Jika di jawa dikenal dengan nama jejangkungan, masyarakat sunda bogor menyebutnya dengan nama bakiak batok. Selain bedil jepret dan susumpitan, bakiak batok juga merupakan permainan tradisional yang lahir dari budaya masyarakat Sunda Bogor yang agraris. Permainan tradisional ini menggunakan alat peraga berupa batok kering yang sudah dibelah dua. Pembuatan alat peraga bakiak batok tidak sulit, mulanya batok kelapa yang sudah tua dibelah menjadi dua bagian. Di setiap bagian diberi lubang tepat di bagian tengahnya untuk kemudian dikaitkan pada seutas tali dan dihubungkan pada batok yang lain. Tali yang digunakan adalah tali yang mempunyai sifat lentur sehingga memudahkan saat digunakan. Cara memainkan bakiak batok pun sangat sederhana, alat peraga dikaitkan pada jempol kaki layaknya ketika memakai sandal jepit. Kemudian kedua tangan memegang tali seirama menariknya ketika kaki melangkah. Meski sederhana, dalam memainkan bakiak batok diperlukan keseimbangan tubuh, selain itu dib...
Dalam pewayangan, Batara Kala merupakan benih yang ditumpahkan Batara Guru ketika nafsu melihat kecantikan Dewi Uma di khayangan. Meski merupakan benih dari sang maha dewa, Batara Kala lahir menjelma raksasa dan selalu disimbolkan sebagai sosok jahat. Dalam logika sederhana, lahirnya sosok jahat Batara Kala menjelaskan setiap kekacauan dan kehancuran selalu tercipta dari nafsu. Sosok Batara Kala kemudian menginspirasi lahirnya tari sandekala di Jawa Barat. Meski tidak secara total mengadopsi kisah tersebut, dalam tari kreasi ini terlihat penggambaran sosok Batara Kala yang disimbolkan sebagai raksasa jahat. Sosok jahat Batara Kala kemudian dibenturkan dengan sosok penyelamat yang disimbolkan oleh tokoh Sang Kala. Jika Sang Kala merupakan simbol pengisi ruang, Batara Kala hadir sebagai perusak ruang. Terlepas dari pakem kisah pewayangan dalam sastra Jawa, tari kreasi sandekala ingin mengangkat tema universal tentang kebaikan melawan kejahatan, tentang...
Calung Kiwari bisa di sebut juga Calung Modern karena di lihat dari cara penyajian pertunjukkannya dan gayanya. Calung Kiwari merupakan perkembangan dari pertunjukkan Calung biasa karena waditra utamanya adalah Calung Jingjing. Meskipun demikian masyarakat cukup menyebut Calung saja. Dalam pertunjukkannya Calung Kiwari atau Calung Modern tidak lagi menyajikan lagu-lagu buhun seperti lagu Ucing-ucingan, Tokecang, Tonggeret, Trangtrang Kolentrang, Renggong Angle, Ahaehe dan lain-lain. Calung Kiwari lebih banyak menyajikan lagu hasil karyanya sendiri atau meniru lagulagu dari hasil karya grup Calung yang lain. Sekitar tahun 1964 sampai 1966-an, beberapa karyawan Taspen Bandung mencoba menampilkan Calung dengan gaya dan lagu-lagu yang bukan lagu buhun. Lagu yang di sajikan yaitu lagu Pop Sunda, Keroncong dan Pop Indonesia. Iringannya yaitu tetap memakai Calung Jingjing yang bertangga nada Pentatonis (Pelog dan Salendro). ...
Naskah Serat Sastra Gendhing karya Sultan Agung merupakan salah satu naskah Jawa yang berisi ajaran panduan moral agar manusia mengenal sang pencipta dan mengerjakan perbuatan yang bermanfaat terhadap sesama umat manusia yang didasari dengan ilmu pengetahuan. Secara substantif serat ini merupakan karya monumental Sultan Agung yang menerangkan dua disiplin dalam ilmu keislaman, yakni ilmu teologi dan ilmu mistik. Ilmu teologi merupakan disiplin ilmu yang menerangkan tentang ke-esaan Tuhan, sedangkan ilmu mistik adalah disiplin ilmu yang menjelaskan tentang pola komunikasi manusia dengan Tuhannya bahkan sampai menguraikan bagaimana manusia dapat menyatu denganNya. Dalam ajaran Islam, mistik Islam dikenal dengan nama ilmu tashawwuf. Corak mistik yang diuraikan dalam serat ini meliputi tashawwuf amali dan tashawwuf falsafi. Tashawwuf amali bersentuhan dengan ajaran tentang bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan tanpa meninggalkan ilmu syari’at dengan mengerjakan amal k...
