Bahan-bahan : babi umur 7 bulan 1 ekor kayu yang kuat 1 btg. panjang 2 m Bumbu-bumbu : bawang merah 30 btr. bawang putih 25 siung lada 1/2 ckr. terasi 1 1/2 ons ketumbar 1/2 ckr. kunyit 4 rj. jae 5 rj. kencur 4 rj. isen/laos 4 rj. garam 1 ons daun kemuning 30 lbr. Cara membuatnya : Babi disembelih lehernya supaya keluar darah. Setelah mati disiram dengan air panas, digosok-gosok supaya bulunya habis. Isi perut dikeluarkan dan dicuci bersih. Batang kayu ditusukkan dari pantat tembus ke mulut hingga keluar kira-kira 30 cm dari mulut. Bumbu diirisi dijadikan satu, kecuali garam ditumbuk halus dan diaduk-aduk sampai rata. Bumbu dimasukkan ke dalam perut babi, terus dijahit dengan benang atau kawat. Babi yang sudah berisi bumbu ditaruh di atas api yang membara sambil diputar-putar. Kulit merah menandakan matang betul-betu...
Bahan-bahan: darah 1 gls. jeruk sambal 1 bj. hati yang dipanggang 1 ons Bumbu-bumbu: bawang merah 10 bh. lombok 1 bj. bawang putih 4 siung lombok merah 4 bh. lombok rawit 3 bh. lada 1/2 sdt. kencur 1/2 rj. laos 1 pt. terasi 1 sdt. garam 1/2 sdm. Cara membuatnya: Darah yang sudah kental diremas dengan daun pisang yang telah dicabik-cabik sampai tak terdapat butiran lagi. Hati dipanggang dan diiris tipis-tipis dan kecil-kecil. Bumbu-bumbu dihaluskan, ditumis dengan minyak 3 sdm. Bahan dicampur dengan bumbu dan ditambah air panas, jeruk sambal dan ditaburi bawang goreng. Warnanya merah kekuning-kuningan dan berair. Keterangan: Masakan ini tidak dimasak di atas api. RM/Toko yang Menyediakan : Smarapura Traditional Resto Restoran Indonesia Menghidangkan makanan tradi...
Bahan-bahan: tepung beras ketan 1/2 kg. kelapa 1/2 btr. daun kembang sepatu 10 lbr. Bumbu-bumbu: gula merah 1/2 kg. daun pandan 1 lbr. garam 1/2 sdt. Cara membuatnya: Daun kembang sepatu dan air diremas, disaring, diambil airnya +-1 cangkir. Tepung ketan diuli hingga lemas, sambil diberi garam dan air daun kembang sepatu sesendok demi sesendok. Dipakai tepung yang halus, yang telah rapuh, sendang yang masih berbiji-biji diuli kembali sebagai di atas. Demikian seterusnya sampai habis. Disediakan cobek tanah yang datar dan dipanaskan, tetapi apinya jangan terlalu besar, ditaruh tepung tadi sesendok-sesendok dan diratakan dengan sendok setipis mungkin hingga bentuknya bulat telur. Jajanan ini masak bila sisinya sudah terangkat. Kelapa dikupas, diparut, dicampur dengan gula, daun pandan, garam dibuat jadi inti. Jajan diberi inti di atasnya, kemudian dilipat berbentuk seg...
