Bahan-bahan 1 ikat kacang panjang 1 ikat daun kelor 1 bh tomat 3 siung bawang merah 2 siung bawang putih Secukupnya gula,garam,penyedap Air untuk kuah Langkah Rebus air untuk kuahnya. Potong2 kacang panjangnya, siangi daun kelornya. Kemudian cuci bersih ...
Pada zaman Belanda, gedung yang terletak di pojok Jalan Pahlawan dengan jalan Kebun Rojo Surabaya ini dikenal sebagai gedung NV.Lindeteves. Dalam dokumentasi "Surabaya Tempo Dulu", foto ini diambil tahun 1930. Sekarang gedung ini digunakan sebagai gedung Bank Mandiri dan sebelumnya pernah dipakai oleh Bank Niaga. Pemerintah Kota Surabaya, mencatat gedung ini sebagai salah satu "cagar budaya" di Kota Surabaya. Gedung Lindeteves, saat digunakan sebagai Bank Niaga tahun 1990-an, dan saat ini gedung tersebut sudah tidak digunakan sebagai Bank Niaga. sumber :http://indonesianview.wordpress.com
Warga Suku Tengger menggelar upacara Unan-unan atau ritual adat di Desa Argosari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat. Acara yang dihelat lima tahun sekali itu, dilaksanakan secara bersama-sama oleh seluruh masyarakat Tengger, baik yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, maupun Kabupaten Malang. Romo Dukun Pinandhita Karioleh di Desa Argosari mengatakan, upacara adat Unan-unan merupakan salah satu ritual upacara adat masyarakat Tengger yang bertujuan untuk memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa dari segala gangguan. "Tujuannya untuk menetralisir kekuatan negatif yang ada, tidak hanya untuk masyarakat Tengger, ritual Unan-unan juga mendoakan seluruh alam semesta," katanya dilansir Antara. Sebelum menentukan waktu pelaksanaan Unan-unan, lanjut dia, para pemangku adat atau para Romo Dukun berkumpul untuk mengadakan musyawarah adat. "Ritual Unan-unan dimulai dengan menggelar doa yang dipimpin oleh Romo Dukun. Masyarakat secara...
Kuñjarakarna adalah sebuah teks prosa Jawa Kuno yang menceritakan seorang yaksa , sumber gambar (https://ms.wikipedia.org/wiki/Kunjarakarna) semacam raksasa yang bernama Kunjarakarna. Cerita ini berdasarkan agama Buddha Mahayana . Pada suatu hari Kuñjarakarna bertapa di gunung Mahameru supaya pada kelahiran berikutnya ia bisa ber reinkarnasi sebagai manusia berparas baik. Maka datanglah ia menghadap Wairocana . Maka ia diperbolehkan menjenguk neraka , tempat batara Yama . Di sana ia mendapat kabar bahwa temannya Purnawijaya akan meninggal dalam waktu beberapa hari lagi dan disiksa di neraka. Kunjarakarna menghadap Wairocana untuk meminta dispensasi. Akhirnya ia diperbolehkan memberi tahu Purnawijaya. Purnawijaya terkejut ketika diajak melihat neraka. Lalu ia kembali ke bumi dan berpa...
Kasodo Upacara Kasodo adalah salah satu upacara adat Jawa Timur yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan purnama. Tujuan upacara tersebut, masyarakat Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit. Tradisi ini dilakukan dengan mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Masyarakat Tengger lainnya harus berada di tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah. https://www.silontong.com/2018/11/12/upacara-adat-jawa-timur/
Tahlilan Kematian Tahlilan Kematian juga ditemukan di Jawa Timut tepatnya di Kota Surabaya. Tahlilan sendiri merupakan prosesi kirim doa kepada pihak yang sudah meninggal dunia supaya arwahnya mendapatkan ketenangan dan tempat terbaik di sisi Tuhan. Kebiasaan Tahlilan ini biasanya dilakukan pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun usai kematian dari pihak yang meninggal. Tradisi ini merupakan perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu dimana dahulu memang terjadi proses akulturasi budaya yang hingga kini masih tetap terjaga keberadaannya di kalangan masyarakat Kota Surabaya. Tidak semua warga Jawa Timur ikut melaksanakan tradisi Tahlilan. https://www.silontong.com/2018/11/12/upacara-adat-jawa-timur/
Upacara Kebo-Keboan Di Banyu Wangi Setiap tahun masyarakat Banyuwangi berupaya keras mempertahankan kemurnian dan kesakralan kebudayaan mereka yang bernama upacara adat Kebo-Keboan Di Banyu Wangi. Munculnya ritual kebo-keboan berawal terjadinya musibah pagebluk. Ketika itu semua warga diserang penyakit dan tanaman diserang hama. Banyak warga kelaparan dan mati akibat penyakit misterius. Seorang sesepuh, bernama Mbah Karti mendapat wangsit dari semedinya di bukit untuk menggelar ritual kebo-keboan dan mengagungkan Dewi Sri. Keajaiban muncul ketika warga menggelar ritual kebo-keboan. Warga yang sakit mendadak sembuh. Hama yang menyerang tanaman padi sirna. Sejak itu, ritual kebo-keboan dilestarikan. Mereka takut terkena musibah jika tidak melaksanakannya. https://www.silontong.com/2018/11/12/upacara-adat-jawa-timur/
Sumenep merupakan kabupaten paling timur di pulau Madura dan terkenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata di propinsi Jawa Timur. Salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Sumenep bera da di kecamatan Batuputih (Batopote). Dari sisi geografis, kecamatan Batuputih terletak di dataran tinggi. Dari pusat kota Sumenep berjarak ±20 km ke arah utara, Dilihat dari kondisi struktur tanah dan bentang alamnya yang berupa pegunungan, pastinya hal yang tampak adalah kekeringan atau kekurangan air serta tanah tadah hujan, Meskipun kenyataan ini menjadi suatu yang tak bisa dihapuskan dari perjalanan masyarakat Batuputih menempuh kehidupan Tradisi Ojhung OJHUNG adalah sebuah pertunjukan tradisional masyarakat Madura, khususnya daerah Sumenep dan sekitarnya. Tradisi ojhung ini selalu dilakukan setiap musim kemarau panjang tiba. Awal mula tujuan dilakukan tradisi Ojhung ini adalah untuk mendatangkan hujan. Namun karena tradisi ini terancam punah, maka beberapa pihak pe...
Seperti halny a tari Glipang, Tarian Gembu/Gambuh menggambarkan prajurit yang berlatih perang dengan berbekal senjata keris dan perisai kecil. Tarian ini digunakan untuk menyambut tamu agung dan para raja di daerah Sumenep , Madura . Dahulu tarian Gembu/Gambu lebih dikenal dengan Tari keris, dalam catatan Serat Pararaton tari Gambu disebut dengan Tari Silat Sudukan Dhuwung, yang diciptakan oleh Arya Wiraraja dan diajarkan pada para pengikut Raden Wijaya kala mengungsi di keraton Sumenep. Tarian tersebut pernah ditampilkan di keraton Daha oleh para pengikut Raden Wijaya pada perayaan Wuku Galungan yang dilaksanakan oleh Raja Jayakatong dalam suatu acara pasasraman di Manguntur Keraton Daha yang selalu dilaksanakan setiap akhir tahun pada Wuku Galungan. Para pengikut Raden Wijaya antara lain Lembusora, Ranggalawe dan Nambi diadu dengan para Senopati Daha yakni Kebo Mundarang, Mahesa Rubuh dan Pangelet,...