Candi Tinggi merupakan salah satu candi di Kawasan Cagar Budaya Muarajambi. Yang pertama kali menyebut Candi Tinggi yaitu F.M. Schnitger dalam laporan tahun 1937. Candi Tinggi terletak pada 01°28'33.611 LS dan 103°40'7.311 BT. Luas kompleks Candi Tlnggi 2,92 Ha terdiri dari 1 bangunan induk, 6 bangunan perwara dan pagar keliling. Bangunan induknya telah dipugar berdenah bujursangkar, berukuran 16 m x 16 m dengan tinggi 7,6 m. Pada awalnya bangunan ini dibangun dalam 2 tahap, struktur bangunan yang lebih tua ditemukan masih tetap utuh di bagian dalam bangunan. Bagian penampil dan tangga naik berada di sebelah selatan. Sedangkan bangunan perwara berbentuk bujur sangkar terletak menyebar di timur taut, barat, barat daya, dan selatan dari bangunan induk. Keadaan sekarang dari bangunan tersebut yang tersisa hanya bagian pondasi serta sedikit bagian kaki. Gapura menuju komplek candi terletak di timur dan barat. Candi Tinggi dibatasi...
Kompleks Candi Gedong I terletak pada titik koordinat 01 o 28'33.48" LS dan 103 o 39'32.89" BT. Kompleks candi yang berdiri di lahan seluas 5.525 m 2 ini telah dipugar pada tahun 1998. Benda-benda purbakala di lokasi candi ini antara lain enam buah umpak batu, pecahan arca, sejumlah bata berhias dan bertulis, pecahan genteng. Selain itu juga ditemukan pecahan Cina masa Dinasti Sung (abad 10-13 M), Yuan (abad 15-16 M), Ming (abad 14-17 M) dan Ching (17-20 M), serta pecahan kaca kuno yang kemungkinan berasal dari Timur Tengah dan India.
Kolam Telagorajo ditemukan pada pertengahan tahun 1970. Kepastian tentang kegunaannya jelas, namun dapat disimpulkan bahwa kolam ini berhubungan dengan reservoar untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat kuno. Dibutuhkan penelitan lebih jauh untuk mengetahui kegunaannya. Telagorajo adalah simbol makroskosmik dan mikroskosmik dalam agama Budha, dimana sebuah kolam melambangkan samudera. Kolam ini terletak 100 meter tenggara Candi Gumpung, pada 01 o 28'41.6" LS dan 103 o 40'8.0" BT. Kedalamannya sekitar dua sampai tiga meter dari permukaan tanah sekarang. Jika diukur gundukan tanah yang mengelilingi, kedalamannya mencapai tiga hingga empat meter.
Kampilan merupakan sebuah pedang yang termasuk jenis senjata tebas. Kampilan merupakan senjata tradisional yang dimiliki oleh suku Melayu bagian Timur Jambi. Gagang terbuat dari kayu dibentuk menyerupai kepala naga dan dilengkapi dengan rumbai. Pedang ini pernah digunakan oleh pasukan Selempang Merah dalam menghadapi tentara Belanda di Kuala Tungkal pada masa perang kemerdekaan RI tahun 1949. Untuk menambah semangat dalam perjuangannya selalu disertai dengan menyebut nama Alla "Yaa zal zala liwa ikram."
Baju rajah merupakan baju sejenis rompi penuh bertuliskan rajah (sekumpulan huruf-huruf) mempunyai ilmu hikmah yang mengandung kekuatan dan kekebalan, biasanya baju ini dipakai untuk perlindungan dari serangan musuh. Baju rajah ini dimiliki oleh Ibrahim Abdul Gani dikenal dengan sebutan Datuk Ahim, beliau seorang Panglima Selempang Merah. Baju ini pernah dipakai saat menghadapi serangan tentara Belanda dalam pertempuran perang mempertahankan Kemerdeaan RI di desa Parit Deli Kuala Tungkal tahun 1949.
Keris salah satu senjata tradisional yang digunakan untuk menghadapi serangan Agresi tentara Belanda II tahun 1949 oleh Panglima Selempang Merah Ibrahim Abdul Gani (Datuk Ahim) di Desa Parit Deli Kuala Tungkal
Selempang Merah merupakan kain berwarna merah yang merupakan tanda pengenal dari pasukan Laskar Selempang Merah, pada permukaan kain diberi rajahan sesuai dengan ajaran Islam, dengan harapan diberi kekuatan dan semangat dalam menghadapi tentara Belanda pada masa perang kemerdekaan RI tahun 1949.
Bingkap merupakan benda yang termasuk salah satu atribut dari Tentara Pelajar Jambi yang digunakan sebagai alat pelindung kaki. Di mana Tentara Pelajar ini pada masa perang mempertahankan kemerdekaan RI sangat berperan dan juga turut berjuang menghadapi Agresi Belanda di Jambi tahun 1948-1949.
Video Parade Tengkuluk Jambi, diambil pada saat parade 9 Maret 2016 di Komplek Candi Muaro Jambi: https://www.youtube.com/watch?v=C6fcWHMMPGQ Seputar Tengkuluk: Tengkuluk berarti penutup kepala dan sering disebut takuluk atau kuluk. Selain berfungsi sebagai salah satu pelengkap busana tradisional, tengkuluk juga bisa digunakan dlm acara formal, pesta adat serta pelindung kepala saat di sawah. Seiring bergulirnya waktu, fungsi tengkuluk tidak hanya sekedar penutup kepala saja, tetapi menjadi lebih kompleks, sebagai alat atau penunjuk agama dan status sosial. Hingga kini, tengkuluk masih tetap setia menjadi simbol kecantikan dan keluhuran budi wanita Melayu Jambi. hingga saat sekarang tengkuluk dalam bentuk asli masih di pakai oleh orang - orang tua di dusun dusun, yang mena penggunaan tengkuluk yaitu dengan melilitkan kain di atas kepala sesuai dengan pungsinya, tanpa menggunakan peniti ataupun jarum. cerminan keluhuran budi terlihat pada saat wanita wan...