Dalam budaya Sunda, karya seni tidak sekadar dilihat dari sisi estetika atau artistik. Nilai tata krama dan etika juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kesenian Sunda. Hal ini dapat kita lihat dalam salah satu prosesi penyambutan tamu di tanah Priangan. Prosesi tersebut bernama Upacara Bubuka. Upacara Bubuka merupakan rangkaian pertunjukkan yang menyajikan kolaborasi berbagai jenis kesenian masyarakat Sunda. Rangkaian pertunjukkan ini menjadi simbolisasi penghormatan masyarakat setempat kepada para tamu. Upacara Bubuka merupakan hiburan sekaligus tradisi penghormatan kepada para tamu dalam berbagai kesempatan. Sesuai namanya, Upacara Bubuka biasanya diletakkan sebagai pembuka dari suatu acara atau perhelatan yang dihadiri banyak orang. Dalam salah satu pagelaran kesenian Lingkung Seni Sunda ITB, Upacara Bubuka ditampilkan sebagai prosesi pembuka pagelaran. Upacara diawali dengan kemunculan seseorang yang membawa gunungan sebagai simbolisasi alam Parahyangan yang as...
PARIGI,(PRLM).-Potensi seni budaya Kabupaten Pangadaran dapat dijadikan pendukung sektror pariwisata alam yang menjadi andalam pendapatan asli daerah. Tradisi ampih pare huma dengan kesenian angklung beluk di Dusun Margajaya, Ds. Margacinta, Kec. Pariri, Kab. Pangandaran, yang diselenggarakan tiap tahun sangat unik dan menarik. “Selama ini wisatawan yang datang ke Kabupaten Pangandaran hanya ingin melakukan perjalanan wisata alam menikmati suasana laut. Padahal seperti halnya daerah agraris lainnya di Jawa Barat, di Kabupaten Pangandaran juga banyak masyarakat yang masih melaksanakan tradisi dan sangat menarik untuk diangkat menjadi pariwisata seni dan budaya,” ujar Pejabat Bupati Pangandaran, Enjang Nafandi, Kabupaten Pangandaran pada acara Revitalisasi Kesenian Tradisional Angklung Badud, bertempat di Dusun Margajaya, Ds. Margacinta, Kec. Pariri, Kab. Pangandaran, Sabtu (31/5). Dikatakan Enjang, upacara tradisi dan kesenian tradisi untuk mendukung sektor pa...
Langgir Badong. Alat musik tradisional dari Bogor ini mampu menghasilkan melodi dari harmonisasi alunan merdu suara pukulan bambu yang dikolaborasikan dengan tarian dan lirik lagu yang modern. Lagu-lagu yang ceria dan penuh semangat dibawakan dengan asyik dan unik oleh Langgir Badong (bambu gendong). Langgir Badong adalah sebuah kesenian kreasi yang dibesarkan di daerah Bogor. Alat musik ini seluruhnya terbuat dari bambu. Seni kreasi yang diciptakan oleh Ade Suarsa ini menggunakan bambu dalam berbagai ukuran dan bentuk yang ditabuh sebagai penghasil suara utama. Misinya, melestarikan budaya rakyat dalam gaya bermusik. Menurut Ade Suarsa, bermusik tidaklah harus mengikuti apa yang diinginkan oleh industri. Ujar Ade. Langgir Badong adalah satu contoh apresiasi generasi muda dewasa terhadap budaya lokal yang dikemas dalam bentuk modern. Sebenarnya, antusiasme generasi muda dewasa terhadap budaya lokal yang dikemas dalam bentuk modern masi...
Mendekati acara puncak Seren Taun, Alun-Alun Kampung Budaya Sindang Barang terlihat ramai dari biasanya. Setelah para kokolot melakukan berbagai ritual seperti Netepkeun , ngembang ke makam leluhur, dan mengumpulkan air dari tujuh mata air melalui ritual Gala Cai Kukulu , tiba saatnya untuk melakukan sedekah daging melalui ritual Nugel si Pelen . Ritual Nugel si Pelen berasal dari kata Nugel dalam bahasa Sunda yang berarti memotong, dan si Pelen merupakan nama dari hewan yang dikorbankan. Jadi secara harfiah, Nugel si Pelen dapat dimaknai dengan memotong hewan kurban yang kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada masyarakat. Uniknya, hewan yang dikorbankan biasanya berupa kerbau atau kambing berwarna hitam. Dalam Seren Taun Guru Bumi tahun 2013 yang baru saja berlalu, Kampung Budaya Sindang Barang melakukan ritual Nugel si Pelen dengan mengorbankan seekor kambing berwar...
Prasasti Kebantenan berupa 5 lempeng perunggu, yang ditemukan di Desa Kebantenan, Kabupaten Bekasi, Proinsi Jawa Barat. Prasasti ini ditemukan oleh penduduk Desa Kebantenan kemudian dibeli oleh Raden Saleh dan kini menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris E.1, E2, E.3, E.4, dan E.5). Prasasti ini menerangkan Bahwa Raja Sunda yang memerintah di Pakuan Pajajaran menetapkan desa sima perdikan karena dijadikan sebagai tempat suci milik raja. Tertulis: Raja Rahyang Niskala Wastu mengirimkan perintah melalui Hyang Ningrat Kancana kepada Susuhunan Pakuan Pajajaran untuk mengurus daerah larangan, yaitu Jayagiri dan Sunda Semabawa. Raja tinggal di Pakuan, dari sebuah tanah sakral (tanah devasasana); perbatasan yang sudah mapan, dan tanah itu tidak boleh dibagikan karena pelabuhan devasana menyediakan tempat pemujaan, yang merupakan milik raja. Sri Baduga Maharaja, yang memerintah di Pakuan, memberi aturan sanksi di sebuah tempat suci (tanah devasana) di Gunu...