten Girang, naskah kurang lengkap, ada beberapa halaman awal dan akhir yang hilang, penulis dan penyalinnya tidak disebutkan.
Naskah ini tidak memiliki nomer halaman, memiliki kata alihan, tidak berlilustrasi dan iluminasi, hanya dihiasi dengan garis pinggir (frame), berupa 3 garis panjang saja. Naskah ditulis diatas kertas HVS polos tanpa watermark dan counter mark, dan ditulis dengan tinta hitam dan merah.
Kondisi naskah kurang baik, terbaca, halaman tidak beraturan, dan ada beberapa halaman yang hilang dan lepas dari jilidannya, sebahagian dijilid dengan benang, Sampul sudah diperbaharui dengan cover plastik.
Kutipan awal: ....minal mubtadi³na yas alµna an µ§alika ka£³ran fahunna k±na asyra¥ah± ‘al± h±zal-wajhi al mazkµru baynahum± kanna©aru il± wajhill±hi al-kar³mi wa mawjiban kal fauzi bi yadi subhana annaimi fa qultu thaliban minal-lahi at-taufiqi wal hid±yatu liaqwami tar³qin q±la al-muallifu bismill±hirrahm±nirrah³mi.......
Kutipan akhir....fatµkun al-f±u w±qiatun fi jaw±bin imm± takµnu fi’lun mudh±ri’un muta¡arrifun man k±nan-n±qishah yurfaul-ismu wa yunsabul-khabaru ismuh± dham³run mustatarun f³h± jaw±zun taqd³ruhu hiya yaµdu ala-ddammatu...... (YN)
ROTASI GAMBAR 90�LKK_BANTEN2013_MBG03 1 / 18StartStop
Manuskrip Puslitbang Lektur - Kementrian Agama RI Copyright © 2020 Kementrian Agama RI. Supported By Web Design Jakarta
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara