MUSEUM Seni Rupa H Widayat berdiri diatas areal tanah seluas 7.000 m2, terletak di jalur wisata candi Mendut dan candi Borobudur, kira-kira 2 kilometer sebelum memasuki area Candi Borobudur, tepatnya di Jln Letnan Tukiyat 32 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Museum Haji Widayat terdiri atas 3 bangunan utama, MUSEUM H. WIDAYAT, GALERI HJ. SOEWARNI (d/h GALERI WIDAYAT) dan ART SHOP HJ. SOEMINI, serta AR EA TAMAN yang dimanfaatkan untuk meletakkan karya seni outdoor, dibangun tahap demi tahap sesuai dengan perluasan area dan peruntukannya. Museum Haji Widayat adalah wujud nyata dari sebuah impian, obsesi dan prestasi dari pelukis H. Widayat. Impian dan obsesinya untuk memelihara dan mengabadikan karya -karya pelukis muda, khususnya mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia/ASRI (Institut Seni Indonesia/ISI). Selama lebih dari 40 tahun, sebelum akhirnya terealisasi, memiliki museum merupakan cita-cita H. Widayat. Mungkin itu adalah obsesi terbesar dari...
Museum Wayang dan Artefak Purbalingga terletak di Sanggaluri Park atau Taman Reptil tepatnya di Desa Kutasari, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Museum ini berada dilokasi yang sama seperti museum uang. Jenis wayang yang terdapat di Museum Wayang dan Artefak Purbalingga yaitu seperti wayang kulit, wayang suket, wayang golek, wayang pancasila dan wayang revolusi. Harga tiket masuk museum ini adalah Rp 12.000 per orang dan tarif parkir sepeda motor Rp 2.000. museum ini buka setiap hari termasuk hari libur besar pukul 09.00-17.00 WIB. Di dalam museum ini kita dapat belajar banyak tentang sejarah dan budaya dan tokoh-tokoh wayang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera, dan wayang dari uiar negeri. Terdapat juga peninggalan artefak kuno yang dimuseumkan di museum ini. Wayang secara etimologi berasal dari kata ‘ bayang-bayang’. Awalnya wayang ini digu...
Berkunjung ke Museum Perkembangan Islam di Masjid Agung Jawa Tengah gomuslim.co.id - Satu lagi destinasi wisata yang sayang jika anda lewatkan saat berkunjung ke Kota Semarang. Destinasi yang satu ini berlokasi di dalam komplek Masjid Agung Jawa Tengah yang menyimpan banyak koleksi kuno terkiat dngan perkembangan Islam di Indonesia. Adalah Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, sebuah museum yang mencatat perkembangan agama Islam di Jawa Tengah serta menyimpan barang-barang peninggalan sejarah selama penyebaran agama Islam di Jawa Tengah. Beragam Koleksi untuk Belajar Sejarah Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah mencatat sejarah perkembangan agama Islam di Jawa Tengah. Museum ini berada di lantai 2 dan 3 dari Tower Asmaul Husna di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di Jalan Gajah Semarang. Artefak artefak seperti Iluminasi Alquran, Wayang golek Menak, Wayang Sadat, Gayor Masjid Sunan Muria, Gamelan, Ornamen Dua Sisi, Ornamen Masjid Mantingan, Keramik,...
Museum Penyiaran yang didirikan Oleg RRI Surkarta pada hari Rabu 11 September 2013 ini didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII, yang membentuk solose Radio Vererniging (SRV) pada tgl 1 April 1933. Museum Penyiaran di RRI Surakarta diharapkan dapat memelihara memori masyarakat tentang sejarah RRI Surakarta dan penyiaran di Indonesia. Selain itu agar generasi muda bisa mengetahui berbagai perangkat penyiaran sejak zaman dulu. Museum penyiaran berada di kompleks RRI Surakarta di Jalan Abdul Rachman Saleh nomor 51. Letaknya di lantai dua auditorium RRI. Museum buka senin hingga jumat pada jam kerja. Dan pengunjung tidak akan di pungut biaya. Benda yang dipajang di museum, seperti radio receiver merek Phillip buatan Belanda tahun 1948, alat perekam yang menggunakan pita reel buatan Belanda pada 1948, pemutar piringan hitam buatan 1948 dari Inggris, alat ukur peralatan studio siaran buatan Jerman pada 1976, dan alat mengukur di...
Tentang Museum Dewantara Kirti Griya Yogyakarta: Nama Dewantara Kirti Griya berarti tempat atau rumah yang berisi karya-karya dan rekaman perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Selain itu, kronologi kehidupannya dari muda hingga wafat juga diabadikan di museum ini. Museum ini dapat menceritakan biografi sosok Ki Hadjar Dewantara melalui benda-benda dan foto-foto yang dipajang melalui tata cara tertentu di ruang-ruang pameran museum. Di museum ini terdapat perpustakaan yang memungkinkan wisatawan untuk mendalami pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Museum Dewantara Kirti Griya didirikan atas permintaan Ki Hadjar Dewantara, dan diresmikan pada tanggal 2 Mei 1970. Museum ini banyak mengoleksi benda peninggalan Ki Hadjar Dewantara. Dunia pendidikan tanah air tidak terlepas dari peran RM. Suwardi Suryaningrat, cucu Paku Alam III, yang lebih dikenal dengan nama Ki hajar Dewantara. Tanggal kelahirannya kemudian diperingati bangsa Indonesia sebagai Hari Pendidikan Na...
