Pernahkah ke Pantai Senggigi? Nah, jika sudah pernah, di lokasi wisata menarik tersebut ternyata pengunjung tak hanya bisa menikmati keindahan pantainya saja, melainkan juga ada objek lain yang sayang jika dilewatkan ketika berkunjung kesana, yakni Pura Batu Bolong. Tak jauh dari namanya, mengapa pura ini disebut dengan Pura Batu Bolong karena memang pura ini berada di atas batu karang hitam di pantai tersebut yang memiliki lubang atau bolong di tengahnya. Keunikan yang lainnya yakni pura ini mempunyai posisi yang menjorok ke laut sehingga pengunjung yang datang bisa tepat berada diatas deburan ombak. Pura Unik Pura Batu Bolong ini, laiknya dengan pura atau tempat lain yang disucikan/dikeramatkan memiliki cerita dibaliknya. Adalah seorang pendeta yang berasal dari Jawa Timur bernama Dang Hyang Dwijenda yang disebut-sebut memiliki peranan signifikan dalam menyebarluaskan dan mengembangkan agama Hindu pernah singgah ke pura tersebut dan melewati perjalana...
Tersebutlah pada suatu malam, Datu Panda'i, anak raja di Sumbawa Timur bermimpi. Dalam mimpinya, ia menikahi seorang putri cantik bernama Sari Bulan. Atas dasar mimpi tersebut, Datu Panda'i berangkat dari istana hendak mencari Sari Bulan dengan diiringi para prajuritnya. Singkat cerita, Datu Panda'i bertemu Sari Bulan dan langsung mempersuntingnya. Pada suatu hari, Datu Panda'i bersama istrinya akan kembali ke Sumbawa. Sebelum pergi, mertuanya berpesan agar mereka tidak singgah di Pulau Dewa, sebab pulau itu merupakan sarang para jin, setan, dan iblis. Keesokan harinya, rombongan Datu Panda'i berlayar menuju Sumbawa. Ketika melalui Pulau Dewa, Sari Bulan yang sedang mengidam ingin memakan daging menjangan. Kasihan melihat istrinya, ia lupa akan pesan si mertua. Datu Panda'i dan awak kapal turun berburu menjangan, tetapi Sari Bulan ditinggalkan sendirian dalam perahu. Kunti, pelayan iblis, segera menyergap Sari Bulan dan mencungkil kedua matanya, kemud...
Orang Sasak mengenal beberapa jenis bangunan adat yang dijadikan sebagai tempat tinggal dan juga tempat penyelenggaraan ritual adat dan ritual keagamaan. Atap rumah Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu (bedek). Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Campuran tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen. Pengetahuan membuat lantai dengan cara tersebut diwarisi dari nenek moyang mereka. Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat Sasak didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela. Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral (suci) dan duniawi secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggo...
