Monsak atau yang dibaca dengan Moccak adalah Jenis Ilmu Bela Diri dari Tanah Batak Leluhur Orang Suku Batak terdahulu tidak hanya menggunakan Monsak sebagai Melindungi Diri,Tetapi juga digunakan dalam Kegiatan Olahraga,Penyambutan Raja,Kegiatan Adat dan lain-lain. Monsak Batak identik dengan pengobatan dan pernafasan dalam penyatuan darah manusia dengan Tuhan hingga dapat menguasai tenaga dalam dan tenaga murni. Tenaga dari 3 benua, benua atas, benua tengah dan benua bawah yang ada dalam tubuh manusia pada jaman dahulu setiap manusia yang hendak mempelajari ilmu pengobatan dan ilmu perbintangan. Monsak Batak ini harus diajarkan juga jadi setiap manusia batak dulu mossak batak ini merupakan suatu keharusan untuk dipelajari. Monsak Batak ini dirangkai dengan langkah dan jurus-jurus untuk menghidupkan dan mengaktifkan 9999 urat manusia. Salah satu seni bela diri batak untuk penyatuan darah manusia dengan Tuhan. Salah satu tenaga dalam yang berguna untuk membela dir...
TARIAN RANDAI PADANG SUMATERA BARAT Tarian ini lumayan menarik para wisatawan asing, di beberapa negara tarian ini dipertunjukan sebagai seni mancanegara.Jelas saja, ketika saya lihat pun tari randai sangat keren.Jumlah penari utamanya satu orang dimana ia akan memberi aba-aba pada teman-teman se-penarinya untuk gerakan selanjutnya. Total penarinya tidak disyaratkan karena tergantung dari cerita rakyat yang akan dibawakan.Sejarah singkatnya, dulunya tari ini adalah sebagai media penyampaian tentang melalui syair yang dilantunkan dan gerakan-gerakan tarian tersebut. Tidak aneh, bila ada sebagian penari yang menambahkan dialog ditengah tarian tersebut.Awalnya ketika saya melihat gerakan tari randai sangat membuat terkesima. Pasalnya, gerakan tarian tersebut sangat unik. Terdapat gerakan pencak silat, gesekan kaki, kuda-kuda, jalan-jalan dan gerakan yang paling menarik buat saya adalah gerakan ketika penari menabuh kostum celana diantara kaki mereka yang menghasilkan suara geb...
Tarian Galuak seringkali disebut juga dengan tari tempurung. Karena memang tarian ini menggunakan properti berupa tempurung kelapa. Tempurung tersebut sesekali dipukul-pukulkan ke sehingga menghasilkan nada yang harmonis. Kejelian penari dan dengan musik khas yang dihasilkan dari tempurung ini tentunya menghasilkan hiburan tersendiri bagi penikmat tari minang tersebut.
TARIAN ALANG BABEGA PADANG SUMATERA BARAT Tari tradisional selanjutnya bernama Tari Alang Babega, jumlah penarinya tidak disyaratkan namun biasanya tarian ini ditarikan oleh 2-6 orang. Penaripun bisa laki-laki atau wanita. Bisa juga disatukan wanita dan laki-laki.Tarian ini sangat sederhana namun ternyata sudah merambat ke luar negeri dalam acara kebudayaan.Sejarah singkatnya, tarian ini diambil dari seekor Elang yang sedang mencari mangsa dan dijadikan menjadi sebuah tarian.Gerakannya pun sangat sederhana, dinamis dan atraktif. Dimana para penari akan melentangkan tangan dan seolah sedang mencari mangsa. Wajar saja, gerakannya pun diambil dari seekor elang.Sekarang tarian ini dianggap lebih kontemporer dibanding tarian lainnya. Dan menjadi tarian sekolah Sumatera Barat.Tarian ini menjadi salah satu tarian yang dibanggakan oleh masyarakat Sumatera Barat dan lebih sering dipertunjukan bila ada acara tertentu seperti pertunjukkan seni, kebudayaan, dan pertunjukan hiburan.
PAKAIAN ADAT BUNDO KANDUANG (TENGKULUK) PADANG SUMATERA BARAT Bagian kepala seorang wanita yang telah diangkat sebagai Bundo Kanduang pada waktu menghadiri upacara adat harus ditutup. Penutup kepala ini disebut tengkuluk yang dipakai dengan cara tertentu sehingga bentuknya menyerupai tanduk kerbau. Tutup kepala tersebut dibuat dari selendang tenunan Pandai Sikek. Di beberapa daerah terdapat beberapa cara memakainya sehingga bentuknya pun bervariasi. Di Kabupaten Agam ujungnya runcing, di Payakumbuh ujung pepat, di daerah Lintau Kabupaten Tanah Datar tanduknya bertingkat dan lain-lain.
PAKAIAN ADAT BUNDO KANDUANG (BAJU KURUNG) PADANG SUMATERA BARAT Baju yang dipakai oleh Bundo Kanduang dalam upacara adat disebut baju kurung yang melambangkan bahwa ibu tersebut terkurung oleh undang-undang yang sesuai dengan agama dan adat di Minangkabau. Baju kurung ini diberi hiasan sulaman benang emas dengan motif bunga kecil yang disebut tabua atau tabur. Warna baju kurung bermacam-macam menurut darah masing-masing, seperti hitam, merah tua, ungu atau biru tua. Pada lengan kiri, kanan atau pinggir bagian bawah baju diberi jahitan tepi yang disebut minsia, melambangkan bahwa Bundo Kanduang harus selalu berhati lapang, sabar menghadapi segala persoalan. Sedangkan hiasan tabur melambangkan kekayaan alam Minangkabau, warna hitam melambangkan Bundo Kanduang tahan tempa, tabah dan ulet, warna merah melambangkan keberanian dan tanggung jawab.
Rumah adat gadang merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Sumatera Barat. Nama lain dari rumah adat gadang adalah rumah bagonjong, rumah baanjuang, dan rumah godang. Ciri khas rumah gadang adalah mempunyai keunikan dalam bentuk arsitekturnya dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau yang terbuat dari bahan ijuk. Rumah ini berfungsi sebagai tempat kediaman keluarga, tempat merawat anggota keluarga yang sakit, tempat melakasanakan upacara, dan sebagai lambang kehadiran suatu kaum.
Budaya unik yang satu ini diselenggarakan oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Bertujuan untuk memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain seorang cucu dari Nabi Muhammad SAW. Biasa kita kenang di tanggal 10 Muharram pada kalender tahunan. Kata Tabuik diambil dari bahasa Arab dengan kata “tabut” artinya peti kayu. Berdasarkan legenda, terjadi kemunculan mahkluk berwujud kuda seperti vegasus namun kepalanya berbentuk kepala manusia. Ritual ini sudah ada sejak tahun 1826 – 1828, namun masih bernuansa adat India, dan pada tahun 1910 terjadi kesepakatan untuk mencampur adat Tabuik dengan adat istiadat Minangkabau sampai akhirnya seperti sekarang. Festival ini dianggap membawa berkah, dibuatnya tabuik raksasa dimana bagian-bagian dari patung tersebut memiliki arti. Bagian bawah tabuik dianggap perwujudan urak, burak dan peti melambangkan burak yang menjemput jenazah Hussein bin Ali, hingga tabuhan gendang pun disimbolikan untuk mengenang peristiwa...
Malin Kundang Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang. Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya. Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah b...