Tari Bayan Api merupakan garapan seni kreasi Riau yang menceritakan tentang suatu wilayah yang bernama Bagan Siapi-Api. Bagan Siapi-Api bagian dari nusantara yang dianggap penting, pasalnya sejak dulu wilayah yang dekat dengan Selat Malaka ini menjadi pusat aktivitas perdagangan internasional. Secara geografis, Bagan Siapi-Api terletak di muara Sungai Rokan, tepatnya di bagain pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir. Sebagai tempat bertemunya orang dari berbagai etnis, Bagan Siapi-Api kini menjadi kawasan yang plural dengan beragaman etnisitas. Meski demikian, keberagaman tersebut mampu terjaga dengan sikap saling hormat dan menghargai perbedaan. Keberagaman masyarakat Bagan Siapi-Api menginspirasi lahirnya sebauh tari kreasi yang bernama tari bayan api. Tarian kreasi yang mengadopsi gerakan dalam tari sapin Rokan Hilir ini menggabungkan beberapa unsur kebudayaan yang ada di daerah tersebut, yakni budaya China, Jawa, dan Melayu. Pengaruh tiga kebudayaan...
Kota Dumai adalah sebuah kota di Provinsi Riau, Indonesia, sekitar 188 km dari Kota Pekanbaru. Dumai adalah kota dengan wilayah administrasi terluas ketiga di Indonesia, setelah Kota Palangka Raya dan Kota Tidore Kepulauan. Kota ini berawal dari sebuah dusun kecil di pesisir timur Provinsi Riau. Ada dua tradisi yang sejak lama berkembang di kalangan masyarakat kota Dumai yaitu tradisi tulisan dan lisan. Salah satu tradisi lisan yang sangat populer di daerah ini adalah cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun. Sampai saat ini, Kota Dumai masih menyimpan sejumlah cerita rakyat yang digemari dan memiliki fungsi moral yang amat penting bagi kehidupan masyarakat, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, dan sebagainya. Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai. Konon, pada zaman dahulu kala, di daerah D...
Dahulu, di Dumai ada suatu kerajaan yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Cik Sima Kerajaan tersebut bernama Seri Bunga Tanjung. Cik Sima mempunyai tujuh orang putri yang cantik-cantik. Di antara ketujuh putrinya, putri bungsulah yang paling cantik. Ia bernama Mayang Sari. Suatu hari, ketujuh putri Cik Sima mandi di Lubuk Sarong Umai. Mereka tidak menyadari jika ada orang yang sedang memerhatikan mereka. Pangeran Empang Kuala yang kebetulan sedang melewati daerah itu terkagum-kagum dengan kecantikan ketujuh putri itu. Namun, matanya terpaku pada Putri Mayang Sari. "Cantik sekali gadis itu," batin sang Pangeran. Sekembalinya ke kerajaan, Pangeran Empang Kuala memerintahkan utusannya untuk pergi ke Kerajaan Seri Bunga Tanjung untuk meminang Putri Mayang Sari. Secara adat, Cik Sima menolak dengan halus pinangan tersebut karena harus putri rertualah yang harusnya menikah dahulu. Pangeran Empang Kuala murka mendengar pinangannya ditolak. Ia mengerahkan pasukannya untuk...
Tetak dahan sikayu bulat .. Dibawa orang dari sempadan Pulau bintan pulau penyengat ahai… Bagaikan bunga kembang setaman 2x Hai pak ngah balek bulan mengambang…. Pak ngah balek hari dah siang 2x Orang berlayar pulau penyengat.. membawa kundur berkaki-kaki Pemimpin jujur mendapat berkat ahai… doa dan syukur pada Illahi 2x Hai pak ngah balek bulan mengambang…. Pak ngah balek hari dah siang Lebat bunge berbatang-batang Untuk di rangkai diatas piring Adat lembaga sama dipegang Bagai pengantin duduk bersanding 2x Hai pak ngah balek bulan mengambang…. Pak ngah balek hari dah siang 4x Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-riau-dan-kepulauan_8.html
Kemuliaan ciptaan Tuhan Sungguhlah indah kampung halaman Sungai dan bakau luas terbentang Menghias desa indah dipandang Walau pun jauh diri berada Takkan terlupa sepanjang masa Kampung yang kucinta kampung yang kupuja Kampung halamanku Desa Bokor Puk amai-amai belalang kupu-kupu Penduduk ramai bermacam-macam suku Bang selebu kuala sawe Mari bersatu membangun adat budaya Sungai dan bakau luas terbentang Menghias desa indah dipandang Walau pun jauh diri berada Takkan terlupa sepanjang masa Kampung yang kucinta kampung yang kupuja Kampung halamanku Desa Bokor Puk amai-amai belalang kupu-kupu Penduduk ramai bermacam-macam suku Bang selebu kuala sawe Mari bersatu membangun adat budaya Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-riau-dan-kepulauan_8.html
Keris di mata orang Melayu di Riau, sebagai salah satu senjata adat. Bahkan senjata yang dinilai untuk penusuk jarak pendek itu dikenal dan dipakai sebagian masyarakat di Asia Tenggara. Sebagai senjata menusuk, keris bagi si pemakai atau pemiliknya juga akan dimuliakan maupun dihormati sebagiaan masyarakat yang melihatnya. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2014/09/senjata-tradisional-riau/
Balai salaso jatuh disebut juga rumah adat Selaso Jatuh Kembar merupakan bangunan seperti rumah adat tapi fungsinya bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk musyawarah atau rapat secara adat. Sesuai dengan fungsinya bangunan ini mempunyai macam-macam nama antara lain Balairung Sari, Balai Pengobatan, Balai Kerapatan dan lain-lain. Bangunan tersebut kini tinggal beberapa rumah saja, didesa-desa tempat musyawarah dilakukan di rumah Penghulu, sedangkan yang menyangkut keagamaan dilakukan di masjid. Ciri - ciri Balai Salaso Jatuh mempunyai selasar keliling yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah, karena itu dikatakan Salaso Jatuh. Semua bangunan baik rumah adat maupun balai adat diberi hiasan terutama berupa ukiran. Puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat keatas bersilangan dan biasanya hiasan ini diberi ukiran yang disebut Salembayung atau Sulobuyung yang mengandung makna pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2013/12/ruma...
Bangunan rumah melayu Lipat Kajang, yang diambil sesuai dengan bentuk atap bangunan. Bangunan ini juga sulit ditemui di perkampungan sebagai tempat tinggal warga. Hanya terlihat pada bangunan perkantoran yang baru dibangun oleh pemerintah dengan konsep bangunan arsitektur modern. Jensi bangunan rumah adat melayu ini dpat dilihat pada rumah godang suku di Kenegerian Sentajo, di Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, yang hingga kini masih terpelihara. Padahal usia bangunan ini sudah mencapai 2,5 abad. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2013/12/rumah-adat-riau-dan-kepulauan-riau/
Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke atas, yang melambangkan bahwa pada awal dan akhir hidup manusia akan kembali kepada penciptanya. Rumah lontik yang dapat juga disebut rumah lancang karena rumah ini bentuk, ciri atapnya melengkung keatas, agak runcing seperti tanduk kerbau. Sedangkan dindingnya miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal itu melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan sesama. Rumah adat lon...