Museum memorial Jenderal Besar Soeharto diresmikan bertepatan dengan hari lahir beliau 08 Juni di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul , DIY. Di atas lahan seluas 3.620 meter persegi, museum ini didirikan untuk mengenang jasa dan pengabdian beliau semasa hidupnya untuk bangsa Indonesia. Di museum ini juga memajang berbagai prestasi yang diraih beliau semasa menjabat Presiden RI ke-2. Museum memorial Jenderal Besar Soeharto ini dibangun dan diresmikan oleh Bapak H. Probosutedjo (adik dari Soeharto) dan Mbak Tutut (putri pertama Soeharto) terdiri dari beberapa bangunan utama seperti pendopo, ruang diorama dan masjid kecil di sebelah selatan persis ruang diorama ini. Dalam kunjungannya di museum ini, redaksi kotajogja.com sempat melakukan wawancara singkat dengan Aryo Winoto keponakan dari Bp Soeharto. “Memorial ini dibangun menjadi tetenger dan sumber inspirasi bagi generasi muda, selain itu untuk mengenang jasa dan pengabdian beliau kepada bangsa negar...
Banju Adat Wanita Banjarnegara baju adat Banjarnegara sering dipakai pada saat pagelaran budaya dan acara acara kebesaran daerah Banjarnegara, dan sekarang juga para guru serta pejabat instansi Pemerintahan atau PNS di Banjarnegara setiap tanggal hari kamis di minggu terakhir setiap bulan untuk memakai baju adat Banjarnegara. Baju adat untuk perempuan terdiri dari 1. Riasan Gelung Kandal Menek 2. Gelung Bokor Kemureb 3. Sisir Serit 4. Tusuk Konde 5. Benang Lawe 6. Daun Suruh/sirih 7. Bunga Kantil 8. Kebaya Kutu Baru 9. Kemben Batik Banjarnegara (Sering Dipakai Corak Udan Liris) 10. Benting 11. Lontong 12. Jarik motif Banjarnegara (Sering dipakai corak Udan Liris) 13. Slop tertutup /hils 14. Tlepak Kinang 15. Giwang/ Anting jawa 16. Sapu Tangan Merah berbandul kunci 17. Tusuk Konde 18. Peniti Kebaya
Prasasti Raja Sankhara adalah prasasti yang berasal dari abad ke-8 masehi yang ditemukan di Sragen, Jawa Tengah. Prasasti ini kini hilang tidak diketahui di mana keberadaannya.[1] Prasasti ini pernah disimpan oleh museum pribadi, Museum Adam Malik, namun diduga ketika museum ini ditutup dan bangkrut pada tahun 2005 atau 2006, koleksi-koleksi museum ini dijual begitu saja tanpa sepengetahuan pemerintah dan Direktorat Permuseuman, termasuk prasasti ini. Foto prasasti ini ditampilkan di buku Sejarah Nasional jilid 2. ISI PRASASTI Dalam prasasti itu disebutkan seorang tokoh bernama Raja Sankhara berpindah agama karena agama Siwa yang dianut adalah agama yang ditakuti banyak orang. Raja Sankhara pindah agama ke Buddha karena di situ disebutkan sebagai agama yang welas asih. Sebelumnya disebutkan ayah Raja Sankhara, wafat karena sakit selama 8 hari. Karena itulah Sankhara karena takut akan ‘Sang Guru’ yang tidak benar, kemudian meninggalkan agama Siwa, menjadi pemelu...
Prasasti Pakubuwana X ini, ditaruh di gapura-gapura yang berada di wilayah Kasunanan Surakarta. Prasasti-prasasti ini ditulis pada tahun 1938. Alihaksara Ejaan Normal Kapareng ing Karsa Dalem Sampéyan Dalem Ingkang Sinuhun ingkang minulya saha ingkang wicaksana Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Sénapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang kaping X ayasa gapura punika. Amarengi ing dinten Senèn Wagé tanggal sapisan wulan Saban tahun Jimawal angka 1869 wuku prangbakat Dewi Sri, Tulus, Tungle, Wasesa Sagara, Sanggar Waringin wanci jam 12 siyang. Sinengkalan: "Gapura rinengga samadyaning praja." Utawi kaping 26 September 1938, sinengkalan: "Esthi uninga gapuraning ratu Maka karena berhubung kehendak dia Sri Baginda Yang Mulia dan Yang Bijaksana, Sri Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Yang ke-X, gapura ini dibangun. Kala itu terjadi pada hari Senin Wage, tanggal 1 bulan Saban, tahun Jimawal, 1869 A....