Berugaq (baca: berugak) atau yang disebut juga sebagai balai bengong, berbentuk seperti saung, yaitu berupa panggung tanpa dinding, beratap alang-alang dan ditopang oleh empat tiang bambu membentuk segi empat (sekepat). Lantai terbuat dari papan kayu atau bilah bambu yang dianyam dengan tali pintal (Peppit) dan tingginya 40-50 cm dari tanah dan terletak di bagian depan Bale Jajar. Sekepat ini biasa digunakan untuk menerima tamu karena tradisi sasak tidak menerima sembarang orang ke dalam rumah. Bila pemilik rumah memiliki anak perempuan, sekepat dapat digunakan untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar). Selain itu juga digunakan untuk berkumpul dan beristirahat setelah kerja di sawah. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2014/03/rumah-adat-nusa-tenggara-barat-ntb/
ukuran kayu yang digunakan ada yang panjang ada ada yang kecil yang disebut anak kayu, atau bisa disebut main kayu. Ada tiga tehnik yang dipakai dalam permainan ini; disungkit, dipantok , dan dikandik . Tiga tehnik ini dimainkan oleh yang punya giliran, sedang yang lainnya harus menjaga. Ada point yang didapatkan dalam permainan ini. O ya, saat disungkit , penjaga harus bergegas menangkap dan melempar ke arah ibu kayu, dan berusaha dikenai. Jika dikenai, maka permainan akan disetop dan digantikan oleh yang jaga. Dan... apalagi, ya? Yang sudah main ini pasti sudah paham. sumber : budaya.kampung-media.com/2018/03/06/sudah-pupuskah-permainan-tradisional-lombok-23220
Selalu menyenangkan bisa berkunjung ke tempat yang memiliki nilai sejarah. Cerita unik di balik pembuatannya menjadi hal menarik untuk ditelusuri. Coba saja kunjungi Pura Meru yang berada di Lombok. Banyak hal menarik yang dapat Anda nikmati saat berkunjung ke sini. Tertarik? Terletak di tengah Kota Mataram, tepatnya di Jalan Selaparang, Kecamatan Cakranegara, Pura Meru merupakan yang terbesar dan tertua di wilayah Lombok. Dibangun pada tahun 1720 oleh Pangeran Anak Agung Made Larang, Pura Meru didedikasikan untuk 3 dewa utama umat Hindu (Dewa Brahma, Dewa Syiwa, dan Dewa Wishnu). Ketiga pura tersebut juga mewakili tiga gunung yang dianggap suci oleh pemeluk agama Hindu; Pura Brahma mewakili Gunung Agung di Bali, Pura Syiwa mewakili Gunung Rinjani di Lombok, dan Pura Wishnu yang diwakili oleh Gunung Semeru di Jawa Timur. Soal bentuk, hanya Pura Syiwa yang memiliki atap susun 11, sedangkan Pura Wishnu dan Pura Brahma memiliki atap susun berjumlah 9. “Meru&...
Beldokan adalah sebuah alat permainan tradisional yang terbuat dari batang bambu kering yang dipotong kedua ujungnya untuk dimaksudkan membuat lubang ditengahnya dan memiliki kayu khusus untuk mendorong peluru yang kegunaannya untuk bermain perang perangan bagi anak anak kecil di lombok yang pelurunya bisa menggunakan kertas yang dibasahi air atau dari bunga jambu air yang jika terkena badan anda makan akan sakit dan pedas.
Cipuci-puci adalah permainan anak-anak yang berumur 5-11 tahun. Permainan ini dilakukan minimal tiga orang yang salah satunya akan diundi untuk memimpin jalannya permainan. Peserta mengulurkan tangan kedepan kemudian pemimpin memulai ketempat dimulainya permainan dan anggota kelompok yang lain tidak tertangkap permainan berakhir atau siloa’. Demikian sebaliknya apabila ada salah seorang anggota yang tertangkap maka kelompok yang dijaga mengganti kelompok yang permainan dengan menunjuk tangan peserta sambil menyanyikan cipuci-puci enjang-enjang bidaderi, njelele-njelepong kamu minta kembang apa( jika kata apa jatuh ditangan salah seorang anak maka anak itu harus meminta atau menyebutkan nama salah satu bunga, misalnya melati) maka pemimpin menjawab dan melanjutkan kata-kata melati tersebut menjadi selama-lama lakinya pulang sudah mati.
Permainan ini biasa dilakukan oleh lima orang anak yang diawali dengan ompimpang (salah satu cara mengundi). Yang kalah harus telungkup sambil menutup mata ditanah. Sedangkan yang menang akan memimpin permainan. Dengan membawa kerikil pemimpin memulai permainan dengan jalan menepuk-nepuk tangan peserta lainnya yang berada diatas punggung yang kalah sambil menyanyikan jumpring cet-ecet ketibu dondong, aji pira teloq sopoqÂ, begitu kalimat ini diselesaikan batu yng tadi dipegang diletakkan dalam genggaman salah seorang peserta, kemudian semuanya mengucapkan aleem-aleem secara berulag-ulang.