Perpisahan di Huta Lahi kurang memuaskan Deang Namora. Sewaktu Raja Silahisabungan dan Siraja Tambun berangkat dari Huta Lahi, ia ikut mengantar ketepi pantai. Rupanya Raja Silahisabungan membawa Siraja Tambun ketuktuk Simartaja dan terus ke Nauli Basa untuk memperdalam ilmu Siraja Tambun.
Karena merasa dekat dengan adiknya Si Raja Tambun, Deang Namora terus mengikuti mereka sampai ke Nauli Sibisa, ayahnya membujuk Deang Namora supaya kembali ke kampung Huta Lahi. Pada saat itulah Deang Namora menangis bersenandung yang memilukan hati:” Amang Siraja ibotna, marsirang ma hita ditano Nauli Basa, borhat ma damang tu tano Sibisa. Ahu do na pagodang – godang damang marsiak bagi, sian dakdanak sahat tu doli – doli, mulak ma ahu amang Siraja ibotna tu Huta Lahi, na bohado bagian ni Siboruadi?” katanya sambil melangkah berat hati.
Karena lelahnya berjalan ke Silalahi disertai perasaan sedih, Deang Namora dudukdiatas batu melepaskan lelah sambil merenungi perpisahananya dengan siraja Tambun. Pada waktu itu ibotona (saudaranya) sudah mencari – cari Deang Namora. Mereka takut Deang Namora mandele ( putus asa) akibat keberangkatan Siraja Tambun, sewaktu mereka menemukan Deang Namora duduk – duduk diatas batu, lalu diajak supaya pulang kekampung. Tetapi Deang Namora menjawab:” saya sudah merasa senang ditempat ini. Disinilah kalian bangun undung – undungku ( pondok) tempat bertenun.”katanya. saudaranya membujuk dan berkata :” pulanglah dulu kita, supaya dibangun pondokmu, baru bawalah alat–alat tenunmu kemari,” kata saudaranya tanda setuju.
sumber :https://pungsin.wordpress.com/2010/10/06/cerita-tentang-deang-namora/
Setelah pondoknya dibangun, Deang Namora membawa alat – alat tenunnya ketempat itu, yang kemudian disebut Batu Parnamoraan. Lama kelamaan Daeng Namora bertenun, terasa sangat besar kerinduannya dengan si Raja Tambun adiknya. Dan pada suatu saat rasa rindunya tidak bisa ditahan lagi, Daeng namora berlari dan menuju Danau, dan terus berjalan sampai ketengah danau, akhirnya Daeng namora tenggelam di dasar danau, Abang-abangnya serta adik adiknya melihat itonya tersebut, tidak sempat menolong itonya, mereka menangis meratapi itonya yang tenggelam di danau tersebut. Dimana Daeng namora berjalan sampai tenggelam terkenallan dengan nama Tao Silalahi artinya Tao na soboi dihabangi lali (Danau yang tidak bisa di sebrangi burung Rajawali) dan disitulah Deang Namora tinggal sampai akhir hayatnya. Dan menjadi keramat yang berkuasa di Tao Silalahi.
Sampai saat ini banyak terdengar kabar dan cerita, bahwa bila seseorang yang hendak menyeberangi tao tersebut tidak boleh membuang kotoran ke dalam danau, atau berbicara kotor, banyak terjadi yang melanggar aturan tersebut, dan banyak kita dengar kabar kapal tenggelam dan setelah di gondangi tujuh hari tujuh malam barulah mayat-mayat orang yang tenggelam muncul kembali.
Karena kejadian inilah anak Bungsu Raja Silahisabungan yaitu Raja Tambun dan seluruh keturunannya sampai sekarang sangat menghormati boru dari pomparan Silahisabungan, dan mereka selalu memanggil ito mereka dengan panggilan Namboru
Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland