Dalam menggelar sedekah bumi, tradisi ucapan syukur, masyarakat menanti-nanti kegiatan pertandingan olahraga tradisional gulat okol. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20181013173045-243-338256/foto-menengok-tradisi-gulat-okol-di-surabaya/1 Sekilas, olahraga tradisional ini mungkin mirip dengan Sumo, olahraga tradisonal Jepang yang sudah mendunia. Namun, olahraga itu yang bernama gulat okol itu memiliki keunikan tersendiri. Gulat ini dimainkan di atas sebuah ring yang sudah dipenuhi dengan tumpukan jerami. Pantauan Suarasurabaya.net , para peserta pun harus memakai ikat kepala dan ikat pinggang serta bertelanjang dada. Ikat pinggang ini digunakan sebagai pegangan untuk menjatuhkan lawan dalam pertandingan. Jadi, para peserta tidak bersentuhan langsung dengan tubuh lawan. Gulat okol hingga saat ini tetap dilestarikan. Desa Dukuh Bungkal, Kecamatan Sambikerep, Surabaya, merupakan salah...
Hubungan yang nggak direstui orangtua itu memang bikin sakit ya. Utamanya karena pada akhirnya nanti kita nggak bakal bisa menikahi pasangan karena terhalang restu. Duh, rasanya kayak percuma menghabiskan waktu sedemikian lama tapi nggak bisa menyandingnya di pelaminan. Biasanya kalau sudah begini, jalan terakhirnya adalah kawin lari walaupun risikonya besar. Kawin lari mungkin bisa dibilang sebagai aib ya, tapi di Banyuwangi hal tersebut tidak dianggap memalukan. Ya, kawin lari bagi Suku Osing di sana merupakan hal yang dimaklumi bahkan jadi bagian adat. Istilah untuk kawin lari di sana adalah Kawin Colong. Keduanya sebenarnya agak berbeda, tapi intinya sama, yakni memaksa orangtua si mempelai wanita untuk memberikan restu. Kawin Colong mungkin terkesan gampang ya, tapi dalam praktiknya tentu nggak semudah itu. Butuh banyak persiapan, terutama mental bagi pasangan yang melakukannya. Lebih dalam tentang ritual unik satu itu, berikut adalah beberapa hal tentang Kawin Colong y...
Bertubuh kecil, di kepalanya yang tak bertempurung ada bara api. Suka mencari udang di tepi sungai, udang yang akan dimakan, dibakar dulu di atas kepalanya. Sumber: https://www.liputan6.com/citizen6/read/2353139/percaya-atau-tidak-inilah-40-jenis-hantu-yang-ada-di-indonesia
Menurut cerita rakyat yang hidup di kalangan masyarakat Desa Pamancingan, nama desa ini diambil dari tempat di mana Begawan Selapawening dan Syekh Maulana Maghribi melakukan pertandingan memancing. Begawan Selapawening adalah salah seorang dari sekian banyak putera-puteri raja Majapahit, Prabu Brawijaya terakhir. Nama Begawan Selapawening itu mungkin bukan nama sebenarnya, melainkan hanya nama samaran untuk menutup kenyataan bahwa ia sebenarnya adalah putera raja Majapahit. Adapun sebab-musabab kepergian Begawan Selapawening dari Kerajaan Majapahit (wilayah Jawa Timur) sampai ke pesisir selatan (wilayah Yogyakarta), menurut cerita ada hubungannya dengan mulai meluasnya pengaruh ajaran agama Islam di wilayah Jawa. Karena pengaruh meluasnya ajaran agama Islam, bahkan sampai ke pusat kerajaan Majapahit, maka yang tidak rela melepaskan agama yang telah mereka anut menjadi terdesak, lalu menyingkir atau melarikan diri ke daerah yang dianggap lebih aman dan bebas. Begawan Selapawe...
Tari Ruung Sarung Merupakan seni tari kreasi baru yang idenya dikembangkan dari kebudayaan masyarakat setempat, yang diciptakan oleh Deasylina da Ary, seorang praktisi seni budaya sekaligus Dosen Universitas Negeri Semarang. Tarian yang menggambarkan kegiatan keseharian para ibu ini diciptakan oleh perempuan yang akrab disapa Lina tersebut, pada tahun 2004. Tari ini terinspirasi dari harmonisme masyarakat setempat, terutama dari kebiasaan masyarakat yang memakai sarung. Karya tari daerah Pacitan ini mengisahkan ibu-ibu petani desa yang memanfaatkan sarung sebagai penghangat tubuh, penggendong senik ke Tegal, pergi ke pasar, juga sekaligus sebagai sarana ibadah. Dalam penampilannya, empat penari perempuan berbaju putih dan bercelana hitam nampak menari lincah kesana kemari. Dengan mengenakan properti sarung bermotif batik, keempat perempuan tersebut menampilkan gerakan lincah namun serasi. Kadang sarung dijadikan kerudung, kadang juga ditarik lurus, begitu seterusnya. Hi...
Tarian Tradisional Ngawi Jawa Timur JUL 13, 2018 ADMIN 1 Ngawi merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Jawa Timur yang mempunyai berbagai kesenian tradisional yang merupakan warisan budaya. Kesenian tradisional tersebut diantaranya yaitu tari Pentul Melikan, tari Orek-Orek, tari Bedoyo Srigati, tari Kecetan, tari Gaplik. Tari Pentul Melikan Tari Pentul Melikan (https://budayajawa.id) Tarian ini ditarikan dengan memakai topeng kayu yang melambangkan watak manusia yang berbeda-beda namun tetap bersatu dalam kerja. Topeng ini dipengaruhi jaman Kerajaan Kediri dan masa kini. Iringan gamelan sedikit mendapat pengaruh Reog Ponorogo. Tari ini digarap atau diciptakan pada tahun 1952 oleh Bapak Munajah di Desa Melikan, Kelurahan Tempuran, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi. Diciptakan untuk menghibur masyarakat setelah membangun sekolah desa itu. Perkemba...
Keberadaan tari gaplik diperkirakan sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Latar belakang ditarikannya tari ini karena desa Kendung mengalami bencana pagebluk dan huru hara, dan setelah diadakan tari gaplik keadaan menjadi lebih baik. Tari Gaplik di desa Kendung ditarikan pada hari Jumat Wage pada malam harinya, di halaman rumah Kepala Desa. Merupakan pagelaran berbentuk arena terbuka, antara pemain dan penonton saling berdekatan sehingga menimbulkan komunikasi langsung dan lancar antara pemain dan penonton, berdialog sambil berdiri. Sejarah Orang yang menarikannya saat ini adalah saudara Hartono, yang menjadi penerus ayahnya yaitu saudara Kasno. Pada tahun 1966 tari gaplik mulai ditampilkan dalam acara-acara Nyadran di desa-desa yang lain. Diantaranya adalah desa Mbayem, desa Kincang kabupaten Magetan, desa Suratmajan Maospati, dan desa Kinandang kabupaten Magetan. Pada tahun 2005 tari gaplik mulai mewakili kota Ngawi dalam festival kesenian tra...
Sama seperti senjata buding senjata ini tidak terlalu dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Tetapi hal itu tidak menghalangi kita untuk mengetahui tentang senjata yang satu ini. Karena senjata ini juga salah satu bagian dari kekayaan Indonesia. Bionet merupakan salah satu senjata yang berasal dari Jawa Timur, tidak diketahui pasti daerahnya. Senjata ini memiliki bentuk lurus, memilik panjang layaknya pedang. Senjata ini tidak terlalu tajam, tetapi senjata ini mempunyai ujung yang runcing dibandingkan dengan senjata lainnya. Pada jaman dahulu bionet sering kali digunakan untuk senjata saat berperang. Karena memiliki ujung yang runcing, senjata ini digunakan untuk menusuk musuh atau untuk membela diri. Namun jaman sekarang senjata ini tidak lagi digunakan untuk senjata perang. Sumber : https://karyapemuda.com/senjata-tradisional-jawa-timur/
Peduli pada kelestarian budaya, ratusan warga di Ponorogo, menggelar tradisi kirab sapujagad. Sambil membawa obor, ribuan warga berkeliling desa. Kegiatan ini di Lapangan Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo. Dengan dipimpin sesepuh desa setempat, prosesi berjalan dengan hikmat. Tak hanya membuat kagum para penonton, ritual bersih desa yang di kemas secara tradisional dan turun temurun ini, dimulai dari beberapa prosesi. Yakni penyerahan sapu jagad, dilanjutkan penyerahan air dari 7 sumber untuk penyiraman tanah desa oleh kepala desa. Setelah berbagai prosesi dilakukan, ribuan warga langsung memulai berjalan keliling kampung sambil beriringan. Diawali pengawal, kemudian 7 orang pembawa sapu. Diteruskan dibelakanganya, pembawa panji dan kembang. Di belakanga demang atau kepala desa, Diteruskan ratusan warga, ibu ibu, pemuda hingga anak anak untuk Berjalan kaki keliling desa. Menurut Sunarso sesepuh desa, prosesi tradisi kirab sapujagad...