Kidnesia.com - Tari rudat sudah ada di Indonesia sejak abad ke-15. Dulu, rudat diajarkan di pesantren sebagai sarana dakwah. Berbarengan dengan penyebaran agama Islam di berbagai daerah di Indonesia, tari rudat pun menyebar dan menjadi tarian rakyat. Di Pulau Lombok, tari rudat bisa kita jumpai hampir di setiap kecamatan. Bahkan, beberapa sekolah dasar mengajarkan tari rudat kepada murid-muridnya. Gerakan tari rudat seperti gerakan pencak silat. Meskipun tari rudat cukup berkembang, pelatih tari rudat tidak banyak. Salah satunya adalah Pak Murfa’in, seniman rudat yang tinggal di Desa Bagek Polak, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Jumlah pemain rudat ada 10 orang. Sedangkan pemain musik yang mengiringi rudat ada beberapa orang. Masing-masing menabuh gendang, tambur, seruling, dan satu orang lagi bertugas menyanyikan syair rudat. Pementasan rudat hanya berlangsung 10 menit. Terdiri 3 bagian, yaitu pembukaan, shalawat, dan...
Tari Rudat adalah tari tradisional yang berasal dari Suku Sasak yang bertempat tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tari Rudat dari Lombok Nusa Tenggara Barat ini ditampilkan untuk menyambut tamu dan acara-acara resmi pemerintahan. Dalam hal gerakan, tari rudat ini merupakan tari pencak silat. Hal ini dikarenakan dalam tarian rudat ini ada berbagai macam gerakan pencak silat seperti memasang kuda-kuda, memukul, menendang dan menangkis. Tari Rudat berasal dari Turki dan menyebar ke Indonesia bersamaan dengan penyebaran agama Islam. Tari Rudat masuk ke Indonesia abad ke 15 bersamaan dengan penyebaran agama islam di Indonesia. Pada tahun 1987 sering dijumpai tari Rudat yang ditampilkan dipinggir jalan raya mengiringi pengantin pria yang bejalan bersama rombongan menuju rumah mempelai wanita. Tari Rudat Nusa Tenggara Barat (NTB) dibawakan oleh 13 orang penari lelaki dengan mengenakan pakaian ala prajurit. Para penari mengenakan baju berlengan panjang warna kuning, dan celana...
Masyarakat Suku Sasak Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ketika peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dilaksanakan dengan tradisi menaikkan dulang pesajiq. Dulang Pesajiq pada masyarakat Lombok yaitu berupa nampan kayu atau nampan besar berisi aneka jajanan lokal khas masyarakat Suku Sasak Lombok maupun berbagai hidangan masakan lain yang cukup banyak. Dulang pesajiq dibuat setiap kepala keluarga di satu kampung kemudian akan dibawa ke masjid untuk dihidangkan bagi para tamu undangan yang menghadiri acara pengajian di masjid kampung setempat. Bagi masyarakat Suku Sasak, tradisi menaikkan dulang pesajiq dilakukan sebagai cara memperingati peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat dari Allah SWT dan juga sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rezeki dari Tuhan. https://www.cendananews.com/2018/04/dulang-pesajiq-tradisi-berbagi-makanan-peringati-isra-miraj.html