Bahan-bahan: beras ketan 1 kg. kelapa 1/2 btr. kacang tolo 1 ckr. Cara membuatnya: Beras ketan dicuci bersih dan direndam dalam air dingin kemudian dikukus 1/2 masak. Kelapa diparut dan kacang disangrai sebentar. Dicampurkan ketan, kelapa parut, garam dan kacang merah. Dibungkus daun kelapa muda dan diikat. Bungkusannya boleh panjang-panjang atau segitiga. Direbus sampai masak, selama 1-1,5 jam Keterangan: Masakan ini bentuknya hampir sama dengan lepat. RM/Toko yang Menyediakan : Laklak Men Gabrug Restoran Alamat: Jl. Drupadi, Sumerta Kelod, Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali 80234 Telepon: (0361) 70708415 Sumber: Buku Mustika Rasa Sukarno, hlm. 855-856
Bahan-bahan: tepung ubi kayu 1/2 kg. gula pasir 1 ons santan kental 1/2 lt. telur ayam 1 btr. garam 1/2 sdt. Cara membuatnya: Telur dan gula pasir dikocok sampai membuih. Santan dimasukkan, ditambah tepung ubi dan garam; dicampur rata. Dicetak dengan cetakan gapit. Cetakan diolesi dengan minyak. Dipanggang di atas api. Waktu memanggang dibolak-balik, setelah masak digulung panas-panas. Sumber: Buku Mustika Rasa Sukarno, hlm. 948-049
Geria adalah rumah tempat tinggal untuk kasta Brahmana yang biasanya menempati zoning utama dari tata zoning suatu pola lingkungan. Sesuai dengan peranan brahmana selaku pengembangan bidang spiritual, maka bentuk dan ruang geria sebagai rumah tempat tinggal disesuaikan dengan keperluan-keperluan aktifitasnya. Sumber: Buku Bangunan Tradisional Bali dan Fungsinya
Hingga kini sejarah asal usul suku Batak sangat sulit untuk ditelusuri dikarenakan minimnya situs peninggalan sejarah yang menceritakan tentang suku Batak. Dengan mengutip dari berbagai sumber termasuk tulisan diberbagai blog dan juga buku2 yang menulis tentang Batak, secara sederhana dikatakan bahwa suku Batak adalah salah satu dari ratusan suku yang terdapat di Indonesia, suku Batak terdapat di wilayah Sumatera Utara. Menurut legenda yang dipercayai sebahagian masyarakat Batak bahwa suku Batak berasal dari Pusuk Buhit daerah Sianjur Mula Mula sebelah barat Pangururan di pinggiran danau Toba. Ada sejumlah versi yang mencoba menelusuri asal usul si Raja Batak ini. Berdasarkan mitologi seperti yang ditulis oleh W.M. Hutagalung, dalam bukunya: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926), bahwa si Raja Batak merupakan keturunan dari Raja Ihatmanisia yang merupakan anak dari Si Borudeak Parujar dalam perkawinannya den...
Pada suatu masa di Kerajaan Daha yang dipimpin oleh raja Erlangga, hidup seorang janda yang sangat bengis. Ia bernama Calon Arang. Ia tinggal di desa Girah. Calon Arang adalah seorang penganut sebuah aliran hitam, yakni kepercayaan sesat yang selalu mengumbar kejahatan memakai ilmu gaib. Calon arang mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali. Karena puterinya telah cukup dewasa dan Calon Arang tidak ingin Ratna Manggali tidak mendapatkan jodoh, maka ia memaksa beberapa pemuda yang tampan dan kaya untuk menjadi menantunya. Karena sifatnya yang bengis, Calon Arang tidak disukai oleh penduduk Girah. Tak seorang pemuda pun yang mau memperistri Ratna Manggali. Hal ini membuat marah Calon Arang. Ia berniat membuat resah warga desa Girah. “Kerahkan anak buahmu! Cari seorang anak gadis hari ini juga! Sebelum matahari tenggelam anak gadis itu harus dibawa ke candi Durga!“ perintah Calon Arang kepada Krakah, seorang anak buahnya. Krakah segera mengerahkan cantrikcantri...
Naskah ini berjudul Kakawin Bharatayuddha atau Bratayuda Kawi. Tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dengan kode naskah CS 11a dan nomer Rol 4.01. Naskah ini menggunakan bahasa Jawa Kuna dan aksara Bali ditulis di atas kertas Eropa, serta berjumlah 135 halaman dan berukuran 20 x 31 cm. Naskah ini berisi teks Jawa Kuna Kakawin Bharatayuddha, dicetak litograf tahun 1863 oleh S. Lankhout di s’Gravenhage. Awalnya, naskah asli merupakan koleksi T.S. Raffles, sekitar tahun 1815 di Jawa, kemudian dihibahkan kepada koleksi Royal Asiatic Society di London, dengan kode Raffles Java 1. Buku ini diberikan oleh Bataviaasch Genootschap pada tahun 1863, rangkap dua (CS 11a, 11b). Ekslempar yang lain terdapat di LUB, berciri LOr 2109, yang dideskripsikan dalam Pigeaud 1968: 68, Vreede 1892: 11-12, dan Cohen Syuart 1862. Dalam naskah versi ini, teks sampai pupuh 51 bait 19, sedangkan versi yang diuraikan oleh Zoetmulder (1983: 324-332) mencapai pupuh 52, bait 12. [11,14] ...